
...
...
Ini adalah hari keempat Senja tak sadarkan diri. Arkan sangat lelah karena sekolah sibuk dan mengandalkan dirinya. Namun setelah melihat wajah gadisnya ia kembali menemukan kekuatannya. Berhubung Senja juga belum sadar, ia pun memilih tidur sambil duduk di sebelah Senja.
Tak lama setelah mata Arkan tertutup. Kini mata Senja bergerak, ia membuka perlahan matanya dan menggerakkan jemarinya. Jika Senja sadar, itu artinya ia terbebas dari ancaman maut. Apa ia tak salah lihat? Itu Arkan. Lelaki yang sempat marah padanya.
Jarinya meraih rambut Arkan. "Kak," lirihnya.
Arkan terbangun, kemudian kembali segar ketika mendapati Senja dengan suara pertamanya semenjak empat hari lalu ia hanya terpejam dan diam.
"Senja?" panggilnya. "Sebentar, Kakak panggil Dokter dulu."
Tak lama Arkan datang bersama Dokter yang menangani Senja. Dokter itu pun langsung memeriksa keadaan gadis itu.
"Sedikit pusing, Dok," ujar Senja.
"Rasa sakit itu pasti akan hilang, kamu hanya perlu istirahat dan jangan banyak bergerak dulu. Kalau begitu, saya permisi."
"Terima kasih, Dok," kata Arkan.
Arkan kembali duduk di samping Senja. Bukan main, ia sangat bahagia sampai mengabari seluruh anggota keluarganya dan Bunda Gina.
"Kamu mau makan apa? Biar Kakak beliin," kata Arkan menatap dalam-dalam.
Senja menggeleng, "Enggak. Aku mau Kakak di sini."
Bagi Senja kecelakaan itu membawa berkah. Karena Arkan tidak lagi marah kepadanya. Namun ia kembali teringat pada seseorang yang menyatakan perasaannya pada Senja.
Kemana dia?
****
Keesokan harinya Lia dan Arif menjenguk Senja. Lia diantar Arif untuk menemui Senja. Gadis itu masuk dengan semangatnya, sebab dia sangat merindukan sosok Senja yang biasanya menemani hari-harinya di kelas. Lia dan Arif masuk begitu saja, Lia langsung menghampiri Senja dan memberikan pelukan rindu yang hangat.
"Senjaaa!"
Senja pun semringah ketika mendengar suara Lia.
"Liaaa!"
Mereka berdua berpelukan seperti teletubies. Senja memberikan sapa untuk Arif dulu. "Hai Rif."
Namun yang disapa hanya memberikan dehaman singkat. Lia pun lansung memberikan parsel buah pisang. Ya, hanya pisang. Tak ada niatan untuk membelikan buah yang lain. "Nih buat lo dari gue dan Arif."
"Eum, makasih Lia, Rif."
Mereka tak menyadari jika ada Arkan yang sedari tadi berdiri diantara mereka. Lia segera memberikan senyum kepada Arkan. Sedangkan Arif, wajahnya saja sudah sangat canggung dan malas. Secara sahabatnya harus menanggung segala luka.
"Eum permisi," pamit Arkan untuk mengangkat telepon.
__ADS_1
"Eh iya Kak."
Sementara Arkan keluar, Arif pun mengikuti langkah Arkan. Kini hanya tersisa dua anak gadis, mereka bebas menggosipkan apapun semau mereka. Apalagi sahabat dari Senja itu tahu semuanya.
"Apa yang lo rasain sekarang, hm?" tanya Lia.
"Cuma pusing sedikit aja kok."
"Hm, gue harap lo cepet sembuh, karena gue kesepian banget di kelas gak ada lo."
"Iya, doain aja. Semoga gue cepet sembuh."
Lia mengangguk mantap. "Pasti."
"Oiya Sen, lo tahu gak siapa yang bawa lo ke sini?"
"Enggak, siapa memangnya?"
"Langit, dia yang bawa lo kesini."
Senja terbelalak tak percaya. Tak akan terhitung jika ia mencoba tahu berapa kali Langit menolong dirinya. Matanya berkaca-kaca, wajah pucatnya kini dihiasi air mata. Lia tahu semuanya dari Arif, lelaki itu memberitahu Lia bahwa Langit menyukai Senja.
Lia memeluk Senja. Ia sangat tahu perasaan Senja saat ini. Senja pasti bingung ingin menempuh Langit atau Arkan. Tangisnya mulai surut, Senja menatap sendu ke arah Lia. "Gue harus minta maaf dan berterima kasih sama dia, Li."
Lia menganggukkan kepalanya. Senja sangat benar, ia harus minta maaf pada Langit yang telah menolongnya.
Lia menghembuskan nafas kasar, "Senja udah ya? Lo gak boleh terlalu mikirin itu. Takutnya lo down lagi dan lama untuk sembuh. Lagian Langit baik-baik aja kok, dia juga datang ke sekolah setiap hari," ucap Lia memberitahu kondisi Langit.
Senja tertawa, Lia sudah menemukan kebahagiaannya sepertinya. Dan Senja yakin, setelah lulus nanti Lia akan dilamar oleh Arif dan mereka menikah.
"Hm, gue doain semoga lo sama Arif berjodoh."
"Aamiin. Yaudah gue sama Arif pamit dulu, ya? Lo cepet sembuh," kata Lia seraya mencium pipi Senja.
"Hm, Dah."
Lia pun keluar dari ruangan Senja dan menemui Arif yang tengah mengobrol dengan Arkan.
"Rif!"
Arif dan Arkan kelabakan. Mereka seperti tengah membicarakan hal penting.
"Eh, iya sayang."
Arif dan Lia pun berpamitan dengan Arkan. "Kamu sama Kak Arkan ngobrolin apa Rif?"
"Bukan apa-apa."
Lia mengangguk. Ia tak mau mengorek lebih dalam lagi, karena ia takut jika sampai mengatakan kalimat yang salah.
****
__ADS_1
Arkan masuk dan menemui Senja lagi. Gadisnya tengah memandangi pisang yang diberikan sejoli tadi. "Kamu mau pisang?" tanya Arkan.
Senja kaget. Sebenarnya setiap ia melihat pisang, ia mengingat sosok Langit. Karena begitu lekat ingatannya pada bangku favoritnya dan rooftop bangunan tua itu.
Senja pun mengiyakan tawaran Arkan. "Sebentar," ucap Arkan. Lelaki itu keluar untuk menemui suster.
Suster itupun datang untuk memotongkan pisang. Setelah selesai, kini bagian Arkan yang melayani Senja. Arkan duduk dan menyuapi Senja. Kini mereka bahagia karena pisang itu juga dilahap Arkan.
Ting!
Arkan menaruh piring berisikan buah pisang itu di nakas. Lalu membuka notifikasi yang muncul dari ponselnya. Arkan tersenyum bahagia, karena Senja pasti sangat bahagia setelah melihat kejutan yang akan diberikannya.
"Eum, Kakak punya kejutan buat kamu. Sebentar!"
Senja menganggukkan kepalanya. Sungguh Senja sangat penasaran, kira-kira apa yang akan diberikan Arkan? Tak lama Arkan kembali dan membawa seseorang di belakangnya.
Betapa terkejutnya Senja ketika melihat kejutan dari Arkan.
Layaknya Lia, ia juga bertemu dengan orang tua Arkan sore itu.
"Halo? Jadi kamu yang namanya Senja?" tanya Nyonya Arlita, membuat Senja tersenyum malu.
Senja mengangguk dan mencium punggung tangan orang tua Arkan.
"Cantik juga, ya? Pantas Arkan pilih kamu."
Syukurlah jika Mama Arkan adalah orang yang baik. Tidak seperti Ibu-Ibu di film-film atau novel yang melarang keras putranya berhubungan dengan putri dari kalangan bawah.
"Tante juga cantik, pantas Kak Arkan ganteng."
Nyonya Arlita tertawa. Sedangkan Arkan takut jika Mamanya itu mengatakan hal yang bukan-bukan. Misalnya soal Arkan dan Langit yang ternyata saudara tiri.
"Cuma Mamanya Arkan aja? Papanya?" Kali ini Papanya Arkan yang bertanya.
"Iya, Om juga." Seketika semuanya tertawa bahagia.
Beberapa menit orang tua Arkan berada dekat dengan Senja. Arkan mengobrol dengan Papanya dan Senja mengobrol dengan Mamanya.
"Jadi, kamu sekelas sama Arkan?"
"Saya adik kelas Kak Arkan, Tante."
"Adik kelas? Berarti kamu seangkatan sama Langit?"
Senja sontak terkejut dengan apa yang barusan dikatakan Nyonya Arlita. "Langit?"
"Iya, adiknya Arkan."
Hatinya membeku kali ini. Ia sungguh tak menyangka. Apalagi ini? Kenapa semuanya begitu rumit? Entah apa yang Tuhan rencanakan. Yang jelas Senja ingin kembali ke alam bawah sadarnya dan diam di sana selamanya.
...****...
__ADS_1
...🔱...