
...Seperti caramu, aku juga mampu mencintai dua orang dalam satu hati....
...🔱...
Pagi Senja kali ini adalah untuk Arkan. Senja melihat dari ekpresi Arkan yang terus tersenyum tanpa alasan. Dua pekan lalu Arkan mengalami drop yang cukup parah karena terlambat diberikan pertolongan ketika ia sedang mengalami sesak. Entah bagaimana ceritanya, Arkan selamat dari maut yang mengancam hidupnya. Kata Arkan, ia diselamatkan oleh seseorang dan kini ia akan selalu ingat hutang budinya kepada seseorang itu.
Senja tahu, ia tak akan mampu menciptakan senyum yang menawan itu di wajah Arkan. Senja hanya selalu berdoa agar kekasihnya itu diberikan kesehatan dan kebahagiaan yang banyak.
Arkan memarkirkan motor kesayangannya di tempat yang aman. Ia tak lupa membuka helm yang dipakai Senja. "Sayang, kamu bisa kan ke kelas sendiri?" tanya Arkan.
Senja mengangguk. "Iya, aku bisa, Kak."
"Hm, Langit pasti sebentar lagi datang. Kamu tunggu aja," ucap Arkan sembari merapikan rambut Senja yang berantakan karena helm tadi.
"Iya, Kak. Kalau gitu aku duluan ke kelas, ya?"
"Iya, semangat belajarnya!"
"Siap!"
"Eh, Kak!"
"Kenapa sayang?"
Sepanjang ini, Senja tak pernah memanggil Arkan sayang. Ia memiliki Arkan, tapi sepertinya kata sayang darinya tak akan pernah berarti. "Eum.. aku sayang Kakak!"
Pipi Senja memerah, setelah mengatakan hal itu ia pun bergegas pergi. Gadis itu tak ingin melihat reaksi Arkan, padahal Arkan sedang terpaku hebat. Baru kali ini gadis itu mampu mengatakan itu. Nampak Senja menengok ke belakang dan melambaikan tangannya dengan senyum yang terus mengembang.
****
Ini sedikit sulit untuk Senja, berjalan sendirian tanpa Arkan ataupun Langit. Dan biasanya ia berjalan bersama Lia, tapi sayangnya Lia berbeda jalan dengan Senja. Ia memilih berkuliah bersama dengan Arif dan teman-temannya.
Senja terus menunduk, tiba-tiba saja ia ingat Bundanya. Ia tak tahu mengapa Bundanya bersikap aneh akhir-akhir ini. Selalu gelisah dan memikirkan Risa. Padahal Risa selalu baik-baik saja semenjak menjadi pacar dari Eri. Apa mungkin Bundanya itu mengkhawatirkan Risa karena Eri?
Senja menggeleng-gelengkan kepalanya. Eri sudah banyak berubah, ia sudah menjadi pribadi yang bisa mengendalikan pikirannya. Meski bicaranya kadang masih melantur kemana-mana.
"Ternyata bener ya lo itu pacarnya Arkan," celetuk gadis yang berjalan di belakang Senja.
Senja menengok ke belakang, ternyata itu Yumi. Gadis yang tidak suka pada Senja. "Kalau Kak Yumi tahu, tolong lupain aja."
"Gimana gue bisa lupain? Drama romantis lo sama Arkan itu udah buat gue baper, tahu gak?!" tanya Yumi. "Baper sampai mau muntah!"
Senja tak menyangka, ini alasan kenapa dirinya tak ingin membeberkan status hubungannya dengan Arkan. "Oh iya Senja! Gue mau ngomong satu hal," kata Yumi, Senja hanya membuka matanya tanpa ingin berkedip.
"Gue tahu semua tentang lo, bahkan keluarga lo. Risa dan Tante Gina," ucapnya.
Mungkin bagi Senja, tak masalah jika Yumi tahu soal dirinya. Namun dari mana Yumi tahu nama dari keluarganya?
"Dari mana Kak Yumi tahu soal mereka?"
"Itu gak penting untuk dibahas!"
"Kak! Kakak boleh ngusik aku, Kakak boleh ganggu aku, Kakak juga boleh sakitin aku. Tapi aku mohon, Kakak jangan ganggu Risa ataupun Bunda."
"Santai aja kali, lo pikir gue ini monster yang bakalan ngelahap mereka sekaligus? Ya nggaklah," ucapnya. "Paling gue bakal lakuin itu satu persatu."
__ADS_1
Senja naik pitam, ia pun mendorong Yumi. "AKU UDAH BILANG JANGAN GANGGU MEREKA!" bentak Senja dengan mata yang melotot.
Yumi menampar pipi Senja, gadis itu sampai memegangi pipinya karena sakit. "Berani lo teriak di depan gue kayak gitu?!"
Yumi mencengkram lengan Senja. "Dengar ya! Gue gak akan pernah buat lo napas! Setelah apa keluarga lo lakuin ke keluarga gue, itu gak akan pernah gue lupain!" bisik Yumi.
Yumi pun menghempaskan lengan Senja dan pergi dari sana. Senja bahkan tak tahu apa yang sedang dibicarakan Yumi. Yang bisa dilakukan Senja adalah menangis karena takut.
Senja menjatuhkan dirinya ke lantai, kepalanya kembali pusing.
Setelahnya penglihatan Senja menjadi gelap. Namun samar-samar Senja mendengar seorang gadis meminta pertolongan.
****
Arkan dan Gilang terlihat sedang mengobrol di depan kelas. Mereka berdua terlihat sangat akrab, layaknya seorang Arkan bersama Rizky dan Irfan, teman lamanya dulu. Bagi Arkan tak ada bedanya dengan Rizky dan Irfan, Gilang juga selalu bercanda dan membuatnya tertawa. Namun tak lain tak bukan, Gilang juga sering memanfaatkan Arkan. Tapi tak apa selama cowok itu mau menjadi sahabatnya. Tidak masalah.
"Kemarin kenapa lo absen? Tumben banget," ucap Gilang.
"Biasa, urusan mendadak."
"Masalah cewek aja, gayanya pakai ngomong urusan mendadak. Lagian tumben kampus lo tinggalin, biasanya lo utamain."
Arkan terkekeh kecil, "Sekali-kali lah absen."
"Tuh kan, jangan-jangan lo sakit lagi!"
"Hush, sembarangan lo! Ya nggaklah, gue sehat-sehat aja sekarang."
Semenjak Arkan kambuh, semua orang jadi membicarakan soal penyakitnya. Gegara aroma zat kimia yang tak sengaja terhirupnya, akhirnya seantero kampus tahu kalau Arkan punya penyakit.
"Gheaaa?" gumam Gilang, membuat Arkan heran. Cowok itu sedang menatap ke arah dua orang gadis yang berjalan ke arah mereka.
Arkan melihat sosok perempuan yang sejak tadi ia pikirkan. Aroma parfumnya mulai tercium nyaman di hidung. Belum lagi, gadis itu tersenyum malu menatap Arkan. Tentu Arkan membalas senyum itu sama canggungnya.
Gilang tak menyadari kontak mata antara Arkan dan Sara. "Duh, gak tahu lagi deh gue kalau jadi sama Ghea, kan sama-sama GG tuh." Gilang melafalkan itu dengan bahasa Inggris.
Rupanya Ghea mendengar ucapan Gilang, gadis itupun melewati Gilang dan Arkan. "Eh, Neng Ghea tunggu!" ujar Gilang seraya mengejar Ghea masuk ke dalam ruangan.
Kembali lagi pada mode canggung. Arkan dan Sara masih saja melempar senyum. "Hai Arkan," sapa Sara.
"Hai Sara," balas Arkan. "Eum.. gue minta maaf soal kemarin."
Sara terkekeh kecil. "Udah ada 10 kali lo bilang maaf, kesalahan lo gak fatal kok. Jadi santai aja kali."
"Tetap aja, setiap kali liat lo, gue merasa bersalah."
"Kalau gitu lain kali kita makan siang lagi," kata Sara.
Arkan menggaruk tengkuknya. "Siap, gue pasti luangin waktu buat lo."
Sara mengangguk sembari tersenyum.
"Oiya, sebentar Sar," ujar Arkan, lalu dia mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Ini buat lo." Arkan memberikan sebuah kotak kecil, seperti kado.
__ADS_1
Sara menerimanya. "Ini apa?"
"Lo bisa buka itu di rumah, jangan di sini."
Sara mengangguk saja. "Makasih, Arkan."
"Sama-sama. Semoga lo suka."
"Pasti."
****
Langit berlari setelah dapat kabar kalau Senja dibawa ke unit kesehatan yang ada di kampus itu. Padahal baru saja ia tenang karena Senja berangkat bersama Arkan. Namun kali ini ia sangat khawatir, takut terjadi apa-apa pada Senja.
Langit sampai ke tempat Senja berada, tapi nampaknya Senja sudah mendapat teman baru.
Senja yang lemas, berbicara dengan seorang gadis yang tadi menolongnya. Perlahan-lahan Langit menghampiri mereka berdua, sebab ia takut mengganggu suasana keduanya.
"Eh, Lang," ucap Senja. Gadis yang bersama Senja menoleh ke belakang.
"Ck, lo lama banget sih!" bentaknya.
Senja terkekeh kecil. "Oiya kenalin Lang, namanya Luna. Dia satu jurusan sama kita."
"Maaf," kata Langit.
"Hm, lain kali jangan tinggalin cewek lo sendirian."
Senja maupun Langit terkejut. "Tapi kita bukan.."
"Gue tahu banget soal kalian!" ujar Luna. Dia sedikit cerewet, tapi manis. "Kalian itu selalu jalan berduaan dimanapun, kapanpun."
Senja ingin sekali menghentikan dialog Luna. "Lun, tapi gue sama Langit itu cuma sahabatan."
Luna memukul lengan Langit sembari tertawa. "Lucu ya pacar lo! Lo gak marah gitu disebut sahabatnya doang?" tanya Luna.
"Kita memang sahabatan," jawab Langit.
"Ah, lo berdua jangan malu-malu sampai status aja pakai ditutupin!" ucap Luna membuat Senja dan Langit menatap pelik.
Memangnya pas episode pertama Luna kemana?
Luna masih tertawa sampai akhirnya ia sadar kalau sedang ditatap pelik oleh Senja dan Langit.
"Eum.. karena udah ada pacar lo, gue balik ke kelas ya? Udah telat banget ini," ujar Luna. "Udah ya? Lo cepet sembuh."
"Dan buat lo! Jaga baik-baik cewek lo!" tegurnya pada Langit. "Dah ya gue cabut!"
Cewek tomboi itupun pergi, tapi ditahan oleh Langit. "Tunggu!"
Luna pun berhenti. "Kenapa lagi?"
"Ini buat lo, makasih udah nolong Senja."
Sekotak susu yang hendak diberikan pada Senja, akhirnya Langit berikan kepada Luna. Meski hanya susu, tapi kenapa begitu menyenangkan?
__ADS_1
...~🔱~...