
...Memberikan seribu luka untuk wanita, maka ia akan mengobatinya. ...
...Sementara menaruh satu kecewa bagi laki-laki, maka ia akan pergi....
...~QB903...
...~🔱~...
Sebenarnya Senja memaksa agar Langit pergi mengikuti kelas dan belajar, tapi laki-laki itu tetap bersikeras tak ingin meninggalkan Senja. Kejadian pagi tadi sudah cukup memukul kepalanya, jadi Langit berpikir jika meninggalkan Senja untuk kedua kalinya itu tidak akan membuat hatinya nyaman.
Langit duduk membelakangi Senja. Laki-laki itu malah terus dingin tak ingin berbicara. Senja seolah berbicara dengan patung. Karena Langit sengaja diam tak ingin diusir, tak ingin beranjak kemanapun.
Senja masih bingung bagaimana cara agar Langit tak usah mengkhawatirkannya. Gadis itu semakin dibuat pusing oleh Laki-laki yang menjadi pelindungnya itu.
"Lang, sana pergi! Kamu harus belajar!" usir Senja. "Lang ayo dong ngomong!"
"Lang, aku capek daritadi ngusir kamu, sementara kamu diam aja?!
"Lang, sana pergi!"
"Kenapa masih di sini?!"
"Lang!"
Langit cukup lelah mendengarkan suara Senja yang tidak bisa berhenti. Ia pun menoleh ke Senja. "Berisik!" tegurnya. Kemudian ia membelakangi Senja lagi.
Senja mencebikkan bibirnya ingin menangis.
Karena Langit merasa Senja tidak bersuara, ia pun menoleh ke Senja lagi. "Kenapa?" tanya Langit.
"Katanya berisik, ya aku diam lah."
"Oh."
"Ih, Lang! Sana ke kelas! Emangnya kamu mau ketinggalan mata kuliah hari ini?"
"Udah diam. Aku lagi jadi langit, jadi selalu ada."
Senja berdesir, pipinya pasti sedang merah-merahnya sekarang. Senja pun menunduk karena malu mau menanggapi apa. Langit hanya tersenyum tipis melihat itu, apa semua gadis akan seperti ini ketika digombali? Namun gombalan Langit hanya sebatas itu, mana mungkin efeknya sampai membuat Senja bungkam?
"SENJA!" gadis yang dipanggil itupun menegakkan kembali kepalanya.
"Kak Arkan?"
Ya, Arkan datang untuk melihat keadaan Senja. Melihat Arkan datang, Langit langsung bangun dari tempat duduknya dan membiarkan Arkan untuk duduk di samping Senja.
"Kok Kakak tahu aku ada di sini?" tanya Senja.
Arkan menatap Langit. "Langit yang udah kasih tahu Kakak."
__ADS_1
Senja menghembuskan nafasnya. "Seharusnya Kakak gak usah ke sini."
"Kenapa? Apa karena udah ada Langit?" tanya Arkan. Langit hanya bersikap semakin dingin.
Sementara Senja kepalang mengatakan itu. Lantas gadis itu menggeleng cepat. "Nggak, bukan gitu. Tadi aja aku maksa Langit untuk ke kelas dan sekarang aku harus berusaha buat Kakak kembali juga ke kelas."
"Gak usah nyuruh, karena Kakak bakalan pergi sendiri," kata Arkan. Senja dan Langit terkejut. "Tapi nanti, setelah Kakak bisa pastiin kamu baik-baik aja."
Meleleh lagi, dong. Kenapa Senja selalu dikelilingi laki-laki tampan dan baik?
"Tapi ada yang lebih penting dari aku, yaitu mimpi kalian. Aku gak mau hanya karena aku, kalian gak fokus buat ngejar impian kalian jadi dokter dan pengacara."
"Yang dipegang seorang laki-laki itu adalah janjinya. Dan kita berdua udah janji buat jaga kamu," kata Langit, sebenarnya itu menyindir Arkan. Apakah ada reaksi?
Arkan menunduk. "Ya, apa yang dibilang Langit itu bener. Kita pernah janji buat jaga kamu, jadi kita gak akan biarin kamu kenapa-kenapa lagi."
Senja dipenuhi rasa bersalah, kenapa laki-laki ini membuat janji semacam itu?
Arkan melihat lengan Senja yang terdapat bekas cakaran. Ia lantas menarik lengan Senja. Goresannya cukup panjang, jadi itu pasti sakit. "Ini tangan kamu kenapa?"
Ah, kenapa bukan Langit yang menemukan itu?
"Oh, ini kegores, Kak."
"Kegores apa?!"
"Bohong! Bicara jujur, ini kenapa?!"
Senja berkaca-kaca.
"Ar!" tegur Langit.
"Diam, Lang!" balas Arkan. Arkan beralih kepada Senja lagi. "Senja.. Kakak gak bodoh, ini cakaran!"
"Siapa yang udah lakuin ini?"
Arkan sudah berlebihan. Namun mau bagaimana lagi, mungkin cowok itu sedang dalam keadaan khawatir.
"Kak Yumi."
Langit semakin diliputi rasa bersalah. Kenapa Arkan begitu teliti dibandingkan dirinya? Arkan membuang wajahnya frustasi, gadis itu lagi!
"Dia ngomong apa aja sama kamu?" tanya Arkan.
Senja menggeleng. "Dia cuma gak suka aku ada di kampus ini. Itu aja, kok."
"Cuma itu?"
Senja mengangguk. Arkan pun berdiri dari duduknya, lalu mengambil sebuah plester yang sudah disediakan di sana. Dan kembali lagi untuk mengobati luka cakaran itu. Luka itu cukup dalam dan pasti perih.
__ADS_1
Kesigapan Arkan membuat Langit yakin, jika Kakak tirinya itu memang pantas dengan Senja.
"Lang, lo bisa kan temenin Senja?"
Langit mengangguk dan berdeham."Selalu bisa," batinnya.
"Oke, makasih Lang."
Arkan tak memberikan Senja sapaan lagi, ia malah pergi begitu saja keluar dan entah pergi kemana. Senja takut jika Arkan nekad menemui Yumi dan menegurnya. Karena itu akan memperkeruh masalahnya dengan Yumi.
****
Arkan menunggu Yumi keluar dari kelasnya. Cowok itu benar-benar hendak menemui Yumi dan menegurnya. Kebetulan ketika ia datang, kelas itu baru saja bubar. Dengan begitu Arkan bisa langsung berbicara dengan Yumi.
Arkan masih setia menunggu di samping pintu, meskipun banyak para gadis seumuran dengannya yang menatap kagum bahkan pelik.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Yumi keluar. Dengan segera Arkan menariknya dan membawanya ke taman. Sebenarnya semua orang di sana sudah mengharapkan jika Arkan jadian dengan Yumi, karena mereka pikir Arkan dan Yumi itu cocok.
Yumi memberontak ingin dilepaskan. "Ih, lepasin! Lo apa-apaan sih?!"
Arkan menghempaskan lengan Yumi dan menatap tajam gadis itu. "Lo ngomong apa aja sama Senja? Kenapa dia sampai drop kayak gitu?!"
"Oh, ternyata pahlawan kesiangannya baru bereaksi," sindir Yumi.
"Gue gak suka basa-basi. Cepet kasih tahu apa yang udah lo omongin sama Senja!"
"Gue cuma ngomong kalau gue akan buat dia hancur. Itu aja kok, gak ada yang lain."
"Kalau memang lo ada masalah sama Senja, lampiasin aja ke gue! Gak perlu sakitin Senja!"
"Boleh juga, berarti tambah satu yang bakalan gue hancurin juga."
"Maksud lo?"
"Gini ya Arkan, keluarga Senja itu udah buat keluarga gue hancur. Mereka yang udah buat orang yang paling gue sayang meninggal! Dan gue gak akan lupain itu!" jawab Yumi. "Lo pasti tahu kan gimana rasanya kehilangan orang yang paling lo sayang?"
"Jadi kalau gue bisa lakuin itu ke dia, kenapa nggak?" tanya Yumi. "Begitu gue tahu mereka kembali ke sini, gue merasa punya kesempatan buat ngancurin mereka."
Arkan diam saja karena menyimak semua perkataan Yumi. "Gue tahu mungkin lo sakit hati sama masa lalu lo itu, tapi bukan berarti lo harus balas dendam buat muasin hati lo, Yum. Gue mohon lepasin Senja dan maafin dia."
Arkan sama sekali tak tahu permasalahan apa yang sedang Yumi bicarakan dengannya. Namun ia akan bersikeras agar Yumi berhenti mengejar balas dendamnya itu.
Yumi menggeleng lemah, "Gak akan semudah itu. Dia harus rasain apa yang gue rasain juga. Itu baru adil."
"Lo gak akan pernah dapatin itu, karena gue akan selalu jagain Senja dari cewek ambisius kayak lo!" gertak Arkan. Lalu ia meninggalkan Yumi yang masih dengan pikiran balas dendamnya.
"Lo pikir cewek itu bakalan aman di tangan cowok lemah kayak lo?!" ucapnya lalu terkekeh kejam.
...~🔱~...
__ADS_1