MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 11


__ADS_3

...


...


Senja membiarkan Risa berjalan sendirian menyusul Ibundanya yang berada di toko baru milik keluarga kecilnya. Sedangkan Senja nampaknya sedang menunggu seseorang yang tadi menelponnya melalui telepon rumah.


Risa berdecak. "Ih Kak Senja nyebelin, aku nunggu lama-lama malah disuruh duluan," gerutunya sendiri.


Terdengar suara klakson mobil yang sangat mengganggu pendengarannya.


Risa menutup telinganya. "Berisik!" Lalu menoleh ke belakang.


Terlihat mobil mewah berwarna putih bersih tengah berhenti tepat dihadapannya. Seseorang keluar dari kursi penumpang.


"Oh.. ternyata anak kelas bawah yang ngalangin jalan gue," ucapnya membuat telinga Risa bertambah panas.


"Apa kamu bilang?!" Risa tak terima, ia menatap orang itu kesal, bagaimana tidak? Ia berjalan disamping, bukan tengah jalan.


"Gue bilang kelas bawah. Apa perlu gue perjelas?" katanya sambil menggulung ujung rambutnya yang terkuncir menggunakan jari tunjuknya, lalu memutar bola matanya malas.


Gadis itu mendekat dan menatap Risa tajam. "MIS-KIN!" Kemudian tertawa puas.


Risa yang tak terima langsung mendorong gadis itu hingga menabrak cup mobil putihnya.


"Dasar!" umpatnya lalu mendorong tubuh Risa hingga membentur aspal.


Gadis itu menendang kaki Risa yang terduduk dibawah. Sampai seseorang datang membantu Risa bangkit.


Matanya membulat sempurna. "Lang?" Gadis itu kaget bukan main.


"Key!" pekik Langit sembari memegang kedua pundak Risa.


"Aku bisa jelasin..." kata Keysa memohon.


Langit mendekat ke arah Keysa ."Gak penting, sekarang lo pergi, dan jangan ganggu dia lagi!" seru Langit dengan mata elangnya.


Keysa mencekal tangan Langit. "Lang, please jangan tinggalin aku lagi!" Langit menghempaskan tangan Keysa yang masih tertinggal bekas infus.


Langit meraih pergelangan tangan Risa dan membawanya pergi. Langit mengantar Risa, karena ia tak tega melihat keadaan Risa yang diolok oleh mantan kekasihnya itu.


Risa berdeham. "Ma.. makasih Kak." Sembari menatap wajah Langit yang teduh.


Langit hanya berdeham menanggapi itu.


"Ternyata ini rencana Tuhan, apa dia jodoh aku?" batin Risa menatap Langit. Ya, tentu ia berpikir begitu, karena kakaknya tiba-tiba menyuruhnya berangkat duluan.


****


Senja menutup gerbang rumahnya, lalu menemui seseorang yang menelpon dan memintanya untuk bertemu. Pria itu memberikan paper bag kepada Senja.


"Loh, apa ini Kak?" tanya Senja.


"Itu hp lo, udah beres kok," Arkan baru mengembalikan ponsel Senja hari ini karena waktu itu Senja selalu mengabaikannya.


"Serius Kak?" Senja menatap Arkan semringah. Lalu merogoh paper bag tersebut, ponselnya memang disana, tapi..

__ADS_1


"Loh? Ini hp siapa Kak?" tanyanya kebingungan karena terdapat ponsel baru yang masih terbungkus kotak.


Arkan tersenyum. "Punya lo,"


"Eh, gak perlu kak, lo betulin hp gue aja itu udah lebih dari cukup."


"Udah, ambil aja."


Senja berusaha sekeras mungkin untuk mengembalikan ponsel yang diberikan Arkan. Namun Arkan juga bersikeras untuk membuat Senja menerimanya.


"Kalau gitu makasih banyak Kak."


Arkan berdeham. Kemudian Senja mengajak Arkan ke toko baru keluarganya, tentu Arkan menerima ajakan Senja.


****


Langit mengantar Risa menggunakan motor ninjanya. Tak lama, hanya menempuh sepuluh menit untuk sampai ke tujuan.


"Namaku Risa, Kakak?" sembari mengulurkan tangannya bermaksud berjabat tangan.


"Langit," membalas jabat tangan Risa.


"Langit?" gumamnya.


"Ah iya Kak, kebetulan Bunda baru buka toko di sebelah sana." menunjuk toko baru Ibundanya.


"Aku mau ajak Kakak untuk kesana juga. Eum... itung-itung berterima kasih karena udah tolong dan antar aku tadi," lanjutnya lalu sedikit menunduk.


"Hm, ayo!" ucapnya membuat Risa menegakan kepalanya semangat.


"Ayo ikut aku!"


"Eh, Kak Ses-.." Risa menutup mulutnya rapat lantaran yang dipanggil malah menatapnya tajam.


"Kak Senja," ralatnya.


"Langit?" gumam Senja, Langit menghembuskan nafasnya kasar sedangkan Arkan memutar bola matanya malas.


Senja menghampiri Risa dan langsung bertanya. "Kamu kenapa bisa sama dia? Terus kenapa baju kamu kotor?" seraya melihat pakaian yang dipakai adiknya.


"Aku jatuh Kak." jawab Risa berbohong, membuat Langit menoleh kepada Risa.


"Oh, tapi kamu gak apa-apa, 'kan?" Tanya Senja sembari memegang lengan Risa dan sedikit merasa bersalah karena menyuruh adiknya berangkat duluan tadi.


"Ada gue!" seru Langit datar.


Senja menatap Langit. "Yaudah kak, ayo masuk!" kata Risa mengajak mereka masuk.


Senja menoleh ke belakang dan menghampiri Arkan. "Eh maaf Kak, Ayo!"


Mereka pun masuk, Senja berdampingan dengan Arkan, sedangkan Langit dengan Risa. Membuat Ibundanya yang tengah sibuk mengobrol dengan salah satu tukang itu pun menoleh tidak percaya.


"Eh anak-anak Bunda. Hm, udah pada besar ya sekarang?"


"Ah bunda apaan sih," ucap Senja salting, keempatnya bersalaman mencium tangan bunda Gina.

__ADS_1


Alisnya terangkat satu. "Terus? Anak-anak ganteng ini siapa? Hm?" tanya Bundanya menatap Senja dan Risa bergantian.


Senja dan Risa meringis, menunjukkan deretan giginya yang rapih dan putih. "Temen Bun!" balas kedua gadis itu berbarengan.


"Oiya, Saya Arkan, Tante," katanya tersenyum ramah.


"Dan saya Langit."


"Selain wajah, nama kalian juga ganteng-ganteng ya?" ujar bundanya sembari tertawa.


membuat kedua anak-anaknya malu. "BUNDA!" teriak Senja dan Risa kompak.


Arkan tersenyum lebar, sedangkan Langit hanya diam melihat kelakuan adik-kakak yang seperti anak kembar itu.


"Yaudah ayo bantu Bunda!"


Senja dan Risa hanya mengangguk patuh.


"Saya bantu tante." Arkan nimbrung, sedangkan Langit hanya mengangguk pelan.


"Untuk anak-anak ganteng ini, kalian duduk aja ya? Lagian sedikit lagi kok kerjaannya, kan ada Risa sama Senja."


Arkan menggeleng cepat. "Gak apa-apa Tante. Saya bantu."


Kedua lelaki tampan itupun membantu merapihkan toko kue tersebut. Risa dan Senja membantu bundanya menyiapkan kue untuk yang akan hadir, sedangkan Langit dan Arkan membantu membereskan meja serta kursi yang belum tersusun rapih.


Setelah beberapa jam, akhirnya acara pembukaan toko kue itu selesai.


"Huh capek juga ya?" Risa mengeluh lelah.


Langit memberi minum kepada Risa. "Eum.. makasih Kak." Kemudian meminumnya.


Langit hanya mengangguk. Senja melihat adiknya dan manusia es itu. Menurutnya itu aneh, sejak kapan mereka dekat? Jujur saja, ia sedikit risih melihat kedekatan adiknya dan lelaki itu, seperti ada sesak yang menyerang dadanya. Entah apa?


Arkan tak mau kalah, ia pun memberi minum kepada Senja. "Makasih Kak."


Setelah beberapa menit beristirahat, mereka pun pulang.


"Nak, ayo pulang!" ajak Bunda Gina kepada keempat anak remaja itu.


"Yaudah. Kak gue mau pulang bareng bunda." kata Senja kepada Arkan.


"Oiya Kak, aku juga mau sama Kak Senja dan Bunda." ujar Risa, dan dibalas anggukan oleh Langit.


Arkan menyarankan. "Kalau gitu, pesan taxi aja gimana?"


"Gausah nak Arkan, kita bisa jalan ya 'kan?" Menatap kedua anak gadisnya.


Senja dan Risa mengangguk. Mereka tahu bundanya tak memiliki uang yang banyak, bagi mereka naik taxi adalah boros.


"Tenang aja Tan, biar Arkan yang bayar taxinya." Langit lagi lagi menghembuskan nafas kasar.


"Saya carikan taxi," kata Langit yang langsung pergi keluar mencarikan taxi, ya dia tak ingin mereka terus berbasa-basi.


Risa pun menyusul Langit yang mencarikan taxi. Lagi-lagi hati Senja perih, ia tak tahu mengapa? Tapi itu membuat dadanya sedikit sesak. Terlebih lagi, Langit terlihat lebih akrab dengan Adiknya dibandingkan dengannya. Mereka bercakap-cakap, Senja dapat melihat tak ada sekat diantara mereka, Langit terlihat menyenangkan di sana.

__ADS_1


...****...


...🔱...


__ADS_2