MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Part 18 : Senja atau Bulan?


__ADS_3

...Mengubah pandangan orang lain adalah hal yang sulit. Jadi yang bisa kau lakukan hanyalah mengubah pola pikirmu menjadi lebih jernih....


...🔱...


"Dan.. kalau memang kamu gak punya perasaan sama Kakak. Kakak bisa mundur, kok."


Senja melebarkan matanya. Kak Arkan..


Setelahnya gadis itu memeluk Arkan dan menangis sekencang-kencangnya. Arkan membalas pelukan Senja itu dengan hangat. Gadis itu memang pernah berpikiran untuk mengakhiri hubungannya dengan Arkan. Namun mendengar Arkan mengatakan mundur, entah kenapa hati Senja seakan tertusuk.


"Kak... hiks.. aku sayang sama Kakak. Jangan pernah bicara itu lagi, aku mohon..." lirih Senja sembari menangis. "Aku gak mau Kakak pergi," kata Senja sembari memeluk erat Arkan.


Arkan mencium dahi Senja dan mengelus rambutnya dengan lembut. Cowok itu bisa merasakan betapa eratnya Senja memeluk. Seperti apa yang ia katakan, tanpa bicara pun, ia sudah mengerti. Bahwa Senja.. memang mencintai dirinya.


"Senja.." Arkan melepaskan pelukannya dan ingin menatap Senja dalam-dalam. Mata gadis itu sangat basah, Arkan mengusapnya perlahan. "Jangan pernah nangis karena Kakak." Arkan memberikan tatapan manis. "Maafin Kakak udah buat kamu tertekan. Kakak bicara itu supaya kamu bisa lepasin apa yang selalu kamu pendam. Seandainya kamu punya perasaan sama Langit, Kakak bisa ngerti, kok."


"Eum.. Kakak mau kamu bebas," sambungnya membuat Senja menangis lagi.


"Gimana bisa aku bebas? Kalau aku.. udah nyaman sama satu laki-laki, aku udah milikin Kakak, dan itu adalah impian aku." Senja menggeleng dan meraih tangan Arkan. "Mau Kakak atau Langit.. kalian berdua adalah orang yang selalu berhasil buat aku semangat lagi. Jadi perasaan aku sama Langit hanya sebagai ungkapan terima kasih, sementara perasaan aku ke Kakak.. itu karena aku pengen terus berjalan sama Kakak."


Arkan menunduk. Ia sangat berterima kasih pada apa yang Senja katakan tadi. Berjalan itu artinya Senja rela belajar mencintai Arkan? Atau.. itu artinya, Senja mau bersama terus dengan Arkan? Dan Senja ingin apa yang ada tetap menjadi miliknya.


Arkan menarik Senja kepelukannya. "Makasih.. makasih karena kamu masih mau bertahan sama Kakak."


Sementara Senja, gadis itu masih bingung soal perasaannya. Namun mau bagaimanapun, ia mau berjalan dengan Arkan. Gadis pun memeluk Arkan lebih erat. "Jangan pernah tinggalin aku, Kak..."


****


Ada gadis yang lebih malang dari Senja, ia bahkan selalu sendirian dimanapun, kapanpun. Namun tekadang, ia tak pernah pedulikan itu dan mau menjalani apa adanya saja. Tak berteman tak masalah, sendirian juga tak apa.


Namanya Luna, dia memang selalu sendirian dan tak memiliki teman dari kecil.


Ia berjalan santai dan hendak ke kelas. Namun ketika hendak masuk, ada seseorang yang menerobos dan melampaui Luna. Lantas ia tak terima dan menegur.


"Eh, Langit!"


"Langit, tunggu!"


Gadis itu sampai mengejar karena Langit terus berjalan dan tak menghiraukan dirinya. Langit kembali sedingin es, makanya Luna kebingungan. Langit meraih bangku yang ada di belakang dan langsung duduk. Sedangkan Luna duduk dihadapannya.


"Langit, lo kok gak sama Senja? Masih marahan, ya?" tanya Luna.


Langit menatap Luna serius. "Jangan pernah bahas dia lagi."


Luna tersentak. "Lo berdua itu kenapa, sih? Dari awal gue lihatin baik-baik aja. Kalian bahkan udah kayak orang pacaran, tapi kenapa sekarang..."

__ADS_1


"Senja itu milik orang lain," lirih Langit.


Luna tertegun, ia baru ingat jika Senja sudah memiliki pacar. Lantas apa hubungannya dengan Langit?


"Kok bisa, sih? Kenapa gak lo aja yang milikin Senja?" tanya Luna. "Secara.. lo sama Senja kan cocok tuh, langit dan senja.."


Langit membuang nafas. "Kenapa gak langit dan bulan aja?"


Luna lagi-lagi tertegun dan tersipu. Jadi Luna itu artinya benar-benar bulan? Gadis itu tak pernah menyangka jika ternyata arti dari namanya seindah itu. Dan Luna juga tak mengerti mengapa Langit selalu bisa membuatnya merasakan itu. Apa mungkin Langit sedang memberikan harapan?


Luna menunjuk wajah Langit. "Ah, gue tahu nih. Lo itu tipe-tipe cowok yang baperin cewek, kan? Dan sekarang lo deketin gue karena lo mau gue suka sama lo? Iya, kan?"


"Jadi lo udah suka?" tanya Langit. Itu membuat Luna kembali tertegun. Anak ini kenapa sih?


Luna pun mulai memancing-mancing. "K-kalau udah, terus mau apa?!" tanyanya ngotot.


"Jadian."


Luna... katakan iyaaa!


****


Drrrtt


Tapi ia ingat ketika Arkan tidak membalas pesannya. Sudahlah Senja, lebih baik habiskan sarapan agar bisa kembali berharap yang baik-baik.


Sara


Ar? Lo dimana?


Bentar lagi ada kelas, hari ini pasti ada briefing.


^^^Iya Sar, gue lagi di jalan.^^^


Arkan menaruh kembali ponselnya dan menatap Senja yang sedang melahap perlahan makanannya. Arkan tersenyum, Senja sepertinya sudah membaik dan bisa ditinggal, pikirnya.


"Sayang? Eum.. Kakak harus ke kampus sekarang, dokter yang ngajar mau masuk."


Tuh kan, harusnya respon Arkan adalah tidak bersemangat dan bukannya berbinar. Secara, lelah kan akan menghampirinya lagi. Senja merasa aneh, padahal selama ini Arkan selalu menganggap Senja adalah yang paling utama, tapi sekarang, ada impian yang harus Arkan kejar. Mungkin.


Dengan mulut yang tidak terlalu penuh, Senja hanya berdeham.


"Kamu beneran gak keberatan, kan kalau Kakak tinggal sendirian?" tanyanya dengan mata yang meyakinkan Senja.


"Iya, yang penting Kakak masuk kuliah. Kakak gak usah cemasin aku."

__ADS_1


Arkan meraih pucuk kepala Senja, gadisnya yang perhatian. "Hm, Kakak janji pasti ke sini lagi buat jenguk Bunda setelah urusan di kampus selesai."


Senja mengangguk sembari memejamkan mata, ia harus yakin itu.


Arkan juga tersenyum lalu memberikan kecupan di dahi Senja. "Ya udah, Kakak berangkat dulu. Kamu jaga diri baik-baik di sini. Kakak gak lama, kok."


"Iya, Kak."


Arkan pun pergi meninggalkan Senja begitu saja. Entah kenapa, kepergian Arkan itu membuat hati Senja perih. Apa mungkin Arkan akan kembali lagi ke sini?


Ia hanya bisa menghela nafas. Semoga saja.


****


Luna tertawa mendengar ucapan Langit, sungguh laki-laki yang punya humor dan selera yang rendahan. Namun Luna juga tak rendahan, ia malah meragukan kata-kata Langit tadi, untuk apa juga menerima orang yang baru dikenal? Juga yang menembaknya ini kan sahabat dari teman Luna yang baru.


"Lo lucu sumpah, terus lo pikir gue itu udah suka sama lo? Ya belum lah! Dan gak akan pernah!" kata Luna sembari tertawa.


Seperti biasa, Langit dengan tatapan dan wajah dingin. "Gue akan tunggu!"


Lagi-lagi itu membuat Luna tertegun dan bingung. "Kenapa harus tunggu gue suka dulu? Kenapa gak lo nya aja?"


Entahlah, tapi jawabannya adalah Langit masih dipenuhi Senja.


"Bukannya cewek lebih mudah suka daripada laki-laki?"


"Dengar ya Langit! Lo cium gue sekalipun, gue gak akan suka sama lo. Apalagi perhatian kecil yang lo kasih, itu gak akan pernah bisa buat gue baper. Gue itu punya mental laki-laki, jadi sulit buat suka."


"Terus apa yang buat lo suka?"


"Baru kali ini gue dipaksa suka, heran gue sama lo." Luna memang terlihat kebingungan. "Mending gini, daripada lo tunggu gue suka, mendingan lo tunggu si Senja putus. Lebih praktis, kan?"


Langit menghela nafas panjang. "Itu lebih sulit."


"Sulit apanya, sih? Gue lihat, Senja lebih nyaman sama lo dibanding pacarnya."


"Emang lo tahu pacarnya?"


"Nggak."


Langit menggeleng karena respon cewek itu sangatlah unik. "Pokoknya gue mau nunggu, karena itu tugas Langit."


Luna menautkan alisnya. Menunggu apa? Senja atau Bulan?


...🔱...

__ADS_1


__ADS_2