MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 46


__ADS_3

...


...


..."Selamat tinggal adalah kalimat terbaik untuk seseorang yang patah."...


...~Langit...


...****...


Seperti yang kalian ketahui, Langit merasa bersalah sekarang ini. Ia memandangi bunga mawar putih yang tadi dipungutnya. Bunga itu layu karena terlepas dari pemiliknya, sama seperti Senja pikirnya.


Ia menaruh bunga itu di meja nakas dan membiarkan bulan menyinarinya. Tangisnya baru saja surut tadi, ia menelpon Arif untuk datang dan menginap malam ini. Setidaknya mereka yang selalu ada ketika Langit terpuruk, sedih atau bahkan takut.


Suara mesin mobil terdengar dipekarangan rumah kedua Langit itu. Eri buru-buru memasuki rumah itu, sedangkan Falah membantu Arif untuk membawa tas Eri.


"Sini gue bantu, lucknut emang temen lo yang satu tuh!"


"Temen lu juga ****!"


Falah menyerah jika Arif sudah kalut seperti itu. Langit adalah teman karib Arif, kalau ada apapun pasti Langit menghubungi Arif dan memintanya untuk datang menemani. Lalu Eri dan Falah? Mereka terkadang hanya membuat suasana semakin genting. Ups.


"Lang!" panggil Eri.


"Ri?" Falah melempar tas itu tepat diwajah Eri ketika ia menoleh.


"Sakit tahu lah!"


"Eh Lang, lo udah tahu soal Senja?" tanya Arif.


Langit mengangguk. Arif, Falah dan Eri mengerti mengapa Langit meminta untuk ditemani. Kini keempatnya hening, ketika setetes air mata kembali turun dari mata Langit.


Arif meraih pundak Langit. "Sabar ya Lang!"


Arif mengetahui perasaan Langit. Sekali lagi, Arif adalah teman karib Langit ia bahkan tahu semua permasalahan sampai rasa yang dimiliki lelaki itu kepada Senja.


"Iya Lang, kan ada kita!" ujar Falah yang kemudian memberi isyarat kepada Arif untuk rencana malam ini.


Karena rumah kedua Langit atau markas mereka itu sangatlah luas, mereka berencana untuk berkemah. Sementara Arif dan Falah memasak, Langit dan Eri membenahi kasur serta tenda untuk mereka tidur.


"Ramen datang!"


Arif dan Falah menaruh ramen itu dimeja yang disediakan Langit dan Eri. Mereka pun menyantap ramen itu dengan sesekali menyelipkan tawa karena Falah dan Arif menaruh bubuk cabai diramen milik Eri.


"Hahaha rasain lu!" ledek Falah.


"Hua... pedes banget!"


Eri baru menyadari kalau minuman yang disediakan hanya untuk mereka bertiga. Lalu untuk dirinya?


"Gelas gue mana?" tanya Eri sembari mengipasi mulutnya yang kepedasan.


"Rif?" panggil Falah.

__ADS_1


"Ri, lo merem coba!"


Anak itu menurut, kemudian sebuah krim disemprotkan tepat diwajah Eri. Ketiganya tertawa diatas penderitaan wajah krim itu.


"Hahaha!"


Bump! Terompet ulang tahun ditiup oleh Arif dan Falah membuat semuanya bahagia di malam ulang tahun Eri.


"Happy birthday bro! Wish gue semoga otak lo gak miring lagi," kata Falah.


Sedangkan Eri hanya diam karena mulutnya dipenuhi oleh krim sekarang ini.


"Yoi, selamat bro!" kini Arif menyemprotkan lagi krim itu, Langit tertawa melihat candaan ketiga temannya.


Eri pun membalas kelakuan Arif dan Falah dengan mengusap wajahnya untuk kemudian menularkan krim itu ke teman-temannya.


****


Rumah megah itu sedang dalam keadaan mencekam, bagi Arkan. Papanya tak henti-hentinya memarahi Arkan, bukan memarahi lebih tepatnya menasehati. Arkan tahu papanya hanya akan memberitahu bahwa itu tak baik untuk dilakukan. Tetap saja, dirinya semakin kacau ketika papanya mulai meracau.


"Papa gak pernah ngajarin kamu untuk pinjam uang sama Mama!"


" ... memangnya untuk apa uang sebanyak itu?"


Nah, ini yang dimaksud Arkan. Benar saja, pertanyaan semacam itu pasti akan dilemparkan untuknya. Arkan menatap mamanya, berharap mamanya yang menjawab pertanyaan itu.


Mamanya mengerti. "Arkan sudah dewasa sekarang, dia tahu apa arti tanggung jawab sebagai seorang lelaki."


Akhirnya mamanya berbicara berat. Setelah sebelumnya hanya menahan papanya agar diam. "Pilihan?" tanya papanya.


Mamanya mengangguk. "Nama gadis itu Senja, dan Mama yakin pilihan Arkan adalah yang terbaik."


Arkan tersenyum bahagia, sepertinya papanya mulai padam sekarang. "Arkan sayang sama dia pah, jadi Arkan mau melakukan yang terbaik untuk Senja."


Kini papanya mengacak rambut anaknya itu. "Sebenernya papa itu cuma ngetes anak Papa, seberani apa bilang sama Papa kalau kamu punya pacar!" kali ini Papanya itu merangkul Arkan.


Hati Arkan lega sekarang. Ia menghembuskan nafas beratnya yang sedari tadi ditahan. Arkan menggaruk kepalanya.


Sebenarnya mamanya sudah menceritakan segala permasalahan Arkan. "Nanti kalau dia sadar, Papa dan Mama mau jenguk."


Semringahlah wajah Arkan. Andai Langit ada disini, ia akan membuktikan jika papanya itu baik dan tidak seperti apa yang dia pikirkan. "Tapi ingat! Jangan pernah pinjam atau minta uang mama lagi!"


"Siap Pah!" seraya memberikan hormat untuk papanya.


Mama dan Papanya itu pun pergi ke kamar tanpa mempertanyakan anak bungsu mereka. Jujur saja kan, sebenarnya Langit bukan hanya sakit hati karena Papa kandungnya tergantikan, melainkan karena Mamanya lebih perhatian kepada anak sulungnya.


****


Langit melihat ke arah teman-temannya yang sudah terlelap dibawah bulan. Hanya dirinya yang pikirannya melayang ke gadis yang rohnya kini tengah berada diluar. Sedangkan Arif, Falah dan Eri mereka sudah tenggelam dengan mimpi-mimpi mereka.


Ia berjalan pelan mengambil bunga mawar putih Senja. Ia menatap dalam-dalam bunga itu, lalu mengambil korek yang ada di laci meja nakas itu. Di hadapan bulan ia menghitung kelopak bunga.


"Nyerah!" Satu kelopak di petiknya.

__ADS_1


"Bertahan!" Kelopak kedua dilepasnya.


"Nyerah!" Kelopak ketiga diambilnya.


"Bertahan!" Kelopak keempat direbutnya.


"Nyerah!" Kelopak kelima direnggutnya.


"Bertahan!" Kelopak keenam ditariknya.


Dan kelopak terakhir . "Nye-rah?" kelopak itu memilih untuk nyerah?


Baiklah. Ia akan menyerah, lagipula kata kata Senja tadi sudah membuat perasaannya hancur. Ia menatap bulan sekali lagi, Langit sudah sangat siap jika harus melupakan gadis itu.


Langit menghembuskan nafas berat. Ia merasa jika ia adalah lelaki termalang sedunia. Sudah ditinggal orang tersayang, Sesey, mamanya lebih mencintai Arkan, dan kali ini Senja.


Terkadang ia memikirkan sebenarnya apa yang Tuhan rencanakan untuk hidupnya? Mengapa begitu berat? Jika Langit disuruh memilih antara hidup dan mati, maka ia memilih mati dan pergi bersama dengan papanya sekarang.


Pemantik itu diarahkan ke kelopak mawar yang terpisah dari batangnya. Kini senyawa itu membakar seluruh perasaan Langit.


"Selamat Tinggal Senja!"


Air matanya menetes setelah melihat bulan. Malam itu mencekam, dingin dan menyedihkan baginya. Ia merasakan peluk itu masih terasa hangat ditubuhnya. Sangat mengharukan jika Langit memang membutuhkan dirinya.


Anggukan mantap itu masih terlihat jelas direkaman benaknya. Jika saja kakaknya sadar nanti, kira-kira ia masih ingat perkataan Langit atau sudah melupakan sepenuhnya?


"Bulan?"


"Boleh aku curhat sama kamu?"


Bulan itu semakin terang. "Apa Tuhan gak ada niatan buat ngilangin perasaan ini?"


"Kenapa Tuhan kasih perasaan ini ke aku, kalau pada akhirnya aku gak bisa milikin dia?"


"Dan kenapa sulit bagi aku untuk ngelupain dia?"


"Memangnya dia jodoh aku?"


"Kalau bukan, aku bakal lupain dia."


"Aku mohon jawab aku!"


"Kalau memang aku harus lupain dia, bisa kamu jawab aku dengan redup?"


"Kalau memang aku harus bertahan, bisa kamu jawab aku dengan terang?"


Risa seperti orang gila sekarang ini, mana bisa ia curhat dengan bulan. Tapi bulan itu seperti mengerti perasaannya. Bulan itu... meredup? Baiklah. Ia akan melupakan Langit dan mulai mengosongkan hatinya.


"Selamat tinggal Kak Langit!"


...****...


...🔱...

__ADS_1


__ADS_2