
...
...
"Bundaaa!" teriak Senja seraya membuka pintu dan mencari Bundanya ke setiap ruangan.
"Bundaaa!"
Senja tak tahu jika di rumahnya itu sudah terdapat satu orang lagi dan kini orang itu merasa terganggu karena Senja membuat bising dan keresahan.
"Ih Kak, berisik. Ada apa sih?" tanya Risa kesal.
"Bunda mana Dek?"
"Bunda belum pulang, lagi ke toko. Emang kenapa?"
"Itu.. sepeda Kakak siapa yang balikin?" tanya Senja, karena tiba-tiba sepeda miliknya telah kembali.
Risa bahkan tak tahu jika sepeda kakaknya itu tadinya tidak ada. "Gak tau Kak, aku aja baru pulang sekolah."
Senja berdecak, ia tak habis pikir kenapa lelaki itu mengantar sepedanya diam-diam. "Oh, yaudah deh," ucap Senja menyerah. Ia pun pergi ke kamarnya.
Tepat saat Senja baru menaiki beberapa anak tangga, Ibundanya datang. "Assalammualaikum.. Bun--" Dengan segera Senja menyela perkataan Ibundanya itu.
"Bundaaa!" Senja langsung menghampiri Bundanya.
Bundanya terlonjak ketika anak sulungnya berlari dan tiba-tiba berdiri di hadapannya. "Eh, kamu kenapa sih?"
"Bun, siapaByang balikin sepeda?" tanya Senja ingin tahu. Namun Bundanya menyalahkan pertanyaan Senja itu.
"Jawab salam Bun---" Oke disela lagi.
"Waalaikumsalam."
Bundanya menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala. "Bunda gak tau sayang..."
"Beneran Bunda gak tahu?" tanya Senja memastikan lagi.
"Hm iya. Kamu lihat sendiri 'kan Bunda aja baru dateng, yaudah sekarang kamu ganti baju, Bunda sama Risa tunggu kamu di meja makan."
Senja mengangguk pasrah. Padahal ia tau siapa yang mengantar sepedanya itu, yang pasti itu Langit. Diantara teman-temannya memang hanya Langit yang tau dimana rumah Senja. Belum lagi kejadian semalam, sepeda itu memang sedang bersama dengan Langit, kan?
****
Sementara itu, Langit menyuruh teman-temannya untuk datang ke rumah keduanya. Ia ingin teman-temannya itu membantunya mengatasi si peneror itu. Karena awalnya Langit tak menghiraukan teror-terorannya, akhirnya ia berulah lagi.
Arif datang membawa dua orang lainnya. "Lang? Ada apa?" Arif yang langsung melempar pertanyaan.
"Ini." Singkatnya seraya menunjukkan kardus yang berisi foto-foto mereka berempat.
"Ini kan foto kita," kata Falah sembari memegang satu foto.
__ADS_1
"Loh? Ini kok kepala gue gak ada?" Eri memegang fotonya yang di bagian kepalanya tergunting.
"Rasain lo!!!" Ledek Falah dengan tawanya.
Eri mengerucutkan bibirnya, ia sungguh tak habis pikir mengapa ia memiliki teman seperjuangan yang menyebalkan. Please intro!
"Jahat lo!"
"Ssst... lo berdua kok malah santai," ucap Arif melerai peperangan tak penting itu.
Langit melempar kardus itu. "Kita serang!" pekiknya sambil menatap tajam ke depan.
"Serang siapa, Lang?" tanya Eri bingung.
"SMA negeri Jakarta."
Arif dan Falah saling tatap. Mereka bingung kenapa tiba-tiba Langit ingin tawuran? Selama mereka mengenal Langit, baru kali ini mereka melihat Langit balas dendam pada orang lain. Biasanya lelaki itu tidak peduli dan malah memilih untuk tidur.
"Jadi, mau nyerang gimana nih?" tanya Arif.
"Iya, Lang. Apa kita pake mobil tank?" pertanyaan Eri ini mengundang tatapan tajam dari Langit dan Arif.
"Kalau punya, ya pake lah," timpal Falah dengan tawanya.
"Diem lo berdua! Ngomong lagi, gue sumpel mulut kalian pake tank!" Arif dengan nada bicara yang tinggi.
Tak ingin berbasa-basi, Langit dan teman-temannya itupun mengatur strategi untuk besok menyerang sekolah SMA negeri Jakarta. Agar mereka segera mengetahui siapa yang kerap kali meneror mereka, lebih tepatnya Langit.
****
"Senja, lo tau gak Arif gak bales chat gue masa?"
"Tau," jawab Senja asal.
"Lo tau dari mana?"
"Kan lo barusan bilang." Bukankah pernyataan Senja ini benar?
"Ih lo ya, gue serius tau, gue khawatir sama dia." Lia sepertinya memang sedang cemas.
"Mungkin dia sibuk kali, Li."
"Iya sih, tapi gak biasanya gini," ucap Lia semakin frustasi.
Bel istirahat berbunyi. Senja dan Lia pun memutuskan untuk ke kantin. Tapi sebelum sampai di kantin, Senja dan Lia melihat Arkan lari tergesa-gesa.
"Kak?"
Yang dipanggil pun berhenti. "Ada apa? Tumben manggil, bukannya lagi marah?" tanya Arkan. Jiwa kekepoan Senja sedang meluap-luap jadi ia lupa.
"Eum soal itu.. gak usah dibahas. Lo mau kemana? Kok lari-lari?"
__ADS_1
Lia memutar malas bola matanya. Karena ia merasa seperti nyamuk sekarang.
"Iya soalnya sebelum istirahat, katanya ada beberapa anak kelas IPS keluar kelas untuk bolos."
"Loh? Kok bisa?" tanya Lia dan Senja serempak.
"Iya, sepertinya mereka mau tawuran, udah dulu ya? Gue mau nahan mereka dulu."
Tanpa ingin menunggu kedua gadis itu menjawab, Arkan pun meninggalkan Lia dan Senja yang kaget, kemudian Arkan berlari ke belakang sekolah.
"Sen, Arif ikutan gak ya?" tanya Lia menatap kosong ke depan.
Senja menatap Lia cemas. "Hm, gue gak tau."
****
Mereka sudah berkumpul di depan warung bu Yuli, Langit memberikan penjelasan tentang penyerangan yang akan mereka lakukan. Langit sama sekali tak peduli pada kakak kelasnya yang juga ikut mendengarkan.
"Jangan jadi pengecut! Kita akan serang lewat depan!" pekik Langit si dingin itu melemparkan kalimat itu tanpa ragu.
"Siap!" Respon anak laki-laki serempak.
Bu Yuli yang kelabakan itupun bingung, ia tak ada daya untuk menghentikan penyerangan itu. Ia hanya berdoa semoga tak ada yang terluka pada peristiwa yang akan dilaksanakan itu.
"Duh, ibu mah cuma bisa doa aja, ya? Nyerangnya pake otak dingin aja Den."
"Bu, kami bakalan baik-baik aja kok, ibu tenang aja," kata Langit menenangkan.
"Woy Bang, Jangan ada yang bawa sajam ya?" Arif memberitahu kakak kelasnya.
Langit membuka ponselnya dan mengetikan sesuatu disana.
To +628193267**
^^^Bersiap! Sambut gue!^^^
Semua bersiap diatas motor-motor mereka. Ada sekitar 10 motor yang akan meluncur.
Kini Langit dan rombongannya pun sampai di depan gerbang SMA negeri Jakarta. Tepat setelahnya, tiga orang murid datang, mereka terlihat urak-urakan, berantakan, dan sudah pasti mereka adalah badboy sekolah tersebut.
"Wah, berani banget ya lo pada!" pekik salah satu murid dari ketiganya.
"Jadi lo yang udah neror kita?" tanya Arif seraya melangkah maju. Namun langsung ditahan Langit untuk mundur.
"Oh, jadi ini si Langit yang gayanya selangit? " tiba-tiba datang seseorang dari arah kiri.
Spontan suara berat itu membuat kelompok Langit menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya Langit dan teman-temannya ketika mendapati orang yang selalu menerornya itu adalah dia.
"Arlan?" batin Langit, karena lagi-lagi Arlan yang menantangnya.
...****...
__ADS_1
...🔱...