MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 50


__ADS_3

...


...


Senja merasa hari-harinya semakin buruk. Apalagi sekarang ini ia sudah tahu semua fakta tentang Langit. Pertama, ia adalah adik tiri dari Arkan maka ada kemungkinan jika Langit akan menjadi adik iparnya. Kedua, ia tahu bahwa ia adalah cinta pertama seorang Langit.


Tapi walau begitu, anggap saja hari-hari bersama Langit tak pernah terjadi sama sekali. Anggap saja ia hanya mengenal Arkan dan tak mengenal Langit. Karena Langit tak pernah menyapanya beberapa hari ini. Bahkan jika Senja memanggil ataupun menghampiri lelaki itu ia langsung pergi dan tak peduli.


Mungkin Langit sudah benar benar melupakannya. Tapi Senja berhutang maaf pada lelaki itu, bukan hanya maaf tapi juga terima kasih untuk semuanya.


Senja duduk ditempat yang pernah menjadi kenangan dengan Langit. Ia duduk di bangku favoritnya, es krim pisang itu, pisang yang pernah dibelikan Langit. Ah itu masih melekat dipikirannya. Jika tahu semuanya akan serumit ini, mungkin Senja akan memilih untuk sendiri.


Ia memegang setangkai bunga yang diberikan Arkan, setangkai bunga mawar putih. Eh apa itu dari Arkan? Bukan 'kan?


Sembari memegang bunga itu, Senja memandangi langit yang kala itu hampir senja.


Tiba-tiba suara tawa terdengar dipikirannya. Saat bibir mungil miliknya dipenuhi coklat cair dari es kul-kul yang pernah diberikan Langit.


Satu lagi, saat Langit melahap setengah dari pisang yang dipegangnya. Senja tersenyum kecut, jujur ia merindukan sosok itu.


Es kul-kul yang tadi dibicarakan kini ada dihadapan, seseorang datang untuk menyapa Senja. "Buat Kakak cantik," ujarnya.


Senja menunduk dan mengambil es itu, "Radit? Makasih sayang." Sembari mencubit pipi Radit.


Masih ingat siapa Radit? Ya, dia adalah anak kecil yang waktu itu menangis karena jatuh dihadapan Senja dan Langit.


"Kok kamu sendirian? Ibu kamu mana?"


"Kakak juga sendirian, Kakak ganteng mana?"


Senja berdesir, rasanya ia ingin memberitahu Langit, jangankan Senja, Radit saja masih ingat kejadian itu. Senja menghela nafas panjang.


"Kakak ganteng ada kok, tapi dia lagi pergi."


"Pergi kemana?"


Senja tak tahu harus menjawab apa. Langit memang ada, namun ia sudah tak seperti yang Senja kenal. "Kakak gak tahu, sayang."


Radit menunduk dan sedikit sedih. "Radit?" panggil ibunya.

__ADS_1


"Kak, itu Ibu ada. Aku pergi dulu." Radit pergi bersama lambaian tangan untuk Senja.


Anak itu masih ingat Langit. Senja memandangi es pisang yang diberikan Radit. Ia semakin ingat akan sosok Langit.


Senja memakan sedikit es pisang itu. Rasanya masih sama seperti dulu. Dengan air mata yang mengalir, ia mencoba menghapus ingatan itu. Dan menikmati es pisang yang kini di sukainya.


"Layaknya es krim, lo dingin dan manis. Gue kangen sama lo," batin Senja sembari memandangi langit yang kini tengah senja.


****


Langit meraih rooftop dan memandangi coretan dari tangan Senja. Bacaan Senja dan Arkan itu masih membekas di rooftop itu. Meski sepertinya hujan dan panas menerpa. Langit terlalu bodoh telah mengenal dan menjadi pahlawan untuk gadis itu. Langit membenci Senja saat ini.


Entahlah, setiap kali melihat Senja bukan suara jantungnya yang berdebar, melainkan rasa sakit yang perih.


Ya, Langit terpaksa menjauhi Senja dan mencoba menjalani hidup tanpa gadis itu lagi. Bukan hanya Senja, namun Risa. Langit merasa Risa juga dingin kepadanya. Gadis itu sepertinya sedang menghindari dirinya.


"Langit! Mau kemana?"


"Sebentar!"


"Kebiasaan."


Benih-benih dandelion bertebangan, darimana datangnya? Ia pun duduk dan menikmati angin di kala senja. Sangat teduh, pikirnya. Ia memandangi senja itu dan berpikir bahwa senja tak adil pada langit.


"Langit selalu ada, tapi kenapa senja selalu pergi?"


"Langit selalu memberi apapun yang senja mau, tapi kenapa senja selalu menghilang?"


Tapi logika memberi pencerahan pada Langit. Andaikan langit pergi, maka senja pun tak akan bersinar. Apakah Senja juga begitu?


Langit memejamkan matanya.


Tapi tetap pada perasaan dan pendiriannya, ia tak akan pernah ingin kembali dan menyapa gadis itu. Setelah Senja bilang kalau dirinya tak membutuhkan Langit.


Padahal aromanya, senyumnya, tangisnya, dan tingkah manisnya masih melekat jelas dihati Langit.


Ya, jika ditanya soal perasaan, Langit pasti akan menjawab Senja.


****

__ADS_1


...{🎶Jungkook BTS ~ Ending Scene🎶😢}...


Senja masih bersama langit yang hampir petang, gadis itu tak membantu ibundanya ditoko ataupun membalas pesan Arkan. Yang ingin ia lakukan saat ini hanyalah diam dan mengingat semua tentang dirinya dan Langit.


Senja rasa sudah cukup, pikirannya sudah tumpul sekarang. Mengingat dari awal hingga akhir.


Yang melekat adalah saat Senja dibully oleh Oppi dan Langit terpaksa masuk kedalam toilet wanita. Kala itu ia menggunakan jaket jeans dan memasangkannya langsung ditubuh Senja dan memeluknya. "Ada gue." Oh kalimat itu, kenapa sangat indah?


Ada satu lagi, saat Langit mencolek pipi Senja saat tengah bermain basket. "Tomat rebus." Kalimat itu juga melelehkannya.


Dan yang paling berkesan, saat Langit merelakan jas sekolahnya basah untuk melindungi gadis itu dari hujan. "Ayo!"


Masih banyak yang pernah ia lakukan dengan Langit. Saat kelas detensi dan Langit menceritakan kisah lucunya dengan teman-temannya. "Eri ketakutan dan pingsan." Kalimat ini hanya Senja dan Langit yang tahu.


Yang paling ia ingat adalah ketika ada bintang berekor yang lewat dihadapan mereka. Oh yang itu, itu sangat lucu. Langit mengepang rambut Senja, meskipun hasilnya masih berantakan. Senja terkekeh kecil, menggemaskan.


Dan yang paling berat untuk dilupakan adalah saat Langit menyatakan perasaannya kepada Senja. "Gue sayang sama lo." Senja kembali bersedih. Ia menggeleng-gelengkan kepala.


Senja yang tadi ada bahkan sudah tenggelam terseret waktu, hari mulai gelap, ia menangis dalam diam dibangku itu. Bahkan satu hari saja tak bisa untuk mengingat semuanya. Ia butuh beberapa hari untuk menjabarkan kisahnya dengan Langit.


Orang-orang mulai beranjak dari tempat diamnya, sedangkan Senja masih duduk menangis mengingat semuanya. Bayangkan saja jika kau diposisi Senja saat ini. Bayangkan saja jika hari-hari yang kau lewatkan dengan dia tidak bisa kau rasakan lagi karena dia pergi.


"Gue bohong, gue bohong Langit. Gue sayang sama lo, maafin gue," batin Senja menangis sembari memeluk bunga mawar putih itu.


Pikirannya menggoyahkan perasaannya. Sudah ada Arkan, Senja.


Ia menaruh bunga mawar putih itu ditaman. Ia tak akan datang lagi ke taman itu, dan memilih melupakan Langit juga. Baginya mengingat kisahnya bersama lelaki itu adalah untuk mengucapkan terima kasih.


Senja pun beranjak dan pulang ke toko ibundanya. Meninggalkan bunga mawar putih itu dan berharap Langit yang menemukan bunga itu.


Senja sudah beberapa langkah menjauh dari bangku taman itu.


Namun bunga mawar yang ditaruhnya dibangku taman sudah hilang ditemukan orang yang tepat.


"Senja," lirih orang yang menemukan bunga mawar itu.


...****...


...🔱...

__ADS_1


__ADS_2