
Langit menyusuri jalan menuju ruangannya. Ia bersikap sangat formal dan berwibawa dengan setelan jas berwarna biru dongkernya. Dasi yang dipakainya juga serasi dan membuatnya semakin tampan. Siapa lagi kalau bukan Senja yang membuatnya seperti itu? Langit memang sedikit manja meskipun sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ayah. Senja bahkan tak tahu bahwa ia telah menikahi seorang laki-laki yang ternyata manja. Senja hanya tahu kalau Langit mandiri dan dingin.
Beberapa wartawan dan juru kamera tengah sibuk mewawancarai seorang pengacara yang juga teman dari Langit. Langit berdecak malas kala harus melewati orang-orang yang berkerumun itu. Dengan terpaksa, Langit lewat dengan wajah santainya tanpa memperdulikan temannya.
Seorang gadis hampir saja terjatuh karena tak sengaja ditubruk oleh seorang kameramen. Dengan sigap Langit menolong gadis yang hampir terjatuh itu. Gadis itu lantas salah tingkah kala melihat seorang Langit telah baik menolongnya.
“Hati-hati,” ujar Langit.
Wartawan itu mengangguk lemah. Bibirnya tak kuasa berkata-kata lagi, sedang hatinya dilumuri rasa kagum yang berlebihan. Sebenarnya makhluk apa yang sedang berdiri di hadapannya ini? Langit tak ingin berurusan terlalu lama dengan wartawan itu, ia akhirnya memilih berjalan tanpa pamit.
Toh, wartawan itu hanya memberikan ekspresi tercengang karena terpesona.
Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu menangkap langkah Langit yang sudah berjalan cukup jauh meninggalkan dirinya. “Pak! Pak tunggu!” teriaknya. Ia berlari menghampiri Langit.
Langit menoleh dan berhenti. “Terima kasih, Pak,” ucapnya.
Langit berdeham. “Sama-sama... Jihan.”
Gadis bernama Jihan itu membuka matanya lebar-lebar karena pengacara tampan tersebut memanggil namanya. Ya, Langit membaca id card yang tergantung di leher Jihan.
“JIHAN!” panggil seorang laki-laki yang diduga teman dari Jihan. Ia memandang tidak suka kepada Langit dan matanya membuktikan bahwa ia cukup kesal kepada Jihan. Seperti terobsesi.
“Hati-hati sama dia,” pesan Langit kemudian meninggalkan gadis itu dengan perasaan yang aneh.
Cowok tersebut sampai dan langsung mencengkram kuat lengan Jihan. “Ayo kita harus selesaiin ini sebelum pengacaranya pergi!”
Jihan melihat mata cowok itu yang sudah memerah, suaranya juga cukup bergetar seperti terdapat paksaan dalam dirinya yang mampu membuat Jihan takut.
Cowok itu lantas menarik tangan Jihan. “Lepasin gue, Rian!”
Jihan melihat ke belakang. Apa Langit seorang paranormal?
*****
Pengacara yang baru saja di wawancarai tersebut membuang nafas kasar dan langsung duduk di meja kerjanya. Langit dan pengacara tersebut rupanya satu ruangan di kantor. Mereka berdua ditakdirkan untuk mengisi satu ruangan berduaan.
Langit yang memakai kaca mata tersebut sibuk dengan dokumennya, sedangkan temannya itu tengah minum sebuah kopi paginya.
“Aaah..” Desahnya setelah meminum kopi tersebut. “Lo kemarin kemana aja, Lang? Kok gak masuk?”
Langit menghela nafas. “Urusan rumah tangga.”
“Ck, lo kasih tahulah! Sebentar lagi juga gue nikah. Dan gue harus tahu apa itu,” desak Kamal.
“Istri gue ngidam,” ujar Langit memberitahu temannya yang baru saja meneguk minuman.
Dan benar saja, dia langsung menyemburkan seluruh kopi yang baru saja masuk ke mulutnya lalu terbatuk-batuk. Ekspresi dan respon yang lebai.
“Ng, ngidam? L-lo sebentar lagi jadi Ayah dong?” tanya Kamal.
“Papa.”
Kamal bertepuk tangan yang meriah sekaligus bahagia. Begitu beruntungnya laki-laki dingin tersebut. Dia bahkan bisa membuat anak dengan cepat bersama Senja. Kamal kira Langit dan Senja akan menunda program itu, ternyata tidak. “Hm apapun itu. Mau Papa kek Ayah kek. Congrats, bro. Gue salut sama lo. Gercep!”
Langit tidak merespon temannya yang tengah mengoceh itu. Lagipula kata-katanya selalu tidak masuk akal. Dia selalu berbicara aneh sampai Langit tidak percaya. Seperti tadi dia bicara soal menikah, padahal pacar saja tidak punya. Namun Kamal adalah partner kerja yang asik menurut Langit.
“Siang ini lo ada sidang, kan? Terus gue dengar-dengar pihak penuntut gak terima sama putusan hakim,” tutur Kamal.
__ADS_1
“Hm kasusnya berat.”
“Kenapa lo ambil?”
“Menarik. Karena terdakwa punya bukti,” jawab Langit.
“Hati-hati, Lang. Mungkin itu cuma alibinya.”
Langit jadi berpikir dua kali. Benar apa kata Kamal, tapi kasusnya kali ini mampu membuat Langit tertarik untuk menangani. Semoga saja terdakwa tidak bermain-main dengannya dan bukti itu bukanlah senjata untuk Langit. Walau bagaimanapun, pengacara akan membela kliennya. Namun Langit harus menempatkan klien yang benar untuk itu.
*****
“Gue mau pulang, gue capek, Rian.”
Namun Rian malah melajukan mobilnya menuju arah yang tidak seharusnya ditempuh Jihan. Gadis itu sebenarnya takut terhadap tindakan Rian yang berlebihan tadi. Kali ini tangan Jihan mengepal kuat, kakinya bergetar hebat kala ia melihat sekitar. Lingkungan ini sangat asing bagi Jihan. Ini sangat menyeramkan. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
“RIAN GUE BAKALAN TURUN KALAU LO GAK MAU BERHENTI!” teriak Jihan.
Rian membanting stirnya dan berhenti mendadak karena Jihan terus-terusan meminta turun. Dan kali ini mengancam Rian untuk turun dari mobil padahal mobil tersebut masih terus berjalan.
Pertama-tama Rian menunduk untuk menarik ulur nafasnya karena tengah mengontrol amarahnya. Kemudian Jihan mencoba melepaskan diri dari mobil itu. Jihan mencoba membuka pintu mobil, tapi hasilnya nihil. Dan Rian tidak berhasil mengontrol dirinya. Alhasil ia menggebrak pintu mobil membuat Jihan semakin ketakutan. Situasi apa yang tengah diterimanya ini?
“JANGAN PERNAH PAKSA GUE!” teriak Rian. Lalu laki-laki itu menatap Jihan dengan mata yang merah dan melotot. Wajahnya bahkan sudah merah padam. Jihan semakin takut melihat teman kerjanya itu.
“L-lo kenapa, sih?” tanya Jihan seraya meneguk salivanya takut. Atmosfer yang ada sangatlah mengintimidasi dirinya.
Rian terkekeh sinis dan kesal. “Lo tanya gue kenapa?”
“GUE KAYAK GINI KARENA LO, JIHAN! GUE MAU LO SADAR KALAU GUE SUKA SAMA LO! GUE CINTA SAMA LO!” tegasnya.
Jihan membulatkan matanya sebab Rian tidak pernah semarah ini sebelumnya. Baginya ini sudah obsesi yang berlebihan. Sebelum-sebelumnya Rian memang tidak pernah menunjukkan ini kepada Jihan dan hanya perhatian-perhatian kecil yang selalu ia terima. Namun perhatian itu segunung jika diibaratkan. Sekarang Jihan tahu kenapa Rian bersikap begini.
“Berarti benar kata pengacara tadi, gue harus hati-hati sama Rian,” batin Jihan.
“Ya, memangnya kenapa kalau ini obsesi?” tanya Rian dengan senyum miring liciknya.
Rian menyobek bajunya membuat Jihan kebingungan. “L-lo ngapain?”
Kemudian Rian menyosor Jihan. “Rian jangan!”
*****
Suara klakson mobil terdengar jelas di telinga Senja. Dengan itu ia langsung berlari ke arah pintu utama dan membukanya lebar-lebar. Itu Langit dengan segala lelahnya. Kali ini Langit pulang sebelas malam. Apa kantor sedang sibuk-sibuknya?
Senja hendak menyambar tas kerja milik suaminya. “Eh, gak usah, Sey. Ini biar aku aja. Kamu kok belum tidur?” tanya Langit.
“Aku nunggu kamu.”
Senja mencium punggung tangan Langit lalu membantu Langit melepaskan jasnya. “Aku bersih-bersih dulu, kamu lebih baik tidur ini udah malam,” ucap Langit seraya menggosok-gosokkan tangannya ke lengan Senja. Lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, Langit melihat Senja belum tidur dan terduduk di bibir kasur entah sedang memikirkan apa. Langit yang sudah siap dengan piyamanya itu lantas duduk di samping Senja dan mencoba bertanya.
“Kenapa? Apa ada masalah di rumah?” tanya Langit.
Senja menatap Langit. “Lang, aku boleh minta sesuatu?”
Langit harus menyiapkan diri lagi. Ia mungkin lelah, tapi untuk Senja dan calon anaknya Langit akan melakukan apapun. Langit manggut-manggut ikhlas melaksanakan tugas dari istrinya.
__ADS_1
“Apa kamu mau izinin aku ikut arisan sama tetangga dekat sini?” tanya Senja.
Langit menghela nafas. “Sey, bukannya aku ngelarang, tapi apa alasan kamu ikut arisan itu?”
“Kata Ibu-Ibu.. aku harus bergaul supaya nyaman tinggal di sini.”
”Tapi gak harus ikut arisan, kan?” tanya Langit. Sebab itu memang bukan gaya Senja.
“Kenapa?”
“Karena aku yakin kamu gak akan nyambung sama pembicaraan mereka.”
Langit benar. Lagipula Ibu-Ibu di sini terlihat sombong dan Senja tidak suka itu. Ibu-Ibu itu juga cenderung bergosip soal orang lain bahkan bukan hanya di acara arisan, tapi juga ketika sibuk memilah-milih sayuran.
Senja akhirnya paham kenapa Langit tidak mengizinkan Senja ikut arisan tersebut. “Iya, aku gak akan ikut kalau kamu gak setuju.”
“Gimana kalau kamu adain arisan sama Mama dan Mbak Sara?” tanya Langit.
Senja terkekeh. “Ide bagus.”
Langit kembali senang ketika Senja tidak murung lagi. Ternyata mudah membuat istrinya mengerti.
“Lang, kamu udah makan malam?” tanya Senja.
“Udah, aku makan di luar tadi.” Langit mengujar itu tanpa ada rasa bersalah.
“Padahal aku udah masak buat kamu, tapi gak habis lagi hari ini.”
Langit mengusap rambut Senja. “Aku janji, besok aku pulang sore.”
Senja memeluk Langit. “Hm janji, ya?”
Langit membalas pelukan itu. “Iya, aku janji.” Lalu mengecup singkat pucuk kepala Senja.
“Oh iya. Anak aku gak minta yang aneh-aneh kan tadi?”
Senja menggelengkan kepalanya.
*****
“LEPASIN!” Gadis itu mendorong tubuh Rian hingga membentur pintu mobil.
Jihan mencoba membuka mobil dan akhirnya berhasil. Tentu ia langsung melarikan diri dari seorang Rian yang sudah kerasukan setan. Jihan berlari dengan tangisnya, sementara Rian menyusul dan mengejar Jihan.
“Jihan tunggu!”
Jihan melihat ke sekitar dan tampaknya tempat itu sepi tanpa satu orang pun.
Jihan berhasil ditangkap oleh Rian. “Mau kemana kamu? Ayo kita main-main dulu!”
Jihan menggeleng kuat dan masih menangis. “Sebentar aja, kan kamu yang udah goda aku waktu itu!”
“Enggak! Aku gak pernah godain kamu, Rian!”
“Pakaian ini.. memangnya gak menggoda?”
“Dasar mesum!” Jihan hendak menampar, tapi telat. Rian lebih cepat menahan pergelangan tangan gadis itu.
__ADS_1
Bukannya Jihan yang menampar, ini malah Rian. Rian melayangkan telapak tangannya sekuat tenaga hingga mengenai pipi Jihan. Kemudian Rian tiba-tiba menjatuhkan dirinya alih-alih Jihan mendorong ke jurang yang tidak terlalu terjal.
...*****...