
...
...
...Serendipityku ... aku egois untuk kita, jadi ku mohon bebaskan aku....
...~Arkan Hanipan P...
...****...
"LANGIT!"
Suaranya terdengar karena amarah.
Langit dan Risa refleks bangkit dari kursinya. Tak di sangka-sangka orang yang memanggil Langit tersebut langsung menghadiahi Langit dengan baku hantam hingga ia jatuh tersungkur. Risa menutup mulutnya dengan satu tangan karena terkejut.
Kemudian lelaki itu meraih kerah Langit. "Kak Arkan, cukup Kak!" Ya, orang itu adalah Arkan. Risa berusaha melerai seadanya. Ia menghalang-halangi Arkan.
Namun Arkan tetap berhasil menghajar Langit yang hanya diam dan pasrah. Awalnya Arkan ingin menghajar Langit kembali, namun Risa merentangkan tangannya dan berdiri dihadapan Langit.
"Aku mohon kalian tenang!"
Langit maupun Arkan hanya menarik dan hembuskan nafas cepat. Arkan melihat darah di tangan adik tirinya lalu duduk dengan sangat frustasi. Ia tahu itu pasti darah dari gadisnya. Langit diam saja karena ia membiarkan Arkan yang menghukum dirinya yang salah.
"Ini rumah sakit, aku rasa kalian ngerti!" Risa juga frustasi. Namun ia tetap mengendalikan dirinya agar semuanya terlihat baik-baik saja.
Tak lama dokter keluar dari ruang UGD dan memberitahu keadaan Senja. Ketiganya menghampiri dokter itu. "Kalian keluarga pasien?" tanyanya.
"Saya adiknya, Dok," jawab Risa.
"Jadi pasien kehabisan banyak darah, beruntungnya stok darah dirumah sakit ini tersedia, tapi ... pasien untuk saat ini masih dalam keadaan koma."
Bahu Arkan merosok, Langit semakin kalut, dan Risa semakin frustasi. Bagaimana bisa stok darah tersedia namun gadis itu masih koma? Sangat aneh. Namun ternyata dokter itu belum selesai menjelaskan.
"Pasien mengalami benturan yang sangat keras sehingga menyebabkan luka parah di kepala."
Oh, tidak. Mengapa semua ini terjadi? Arkan semakin bingung menangani ini. Bisakah waktu diputar kembali? Maka Langit dan Arkan tak akan melakukan itu. Jika tak terjadi, mungkin saja semuanya akan ceria setelah menyambut adik-adik kelas. Mungkin tak akan ada pertengkaran antara adik-kakak tiri itu sekarang. Namun semuanya tlah terjadi, kini hubungan keduanya semakin merenggang.
Kemungkinan Senja akan sadar antara empat sampai lima hari ke depan, atau bahkan tak akan bangun lagi. Karena kesadarannya hanya akan terwujud jika gadis itu kuat. Arkan menyuruh Risa untuk menghubungi ibundanya, sementara Arkan akan keluar sebentar. Karena pasti Senja membutuhkan banyak uang untuk perawatan, apalagi sekarang ini status gadis itu adalah kekasih dari Arkan, sudah dipastikan kamar rawatnya pasti VVIP.
"Risa, kamu hubungi Bunda. Kakak mau pulang dulu, kamu tunggu di sini."
Risa mengangguk, kemudian mematuhi kata-kata Arkan. Sementara Arkan pergi mencari cara untuk memenuhi semua persyaratan administrasi, Risa memerintahkan Langit pulang karena bundanya akan datang ke rumah sakit. Risa tak ingin jika Langit di interogasi oleh bundanya karena darah yang ada ditangan dan baju Langit.
"Kak? Eum ... lebih baik Kakak pulang dulu sekarang, karena Bunda mau dateng."
Langit mengangguk dan berdeham. Segera ia tinggalkan area rumah sakit dan pergi ke markas untuk menenangkan diri. Lagipula sudah Arkan yang mengatur segalanya. Lelaki itu cukup dewasa pemikirannya dibanding dirinya. Langit pasrahkan semuanya pada Arkan.
****
Arkan memarkirkan motornya didepan gedung bertingkat. Dengan segera ia berjalan menembus ruangan luas itu. Tanpa menemui staf administrasi kantor tersebut, ia langsung menemui seseorang diruangannya. Namun nampaknya yang dicari tak ada diruangan.
Ia bertanya pada seorang perempuan dengan pakaian rapi dan rok diatas lutut. "Papa mana?" tanya Arkan.
"Bapak sedang ada rapat dengan klien."
Arkan sedang terburu-buru sehingga meninggalkan perempuan itu dengan decakan. Kenapa beliau selalu sibuk? Arkan kembali memikirkan cara agar ia bisa membantu gadisnya. Secara tidak langsung, ia sudah bersikap seolah-seolah menjadi suami dari Senja.
__ADS_1
Ia kemudian melajukan motornya dan pulang ke rumah megahnya. "Mah?" panggilnya.
"Mah?"
Seseorang yang biasa membantu dan menemani mamanya itu pun menemui Arkan. "Den? Den Arkan nyari ibu?"
"Iya Bi, Mama kemana?"
"Ibu ada di belakang, lagi nyiram tanaman Den."
"Makasih Bi."
Kemudian Arkan menemui mamanya yang ada ditaman belakang rumahnya. Sebenarnya Arkan tak tega melihat mamanya yang selalu sendirian dirumah semegah itu. Sementara papanya selalu pergi untuk mengurus kantor, Arkan selalu pulang sore dan Langit, kadang anak itu tak pulang ke rumah.
Arkan memeluk mamanya dari belakang. "Langit?"
"Ini Arkan, Mah."
Mamanya segera menaruh selang air dan menengok ke belakang. Arkan melepas pelukannya dari mamanya. "Arkan? Mama kira Langit."
Arkan terlalu paham, jikalau Langit itu adalah anak kandung dari mama tirinya. "Kenapa sayang? Pacar kamu baik-baik saja, kan?" Sembari menatap Arkan dengan mata yang serius.
Arkan menggaruk tengkuknya dan tersenyum tipis. Paruh baya itu tahu soal Senja pasti dari kedua sahabatnya. "Arkan gak tahu Mah ..."
Nyonya Arlita mengerti akan perasaan anak tirinya kini, ia pun membawa Arkan masuk dan duduk di sofa yang biasanya menjadi tempat kumpul keluarga kecilnya. "Jadi, gimana keadaan ..."
Arkan menyela karena sepertinya mama tirinya itu sedang bertanya. "Senja, Mah."
"Oh, jadi namanya Senja?"
"Iya Mah. Dokter bilang Senja koma dan Arkan butuh uang untuk bantu keluarganya."
"Kamu butuh berapa?"
Arkan menatap sendu kearah mamanya. Ia pun memberitahu berapa jumlah uang yang akan Arkan pinjam. "Arkan butuh Rp 20 juta."
"Kamu tunggu disini, Mama ambil uangnya dulu!"
Arkan mengangguk tenang. Akhirnya ia mendapatkan apa yang ia butuhkan saat ini. Arkan beruntung memiliki mama tiri yang baik, tidak seperti Ibu tiri yang selalu berperan egois dalam cerita-cerita novel atau cerpen.
"Ini uangnya," ucap Nyonya Arlita sembari memberi uang didalam kantung berwarna coklat.
"Mah, Arkan janji. Arkan bakal kembaliin uang Mama nanti."
"Sayang, kamu itu anak Mama, itu gak usah."
Tetap saja Arkan bersikukuh akan mengembalikan uang yang akan dipakainya itu. Karena jumlahnya banyak dan papanya pasti akan memarahinya kali ini.
****
Sementara itu, Bunda dari Senja sudah berada di rumah sakit. Ia terlihat syok karena mendapati putrinya terbaring lemah dengan tancapan infus, monitor jantung, dan selang pernafasan. Senja sudah di pindahkan keruangan rawat yang sepertinya itu ruangan VVIP, karena cukup megah dan berisi beberapa benda yang tidak akan didapat di kamar untuk kelas dua ataupun tiga.
Bundanya menangis disebelah putrinya. Risa terus menenangkan, bahwa Senja tidak apa-apa dan akan sadar dalam waktu dekat.
"Bun udah dong nangisnya. Dokter bilang kan tadi kalau Kak Senja dalam keadaan baik sekarang."
Arkan menimbrung. "Iya Bun, bener apa yang di bilang Risa."
__ADS_1
"Iya, Nak Arkan."
Arkan mengangguk pelan. "Eum ... ini sudah malam, ada baiknya Bunda dan Risa pulang, biar Senja Arkan yang jaga."
Bunda Gina dan Risa saling tatap, jujur saja bunda dari Senja itu sangatlah percaya pada Arkan. Namun ia juga tahu batasan. "Malam ini biar bunda yang jaga Senja, kalian lebih baik pulang, besok 'kan kalian harus sekolah," ucapnya kepada Arkan dan Risa.
Benar juga, terlebih lagi Arkan sibuk mengerjakan tugas negaranya di sekolah. Karena Arkan sudah menjadi siswa kelas 12, otomatis segala ekstrakuliler untuknya dan semua murid seangkatan Arkan harus dilumpuhkan dalam beberapa bulan ke depan, termasuk jabatan sebagai ketua OSIS yang di sandangnya.
"Kalau gitu, Arkan anter Risa pulang dulu, Bun. Besok sepulang sekolah Arkan kesini lagi."
Bundanya mengangguk. "Iya, kapan pun. Asal itu gak ganggu waktunya Nak Arkan."
"Senja, dia gak pernah sedikitpun ganggu waktunya Arkan, Bun."
Bundanya berdesir, sungguh beruntung putrinya itu karena mendapat kekasih macam Arkan. Sudah baik dan pengertian, ia juga sudah melakukan hal diluar tanggung jawabnya.
"Terima kasih. Bunda janji, Bunda pasti bakal kembaliin uang Nak Arkan nanti."
Arkan menggelengkan kepalanya cepat. "Arkan ikhlas untuk Senja, Bun. Bunda gak perlu ganti uang itu."
Lagi lagi anak itu berhasil memantapkan restu dari bunda Senja itu.
"Yaudah, terima kasih ya Nak Arkan."
"Iya Bun." Arkan dan Risa pun berpamitan kepada bunda Gina.
"Ayo Risa!"
"Hati-hati di jalan!"
"Iya Bun."
Risa pun turun didepan halaman rumahnya. Arkan sedikit khawatir pada calon adik iparnya itu, ia takut meninggalkan Risa sendirian dirumah.
"Kak Arkan?"
Risa membuyarkan pikiran Arkan. "Hm, Risa, kamu ... gak takut kan sendirian di rumah?"
"Ya enggaklah Kak. Kenapa aku harus takut?"
"Ya udah kalau gitu, kamu hati-hati. Kunci semua pintu, besok Kakak jemput."
Oh Arkan, Risa juga sangat setuju jika lelaki itu menjadi Kakak iparnya. Lalu bagaimana dengan Langit Ris? Kejamnya kau.
"Siap Kak!"
Arkan memberikan klakson dan meninggalkan rumah Senja. Ia pun pulang ke rumah megahnya. Sudah ada mobil hitam milik papanya. Oh tidak! beliau sudah pulang. Siap tidak siap, jika papanya tahu soal uang itu, mungkin ia akan dimarahi malam ini.
Dengan hati hati Arkan melangkah masuk kedalam rumah.
Sepertinya tidak ada satu orang pun diruangan yang biasanya dipakai untuk kumpul keluarga.
Arkan hendak menaiki tangga. Tap, satu langkah.
"ARKAN!"
Kini matanya memejam, suara bas itu pasti milik papa kandungnya. Bersiaplah!
__ADS_1
...****...
...🔱...