
...
...
Hari gelap lagi,
Mendung.
Langit berjalan dengan tatapan dingin dan kosong. Ia terlihat kurang semangat sebab pertengkaran semalam dengan papa tirinya. Sebenarnya ia selalu memikirkan kesalahan yang ia buat terhadap paruh baya itu. Apa ia terlalu kejam? Entahlah.
Seseorang merangkul bahu Langit. "Lang!" Falah mengejutkan Langit.
Namun tetap saja, anak es hanya akan membeku. "Lang! Kok lo tinggalin kita sih?" tanya Eri.
Langit dan yang lainnya memang selalu berangkat bersama. Meski Langit menggunakan motor ninjanya, sedangkan kedua temannya itu di mobil Arif.
Arif, mengapa suaranya tak terdengar? Semalam ternyata Lia mematikan ponselnya, hingga ia kesulitan untuk menghubungi gadisnya itu. Ia tak tahu mengapa Lia tak membalas pesan-pesannya, padahal gadisnya itu sempat aktif.
"Hm."
"Langit, Langit.. gak ada nyambung-nyambungnya ngomong sama lo! Gue tanya apa, jawabnya hm-hm," ujar Eri.
Sedikit sinis, Falah menatap Eri, "Intropeksi woy! Intro!" kata Falah menyerang Eri.
"Paan sih Lah? Gak jelas." Eri benar-benar tak tahu maksud Falah.
"Lo! Lo yang gak jelas!" Falah semakin menekan Eri yang tak tahu apa-apa.
Eri hanya menggembungkan pipinya dan menghembuskan nafas. Benar apa yang dikatakan Falah, bahwa setiap kali Eri merespon, pasti tidak ada yang menyambung.
Langit berbelok, teman-temannya kaget seketika. Berbeda arah! "Eh Lang! Kelas kan ke sini!" teriak Falah.
"Eh eh ayo! Ayo!" Falah mengajak keduanya untuk mengikuti Langit.
Arif, anak itu tak sadar jikalau teman-temannya pergi ke arah yang berbeda. Ia sama sekali tak menyadari bahwa ketiga temannya itu tak langsung ke kelas.
Oh, loker. Ternyata Langit pergi ke loker untuk mengambil bukunya, karena setiap kali ia pergi ke sekolah, ia tak pernah membawa buku satu pun. Dan tas sekolahnya hanya berisi jaket.
Ceklek.
Langit, Falah dan Eri, mereka bertiga nampak terkaget-kaget. Langit meraih beberapa bukunya lalu membanting pintu lokernya tersebut. Bugh!
Langit pun pergi dengan emosi yang meluap-luap!
****
Aura murungnya luntur ketika seorang gadis lewat dihadapannya. Ia pun mengejar gadis yang membelakanginya.
__ADS_1
Ia terus memanggil. "Lia!" Namun Lia tak sama sekali menoleh. Ia bahkan mempercepat langkahnya.
"LIA!"
Arif terus mengejar Lia. Sampai akhirnya langkahnya hampir sejajar, ia pun meraih lengan Lia dan plak, Lia menampar Arif cukup keras sampai ia memegang pipinya yang merah.
"Cukup? Apa mau lagi?" tanya Lia yang wajahnya merah padam.
Arif menatap Lia penuh tanya.
"Rif! Aku mau, mulai detik ini, kita selesai!" ucap Lia yang menekan setiap kalimatnya dan langsung melenggang pergi.
Arif semakin bingung, ia bahkan masuk ke dalam kelas gadisnya itu. "Aku gak mau!"
"Kenapa tiba-tiba? Aku mau kamu kasih penjelasan ke aku, apa yang terjadi?!" tanya Arif.
Lia semakin mendidih, ia mendongak, menatap Arif yang lebih tinggi darinya. "Karena kamu milik orang lain Rif!" Sembari menunjuk-sentuh dada Arif.
"Maksud kamu apa sih? Aku gak ngerti!" Arif semakin tak mengerti ketika Lia menangis.
"Oliv, Olivia Gracia, bukannya dia tunangan kamu?"
Deg
Arif terkejut ketika Lia mengatakan nama itu.
"Lia, kamu salah paham. Aku sama Oliv udah gak ada hubungan apapun, apalagi kalau tunangan, itu gak bener!" jelasnya.
Arif tak tahu harus bicara apalagi, apa yang harus ia lakukan supaya Lia percaya padanya? Tak sadar bahwa mereka menjadi tontonan segar para siswa dan siswi kelas IPA, Arif pun menyambar tangan Lia dan membawanya ke suatu tempat
"Ikut aku.."
****
Bugh
Buku kotor itu terhempas dari tangan seseorang dan mendarat tepat di wajah lelaki yang tengah bercanda dengan teman barunya itu.
"Pengecut!" bentak si pelaku pelemparan buku yang berlumuran air kotor itu, ya, loker Langit telah dikotori oleh Arlan.
Langit tak habis pikir, apa yang Arlan mau sebenarnya? Kenapa ia selalu saja menantang Langit. Sudah kalah telak, masih saja belum jera!
Ia terkekeh jahat. "Pengecut? Lo yang pengecut! Gue disini! Tapi kenapa lo diem? Gak berani ribut sama gue di sini?!" Arlan menantang Langit. "Gue mau kita battle! Kalau perlu kita battle di tengah lapangan, atau lo mau di rooftop? biar gue langsung jatohin lo ke bawah! Atau lo mau di ruang kepsek? Hah?"
"Bct!" Langit pun melayangkan tinjuan ke pipi Arlan.
Teman barunya, Zidan. Ia membantu Arlan, ia pun berbalik memukul Langit. Eri membantu Langit bangkit.
__ADS_1
"Woy!" Falah membuka suara.
"Gak perlu ikut campur!" teriak Langit. "Lang! Udah Lang!" Falah dan Eri mencoba mencegah Langit yang hendak memukul Zidan.
"Cukup kalian berdua!"
Mereka pun berhenti dan langsung digiring oleh Pak Surya ke ruang BP.
Mata Senja memicing, ia menatap Langit yang juga menatapnya dengan tatapan dingin. Kenapa wajah anak baru itu memar?
Senja yang penasaran itu pun langsung mengikuti ketiga orang itu untuk mengetahui permasalahan apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka bertengkar?
Senja mendongak, ia benar-benar mengintip lewat kaca jendela. Jika Senja begini, itu artinya dia peduli pada Langit?
"Bu, Pak! Saya gak salah. Dia tiba-tiba mukul saya," tutur Arlan.
"Betul itu Langit?"
Langit menghela nafas dan membasahi bibir bawahnya. "Saya ada alasan untuk itu Bu," jelas Langit.
"Apa alasan kamu?"
Arlan lebih banyak berbicara. Anak itu memang licik! Ia yang menciptakan keributan, ia juga yang banyak membela diri. Namun tetap saja, sedikit bicaranya Langit lebih jujur daripada seribu alasan yang Arlan buat. Bu Ida tentu lebih percaya pada Langit.
"Arlan!" bentak Bu Ida untuk membuat Arlan berhenti bicara.
Senja mematung, ia kaget setelah mendengar bu Ida memanggil anak baru itu dengan sebutan Arlan. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Arlan?" gumamnya.
"Masih untung kamu diizinkan untuk masuk sekolah ini, bukankah kamu sudah berjanji tidak akan membuat onar di sini?!" sentak Bu guru itu.
"Sudah Bu, lebih baik panggil orang tua mereka!" Pak Surya menyarankan.
"Jangan!" Ya, itu Langit, Langit tak ingin mamanya tahu soal ia yang bertengkar.
"Kenapa?" tanya Bu Ida.
"Hm, hukum saya Bu." Langit lebih baik dihukum, daripada mamanya datang ke sekolah karena alasan anaknya melakukan sesuatu yang buruk.
Setelah beberapa menit mereka berbincang-bincang di dalam. Akhirnya Langit yang tak bersalah itu pun diperbolehkan keluar.
Senja bersembunyi di belakang tembok, lalu menyambar lengan Langit yang lewat. "Ikut gue.."
Langit hanya diam. Ia bingung harus bereskpresi seperti apa, karena gadis yang sedang memegang tangannya itu adalah pilihan hatinya.
Dunia saja tahu, bahwa jantungnya sedang berdegub kencang.
__ADS_1
...****...
...🔱...