
...
...
Pagi kembali menyapa, seperti yang dikatakan Arkan kemarin malam, ia akan datang untuk menjemput adik dari kekasihnya. Risa sudah siap dengan seragam khas sekolah SMA Tirta Bangsa. Sangat rapi dan cantik, berbeda dengan Senja yang kini sedang terpejam dan tak bergerak.
Lagi-lagi Arkan termenung dan memikirkan Senja. "Kak?"
Arkan menggeleng cepat. "Ayo berangkat!" ajak Risa.
"Eum ... Ayo!"
Risa pun naik ke motor Arkan. Biasanya yang berada diposisi Risa adalah Senja. Sesampainya diparkiran, Risa tak lupa mengucapkan kata terima kasih kepada Arkan.
Kemudian Risa berjalan ke arah kelasnya. "Risa? Risa?" panggil seseorang.
Risa menoleh. Orang itu berhenti dan nafasnya ngos-ngosan. "Lita? Ada apa?"
"Sebentar aku ta-tarik nafas dulu." Ia kemudian menarik nafas dan menghembuskannya.
"KokkamubisasamaKakArkan?"
Risa terbelalak, Lita mengujarkan kalimat itu tanpa jeda ataupun spasi. Risa lupa jika hal itu tak seharusnya dilakukan. Pasti semua yang melihat Arkan dan Risa bertanya-tanya dan terlihat risih.
Risa tak menghiraukan dan memilih pergi. "Ris? Jawab dong!"
"Lita, ya terus kenapa kalau aku sama Kak Arkan?"
"Ya, enggak. Aneh aja gitu." Mereka kembali melanjutkan jalannya.
"Oh iya Ris, aku mau tanya. Kok kemaren Kak Arkan pulang gitu aja?"
" ... terus kamu lihat 'kan kemarin Kak Langit sama kak Senja? Mereka romantis banget!"
Risa semakin kesal mendengar ocehan Lita. Iya, itu romantis dan membuatnya sakit hati. Tak lama orang yang sedari tadi diucapkan Lita hadir dihadapan mereka. Langit dengan mata yang sembab.
Risa berbelok ke arah kanan. Lita mengikuti Risa. "Ris? Kelas kita 'kan kesana!"
"Lita, kamu bisa diam gak?"
Risa melirik ke arah Langit, lelaki itu tengah memperhatikannya. "Ayo ikut aku!"
Mereka berdua masuk ke perpustakaan untuk menghindari Langit.
****
Langit dan teman-temannya masuk kedalam kelas XI IPS 4. Banyak yang menatap Langit pelik. Langit duduk dengan perasaan tak nyaman dan berat hati. Beberapa orang terdengar sedang membicarakan Senja.
"Eh lo tahu kan Senja anak basket? Dia kecelakaan kemarin sore."
"Iya gue tahu, kok bisa ya?"
"Secara yang gue tahu dia kan pacar ketua OSIS, tapi dia malah peluk-pelukan sama Langit."
"Tahu, serakah banget ya dia?"
__ADS_1
"Gue yakin itu karma karena udah selingkuhin kak Arkan."
Sungguh tak baik membicarakan orang yang sedang sakit. Itu membuat Langit semakin terbakar ke dalam neraka. Senja lagi-lagi disalahkan. Lagipula untuk apa gadis gadis centil itu bergosip dihadapan Langit?
Langit bangkit dengan geprakan meja. "CUKUP!"
"Justru kalian yang bakal kena karma!"
Semua terdiam ketika Langit berucap banyak. Sedangkan yang tadi menggeprak meja pergi untuk menenangkan diri.
"Lang?"
Arif menahan Falah dan Eri untuk membiarkan Langit dengan pikirannya saat ini.
"Heh! Ini gara-gara mulut lèmès kalian tahu gak!"
"Tahu, kalau kalian gak tahu apa-apa diem aja!"
"Iya, mending kalian ngomongin gue aja."
Kalimat terakhir membuat si empunya kesakitan karena jitakan dari Arif dan Falah.
"Langit?" panggil Arkan.
Langit melirik sebentar dan memilih untuk meneruskan langkahnya. Arkan meraih pundak Langit, namun lelaki itu dingin dan menatapnya tajam.
"Gue mau lo dengerin gue dulu!"
Langit tak akan menjawab. "Gue mohon jauhin Senja setelah dia sadar nanti."
"Setelah Mama dan sekarang Senja?"
"Puas 'kan? Lo senang 'kan sekarang?"
Arkan menggeleng cepat. "Gue gak pernah ada niatan untuk ngejauhin lo dari Mama. Lo boleh ambil Mama. Tapi maaf, untuk Senja gue harus egois."
Langit tertawa sinis. "Kalau aja lo gak curang waktu itu, mungkin Senja milik gue sekarang!"
Langit benar-benar membeberkan semua amarahnya. Baru kali ini ia berbicara panjang kepada orang lain selain mamanya dan Senja. Arkan menunduk, apa yang Langit bilang memang benar.
Dengan segera ia menepis perkataan Langit. "Tapi gue yang menemukan Senja duluan!" Arkan berbicara seperti itu, apakah benar ia yang menemukan Senja duluan?
****
Waktu pulang sekolah datang, sungguh tak terasa waktu berlalu begitu cepat tanpa Senja. Setelah Arkan menangani semua tugasnya, ia berencana untuk bergantian menjaga Senja.
Sebelum ke rumah sakit, ia membeli sebucket bunga mawar merah. Ia tak mengetahui mawar warna apa yang Senja sukai, semoga saja warna terang itu membuatnya senang jikalau sewaktu-waktu gadis itu sadar.
"Terima kasih, Bu."
Arkan menerima bunga itu lalu menciumnya. Sangat harum, ruangan Senja pasti asri setelah diberi sentuhan mawar. Segera ia lajukan motor ninja merahnya ke rumah sakit tempat gadisnya tinggal sekarang ini.
"Hai Bun."
"Eh Nak Arkan,"
__ADS_1
Arkan tak mengantar Risa karena gadis itu pulang duluan karena tak mungkin juga Risa menunggu Arkan yang sibuk disekolah.
"Bunda lebih baik pulang, biar Arkan yang jaga Senja."
Bundanya melirik sekejap kepada Senja. Baiklah, ada yang harus bunda Gina kerjakan di tokonya, belum lagi anak-anaknya itu baru masuk sekolah, pasti ada biaya yang harus dikeluarkan, yakni uang SPP. Untung saja ada Arkan yang bisa bergantian jaga.
"Yaudah, kalau gitu Bunda pulang dulu. Nanti malam Bunda kesini lagi."
Arkan mengangguk. Bunda dari Senja itu tak ingin mengganggu waktu Arkan. Sehingga malam untuk bundanya, sore untuk Arkan atau Risa.
"Iya Bun."
Bundanya itu pun berlalu dan meninggalkan ruangan itu dengan hanya ada Arkan dan Senja didalamnya. Arkan menaruh bunga itu di meja nakas. Ia membuka gorden jendela sedikit lagi untuk memberikan sentuhan senja.
Kini ia duduk disebelah Senja. Menyentuh pipinya yang pucat, bibir yang mungil, mata yang terpejam, gadis itu cantik meski sedang tak sadarkan diri.
Ia meraih tangan Senja. "Cepet sembuh." Lalu menciumnya.
****
"Terima kasih, Bu."
Cowok itu membeli bunga mawar putih di toko yang sama dengan Arkan tadi. Ia hendak mengganti bunga mawar putih yang dibakarnya semalam. Ia bertujuan agar bunga layu itu tak menjadi Senja. Dan bunga mekar ini adalah simbol terbaru Senja.
Ia melajukan motornya menuju ke rumah sakit. Kira-kira siapa yang menjaga Senja sore ini? Terdapat siapa saja diruangan itu? Tak peduli, ia hanya akan menyuruh seorang suster untuk memberikan bunga mawar putih itu.
"Sus, saya bisa minta tolong?"
"Tolong apa Dek?"
"Tolong kasih bunga ini untuk pasien yang kemarin kecelakaan, namanya Senja."
"Hm, bisa Dek."
Langit memberi bunga itu untuk Senja. Ia tak bisa menemui gadis itu lagi, bahkan jika ia bertemu di lain waktu, Langit pasti akan mengabaikannya dan memilih untuk dingin, tak tahu nama dan sekedar lewat.
"Semoga lo suka," batinnya.
Langit pun keluar rumah sakit dan pulang ke rumah keduanya. Suster itu pun pergi ke kamar gadis yang dimaksud Langit tadi, kemudian memberikannya pada penghuni yang sadar.
"Loh Sus, itu dari siapa?"
Bunga mawar putih itu sendirian. Langit hanya membeli setangkai bunga karena yang rusak pun hanya satu. Langit bisa memberikan seribu bahkan sejuta untuk Senja, tapi itu hanya akan dilakukan jika gadis itu milik Langit.
"Saya lupa tanya siapa, tapi seragamnya sama kaya Masnya."
"Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki Mas."
Arkan tahu siapa dia. Itu pasti adik tirinya. Arkan pun menerima bunga mawar putih itu. Ia menaruhnya ditengah-tengah bunga mawar merah yang dibelinya. Ia sangat menghargai niat baik Langit kali ini.
...****...
...🔱...
__ADS_1