MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 6


__ADS_3

...


...


Langit dan teman-temannya pergi ke markas untuk membicarakan seseorang yang lagi-lagi menerornya. Ia dengan cekatan memberi penjelasan kepada semua temannya.


"Untuk sekarang, kita gak boleh pisah!" pekik Langit datar.


"Emang kita pacaran Lang?" balas Eri.


"Bukan Tukul!" Arif dan Falah melayangkan jitakan kepada Eri.


Langit mengacak rambutnya frustasi. Ia bahkan tak pernah mengajak orang lain untuk ribut dan bertengkar dengannya. Itu hal yang wajar, Langit kaya, dia juga tampan dan dingin. Sangat wajar kan jika ada orang yang iri?


"Lang, lo tenang aja, kita selalu ada buat lo kok. Ya pokoknya jangan ada yang jalan-jalan sendiri." Oh tidak, berhentilah bicara dengan kalimat yang tidak bisa di mengerti temanmu itu Falah!


"Jalan-jalan kemana?" Benar saja, lelaki itu bertanya.


"Ri! Lo bisa diem gak?" bentak Arif sambil siap-siap membaku hantam Eri.


"Eh, eh lo mau ngapain? I... iya gue diem kali ah," sergah Eri. Sepertinya cowok itu ketakutan.


"Connect dikit napa otak lo Ri." Ya, benar apa kata Falah.


"Kan gue patrick..."


Sebelum meneruskan kalimatnya, Arif dan Falah yang meneruskan. "Tapi kita bukan spongebob!"


Eri yang melengkungkan senyum nya ke bawah kini merajuk, Arif, Falah bahkan Langit tertawa puas. Dalam pertemanan pasti ada saja bahan tertawaan, tapi dimohon untuk yang satu ini kalian harus pertimbangkan. Karena tak ada satupun orang yang bisa kita tebak kepribadiannya. Bagaimana jika teman kita tak menyukainya? Itu akan membuat teman kita tertekan. Bercandalah dengan cara sehat, ya?


"Setidaknya, gue masih punya mereka. Yang selalu bisa meredam kegentingan," batin Langit sambil tersenyum melihat ketiga sahabatnya.


****


Terlihat Senja sedang mempersiapkan sepeda untuk pergi ke minimarket terdekat.


"Kak? Mau kemana?" tanya Risa kepada Senja.


"Kakak mau beli cat warna, udah abis nih."


"Aku ikut yaa? Please." Risa memohon untuk ikut, karena pasti menyenangkan menikmati AC di ruangan minimarket itu.


Tapi Senja adalah kakak yang pengertian. "Gak bisa. Kamu harus belajar!"


Risa merajuk, ia sungguh ingin ikut. "Yah, tapi aku bosen kak," ucap Risa sembari mengerucutkan bibirnya.


"Sekali Kakak bilang gak bisa, ya gak bisa."


Karena merasa kalah, Risa pun pergi ke kamarnya dan melanjutkan belajar. Senja yang sedari tadi siap-siap itupun langsung pergi menggunakan sepedanya. Namun di tengah perjalanan ia menemukan kejadian aneh, mengapa ramai sekali di depan? Biasanya jalan itu sepi.

__ADS_1


"Itu ada apaan sih? Kok banyak orang?" gumamnya sambil celingukan.


Karena penasaran, ia pun mencari tahu lebih dekat.


"Itu kan Kak Oppi? Ngapain malem-malem gini ada disini?" batin Senja yang kebingungan.


"Maaf Mas, ini ada apa, ya?" Senja bertanya pada seorang lelaki.


"Aduh lo gak liat? Ini mau balapan!" balasnya ketus.


"Balapan? Ini kan jalan umum? Mana bisa dipake buat balapan?" Senja baru tahu jika jalan umum bisa dijadikan area balapan.


"Eh namanya juga balapan liar, mau di sungai, mau di jalan tol, ya terserah," ucapnya. Orang itu menyebalkan sekali.


Menanggapinya hanya akan membuat lelah. Senja memutuskan kembali ke rumah. Namun saat hendak pergi, ia mendengar suara motor ninja yang kini membuat semua orang bersorak.


"Itukan Langit? Dia mau ikut balapan?" batin Senja bertanya-tanya.


Senja yang penasaran langsung ikut nimbrung, tak peduli dengan sepedanya. Balapan itu pun hampir dimulai. Jika balapan aslinya terdapat beberapa motor. Namun di jalan ini hanya terdapat dua motor, tapi motor satunya tak asing bagi Senja.


"Oke. Siap. 1... 2... 3... Go!" teriak Oppi sambil menerbangkan sehelai kain bendera saat hitungan terakhir.


Langit dan Entah siapa orang yang menjadi rivalnya itupun langsung ngacir dengan sepeda motornya. Mereka tengah kebut-kebut dan kejar-kejaran. Tak beberapa lama, Langit kembali mendahului. Ya, Langit menang, seketika semua ramai dan teman-temannya teriak kegirangan. Tepukan pun tak bisa ia hindari.


"Wuh, lo keren abis Lang!" Itu Falah seraya memberikan tepukan kemenangan untuk Langit.


"Lo emang paling hebat!" Arif sambil merangkul Langit.


Yang kalah itupun membuka helm nya dan membuat Senja terkaget-kaget bukan main. Dia ketua OSIS, siswa teladan dan peserta olimpiade. Tapi ia mengikuti balapan liar?


"Kak Arkan?" batinnya Sambil berdiri lemas.


Apalagi setelahnya ia melihat Arkan dan Oppi yang langsung bercakap cakap. Namun tak berlangsung lama, suara sirine terdengar pertanda polisi datang. Semuanya pergi dari kejaran polisi. Senja pun mengambil sepedanya, namun di sayangkan, ia tertangkap.


"Pak! Saya gak salah Pak!" Senja memohon dan mencoba melepaskan pegangan polisi pada lengannya.


"Jelas jelas kamu nimbrung bersama disini," kata polisi itu memang benar, tapi bukan karena hatinya yang meminta. Namun jiwa kekepoan Senja lah yang menyuruhnya untuk melihat balapan itu.


Langit belum beranjak dari jalanan yang di penuhi oleh polisi itu. Ia sengaja karena jika polisi datang, maka ia pasrah dan membiarkan dirinya tertangkap.


"Pak lepas! Dia gak salah!" sergah Langit untuk membela Senja.


"Nanti kalian berdua bisa jelaskan di kantor polisi!"


Senja merasa bersalah, ia membuat Langit kini tertangkap polisi. Membuatnya duduk bersampingan dengan Langit dan diinterogasi oleh polisi.


"Pak, saya ini bener-bener gak salah. Saya tadinya mau membeli peralatan melukis. Tapi tiba-tiba aja ada ramai-ramai di depan."


"Terus kenapa kamu gak pulang aja?!" tanya polisi itu ngotot.

__ADS_1


"Ya... saya gak pulang, karena.." Melihat kearah Langit yang kini sedang memutar bola matanya malas.


"Pak, saya akan antar dia pulang!" ucap Langit langsung mengambil kunci motornya dari meja dan menyambar lengan Senja.


"Eh, kita mau kemana? Itu polisinya manggil."


"Naik!" perintah Langit.


"Sepeda gue?"


"Itu bisa gue urus nanti."


Setelah mereka pergi, polisi itupun berlari mengejar mereka sampai keambang teras kantornya.


"Hei, kalian mau kemana?" pekik Polisi itu kesal.


Langit langsung melajukan motornya kencang dan membawa gadis di boncengannya itu ke supermarket.


"Loh? Ini bukan jalan ke rumah gue."


"Bawel!"


"Katanya mau nganter pulang?"


Langit masuk ke supermarket dan berdiri tepat didepan peralatan menggambar. Senja terbelalak tak menyangka, cowok di hadapannya terlampau peka.


"Cepetan!"


"Eh iyaa.." Senja mempercepat langkahnya.


Senja sangat terlihat senang, karena sudah mendapatkan apa yang dia mau. Cat warna itu untuk kebutuhannya. Apalagi ia sedang membuat lukisan yang spesial untuk seseorang dan itu yang selalu membuatnya tidur larut malam.


"Udah nih.. ayo kesana!"


"Hm."


Namun saat ia hendak membayar memakai cash, tiba-tiba Langit memberi kartu kredit untuk membayar yang Senja inginkan.


"Gue kan bisa pake uang gue."


"Berisik!"


Senja dan Langit kini benar-benar pergi ke jalan Bunga Tulip nomor 4, rumah Senja.


"Makasih ya, karena lo udah mau anter gue dan makasih juga untuk cat warna yang lo bayarin tadi."


Langit hanya mengangguk dan memberikan klakson, yang kemudian melesat pergi meninggalkan halaman rumah Senja.


"Walaupun dingin, dia sangat sangat peka," batinnya bersuara.

__ADS_1


...****...


...🔱...


__ADS_2