MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Part 23 : Sekali Lagi


__ADS_3

...Curangi saja! Tunggu keadilan datang padaku, maka keadaan akan berbalik tidak adil padamu....


...๐Ÿ”ฑ...


"Ayolah Angkat!" batin Eri setelah menelpon Senja, sebab gadis itu tidak membalas pesannya. Makanya ia telpon.


Risa sedang bersama dengan Eri di taman. Gadis itu sedang menikmati bahu Eri setelah bercerita tentang masalahnya. Tentu kekasih dari Risa tersebut terkejut bukan main, secara Risa bicara kalau dia bukanlah anak dari Bundanya. Gadis itu juga menangis di pelukan Eri hingga kelelahan karena tidak berhenti. Setelahnya ia bisa berbicara dan menceritakan segala masalahnya. Dan Risa sudah jauh lebih tenang sekarang ini di bahu Eri.


"Aku harus gimana, ya Kak? Apa aku kabur aja dari rumah?" tanya Risa sembari menatap lurus ke depan.


"Nggak, jangan! Kamu mau kemana coba?" tanya Eri.


"Kemana aja ... asal aku gak repotin mereka lagi."


"Ris, mereka itu keluarga kamu. Gimana bisa kamu ninggalin mereka? Bunda sama Senja itu udah anggap kamu sebagai bagian dari mereka."


Risa menatap Eri kali ini. "Tapi gak ada darah mereka yang mengalir di diri aku, aku ini cuma anak pungut, Kak."


Sssstt. "Kamu jangan ngomong gitu, setiap anak punya hak yang sama. Begitu juga kamu." Eri sudah menjadi dewasa sekarang ini. "Walau gimana pun, ada keringat Bunda yang mengalir di diri kamu. Kamu hidup karena Bunda. Jadi kamu gak boleh pergi kemana pun. Ada jasa yang harus kamu balas, Ris."


Ah, itu benar. Risa jadi semakin kagum pada Eri, kekasihnya itu sudah banyak berubah ternyata. Ini alasan Risa memilih Eri. Dia pintar memberi nasehat, intinya Eri itu bukan bodoh, tapi ia kelewat pintar.


"Jadi aku harus gimana sekarang?" tanya Risa.


"Tetap jadi Risa."


Risa tersenyum menanggapi itu. Terima kasih telah membuat Risa tenang. Risa memeluk Eri lagi. "Makasih banyak, Kak. Aku berharap Kakak gak pernah berubah dan selalu ada untuk aku."


Eri membalas pelukan hangat itu. "Sama-sama."


****


Eri


Lang bantuin gue


Risa lagi ada masalah.


Mungkin Senja lagi cari Risa


Gue telpon gak diangkat soalnya.


Kenapa juga anak ini mengirim pesan begini. Langit jadi semakin yakin jika perasaannya tidak salah. Perasaan tidak enak itu berarti menunjukkan kebenarannya. Apa kali ini ia harus menyerah untuk menjauhi Senja?


Langit pun menaruh ponselnya di saku lalu mempercepat langkahnya meninggalkan parkiran restoran itu.

__ADS_1


****


Sementara Senja berjalan gontai untuk pulang. Gadis itu menangis sembari menggosok-gosokkan kedua lengannya. Air matanya tak berhenti menetes ketika ingatannya lekat dengan kejadian yang baru menimpanya tadi. Laki-laki itu adalah orang yang terobsesi kepada Senja. Senja selalu melihat laki-laki itu berkeliaran di depan toko kuenya, ia bahkan datang setiap hari ke toko Bundanya itu.


Senja melihat ke arah langit. Gadis itu ingat akan seseorang yang sudah dicuranginya. Bagaimana jika Arkan tahu? Apa Arkan akan memarahinya, atau ... Arkan akan meninggalkannya karena ia sudah tidak suci lagi?


Senja tambah menangis mengingat itu. Ia pun memukuli bibirnya karena kecewa.


"Lo bodoh banget, Sey! Kenapa lo biarin cowok brengsek itu ambil first kiss lo?" tanya Senja kepada dirinya sendiri.


Senja tidak sadar jika ia sudah berada di pekarangan rumahnya. Ia berjalan dengan keadaan kacau, sampai akhirnya hampir tersungkur karena saking pusingnya. Ya, Senja hampir terjatuh dan untungnya ada laki-laki yang menyelamatkannya. Matanya berbinar ketika menemui mata orang yang ia rindukan.


"Lang?"


Ternyata laki-laki itu adalah Langit Prasetya, sahabat kecilnya. Tanpa basa-basi lagi, ia pun langsung memeluk Langitnya. Seperti menemui jalannya, Senja akhirnya bisa meluruhkan segala sakitnya kepada cowok itu dan menangis sekencang-kencangnya.


"Lang aku takut, hiks." Langit membalas pelukan Senja itu dengan erat. Ia sangat merindukan Seseynya.


Langit mengelus-elus rambut gadis itu, agar gadis itu tenang. "Sekarang ada aku. Kamu jangan takut lagi, ya?" katanya.


Senja mengangguk.


****


Ia menyeret dirinya dengan satu kaki yang teramat sakit. Sepatu hak tinggi berwarna hitam dipegangnya. Ia juga menyingkat gaun abu-abu yang dipakainya agar bisa berjalan dengan lancar, tapi tetap saja ini membuatnya kesulitan.


Luna langsung murung. Tidak! Tidak! Jangan biarkan pemikiran itu membatasi dirinya. "Nggak! Bodo amat mau dia orang kaya sejagat atau sedunia sekalipun, tetap aja ngerendahin orang miskin itu sama aja dia rendahan!"


Luna pun membuang sepatu hak tinggi yang dipegangnya. "Kenapa gue jadi ngelantur, sih! Lo gila Lun!"


Ia pun meneruskan jalannya. "Pincang lagi..."


Luna pun sampai ke rumahnya. Dengan perasaan berat ia harus menemui si malapetaka lagi. Siapa lagi kalau bukan Ayah dan Kakaknya? Luna membuka pintu utama rumahnya dan seseorang menerobos masuk begitu saja.


"Minggir! Minggir!" kata orang itu.


"Ck, Bang! Lo gak lihat ada gue, hah?" tanyanya dengan kecewa. Sedangkan Kakaknya itu langsung duduk di sofa.


"NGGAK! Lo kan cuma bakteri di keluarga ini. Mana mungkin gue lihat!" Luna langsung berkaca-kaca mendengar itu.


Lelaki yang bernama Juan itu terlihat bahagia sekali. Biasanya datang-datang ke rumah ia selalu meminta uang kepada Ibunya. Namun kali ini ia terus tersenyum dan tidak ada alasan yang jelas untuk itu. Menyadari Luna menatapnya, Juan langsung membentak.


"Lihat apa?! Sana masuk! Rusak suasana aja!" katanya.


"Ya abisnya lo aneh, kenapa juga senyam-senyum sendiri?" tanya Luna.

__ADS_1


"Bukan urusan lo!" balasnya. "Sana pergi! Muak gue lihat lo! Dan kenapa juga lo pakai pakaian kayak gitu?! Gak pantas tau gak!"ย 


Luna langsung mempoutkan bibirnya kesal. Lalu masuk ke dalam kamarnya begitu saja. Dasar Juan, gila!


"Ah sial! Sensasinya masih ada, jadi mau lagi.." ucap Juan.


****


"Aku udah gak pantas buat siapa-siapa lagi, Lang." Senja menatap sendu Langit.


"Kamu ngomong apa, sih, hah?" tanya Langit.


Senja memegangi bibirnya, kemudian menunduk takut karena ia tak bisa menjelaskan apa yang telah menimpanya kepada Langit. Jika menceritakan, Senja takut Langit akan marah atau menjauhinya.


"Sey.."


Senja tersentak. "Ng-gak, kok Lang. Bukan apa-apa."


"Bohong!"


Langit selalu begini. Serba salah. Kalau jawab tidak apa-apa, pasti tidak percaya. Mau jawab ada apa-apa, pasti dia khawatir dan marah.


"Tapi aku takut kamu marah," balas Senja.


Langit menggeleng. "Aku lebih suka kalau kamu jujur."


Senja berbinar dengan mata yang masih basah itu. Padahal ia sudah mengecewakan Langit, tapi nyatanya Langit masih saja peduli padanya dan selalu ada ketika Senja susah.


Air mata Senja jatuh lagi. Ia pun menceritakan segala masalahnya kepada Langit sekaligus tentang laki-laki gila yang ditemuinya tadi.


"Dia cium aku tepat di sini. Hiks." Senja menunjuk bibirnya.


Pertahanan Langit runtuh sekarang. Jangankan cowok itu, Arkan saja rasanya tak boleh mencium Senja. Cowok mana yang berani mengambil first kiss Senja begitu saja? Langit sampai mengusap wajahnya gusar, lalu menatap Senja yang masih menangis.


Langit menarik Senja kedalam pelukannya. "Jangan nangis lagi, aku janji akan cari orang itu."


Senja memukuli bibirnya lagi sambil menangis, meskipun masih didekapan Langit.


Langit menghentikan tangan Senja tersebut. Kemudian menatapnya lekat. "Kamu gak salah, jadi jangan sakitin diri kamu kayak gini."


Senja mengigit bibirnya, karena mungkin sensasi itu masih melekat. Langit pun beranjak menatap bibir mungil Senja yang memang menarik. Kemudian jarinya tertarik untuk meraih ujung bibir Senja, sedangkan wajahnya semakin mendekat dan terus mendekat.


Senja menutup matanya lekat-lekat, hingga akhirnya bibirnya dan Bibir Langit menempel begitu saja. Tanpa rasa takut dan marah, Senja maupun Langit malah menikmati itu. Rasanya seperti mereka menemukan dunia masing-masing. Hati Senja berdebar kencang, sedangkan Langit merasakan ada kepuasan.


Langit menghela nafas dan menatap Senja. "Kamu boleh ingat yang itu, Sey."

__ADS_1


...~๐Ÿ”ฑ~...


...Langit juga gak mau kalah, hehe๐Ÿ˜‚...


__ADS_2