
...
...
Jarum pendek jam itu menunjuk angka dua. Itu artinya semua murid di persilakan untuk pulang. Namun ada yang memilih untuk tetap tinggal di sekolah, ada pula yang harus mengikuti ekstrakulikuler, tapi sebagian besar siswa memilih berkumpul di lapangan.
"Arif bilang gue harus liat dia seleksi," kata Lia semangat.
"Eum.. cuma Arif? Temen-temennya?" tanya Senja.
"Duh nih ya Senja, bilang aja sih kalau lo tanya soal Langit, apa susahnya sih."
"Duh denger ya Lia, gue cuma nanya kali, tinggal jawab ih," ucap Senja sembari mencubit pipi Lia yang chubby.
Lia meringis kesakitan. "Ih, sakit tahu. Mereka kan kemana-mana aja bareng, masa iya gak ikut," jawab Lia sembari memegang pipinya yang sedikit merah.
"Nah tinggal jawab gitu aja, kok susah."
Tak terasa, seleksi itupun di mulai. Sudah beberapa orang yang tampil, namun nampaknya Arkan, Rizky dan Irfan kurang tertarik dengan apa yang ditampilkan para calon dancer untuk SMA Tirta Bangsa. Karena merasa yang mendaftar sedikit jumlahnya, mereka bertiga kebingungan, padahal kupon telah habis tak tersisa.
"Perasaan tuh kupon abis deh, tapi kok yang seleksi cuma seginian?" tanya Irfan heran, Arif pelakunya kak wkwk.
Arkan berdeham, karena ia juga tak tahu kenapa. Padahal ia sudah menyiapkan kupon dengan kuota lima puluh orang.
"Arif mana sih? Katanya mau ikut, kok masih belum nongol tuh anak," ujar Lia celingukan mencari Arif.
"Dia bohong kali sama lo. Ah udah yuk pulang?"
"Please, tunggu bentaran, ya?" Lia memohon kepada Senja.
Senja menghembuskan nafasnya dan memutar bola matanya malas. Namun wajah memelas Lia mengubah pemikiran Senja.
"Bentar tapi, ya? Kalau mereka gak ada juga, gue remes tuh si Arif," kata Senja gemas ingin meremukan Arif.
Lia menyegir kuda "Iya iya deh."
Beberapa menit kemudian, terdengar suara dentuman lagu ber energik. Membuat sesiapun yang mendengarnya semangat untuk dance. Terlihat empat orang berlarian ke tengah lapangan, membuat semuanya menganga melihat penampilan mereka.
(🎶BTS - FIRE🎶)
...
...
Meski rambut berantakan, seragam yang di keluarkan, tak di kancing dan celana sekolah berwarna biru kotak-kotak. Tapi itu tak mengurangi ketampanan dan ke-kerenan mereka. Malah itu semakin membuat kaum hawa tak bisa menahan hasratnya. Mereka begitu menawan, apalagi setelah melihat Langit, dipastikan setelah ini fans Langit naik melambung tinggi.
Langit baris paling depan, hanya ia yang memakai jaket jeans, membuat kadar ketampanannya bertambah, belum lagi saat ia meliuk-liuk dan bergerak kaku mengikuti alunan musik itu.
"Huh!"
"Arif!" Ya, itu Lia.
__ADS_1
"Ya Allah, tolong hambamu ini."
"Yah, gue pingsan nih, pingsan."
Senja hanya mematung dan tak mengedipkan matanya melihat penampilan mereka. Sedangkan siswi yang lain berteriak histeris, ada juga yang ikut menari. Suasana saat itu sangatlah dramatis menurutnya.
"Ya Allah, cakapmu Li," ujar Senja sambil menutup mulut Lia yang terus meneriakan nama Arif.
"Ish, Jantung gue..." Lia memegangi dada sebelah kirinya karena ia terpesona.
Senja bergidik melihat temannya itu. "Ih lebai lo."
Dentuman itu pun berhenti, meninggalkan nafas ngos-ngosan dari keempat lelaki itu dan tepuk tangan para penggemar yang mulai menyukai mereka.
Arkan bertepuk tangan dan menghampiri Langit. "Keren.. keren.." Sudut bibirnya terangkat satu.
Langit menatap Arkan tajam. "Kalian di terima!" teriak Arkan mengumumkan dan mereka kembali bersorak kegirangan.
Arkan kembali ke tempatnya "Jadi Arif, Falah, Eri dan... Langit. Kalian jadi bagian dari kita," ucapnya berdiri ditengah Rizky dan Irfan.
"STB!"
(SMA Tirta Bangsa) ya plesetan dari BTS, kebetulan wkwk😂
Arkan merekrut anggota baru, lantaran anggotanya yang lama di dominasi oleh kelas dua belas yang sudah tidak aktif mengikuti eskul.
****
"Hm iya, eh gue mau ke toilet dulu, Lo duluan aja!" Lia mengangguk dan melambaikan tangan.
Senja melewati lorong sepi menuju toilet perempuan. Ia harus ke toilet karena wajahnya kepanasan akibat menonton dance tadi. Mengharuskannya membasuh wajahnya.
Selesai dibasuh, ia pun menatap ke arah cermin. Seketika matanya terbelalak melihat dua gadis yang berdiri di belakangnya.
"Hai... cewek can-tik!" ujar salah satu dari dua gadis yang di ketahuinya adalah kakak kelasnya.
Senja terkekeh dan menoleh ke belakang. "Mau apa kalian?"
"Kita main-main dulu gimana?"
"Maaf, gue gak bisa. Gue harus pulang!" Senja tak mungkin mengiyakan ajakan gadis yang pernah membullynya di kantin. Ya, orang itu adalah Oppi.
Oppi tersenyum jahat. "Gak bisa. Gue mau main-main dulu sama lo."
Dalam hatinya, Senja sudah sangat ketakutan. Tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa jangan pernah takut pada apapun!
"Iya, gue gak boleh takut. Dia cuma Oppi," batin Senja.
Senja melangkah. "Eh, mau kemana?" Dengan segera Oppi menahan Senja.
"Keluarlah, ngapain di sini!" kata Senja ketus.
__ADS_1
Oppi mengelus pipi mulus Senja. "Jangan dulu. Gue mau kasih lo pelajaran." Lalu menamparnya keras.
Senja meringis kesakitan sambil memegang pipinya. Ia menampar balik Oppi dan itu membuat suasana semakin memanas, keduanya berkelahi dan saling jambak. Senja kewalahan, Oppi dibantu Teny menghajar Senja, sampai Senja terkapar di lantai kamar mandi.
"Lepas!" perintah Oppi, menyuruh Senja membuka almamaternya.
Senja yang dipaksa itupun melepas Almamaternya, Oppi melempar lalu membuangnya ke tong sampah toilet. "Nasib lo bakal sama kaya itu."
"Ten..." Teny yang dipanggil pun mengerti.
Ia keluar dengan seember air, kemudian Oppi mengambilnya. Lalu...
Byur
"Ups, gak sengaja!" ujar Oppi seraya melempar ember asal.
Ia berjongkok dan berbicara tepat di depan wajah Senja. "Heh denger ya! Gue gak suka liat lo sama Arkan! Jadi mulai sekarang lo jauhin dia atau gue akan berbuat lebih dari ini!"
Senja terdiam. Ia ketakutan. "Bye" Oppi dan Teny meninggalkan Senja yang diam saja.
****
"Tuh kan, gara-gara lagu yang gue saranin," ucap Falah sombong.
"Ye.. sombong lo!" Eri dan Arif berbarengan.
Mereka selalu seperti ini. Bercanda dalam keadaan genting, tetap saling melengkapi, solidaritas mereka kuat sebab mereka sudah berteman sejak kelas tujuh SMP.
"Yuk ah balik!" ajak Arif.
"Yo!" Falah dan Eri menyahut, tapi Langit?
"Duluan!" kata Langit.
"Lo mau kemana?" tanya Arif.
"Kelas."
Langit melangkah ke kelasnya, untuk mengambil tas nya yang tertinggal. Ia tak sengaja mendengar percakapan Oppi dan Teny yang lewat.
"Gila lo Pi, anak orang bisa sakit," ucap Teny.
Oppi tertawa. "Bodoh amat, lagian berani lawan gue."
Setelah dirasa Oppi dan Teny menjauh, ia pun mendekati toilet perempuan. Terdengar tangisan di dalam sana. Ia tak bisa diam, tapi jika ia masuk itu pelanggaran, lalu apa yang harus dilakukan?
Ya, Langit tak peduli. Ia masuk dan menemui gadis yang sedang ketakutan dan menangis.
"Senja?" gumamnya.
...****...
__ADS_1
...🔱...