MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Part 11 : Kecewa


__ADS_3

...Hehe.. itu sakit, tapi anehnya aku masih bertahan....


...~QB903...


...🔱...


Senja membelalakan matanya. "Apa maksudnya ini?" batinnya.


Bagaimana tak terkejut, orang itu ternyata adalah kekasihnya. Senja berdiri dengan lemasnya di ambang pintu. Laki-laki tampan yang menjadi kekasihnya itu rupanya sudah menjemput Senja. Dan menariknya lagi, ia sudah bernampilan rapi di samping mobilnya. Dengan senyum tanpa dosanya, Arkan menyapa Senja.


"Sayang?" panggilnya. "Ayo berangkat!"


Senja masih menurunkan senyumnya, tapi lebih baik ia menghampiri Arkan dulu dan bicara baik-baik.


Senja menghampiri Arkan yang berdiri di samping mobilnya itu. "Kak... aku minta maaf, tapi Lang.."


"Senja," potongnya lirih. "Sebenarnya yang pacar kamu itu siapa, sih?"


Senja terkejut. "Langit atau Kakak?" tanyanya membuat Senja semakin salah tingkah.


"Kak.. Kakak jangan salah paham dulu. Aku sama sekali gak pernah berpikir sampai sana. Aku masih sayang sama Kakak, tapi akhir-akhir ini Kakak gak pernah angkat telepon aku atau sekedar balas pesan pun nggak. Makanya aku pilih Langit untuk temenin aku ke acaranya Lia," ungkap Senja.


Arkan menunduk, "Maaf... kalau gitu kamu boleh berangkat sama Langit. Biar Kakak pulang aja."


Senja meraih tangan Arkan. "Kak, tapi kalau Kakak udah di sini, aku gak mau Kakak pergi lagi."


Arkan tertegun, ia merasa bersalah terus menerus.  "Jadi, aku bakal pilih Kakak, karena Kakak itu adalah pacar aku," ucap Senja sembari tersenyum getir.


Arkan mengelus pipi Senja. "Makasih sayang, maafin Kakak karena udah berprasangka buruk sama kamu."


Senja mengangguk. "Gak apa-apa, kok. Ayo kita berangkat, Kak. Nanti biar aku yang kabarin Langit."


"Hm, ayo!" seru Arkan, kemudian ia membukakan pintu untuk Senja.


Arkan pun segera masuk dan meninggalkan pekarangan rumah Senja. Tapi setelahnya, Langit dan motor hitamnya baru saja datang. Sebenarnya Langit melihat percakapan Arkan dan Senja tadi. Bagi Langit, ini mengecewakan. Sial!


****


Ting!


Sesey


Lang, aku minta maaf. Tadi tiba-tiba aja Kak Arkan datang. Jadi aku gak bisa berangkat sama kamu. Aku minta maaf banget Lang.


Tapi kamu harus tetap datang, jangan nggak!


Gadis itu, untuk apa mengirimi pesan? Langit kan sudah tahu!


Langit langsung mematikan total ponselnya. Ia tak ingin berurusan lagi dengan gadis yang sudah punya kekasih. Meski statusnya sebagai sahabat, tetap saja ia tak ingin disangka dekat-dekat dengan cewek orang. Itu memalukan!


Entah kenapa, tapi kali ini ia sungguh kecewa. Langit terus memperingati dirinya sendiri untuk melupakan Senja. Ia sudah berulang kali berbicara pada dirinya sendiri, bahwa gadis itu sudah menjadi milik orang lain. Namun kenapa perasaan itu terus berkecamuk, bergelut dan melahap mentah-mentah logika dan hati Langit.


Langit mengubah tampilan rapinya menjadi berantakan lagi. Ia sampai membuka kedua kancing kemejanya. Tak lupa, ia juga melipat kedua lengan kemejanya hingga siku. Lalu duduk di pinggir jalan yang sepi.

__ADS_1


Ia mengacak rambutnya frustrasi. "Lang, lo bodoh! Lupain Sesey! Dia itu milik Arkan! Tapi kenapa lo masih sayang sama dia?!"


Rasanya Langit ingin berteriak dan mengutarakan perasaannya saat ini. Namun ia hanya sendirian di sana, hanya ada angin malam yang dingin, cahaya bulan yang redup dan bintang yang terlihat tidak bersemangat.


"Aaaaa!" teriaknya, kemudian ia tak berhenti untuk memukul dan menendang benda di sekitar.


"Lang!" Ponsel yang dipegang Senja terjatuh. Dan anehnya, ia mengujar kata Lang.


"Senja.. ada apa?" tanya Arkan masih fokus menyetir. "Langit kenapa?"


Senja menggeleng, "Nggak kok, gak ada apa-apa. Ini aku cuma takut Langit marah, Kak. Soalnya dia gak balas pesan aku."


"Oh, mungkin Langit lagi di jalan."


Senja mencebikkan bibirnya. Kalau dijalan, kenapa centang dari pesannya berwarna biru? Itu artinya dia baca, kan?


"Hm, semoga aja." Senja pun mengambil kembali ponselnya.


Jantung Senja berdetak kencang. Nafasnya juga terasa sedikit sesak, ia sangat khawatir kalau Langit marah dan bersikap dingin padanya. Karena jujur, itu akan sangat menyakitkan. Kenapa Senja selalu dihadapkan pada pilihan yang sulit?


****


Senja dan Arkan pun sudah sampai ke rumah Lia. Rumah gadis itu sudah penuh dengan lampu yang terang dan hiasan yang indah. Lia bilang ia hanya mengundang sedikit orang, tapi kenapa dari tadi banyak sekali gadis-gadis dan tamu yang berdatangan.


Belum lagi, gadis-gadis yang lewat itu sangat cantik dan menarik. Ah, ini juga membuat dirinya semakin galau. Arkan membukakan pintu mobilnya dan mengulurkan tangannya. "Sayang? Ayo!"


Senja mengangguk pelan dan keluar dengan perasaan yang malu dan minder. Senja menghela nafas dan melihat sekitar dengan gugup, tapi beruntungnya ia ke tempat itu bersama Arkan. Cowok yang paling bisa membuat perasaan minder itu hilang.


Arkan mempererat genggamannya. Tangan gadisnya itu sangat dingin, itu artinya ia sedang merasa gelisah dan tegang.


"Maksudnya?"


"Kamu pikir mereka cantik, kan?" tanya Arkan. "Mereka juga berpikir begitu, mereka berpikir kalau kamu cantik dan itu buat mereka minder juga."


"Apa bener gitu, Kak? A-aku rasa mereka gak berpikiran begitu."


"Kalau kamu bisa berpikiran gitu, kenapa mereka gak bisa?"


Senja menggelengkan kepalanya. "Aku rasa.. cuma aku yang minder, sementara mereka biasa aja."


Arkan memegang kedua pipi Senja. "Kalau gitu kamu hanya perlu tahu isi pikiran Kakak."


Senja menatap kedua mata Arkan serius. "Kamu itu terlalu cantik, makanya Kakak punya kamu sekarang. Bukan punya orang lain."


Senja terkekeh, "Iya, tapi Kakak itu terlalu ganteng buat aku!"


Arkan mencubit hidung Senja. "Kalau itu sih Kakak juga tahu."


"Aw! Ih sakit, Kak!" Senja sedikit merintih, kemudian tertawa.


Arkan terkekeh kecil. "Ya udah yuk, kita masuk!"


Cowok itu melipat lengannya untuk kemudian mengajak Senja bergandengan. Gadis itu menatap Arkan sebentar sebagai tatapan kagum. Lalu Senja membalas gandengan Arkan dan mereka pun masuk ke dalam.

__ADS_1


****


Sara berkunjung ke rumah Ghea setelah kejadian bersama Arkan tadi. Gadis itu curhat kepada sahabatnya di kamarnya. Sara sampai bela-belain datang ke rumah Ghea hanya untuk mengutarakan perasaannya.


"Gue gak tau kenapa dia begitu, Ghe. Gue jadi nyesel karena udah ajak dia jalan," ucapnya sembari mengusap air matanya pakai tisu.


Ghea menggosok-gosokkan punggung Sara. "Duh, udah deh Sar. Lo terlalu berharap sama dia, sih. Jadi dia seenaknya sama lo. Ih, emang harus rada-rada digetok nih si Arkan."


"Gheaaa!" Sara memperderas air matanya dan menangis semakin kencang.


"Eh, udah dong Sar! Lo jangan nangis kayak gitu. Kamar gue gak kedap suara, nanti kalau nyokap bokap gue tau, gimana?"


Sara masih menangis. "Biarin! Biarin Tante sama Om tau! Bahkan seluruh dunia tahu pun gak apa-apa!"


"Ish! Lo cuma karena Arkan aja sampai segitunya."


Sara menyerang Ghea dengan tatapan sinis, kemudian ia memegang kedua pipi Ghea dan mendengus kesal. "Apa lo bilang? Coba ulangin!"


"Eh. L-lo mau ngapain? Lo udah gila ya Sar?" tanya Ghea takut.


Sara pun merengek dan melepaskan tangannya dari pipi Ghea. "Aaa, iya gue udah gila! Gila karena Arkan! Gila karena cinta!" teriaknya. "Tolong gue, Ghe!"


Ghea meraup wajah Sara. "Lebai lo! Udah mending lo pulang sana! Siapin diri lo, besok kan ada tutorial, dimana lo bakal sekelas sama Arkan!"


Sara memukuli Ghea dengan bantal. "Ih Ghea lo nyebelin banget!"


"Eh, Sar! Udah Sar!" Ghea hanya bisa tertawa. Itu sungguh membuatnya tertawa geli, sekalinya jatuh hati, sahabatnya itu langsung diberi harapan palsu.


****


Falah melihat Langit sedang duduk merenung di markasnya. Cowok yang menyukai Risa itu juga sedang merasakan hal yang sama dengan Langit. Karena Risa lebih memilih Eri dibanding dirinya.


Falah duduk dengan perasaan yang persis dengan Langit. Ia duduk di samping Langit. "Sakit ya Lang? Cewek yang kita suka nggak pilih kita," ujarnya.


Langit lebih memilih tegar. Ia menatap Falah. "Biasa aja."


"Bohong banget, lo! Itu mata lo basah kenapa?" tanya Falah. "Mau alasan hujan? Diluar gak hujan lo!"


"Ck, nangis cuma buat laki-laki lemah."


"Ya gue tau, tapi sekuat-kuatnya laki-laki, kalau udah tumbang karena perempuan, ya itu artinya dia tulus."


"Lo pernah nangis buat Risa?"


Falah terkekeh kecil. "Gak pernah, tapi gue selalu kecewa dan rasa kecewa itu lebih buruk dari apapun. Gue rasa.. hilangin rasa kecewa itu yang paling sulit."


Langit diam mendengarkan penjelasan anak yang baru gede itu. "Jadi, ya.. gue milih buat berhenti suka sama Risa. Laki-laki itu harus gitu bro, kalau dikecewain ya udah pergi aja."


Langit tertarik pada ucapan Falah. Kemudian ia berpikir untuk meninggalkan Senja juga.


"Apa gue juga harus berhenti suka sama Sesey?"


Falah tersentak.

__ADS_1


Apa Langit juga akan melakukan hal yang sama dengan Falah?


...~🔱~...


__ADS_2