MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Part 2 : Ada apa dengan Arkan?


__ADS_3

...Kita.. sudah menjadi kodrat, senja....


...🔱...


Arkan menutup pintu kamarnya dan menuruni tangga untuk menemui keributan yang ada di bawah. Ini bahkan masih terlalu pagi untuk sang Senja berkunjung, tapi kenapa suara tawanya jelas terdengar mengenai gendang telinganya. Apa mungkin itu benar-benar gadisnya? Arkan tak tahu dan mencoba memastikan sendiri.


Ia mendekat ke arah dapur, suara itu berasal dari sana. Arkan terus mendekat. Terlihat jelas Langit dengan Mama tirinya yang tengah bercanda sembari membuat sarapan. Anak itu rupanya sudah bisa menerima Papa kandung Arkan dan pulang setiap hari ke rumah itu.


Eh tunggu. Gadis itu tidak ada, mungkin itu hanya perasaannya saja. Arkan pun menghampiri Mama dan adik tirinya.


"Selamat pagi, Arkan," sapa Mamanya. Arkan tersenyum. "Selamat pagi, Ma, Lang."


Langit mengulum senyumnya kikuk.


Namun Mamanya malah terkekeh kecil seperti tengah menyembunyikan sesuatu dari Arkan. Lantas Arkan mengernyitkan dahinya dan tersenyum kaku. Apa masih tertinggal kotoran mata? Apa mungkin ada sesuatu yang janggal di wajah tampannya? Ah, tidak mungkin. Arkan bahkan sudah mandi dan wangi. Dia kan selalu mandi sebelum menunaikan sholat subuh.


"Kok, Mama senyum-senyum? Ada apa?" Arkan bertanya sebab sudah terlalu janggal setelah Langit juga melakukan hal yang sama dengan Mamanya.


Mamanya hanya menggeleng tak menjawab.


"Hai, Kak!" Seorang gadis muncul dari balik punggung Langit. Sontak Arkan menurunkan senyumnya tak nyaman.


Namun Arkan kembali tersenyum untuk menutupi segala rasa aneh yang menyerangnya barusan. Jadi, benar yang tadi itu gadisnya? Masih tak ada respon dari Arkan.


"Selamat pagi buat aku mana?" tanya Senja mencebikkan bibirnya untuk memancing Arkan.


"Oh, iya. Selamat pagi, sayang." Sudah tak ada malu lagi, Arkan selalu menunjukkan itu di hadapan Mamanya, apalagi Langit. Bahkan ia sudah memberitahu Mamanya tentang tekadnya untuk menikahi Senja selepas wisudanya nanti. Karena bukan lagi Senja dan Mamanya. Namun Bunda Gina dan Nyonya Arlita sudah akrab kelewat besan. Hehe.


"Kamu kok di sini? Bukannya kelas masih tiga jam lagi?" tanya Arkan.


"Aku mampir untuk kasih ini buat Mama dari Bunda, Kak," jelasnya menunjukkan sebuah roti berlapis keju yang dibuat oleh Bunda Gina. Jadi, Mamanya dan Langit tengah mempersiapkan itu bersamaan dengan menu sarapan yang lain. "Aku chat Kakak sama Langit kok tadi, tapi kalian gak aktif." Senja menatap Arkan dan Langit bergantian.


Arkan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maaf, Kakak lupa isi daya hp Kakak."


Senja tersenyum. "Gak apa-apa. Aku tau Kakak pasti capek 'kan karena acara kemarin?"


"Iya."


"Dan kamu Lang! Kenapa hp kamu gak aktif?" Senja bertanya pada Langit sembari mencubit lengannya yang tengah memotong roti.


Arkan hanya menatap tajam. Ia memang memberi kebebasan untuk keduanya, tapi bukan berarti Arkan membiarkan keduanya bermain terlalu jauh.


"A-aku juga sama, lupa."


"Kalian tuh, ya? Kalian itu 'kan masih muda, masa udah pikun!"


Keduanya hanya tersenyum malu menanggapi Senja mengomel. Senja tak tahu lagi, ini sangat menyenangkan. Dua cowok yang ia sayangi begitu kompak dan tak ada kata bertengkar lagi. Meskipun ia tak tahu, siapa yang tengah berjuang melawan takdir.


"Tuh denger, putri Mama udah ngomel. Jangan sesekali ngeremehin kata perempuan. Lain kali jangan ada yang lupa-lupaan lagi." Mamanya bersuara. "Kaya sekarang, Mama 'kan ada di sini, tapi kalian sibuk sendiri."


Ah, iya. Senja pun menghampiri calon Mama mertuanya. "Gak gitu, Ma. Sini Senja bantu, Mama butuh apa?"


Bagaimana tidak tertawan? Gadis itu memang idaman bagi laki-laki, ia menunjukkan salah satu syarat setelah menikah. Yaitu menerima kedua orang tua pasangan dan menyayangi layaknya orang tua sendiri.

__ADS_1


Arkan memberi isyarat pada Langit untuk meninggalkan Senja dan Mamanya. Langit dan Arkan pun membiarkan Senja membantu Mamanya menyiapkan sarapan. Hitung-hitung belajar jadi mantu juga di rumah itu. Wah. Siapa calonnya? Keduanya berjalan gontai menuju meja makan. Arkan menyelipkan beberapa pesan untuk Langit.


"Lo boleh anter Senja ke kampus." Langit menoleh cepat. "Dosen gue gak masuk hari ini, lagian kalian satu jurusan, jadi gak masalah, kan?" ucap Arkan memberitahu.


"Asal lo gak keberatan."


"Kapan gue merasa begitu?" tanya Arkan sembari duduk di hadapan Langit. "Lagian tugas kita itu sama, kan? Sama-sama jaga Senja dan... Mama," ucap Arkan seraya menatap Mamanya dan Senja yang tengah tertawa entah menertawakan apa.


Langit juga mengikuti mata Arkan melihat. Anak itu hanya memberi respon dehaman.


"Tapi inget, dia itu calon ipar lo!" Arkan membuat Langit sedikit terusik. Itu candaan. "Jaga jarak sama dia."


"Pasti," kata Langit sembari sadar diri.


Tak lama setelahnya dua wanita kesayangan mereka akhirnya membawakan makanan untuk sarapan. Roti yang sudah dipanggang bersamaan dengan keju meleleh diatasnya. Tentu Senja menyiapkan sarapan untuk Arkan, kekasihnya. Ia duduk di samping Arkan. Sedang Mamanya duduk di kursi yang biasanya dipakai Papa Arkan, pria paruh baya itu tengah berada di luar kota saat ini. Karena Langit jomblo, ia menyiapkan makanan itu sendirian.


Wajah Langit datar kali ini, ia kembali sedingin es. Pemandangan di hadapannya sungguh antara surga dan neraka. Surganya, gadis itu tertawa bahagia dan nerakanya, ia tertawa bersama orang lain.


Senja menuangkan susu ke dalam gelas Arkan. "Makasih, sayang."


Kata itu sungguh, itu bagai besi yang sengaja ditancapkan di hati Langit.


Senja tersenyum. "Lang? Kamu mau juga?" tanya Senja, sekarang besi itu berada di hadapan Arkan.


"Aku bisa ambil sendiri."


Langit buru-buru mengambil dan menuangkannya di gelasnya.


"Oh, iya. Gimana kalau kalian berangkat pakai mobil aja? Bareng-bareng lebih baik, kan?" Mamanya bertanya. Senja juga berpikir begitu. "Iya bener apa kata Mama. Gimana kalau kita bareng?" tanya Senja.


"Loh, kenapa?"


"Iya kenapa, Kak? Kok tiba-tiba?"


"Kakak baru dapet kabar tadi. Hari ini dosen Kakak gak masuk. Ada kemungkinan kelas juga sedikit lenggang."


Senja ber 'oh' ria. "Ya udah kalau gitu, aku sama Langit aja. Biar Kakak istirahat di rumah."


Apa itu disebut kesempatan?


****


Senja dan Langit berjalan berdampingan. Namanya juga membawa anak es, jadi mereka hanya diam sepanjang jalan. Padahal Senja sudah sering memperingati Langit untuk membiasakan diri dengannya. Namun anak itu tetap menahan seribu keinginannya untuk berbicara sebelum ditanya.


"Lang, kita ini calon pengacara dan pengacara itu harus banyak ngomong, tapi Lang masih aja dingin," ungkap Senja.


"Emang kenapa kalau calon pengacara?" 


"Ya.. pengacara itu 'kan harus bisa debat dan debat itu harus banyak ngomong, kan?"


"Kata siapa?" tanya Langit. "Gak begitu juga, Sey."


"Ya juga, sih. Aku juga sering liat di drakor. Pengacara-pengacaranya kadang dingin."

__ADS_1


"Tapi keren, kan?" tanya Langit.


Senja hanya mengangguk tak sadar.


"Ganteng?"


"Iya, ganteng-ganteng pastinya."


"Berarti cowok dingin itu ganteng?"


"Enggak. Kata siapa? Kak Arkan gak dingin, tapi dia ganteng."


Langit menghela nafas mendengar itu. Untuk apa ia membawa nama Arkan. Bikin mood turun saja. Sudah lama menanti untuk berbincang-bincang dan bercanda. Namun kini sudah terlalu malas untuk membahas apapun juga.


"Jangan iri, karena yang manis juga ganteng kok."


Senyum Langit mengembang, Ia tak menyangka atas apa yang dikatakan Senja. Berarti sudah manis, tampan pula? Itu membuat Langit salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya malu. Senja hanya bisa tersenyum melihat itu. Cowok dingin bisa juga ya tersipu?


Mata Senja memicing. Kak Arkan?


"Itu bukannya anggota BEM, ya?" tanya Senja, Langit melihat apa yang juga dilihat Senja. "Di sana juga ada Kak Gilang, tapi kenapa Kak Arkan gak ke kampus?"


Ya, anggota BEM itu sedang kumpul di aula. Namun Arkan bilang hari ini ia tak ke kampus dulu untuk saat ini. Sebenarnya Arkan bisa mengantar Senja walau mata kuliahnya tengah kosong.


"Iya." Langit menjawab. Ia juga tak tahu apa yang tengah dipikirkan Arkan. Ia mengantar Senja karena permintaan Kakak tirinya itu.


"Apa mungkin Kak Arkan lagi capek banget, jadi dia izin?" tanya Senja.


"Mungkin."


Senja mengigit bibir bawahnya. Ia sangat tahu Arkan. Selelah apapun kekasihnya, ia pasti tidak ingin tertinggal hal penting dalam bentuk apapun.


"Semoga gak terjadi apa-apa sama Kak Arkan," batin Senja, ia hanya takut jika kekasihnya itu sakit lagi.


Mereka pun memasukki kelas dan duduk berdampingan. Lia, Arif, Falah dan Eri, mereka kuliah di tempat berbeda. Jadi, Senja dan Langit masih belum memiliki teman satu pun. Bahkan Langit hanya ingin fokus pada mata kuliah dan meninggalkan segala kegiatan di luar itu. Seperti bertemu dan bermain di kampus dengan teman baru. Lagi pula, di kelasnya sudah ada Senja dan itu sungguh lebih dari cukup.


Awalnya gadis itu ragu untuk melanjutkan pendidikannya. Namun pada akhirnya ia pun memilih untuk melanjutkan karena bujukan dari Langit. Anehnya... Senja tak luluh dibujuk Arkan dan malah luluh ketika dibujuk Langit. Apa mungkin kedokteran tak membuat Senja tertarik dan malah hukum yang menyangkut di jiwanya? Entah bagaimana Langit membujuk Senja, Arkan hanya bersyukur karena kini gadisnya berkuliah dan tidak bekerja.


"Oiya Lang, Lia ngundang kita ke acara ulang tahunnya." Senja memberitahu.


Langit mengangguk. "Ada Arif?"


"Pasti ada. Gak mungkin juga 'kan tunangan sendiri gak diundang?"


"Ya udah. Biar aku sama Arif aja."


"Aku sama siapa?" Senja bertanya membuat Langit pelik. "Arkan?"


"Tapi kata Lia, dia cuma ngundang kita, karena sekalian kumpul. Lagi pula aku takut Kak Arkan canggung, Kak Arkan juga pasti lagi capek-capeknya sekarang ini."


Jadi maksud gadis itu, ia tak ingin Arkan menjadi partnernya atau bagaimana? Tapi yang dikatakan Senja memang benar, yang ada Arkan pasti merasa canggung jika berada diantara mereka.


"Terus gimana?" tanya Langit.

__ADS_1


"Aku sama kamu aja, gimana?"


...~🔱~...


__ADS_2