MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Part 5 : Masih Berlangsung


__ADS_3

...Perlahan aku merasakan adanya perubahan. Jadi, bolehkah aku keluar sedikit dari lintasan?...


...πŸ”±...


"Ini kamu, ya Lang?" tanya Senja. Kemudian ia berbalik dan mendapati Arkan yang mundur satu langkah.


"Loh, K-Kak Arkan. Aku pikir Langit. Maaf," ucap Senja.


Arkan berusaha tersenyum dan baik-baik saja. "Gak apa-apa, kok."


"Sejak kapan Kakak di sini? Kok gak kabarin aku dulu?"


"Iya maaf, tadi Kakak ada urusan di kampus."


"Loh, aku pikir Kakak istirahat di rumah. Makanya aku gak ngajak Kakak ke toko Bunda."


Arkan mengumpat di dalam hatinya, ceroboh sekali. Cowok itupun mencari alasan agar Senja tak curiga jika dirinya telah berbohong. "I-iya, Kakak ke kampus karena ada urusan sama Gilang. Kakak lupa kalau hari ini ada tugas yang harus dikerjain sama Gilang."


"Oh, ya kalau seandainya Kakak sibuk, kenapa harus kesini? Kan bisa ketemu akunya besok."


"Kata Langit kamu sakit. Jadi, Kakak khawatir," ucap Arkan.


Senja terkekeh kecil. "Dasar Langit," gumam Senja. "Kakak gak usah khawatir, aku udah gak apa-apa kok sekarang. Seperti biasanya, aku cuma pusing sebentar."


"Walaupun sebentar, tapi kalau sering itu udah gak wajar, sayang." Senja teringat, ucapan Arkan sama dengan ucapan Langit. Mereka sehati rupanya.


Senja tersenyum. "Respon Kakak sama kayak Langit. Udah ah, kalian itu berlebihan. Aku baik-baik aja. Buktinya aku mau bantu Bunda di toko."


3L, lagi-lagi Langit. "Tapi muka kamu pucat, kamu yakin baik-baik aja? Coba Kakak cek," kata Arkan seraya memegang dahi Senja. "Agak panas, kamu istirahat di rumah aja. Kakak antar pulang, ya?"


Senja menggeleng, "Aku nggak mau. Aku mau bantu Bunda. Kasihan Bunda, Kak."


Arkan menatap sendu Senja, ia sangat merasa bersalah karena hampir melakukan hal bodoh tadi. Senja sedang sakit, tapi dia tetap ingin membantu Bundanya. Arkan bangga terhadap kekasihnya itu. Ia sudah mendapatkan gadis terbaik. Namun Arkan sadar, Senja lah yang mendapatkan lelaki paling buruk.


"Ya udah boleh, tapi janji cuma sebentar aja," ucap Arkan.


Senja mengangguk sembari tersenyum. "Iya, aku janji."


Arkan pun menarik tangan Senja dan membawanya ke si merah, motor ninja kesayangan Arkan. Arkan membantu Senja naik motornya. Lalu setelahnya, Senja memeluk Arkan sangat erat. Itu semakin membuat cowok itu merasa bersalah.


Arkan memegangi tangan Senja. "Udah sayang?" tanya Arkan.


"Hm."


Mereka pun pergi ke toko kue milik Bunda Gina, Bundanya Senja.


****


Sara terlihat tidak bersemangat masuk ke dalam kelas. Apalagi semenjak kejadian tadi bersama Arkan, sungguh membuat dirinya kesal dan tidak terima. Ia lebih baik makan dan tidur di kelas ketika dosen memberikan materi dibanding mengalami kesialan dengan lelaki yang hanya memberikan harapan palsu.


Sara terus menurunkan bahunya, menatap malas ke depan dan mencebikkan bibirnya. Sesaat akan masuk ke kelas. "Sar!" panggil Ghea, temannya.


Sara berhenti berjalan dan melihat temannya itu menghampirinya dengan berlari. Ghea sudah ada di hadapan Sara bersama dengan nafas terengahnya. "Lo dari mana aja? Gue nyariin lo dari tadi."


"Ck, gue kan ada chat lo. Emangnya lo gak baca?"


"Emang iya?" tanya Ghea. "Bentar gue cek."


Ia pun mengecek ponselnya. Kemudian menyengir kuda. "Iya ini ada baru sampai."


Sara

__ADS_1


Ghe, gue gak bisa makan siang sama lo hari ini. Gue ada janji makan siang sama yang lain.


Ghea membaca pesan itu dan kemudian menatap Sara heran. "Makan siang sama yang lain? Sama siapa?" tanya Ghea.


Sara menghembuskan nafasnya kasar. "Sama Arkan," jawab Sara sembari berjalan dan masuk ke dalam kelas.


Ghea mengejar Sara. "Sama Arkan? Lo serius, Sar? Sejak kapan lo deket sama dia?"


Sara duduk di kursi paling depan dan Ghea berdiri di hadapan Sara. "Sejak tadi."


"Mimpi apa lo semalam di deketin sama Arkan? Beruntung banget sih."


Sara menatap Ghea malas. "Beruntung apanya? Semua cowok ganteng itu punya motif, Ghe. Mereka cuma ngasih harapan dan pergi. Malesin."


"Maksud lo?"


"Gue emang makan siang sama Arkan, tapi dia tiba-tiba ninggalin gue dan bilang ada urusan mendadak. Aneh banget gak sih?" tanya Sara.


"Hm, coba aja lo tunggu. Mungkin dia bakalan chat lo dan kasih lo penjelasan."


Sara terlihat berpikir, lalu mengangguk karena ucapan Ghea ada benarnya juga.


****


Bel toko kue berbunyi setelah kedatangan dua orang yang sudah teringat hubungan hampir serius. Ya, mereka Senja dan Arkan. Keduanya baru saja sampai ke toko kue Bunda Gina, keadaan toko sore itu tidak terlalu ramai.


Senja dan Arkan menghampiri Bunda Gina yang sedang membuatkan pesanan untuk salah satu meja. Toko kue itu memang di modifikasi menjadi caffe juga. Jadi, ada saja yang memesan kopi atau minuman lainnya.


Senja mengambil alih nampan yang dipegang Bundanya. "Sini, Bun. Biar aku yang kasih ini. Ke meja yang mana?"


"Yang nomor 10 itu, sayang."


"Oh oke Bun," ucap Senja kepada Bundanya. "Sebentar ya, Kak?" Dan kali ini kepada Arkan.


"Udah kan Bun? Apa masih ada yang lain?" tanya Senja.


"Iya, udah sayang."


"Bunda kalau capek, biar aku aja yang jaga tokonya," tawar Senja.


"Nggak kok, Bunda gak capek. Tapi Bunda mau pulang dulu sebentar buat lihat Risa," ucap Bundanya mulai menunjukkan kegelisahan.


"Bunda kenapa, sih? Lihat Risa? Tapi tadi Risa baik-baik aja kok di rumah."


"Eum.. kemarin Risa bilang sama Bunda katanya dia sedikit demam, jadi Bunda mau cek keadaannya sekarang," kata Bundanya.


"Oh, iya Bun."


"Bunda mau Arkan antar pulang?" tanya Arkan.


"Gak usah, Nak. Nak Arkan di sini aja sama Senja," jawab Bundanya. "Kamu layanin Nak Arkan, ya? Bunda pulang dulu," ucapnya kepada Senja.


"Iya, Bun."


Bundanya pun meninggalkan toko kue itu dengan wajah yang gelisah. Senja hanya bisa merasakan jika Ibu kandungnya itu sedang tidak baik-baik saja. Apa yang sedang terjadi?


Senja dan Arkan pun pergi melihat kue-kue yang ada di sana. Selepas Bundanya pergi, pengunjung mulai berdatangan. Mungkin Arkan memang memiliki pengaruh di wajahnya.


Senja pun memakai pelindung pakaian atau apron. "Kok cuma kamu? Buat Kakak mana?" tanya Arkan, karena ia juga ingin memakai apron itu.


Senja terkekeh. "Kak, Kakak duduk dan makan kue aja. Biar aku yang layanin mereka."

__ADS_1


"Loh, nggak bisa gitu dong. Kakak gak mau duduk santai sementara pacar Kakak sibuk."


"Yaudah, kalau gitu sini aku pakein," ucap Senja kemudian mengambil apron untuk Arkan.


Gadis itu mengalungkan apron itu di Arkan, lalu mengikatkan tali apron yang ada dibalik punggung Arkan. "Udah, tapi Kakak gak usah kemana-mana, ya? Cukup diam di sini."


"Emangnya kenapa?" tanya Arkan.


"Aku gak mau Kakak dikatain ganteng-ganteng jadi pelayan," ucap Senja lalu tersenyum.


Arkan berdesir malu dan tersenyum manis.


"Mbak!" panggil satu pengunjung. "Eh, Kak itu ada yang manggil aku, sebentar ya?"


"Hm."


Senja pun pergi ke pengunjung itu untuk menuliskan pesanannya. Arkan menatap kagum Senja. Sungguh gadis yang baik.


****


Sara menunggu ponselnya berbunyi dan menampilkan notifikasi dari orang yang diinginkannya. Namun sepertinya tidak akan pernah ada. Rupanya Sara menunggu dari sore tadi hingga malam. Ia tak berhenti mengecek ponselnya berkali-kali. Ghea! Gadis itu yang membuat Sara dipenuhi rasa penasaran. Dan bodohnya dia percaya akan apa yang dikatakan Ghea.


Di kamarnya sembari mondar-mandir sembari menggigit ujung jari telunjuknya. Sara memegang ponselnya dan berharap pesan itu tidak ada! Ia mengacak rambutnya frustasi. "Ah, Sar! Lo gila! Dia gak akan ngehubungin lo," geramnya.


"Dia itu cuma modus sama lo, karena lo pemilik IPK tertinggi! Karena lo penyuguh presentasi paling menarik di kampus dan lo juga pencipta makalah terbaik! Jadi dia mau nyari celah supaya lo ngasih semua rahasia terbesar lo itu! Lo tahu kan kalau dia itu sedikit ambisius soal ini?!"


"Ayolah Sar, tidur aja!" kesalnya lalu berhenti mondar-mandir. Ia pun mengacak-ngacak rambutnya frustasi lalu menjatuhkan diri ke kasur miliknya.


Ia tak berhenti menggerutu pada dirinya sendiri. Ia merasa telah dibodohi oleh Arkan, ia juga merasa sudah dijebak dan terjebak. Sara pun melihat ponselnya yang sepi bagai kuburan.


Karena terlalu frustasi, ia pun menenggelamkan wajahnya. "Mustahil."


Ting!


Satu notifikasi meluncur ke ponselnya. Gadis itu lantas bangkit dan duduk. Dengan segera ia membuka ponsel pesan itu.


Tercengang hebat. "Hah? Operator?!"


Ting!


Ting!


Ting!


Setelahnya ia melotot karena terkejut, hatinya berdebar cukup cepat. Demi apa? Ini mimpi kan? Terkabul! Tiga pesan itu dari dia.


Arkan


Sar?


Lo gak marah kan?


Gue minta maaf karena ninggalin lo tadi.


Sara teriak bukan main. Hatinya terlampau lega dan bahagia. Ternyata Arkan tidak melupakan dirinya. Berbeda dengan tadi, kali ini Sara berbinar dan kembali cerah malam itu.


"Buat sekarang, operator gak apa-apa kok kirim pesan sebanyak-banyaknya," ucapnya lalu tertawa.


...~πŸ”±~...


...00.00πŸ˜…...

__ADS_1


...Hayo, kesel kan ke Arkan? 😒...


......Ayo dong, keluarin aja keselnya. Komentar ya, aku mau tahuπŸ€—......


__ADS_2