
...Tak ada kenyataan yang bisa ditolak. Semua kenyataan jatuhnya akan menjadi sebuah hal yang harus diterima. Jika hari ini aku dihadapkan dengan kesakitan, maka itu yang harus aku terima....
...🔱...
"Senja... kenalin, dia Sara pacar baru Kakak," ucap Arkan membuat Senja maupun Sara terkejut.
Senja dengan mata yang berkaca-kaca, dan Sara dengan mata yang berbinar. Kenapa bisa pacarnya itu mengungkapkan perasaan dihadapan Senja, kekasihnya sendiri. Senja tak mengerti apa-apa, begitupun Sara.
Senja menatap Sara dengan tatapan berkaca-kaca. "Benar... Kakak itu pacar barunya Kak Arkan?" tanya Senja dengan hati-hati.
Sara melihat ke arah Arkan agar cowok itu menjawabnya langsung. "Iya. Dia pacar Kakak, sekarang kamu bisa pergi, Senja.."
Senja hendak meraih tangan Arkan, tapi Arkan mengelaknya. "Tapi Kak.."
"Pergi sekarang!"
Gadis itu meluruhkan air matanya, tapi dengan singkat juga ia mengusapnya agar tidak terlihat oleh Arkan apalagi Sara. Senja kemudian bangkit dari kursinya agar Sara bisa duduk di samping Arkan.
"Selamat buat kalian berdua, semoga langgeng. Aku permisi," ujar Senja kemudian berlari keluar kamar Arkan.
"Ar, apa maksud lo tadi? L-lo nembak gue?" tanya Sara kepada Arkan.
Arkan mengangguk, ada perasaan berat mengatakan itu kepada kekasihnya sendiri. Tak pernah terlintas di pikiran Arkan mengakhiri hubungan dengan cara seperti ini. Apalagi sampai melukai hati Senja dan membuat gadis itu menangis.
"Iya, Sar. Lo mau kan jadi pacar gue?" tanya Arkan hampir menangis.
Sara tersenyum. "Ya, gu-gue mau."
Arkan tersenyum bahagia. Semoga dengan begini, Langit bisa leluasa memiliki Senja dan tidak ada masalah apapun lagi diantara hubungannya dengan Langit. "Maafin Kakak, Senja," batin Arkan.
****
"Ar.. lo jadi pertimbangan di kampus, karena kedokteran terlalu berat buat lo. Lo mau gimana?" tanya Gilang.
Arkan, Sara dan Ghea juga ada di sana. Sedangkan Mamanya sedang menelpon pihak kampus agar memberinya penjelasan tentang surat yang sampai kepadanya tadi.
"Gue tetap mau bertahan. Gue mungkin lemah, Gil. Tapi gue gak akan lepasin mimpi gue gitu aja."
Sara memegangi bahu Arkan agar dia bersabar atas pertimbangan kampus yang cukup menekan. "Lo tenang aja Ar, itu baru pertimbangan kok. Belum keputusan. Lo lagi sakit, gue gak mau lo makin sakit karena pikirin itu.
****
Senja berlari keluar rumah sakit, dadanya terlalu sesak mengingat hubungannya telah berakhir dengan Arkan. Belum lagi Arkan langsung mencintai gadis lain setelah memutuskan hubungannya dengan Senja. Siapa yang tahan ketika melihat pacar sendiri bersama dengan gadis lain?
Itu artinya selama ini Arkan selingkuh?
Senja masih menangis, sampai akhirnya ia bertemu dengan Langit yang baru saja datang. Entah dari mana.
"Lang," lirih Senja sembari memeluk Langit. Cowok itu kemudian membalas pelukan yang diberikan Senja.
"Kamu kenapa?"
"Kak Arkan..."
"Arkan... kenapa?"
"Kak Arkan mutusin aku di depan pacar barunya, Lang." Senja mengadu kepada Langit.
Langit mendelik, Arkan ternyata benar-benar menyerahkan Senja kepadanya. Namun kalau tahu Senja sampai sehisteris ini, Langit tidak akan mau menyuruh Arkan memutuskan Senja.
__ADS_1
"Pacar barunya?"
Senja mengangguk dalam pelukan Langit. Bagaimana bisa Arkan memutuskan Senja di depan pacar barunya? Itu pasti Sara! Langit melepaskan pelukannya dari Senja, kemudian menatap gadis itu dalam-dalam. "Jangan nangis lagi, kamu pasti bisa dapat yang lebih baik dari Arkan."
"Yang lebih baik dari Kak Arkan?" tanya Senja. "Itu kamu, Lang," batin Senja.
Langit mengangguk, sepertinya Langit tidak menyukai Senja. Buktinya dia biasa saja dan tidak langsung menembak Senja setelah putus dari Arkan. Senja memalingkan wajahnya dari Langit karena tak ingin menatap cowok itu.
"Aku mau pulang," ucap Senja karena Langit tidak peka.
"Aku antar, ya?" tanya Langit.
Senja menggeleng. "Kamu harus jenguk Kak Arkan dulu."
Tentu Langit menautkan alisnya karena bingung. "Aku gak akan biarin kamu sendirian."
Senja kemudian menatap Langit dalam. "Aku juga gak mau sendirian..."
Ayo, peka!
****
"Ar.. lo jadi pertimbangan di kampus, karena kedokteran terlalu berat buat lo. Lo mau gimana?" tanya Gilang.
Arkan, Sara dan Ghea juga ada di sana. Sedangkan Mamanya sedang menelpon pihak kampus agar memberinya penjelasan tentang surat yang sampai kepadanya tadi.
"Gue tetap mau bertahan. Gue mungkin lemah, Gil. Tapi gue gak akan lepasin mimpi gue gitu aja."
Sara memegangi bahu Arkan agar dia bersabar atas pertimbangan kampus yang cukup menekan. "Lo tenang aja Ar, itu baru pertimbangan kok. Belum keputusan. Lo lagi sakit, gue gak mau lo tambah sakit karena pikirin itu," ucap Sara.
Arkan meraih tangan Sara yang ada di pundaknya. "Makasih banyak, Sar."
"Lo berdua kok kayak senang gitu?" tanya Ghea. "Auranya beda gitu. Jadi semakin berseri."
Ghea melotot tak percaya. "Apa? Jadi kalian berdua udah jadian? Cepet banget!"
"Iya cepet. Gak kayak kita. Lama." Gilang menyindir Ghea.
Ghea mencubit lengan Gilang. "Lama-lama, orang gue gak pernah ditembak.."
"Jadi lo mau ditembak, Ghe?" tanya Gilang.
Ghea tersenyum malu. Mendengar Sara dan Arkan jadian, membuat Ghea iri dan ingin memiliki kekasih juga. Belum lagi kalau Arkan sembuh, pasti waktu kebersamaan antara dirinya dan Sara akan berkurang.
Ghea mengangguk mau. Sedangkan Sara dan Arkan malah mendukung Gilang agar segera menembak Ghea. Walau gimanapun, Arkan tak ingin memikirkan apapun lagi selain pacar barunya dan teman-teman tulusnya itu.
"Tembak! Tembak!" Sara bersorak. Itu membuat Ghea dan Gilang malu.
****
"Aku masuk dulu," ucap Senja kepada Langit begitu saja. Namun tidak seperti biasanya Senja tidak mengajak Langit untuk masuk dulu.
Langit mencekal tangan Senja. "Kok buru-buru? Aku mau masuk."
"Aku mau sendirian dulu," ucap Senja.
"Itu artinya kamu gak mau aku masuk?"
"Iya, maaf Lang."
__ADS_1
"Padahal aku mau masuk dan buat kamu gak sendirian lagi."
Senja meraih dagu Langit agar cowok itu tidak menunduk. "Aku gak apa-apa kok, kamu tenang aja."
"Maksud aku.. Arkan udah keluar, bisa aku masuk?" tanya Langit, membuat Senja membelalakan matanya.
"M-masuk kemana?" tanya Senja gugup, hati sakitnya berangsur pulih dan membaik.
"Hati kamu."
Senyum Senja mengembang dan tingkahnya malu-malu sekarang ini. Diputuskan Arkan mungkin membuat hatinya sakit, tapi itu tidak berlangsung lama setelah Langit menyatakan perasaannya seperti ini. Itu membuat hati Senja yang tadinya dipenuhi luka sekarang dipenuhi bunga.
Arkan mungkin memukulnya, tapi sepertinya Langit tahu caranya mengobati. "Lang, kalau ngomong itu yang jelas, aku gak paham."
"Ya udah kalau gitu aku pulang aja," kata Langit sembari menyalakan mesin motornya.
Namun dengan segera Senja menahannya. "Eh j-jangan, mau kemana?"
"Mau pulang, kamunya gak paham, kan?"
Langit begitu karena ia terlalu malu menyatakan yang sebenarnya. Apalagi sampai Senja tidak paham maksud dari Langit apa. Itu membuatnya malu setengah mati.
"Aku paham, kok! Cuma aku mau yang lebih jelas."
"Gimana?"
"Kok gimana?" tanya Senja merosokkan bahunya.
"Ya, yang lebih jelas itu gimana?"
"Emang gimana?"
"Kan kamu yang mau. Aku gak tahu."
"Lang, jangan main-main. Kalau main-main aku masuk nih," ucap Senja.
"Ya udah masuk aja, masih kosong kok."
Senja kembali tersenyum mendengar itu. "Sejak kapan jadi raja gombal, hah?"
"Sejak tadi." Langit dan Senja tertawa.
Entah apa, tapi sepertinya Senja akan baik-baik saja setelah Arkan pergi.
"Jadi gimana? Kamu mau, kan?"
"Mau apa?" tanya Senja.
"Jadi pacar aku."
Senja tersenyum. "Aku baru aja putus dari Kakak kamu, terus aku jadian sama adiknya? Apa kata mereka nanti?"
"Aku gak peduli mereka mau bilang apa. Ini tentang kita, bukan mereka."
Senja berdesir malu. Tak bisa ia pungkiri, Langit memanglah cintanya yang sesungguhnya. "Kalau gitu... aku sama kamu jadi kita mulai detik ini."
Langit berbinar dan senang. "Jadi Sesey pacar Elang sekarang?" tanya Langit.
Senja mengangguk semangat. Luka itu sudah jauh pergi bersama dengan perginya Arkan. Langit sangat bersemangat kali ini, tak perlu mundur-munduran lagi karena Seseynya sudah menjadi miliknya seutuhnya. Penantiannya selama hampir 4 tahun akhirnya terwujud.
__ADS_1
Tanggal 20, catat yaa hehe.
...~🔱~...