
...
...
Pada jam pelajaran pertama, Senja sudah disuruh untuk mengambil buku paket di perpustakaan. Tumpukkan buku sudah diterimanya, ia tinggal membawanya ke kelas dan membagikannya ke semua temannya.
"Terima kasih bu," ucap Senja sembari tersenyum ramah pada penjaga perpus.
"Sama-sama cantik."
Saat ditengah perjalanan, ia melihat ketiga teman Langit. Namun ada yang janggal dari apa yang dilihatnya. Kemana perginya laki-laki itu?
"Eh, Langit mana?" gumam Senja sembari celingukan mencari sampai tak fokus berjalan.
Semua buku terjatuh termasuk Senja. Sampai ada seseorang yang membantunya. Tapi dengan segera ia memasang wajah malas. Senja bahkan tak berani untuk menatap orang itu.
"Sini gue bantu."
Senja pun mengambil kasar buku-buku yang terjatuh dan menyusunnya kembali. Matanya sibuk melihat tumpukan buku, tak sedikitpun melirik pada orang yang telah membantunya.
"Nih!" kata Arkan seraya memberikan buku yang dibawa Senja.
"Makasih," ujarnya datar lalu nyelonong pergi.
Arkan mengejar perlahan. "Senja lo kenapa?" tanyanya, sebab secara tiba-tiba gadis itu cuek kepadanya.
"Gak apa-apa," jawabnya tak berhenti berjalan.
"Gue ada salah sama lo, ya?" teriak Arkan, lelaki itu penasaran akan perubahan sikap Senja.
Senja berhenti dan menatap Arkan sekejap. "Gak ada!" kata Senja ketus lalu melanjutkan langkahnya kembali.
"Bohong!" teriak Arkan di tempatnya berdiri.
Namun Senja terus fokus membawa buku-buku itu sampai ke kelas. Sikap Senja berubah karena Arkan sendiri, bukankah Arkan adalah tauladan di sekolah tersebut. Namun mengapa ia melakukan balapan liar yang notabennya adalah salah.
****
Suara nyaring bel masuk terdengar begitu jelas. Semua orang berhamburan keluar kelas, ada yang datang ke toilet untuk sekedar merapikan rambut, sebagian bermain basket, tapi yang lebih dominan adalah kantin. Dalam sejarah sekolah, pasti kantin adalah yang paling diburu ketika jam istirahat. Ya kan?
"Yuk ke kantin!" ajak Lia sembari memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
"Lo duluan aja, gue mau ke kelas Langit soalnya." Gadis itu menyebut Langit, apa tidak salah?
Dahi Lia menyerngit heran, kenapa tiba-tiba perempuan yang ada disampingnya itu ingin menemui Langit?
"Temennya Arif itu, kan? Kok lo bisa deket sih?" tanya Lia kebingungan.
"Ya bisa dong. Dia kan Langit, gue Senja. Senja kan di Langit. Jadi gue bisa deket lah," jawab Senja tak nyambung, namun masuk akal.
"Eh bukan itu maksud gue. Ah udah ah capek ngomong sama lo." Lia sampai lelah menanggapi teman barunya itu.
"Sama gue juga, bye!" timpal Senja sembari berjalan meninggalkan Lia.
Saat Lia hendak beranjak dari bangkunya, ia mendapati gadis yang tadi meninggalkannya kembali untuk menemui dirinya.
__ADS_1
"Ada apa lagi hah?" tanya Lia ketus.
"Gue gak tau Langit kelas berapa? Arif, dia kelas berapa?" tanya Senja dengan deretan giginya.
Lia memutar bolanya malas. "Tuh kan, gak tau. Yaudah gue anter aja!" Akhirnya Lia juga yang mengantar Senja.
"Ya udah deh."
Sesampainya di sana mereka tak menjumpai satu orang pun yang mereka cari. Senja dan Lia celingukan mencari Langit dan kawan-kawannya. Kelas itu hanya terdapat beberapa orang yang duduk sembari membaca buku pelajaran.
"Gak ada kayanya, ya?" tanya Senja kepada Lia, mereka tak pernah ada niatan untuk bertanya. Malah jika memang tak ada, ya mau bagaimana lagi?
"Iya, Arif juga gak ada," timpal Liani.
"Eh kalian! Cari siapa?" tanya seorang laki-laki yang tengah membaca buku. Sepertinya fokusnya buyar ketika mengetahui ada Senja dan Lia yang mengintip di ambang pintu.
"Langitnya ada?" Senja bertanya.
"Langit? Dia gak masuk hari ini," balas lelaki jutek itu.
"Loh? Kenapa?"
"Tanpa keterangan."
"Eum, yaudah makasih ya?"
Senja dan Lia pun mencari keberadaan teman-teman Langit, yakni Arif, Falah dan Eri. Sudah mencari ke lapangan, perpustakaan, tapi nihil.
"Eh kok gue **** ya?" tanya Lia pada dirinya sendiri.
"Duh tapi gue takut lo marah nih, takut merasa **** juga." Itu malah semakin membuat Senja bingung.
"Yaudah apa?"
"Kita lagi nyari Arif, kan?" Dengan sangat hati-hati Lia ingin memberitahu gadis itu.
"I... iya," jawab Senja semakin penasaran.
"Kenapa gak kita telpon aja tuh anak. Dia lagi chat sama gue padahal," kata Lia seraya menyegir kuda.
"Li... Lia... gue gak mau tau pokonya lo gendong gue. Gue dari tadi lapar dan capek nyari," protes Senja.
"Ya lo juga ****, kan? Gak ngingetin gue." Lia mencoba membela diri, meski ia sangat salah.
"Duh ya lo inisiatif lah, kan gue gak tau kalo lo punya nomornya!"
"Iya, iya. Kalau lo gak mau jalan, gue bakal suruh Arif kesini," ucap Lia sangat takut jika Senja ngambek, maka dari itu ia menawarkan supaya Arif datang.
"Gausah, ke kantin aja."
"Yaudah iya."
****
Arif, Falah dan Eri pun menghampiri Senja dan Lia yang tengah menyantap bakso. Tanpa basa-basi Arif langsung menanyakan apa maksud Lia menyuruhnya datang.
__ADS_1
"Hai. Ada apa?" tanya Arif sembari duduk di hadapan kedua gadis itu. Arif datang bersama dua temannya.
"Hai. Eum ini Senja Rif gak tahu mau ngapain," katanya sembari melirik ke arah Senja.
"Eh iya. Langsung aja, kok Langit gak masuk? Ada apa sama dia?" tanya Senja.
"Kok lo nanyain yang gak ada? Kenapa lo gak nanyain gue aja yang ada?" tanya Eri. Bisa tolong dibekap dulu anak ini?
"Eh pertama, gue gak nanya sama lo! Kedua, gue gak peduli tentang lo!" pekik Senja seraya mendengus kesal.
"Eri, lo bisa diem gak? Liat mak lampir jadi marah tuh," ucap Falah menurunkan oktafnya saat kata mak lampir.
Bisa tidak mereka tak perlu diajak?
Namun Senja masih bisa dengar. "Apa lo bilang?" tanya Senja sambil menatap tajam Falah.
"Duh, udah dong Sen, malu ih," kata Lia menenangkan.
"Mau di jawab gak?" Arif bertanya karena ia tidak ingin Senja memarahi teman-temannya lagi.
"Eh iya iya, mau."
Dengan wajah datar, Arif memberitahu Senja. "Langit di tahan semalaman di kantor polisi."
"Hah! Kok bisa? Bukannya dia udah bebas?" tanya Senja kaget dan heran.
"Loh? Kok lo kaya tahu semuanya sih?" tanya Arif bingung.
Senja menatap Arif sejenak. Ia sama sekali tak tahu jika Langit kembali ke kantor polisi untuk apa, pertama mungkin karena sepeda Senja berada disana, kedua entah ia memang tanggung jawab orangnya.
"Dia orangnya tanggung jawab, kalo dia salah ya dia nyerahin diri lah. Langit itu gak takut sama polisi," ujar Arif menjawab semua pertanyaan Senja.
"Kalau emang dia tau itu salah, kenapa dia lakuin? Balapan itu kan bahaya."
"Kok lo tahu semalem Langit abis balapan?" Kini Lia yang bertanya.
"Ya tau lah, bahkan gue sama Langit diinterogasi sama Pak polisi," kata Senja keceplosan Ups.
"HAH?!" keempatnya kaget dengan ekspresi yang sama.
"Kalian gausah teriak gitu ih, bikin jantungan."
"Ya abisnya lo kok gak cerita sama gue kalau lo di interogasi sama Langit?" tanya Lia.
"Buat apa gue cerita?"
Lia mencebikkan bibirnya kecewa.
"Lo tenang aja. Dia bebas siang ini. Lagian Langit baru balapan sekali," kata Arif.
Senja Lega mendengar itu. "Itu artinya Kak Arkan juga," batin Senja.
...****...
...🔱...
__ADS_1