MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 23


__ADS_3

...


...


Setelah bintang yang terlihat semalam, anehnya hari ini awan hitam yang datang. Seolah bintang telah mengkhianati para pemercayanya yang mengira esok cerah setelah bintang menampilkan dirinya di langit.


Rintik hujan menusuk tubuh Senja yang tengah berlari menerobos keroyokan air itu. Ia melangkah cepat menuju gerbang dan mencari tempat berteduh. Naas. Seragamnya tetap basah.


Ia pun segera membersihkan air hujan dari rok kotak-kotak birunya.


Keempat lelaki itu berlarian menuju tempat berteduh. Dari arah parkiran, Langit dan teman-temannya berlari ke tempat Senja berteduh. Sama hal nya dengan Senja, ia pun membersihkan sisa sisa air di almamater birunya. Almamater? Iya, Langit memakai jas sekolah kali ini.


Senja terkekeh pelan. Membuat Langit kebingungan. "Apa?" tanyanya kepada Senja.


"Itu.." tunjuk Senja ke arah rambut Langit.


Langit mencoba memahami maksud gadis dihadapannya itu. Meraba-raba rambutnya, namun tetap salah. Senja pun menggeleng-gelengkan kepala, lalu mengambil daun yang menancap di rambut Langit. "Ini." katanya sambil memperlihatkan sehelai daun.


Langit menghela nafas, sebab Senja berada tepat dihadapannya. "Oh maaf," ujar Senja seraya memundurkan posisinya. Namun tepat setelahnya Eri tak sengaja menubruk Senja, karena Arif mendorong Eri.


"Duh.. paan sih Rif!" Eri kesal.


"Ssst." Sembari mengarahkan dagunya ke arah Senja dan Langit.


Kini keduanya hanya terpaut beberapa senti. Mengingatkan pada kejadian yang sama kala itu, matanya saling tatap, kini manik hazel itu lagi-lagi bertabrakan dengan manik hitam pekat milik Langit.


Beberapa detik...


"Ehem... "


"Uhuk... uhuk..."


Godaan itu berasal dari teman-teman Langit, dengan sangat gugup Senja mencoba menetralkan jantungnya. Oh Tuhan apa ini?! "Hm, maa.. maaf," ujar Senja, setelahnya ia pergi ke kelasnya.


Tanpa di sadari, ia telah salah tingkah, sampai lupa bahwa hujan sedang deras-derasnya. Lupa! Itu membuatnya membeku. Derasnya hujan kembali mengeroyok Senja. Berbekalkan tangan, Senja mencoba menutupi kepalanya.


Sehelai jas sekolah melindunginya dari hujan deras itu. Mereka kembali tertegun. Langit! Mengapa dia selalu ada? "Ayo!" Suaranya samar-samar diantara melodi hujan.


Kemudian keduanya terbebas dari rintikan air, jas lelaki itu basah kuyup. Kini mereka berada didepan kelas dengan mini board yang digantung "X MIPA 4".

__ADS_1


"Makasih. Dan maaf, almamater lo jadi basah."


"Atau lo pake yang gue aja, mau?" tanyanya, sembari hendak melepas almamaternya.


"Lo mau gue masuk angin?"


Senja terdiam. Dan memang benar, almamaternya sedikit basah. Tak ingin orang lain menganggap yang bukan-bukan, Senja pun pamit untuk masuk ke kelas dan tak lupa berterima kasih. Lagi, lagi dan lagi.


Saat Langit meninggalkan teras kelas itu, senyumnya terus mengembang.


****


Senja celingukan mencari seseorang yang sampai saat ini belum membalas pesan-pesannya. Dikantin. Ia duduk bersama Liani, namun pikirannya berada ditempat lain. Senja membiarkan Lia berbicara dengan patung. "Senja?!" panggilnya, sedikit berteriak.


Senja terlonjak. "Lia? Ngagetin aja!"


"Ya abisnya, lo dari tadi melamun."


"Hm." Ia kembali mengaduk-ngaduk bekalnya.


Lia menggelengkan kepala. "Ada apa? Cerita sama gue," katanya sambil mendalami wajah Senja yang murung.


Senja pun bercerita kepada Lia soal kejadian kemarin bersama Arkan. Wajah Lia begitu serius mendengarkan tutur kata Senja. "... Tiba-tiba Kak Arkan pergi gitu aja."


"Udah, tapi dia sama sekali gak respon."


"Hm.. menurut gue sih ya, Kak Arkan ada masalah yang serius. Gue rasa lo gak usah hubungin dia dulu sekarang."


"Gitu ya Li?"


Lia berdeham sembari menyeruput es yang sedang di pegangnya. Senja kembali termenung, apa yang diucapkan Lia memang benar. Tak sepantasnya ia menghubungi Arkan untuk saat ini, karena itu pasti akan mengganggu.


"Hm gue gak akan ganggu Kak Arkan."


"Iya, lo tunggu aja. Maklumi setiap tindakan pacar lo itu.."


"Kasih dia waktu, lo gak boleh ngekang dia, Sen," sambungnya.


"Kayaknya udah ahli banget ya Mbaknya?" goda Senja.

__ADS_1


Lia menyegir kuda. "Gue kan pacaran duluan daripada lo."


Senja tertawa mendengar itu. Padahal Lia baru berpacaran satu kali, namun ia sudah sangat ahli soal sebuah hubungan. Mungkin saja ada buku spesial yang dibaca gadis itu, sehingga membuatnya tahu semua soal permasalahan dalam sebuah hubungan. Yakin hubungan Lia sehat?


Langit dan teman-temannya duduk tak jauh dari meja Senja dan Lia. Mereka berbincang-bincang dan bercanda seperti biasa, terkecuali Langit yang memang terus pada mode dingin. Sesekali ia mencuri pandang ke arah meja yang dihuni dua gadis manis.


"Arlan masuk kelas berapa ya kira-kira?" tanya Arif tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


Langit refleks menoleh pada Arif, benar juga! Gara-gara suasana hatinya yang bagus, ia sampai melupakan hal penting itu. Arlan! Kini pikirannya dipenuhi oleh nama lelaki itu. Kemudian Langit bangkit dan mencoba mencari tahu, Arlan masuk kelas mana dari sekian banyak kelas.


"Gue duluan!" ucapnya tanpa ingin mendengar jawaban teman-temannya.


"Lang!"


"Udahlah, biarin. Dia pasti mau ke kantor kepala sekolah," ucapan Arif ini memang benar.


Ya, Langit memang mau menemui kepala sekolah tersebut dan menanyakan Arlan menduduki kelas berapa, karena itu akan mudah untuknya mencari keberadaan Arlan.


Langit memasuki ruangan kantor kepala sekolah. Ia langsung menanyakan tujuannya. "Arlan Gio Fadlan? Anak itu yang kamu maksud?" Responnya tak banyak, hanya dehaman dan anggukan. Dia mendapatkan apa yang dia mau. X IPS 6. Itulah kelas yang ditinggali Arlan "Terima kasih Om," ujarnya, lalu bergegas meninggalkan ruangan, namun ditahan.


"Langit?"


Langit berbalik dan pak Edwin, ia adalah kepala sekolah sekaligus papa dari Oppi, menyuruh Langit untuk kembali duduk. "Duduk!" perintahnya.


Langit menurut dan langsung duduk. "Jadi, Arkan.. dia sudah berbuat apa pada anak saya?" tanyanya.


Ternyata papa dari Oppi ini hendak bertanya perihal anaknya yang mencoba mengakhiri hidupnya. Beliau merasa jika itu perbuatan Arkan. Karena jika Oppi sakit, kabur atau pun merajuk, itu pasti karena Arkan.


Oppi sangat menyukai Arkan, ia bahkan akan melakukan apapun untuk mendekati sahabat kecilnya itu. Namun sepertinya papa dari Oppi itu salah jika bertanya kepada Langit. Sebab anak itu sama sekali tak peduli apapun soal kakak tirinya.


"Maaf Om, saya tidak tahu apa-apa."


"Begitu ya, ya sudah kamu boleh keluar," ucapnya dibalas anggukan oleh Langit.


Sepanjang jalan, Langit memikirkan Arkan. Apa maksud om Edwin tadi? Apa yang dilakukan Arkan?


Padahal Langit yakin, jika Arkan tak melakukan apapun. Hanya saja, gadis ambius itu menghalalkan segala cara untuk menarik perhatian Arkan.


Namun jika Langit berada di posisi Arkan, ia juga pasti melakukan hal yang sama, untuk sahabat kecilnya.

__ADS_1


...****...


...🔱...


__ADS_2