
...Seperti bintang yang tidak terlihat, cukup seperti itu kamu pergi....
...🔱...
Hari-hari harus terus berjalan, meskipun semua tidak akan sama lagi. Namun perubahan yang datang juga harus diterima apapun konsekuensinya. Seperti apapun dampaknya, itulah takdir.
Daun-daun sudah berguguran lagi meninggalkan batangnya. Namun tidak dengan dua manusia ini, mereka malah bersemi. Langit memarkirkan motor ninjanya di halaman rumah kekasihnya. Kemudian ia membuka helmnya dan turun untuk menemui Senjanya.
Namun ternyata Senja keluar sendiri dan langsung berlari ke arah Langit. Gadis itu sudah tahu Langit datang karena suara motornya yang agak bising. Senja lebih berseri ketika menemui Langit. "Gimana, udah siap?" tanya Langit.
"Selamat pagi sayang," kata Senja tiba-tiba. Membuat Langit menggaruk tengkuknya malu.
Langit bergumam, "P-pagi juga."
"Sayangnya mana?"
Langit langsung mencium pipi Senja tanpa ragu lagi. "Udah, kan?"
"Ih, itu bukan sayang!"
"Itu lebih dari sayang," kata Langit.
Senja terkekeh. "Ya udah ayo berangkat!"
"Hm." Langit naik lagi ke motornya begitupun Senja. Namun sebelum berangkat, Senja memeluk Langitnya. "Makasih ya, Lang? Aku bisa jauh lebih baik dari kemarin."
"Kamu udah jadi milik aku sekarang, jadi kamu harus bahagia."
Senja mengangguk sembari tersenyum canggung. Lalu mereka pun meninggalkan pekarangan rumah Senja.
****
Arkan memarkirkan motornya di parkiran sekolah. Sama seperti Langit, Arkan juga mengantar Sara, pacar barunya. Sara memberikan helm yang dipakainya kepada Arkan. Kemudian Arkan turun dari motor ninjanya. "Ayo!" seru Arkan kepada Sara.
Seakan Arkan tidak peduli, ia pun berjalan begitu saja.
Sara menyusul, kemudian meraih tangan Arkan untuk berpegangan. Arkan merasakan ada yang berbeda dari genggaman itu. Tak senyaman ketika bersama dengan Senja. Namun sekarang Sara adalah pacarnya dan ia harus memerlakukan Sara seperti Senja dulu.
"Maaf sayang," ucap Arkan membuat Sara berdesir malu. Semanis itu Arkan.
Senyum Sara mengembang. "Gak apa-apa, kok."
"Hm Ar! Gue mau ke kantin dulu sebentar, beli minum."
"Bisa sendiri, kan?" tanya Arkan. Sepertinya Arkan tidak peka, tapi tak apa.
Sara mengangguk. "Iya, gue bisa sendiri."
"Kalau gitu gue duluan," ucap Arkan kemudian ia berjalan duluan meninggalkan Sara.
Tak lama Arkan pergi, seseorang datang dan langsung menuduh Sara dengan kata-kata menyakitkan.
"Dasar pelakor! Cantik-cantik perebut pacar orang!" Yumi menegur Sara dengan kalimat begitu.
"Apa maksud omongan lo?" tanya Sara.
__ADS_1
"Bodoh lagi," umpat Yumi. "Lo itu calon dokter, Saraa. Gak boleh sok bodoh!" katanya sembari memegang bahu Sara.
Sara melepaskan tangan Yumi dari bahunya. "Gue benar-benar gak paham sama ucapan lo!"
Yumi terkekeh. "Lo tahu kan artinya pelakor, hah?"
Yumi mendekatkan wajahnya ke telinga Sara. "Perebut laki orang!" bisiknya.
Sara mengembang kempiskan dadanya karena terlalu sesak dianggap perebut laki orang. "Gue bukan pelakor!"
"Lo nya aja yang terlalu bodoh, mau aja sama cowok lemah kayak Arkan. Lemah fisik, lemah iman." Yumi terkekeh lagi dan lagi. "Arkan itu pacar Senja, dan lo udah rebut Arkan dari dia!"
Sara berkaca-kaca. "P-pacar Senja?"
"Iya!" Yumi mempertegas. "Tapi sekarang lo udah rebut Arkan dari dia. Jadi pantas kan kalau gue sebut lo sebagai pelakor?"
Sara diam saja.
"Gelar Dokter gak pantas buat lo, Sara... si pelakor!" Yumi terkekeh dan meninggalkan Sara yang tengah mematung begitu saja.
Lantas hari itu apa? Arkan menyatakan perasaannya untuk Sara di depan pacarnya sendiri? Dan bodohnya Sara tidak menyadari hal itu dan malah bahagia diatas penderitaan Senja?
Tangan Sara mengepal kuat, matanya berkaca-kaca sembari menatap ke depan. Arkan, sial!
****
Arkan jalan sendirian ke kelas, tapi dari kejauhan ia melihat mantan pacarnya sedang tertawa lepas bersama dengan Langit. Ini sungguh menyakitkan, apa yang dilakukannya terhadap Senja memang keterlaluan dan itu balasan untuknya.
Senja juga melihat ke arah Arkan dengan tatapan sendu. Langit yang menyadari pacar barunya tengah menatap mantan, akhirnya menyelusupkan jari-jarinya ke tangan Senja untuk kemudian saling bertaut tangan.
Arkan terkekeh. "Bahkan mereka bisa sebahagia itu. Egois."
****
Luna yang baru saja duduk langsung disuguhkan pemandangan tidak sedap. Langit yang meninggalkannya malam itu hadir bersama dengan Senja, pegangan tangan pula. Memangnya mau menyebrang apa? Kalau memang begitu, Luna mau menjadi kendaraan yang paling ngebut.
Luna berdecak sebab Senja dan Langit hendak duduk dihadapannya. Ia pun mengambil tasnya dari meja dan hendak pindah ke barisan paling belakang.
"Lho, Luna? Kenapa pindah?" tanya Senja.
"Pemandangannya gak bagus!" jawabnya datar.
Senja melihat ke sekitar, semua pemandangan sama saja. Pemandangan yang mana yang tidak bagus? Kemudian Langit meminta izin kepada Senja untuk berbicara bersama Luna sebentar. Senja mengangguk mengiyakan ucapan Langit.
Langit kemudian duduk di hadapan Luna. "Lun?"
Luna melirik sinis. "Apa?!"
"Maaf soal malam itu," ucap Langit. Senja hanya memerhatikan.
Luna terkekeh. "Pertama, lo udah buat gue ribet sama gaun itu, sepatu haknya juga! Kedua, gue ditinggal sama lo gitu aja. Terakhir, gue jatuh dan kaki gue sakit sampai gue gak bisa jalan. Dan lo cuma bilang maaf?!"
"Memangnya gue harus bilang apa?"
Luna menganga tak percaya. "Sumpah ya, mending lo diam daripada jawab gue kayak gitu!"
__ADS_1
"Sana pergi sama Senja!" tambahnya.
Langit malah menatap tajam Luna. "Lo belum suka sama gue, kan?"
Luna menatap Langit sendu lalu memalingkan wajah ke tempat lain. Jujur, sudah. "Setelah semua yang udah lo lakuin ke gue, apa boleh gue jadiin semua itu alasan gue suka sama lo?"
"Lun, gue minta maaf. Maaf atas segala harapan yang pernah gue kasih, tapi sekarang gue gak bisa penuhin ucapan gue waktu itu."
Ya, Langit pernah bilang kalau Luna sudah menyukainya, maka ia akan menjadikan Luna pacarnya. Luna berkaca-kaca lalu menghela nafas panjang. "Ya, gak apa-apa. Gue juga gak nagih ucapan lo waktu itu, kan?"
"Beneran?"
Luna mengangguk, lalu Langit mengacak-ngacak rambut Luna. "Makasih banyak, Lun." Langit tersenyum sangat manis dan lebih bahagia sekarang.
Kemudian Langit kembali kepada Senjanya dan Luna bisa melihat betapa hangatnya sikap Langit bila bersama dengan Senja.
"Dengan segala masalah yang gue punya, mana bisa gue milikin lo yang sempurna," batin Luna sembari menatap kebersamaan Senja dan Langit.
****
Byur!
Semua menganga tak percaya melihat tindakan Sara yang tiba-tiba menyiram air ke wajah Arkan. Botol minum itu juga langsung dibuangnya asal dan kasar.
"Sar... apa.."
Sara menampar Arkan. "Lo jahat, Ar!"
"Gue gak mau bahagia karena rebut lo dari orang lain! Kenapa lo lakuin ini sama gue, hah?" Sara keburu kesal kepada Arkan.
Arkan meraih tangan Sara, tapi Sara buru-buru menghindar. "Sar, tenang dulu! Gue bisa jelasin semuanya!"
Sara menggeleng. "Gue udah malu sama sikap lo! Lo terlalu jahat, Senja pacar lo, kan?"
Darimana Sara tahu?
Arkan menggeleng. "Gue udah putus sama dia!"
"Lo putus sama dia setelah sedetik kita pacaran, kan?" tanya Sara. "Itu artinya lo masih jadian sama dia! Lo selingkuh!"
Semua menatap Arkan dan Sara dengan tatapan seru. Masalah yang mendera Arkan lagi-lagi baru berdatangan. Padahal ia tak terlalu salah, tapi kenapa karma datang bertubi-tubi?
"Sar, udah Sar. Kasihan Arkan baru sembuh," kata Ghea sembari menenangkan Sara.
"Dia sembuh, tapi gue sakit diginiin sama dia Ghe!"
Ghea paham betul apa yang dirasakan sahabatnya. "Iya, tapi di sini banyak orang. Bukan cuma Arkan yang malu, tapi lo juga."
Sara tenang dan menangis. Kemudian ia menatap sinis Arkan sekilas. "Lo pengecut! Gue benci sama lo!" Kemudian meninggalkan Arkan yang menunduk malu.
"Sar!" panggil Ghea, lalu mengejar Sara.
Arkan menghela nafas. Setelah ini apalagi?
...~🔱~...
__ADS_1
...Bonus karena kemarin gak up🤗😂...