MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 21


__ADS_3

...


...


Terdapat sepuluh mading yang tersebar. Masing-masing mading diisi oleh karya dari perwakilan kelas, dibebaskan untuk mereka membuat karya yang bagus dan baik untuk dikonsumsi. Anggota wartawan mading juga harus mengirim minimal dua karya dalam seminggu. Mereka juga harus mengoreksi karya dari murid lainnya.


"Senja.. lo bisa pasang karya lo ini di mading tujuh. Itu mading lo sekarang," kata Irfan, sembari memberikan karya pertama Senja.


"Iya Kak." Ia pun bergegas menempelkan karyanya itu di mading tujuh.


Senja menusukkannya dengan paku payung. Sesekali ia merapikannya, Senja menatap kagum pada karyanya sendiri. Meski objek yang ia potret sedikit sulit untuk dimintai keterangan.


"Oke. Bagus," ujarnya sembari terkekeh kecil.


Seseorang datang merangkul Senja "Widih. Wartawan mading kita udah resmi nih."


"Hm, gimana karya gue?"


Lia mengetuk dagunya. "Hm..."


"So amazing!!! Sumpah berita yang dibuat lo ini, pasti menarik readers," lanjutnya berteriak.


"Beneran Li?" Senja berbinar dan memastikan ucapan Lia.


"Beneran lah. Kan ada cowok guenya." Kemudian Senja mencubit kedua pipi Lia sampai Lia berkata Aw dan mengusap-usap pipinya.


"Lo ya, kirain karya guenya yang bagus."


"Hehe ya becanda, bagus kok sumpah deh."


Ya, Maksud perkataan Lia ada cowok guenya itu karena berita yang Senja buat memang mencantumkan dua foto Arif dan teman-temannya.


Judul karya Senja tersebut "TINDAKAN SEDERHANA YANG BIJAK" Sedangkan foto yang terpampang mendeskripsikan tentang Arif yang melempar sampah namun meleset dan foto yang kedua adalah Langit memungutnya lalu membuangnya ke tempat yang seharusnya. Cerdas, Bijak dan Solidaritas, tindakan Langit tersebut.


Dan itu sungguh bisa dijadikan panutan, tauladan yang baik untuk semua murid SMA Tirta Bangsa, menurut Senja.


****


Arkan menghembuskan nafas kasar ketika melihat salah satu karya mading yang diatasnya bertuliskan angka tujuh. Terlihat wajah adik tirinya disalah satu kertas disana, ya itu karangan gadisnya. Arkan tersenyum tipis. Walau bagaimana pun itu hanya content mading, lagipula karangannya bagus.


Seseorang menepuk bahu Arkan "Ar! Ayo!"


Ia datang ke mading tersebut setelah bertanya kepada ketua warding "Irfan". Mereka pun pergi ke ruangan OSIS. Dimana semua anggota OSIS baru dan lama berkumpul.


"Saya dan... Udah tau kan siapa dia?" tanya Yudis kepada semua orang di ruangan. Yudis adalah ketua OSIS sebelumnya.


"Arkan Hanipan," teriak semua orang diruangan.

__ADS_1


"P! P!" Lanjut beberapa orang berteriak.


Yudis terkekeh "'P'? Tanya langsung ke Arkan nya 'P' apaan Ar?"


Arkan memang sengaja menulis namanya di segala kertas maupun yang lainnya dengan nama yang tak lengkap. Karena memang nama aslinya ada Arkan Hanipan, namun semenjak menjadi keluarga Prawiradinata, otomatis namanya berubah.


Arkan melirik ke arah gadisnya dan tersenyum. Mungkin ini kesempatan untuknya mengungkapkan nama belakangnya "Prawiradinata," jawabnya singkat.


"Jadi, Arkan Hanipan Prawiradinata?" tanya Yudis.


Arkan hanya menganggukan kepalanya pelan. Setelahnya sebagian orang bingung dengan nama kepanjangan Arkan. Tidak Asing!


Senja mencoba mengingat-ingat nama itu. Siapa pemilik nama "Prawiradinata" juga di belakang namanya? Ah lupa!


Arkan dan Yudis, mereka nampak menjelaskan kegiatan untuk hari minggu nanti yaitu acara perpisahan dengan OSIS lama, namun baru bisa di selenggarakan minggu nanti dikarenakan murid kelas dua belas baru memiliki waktu luang.


****


"Widih. Liat nih, akhirnya kita jadi artis lagi di sekolah," kata Eri tiba-tiba.


"Maksud lo?" tanya Arif.


"Liat nih!" Kemudian Arif dan Falah membaca salah satu artikel di mading.


"Cara mengatur jam belajar di rumah."


Langit hanya melihat ketiganya mengerumuni mading. "Apaan?" tanyanya.


"Liat nih Lang! Lo hero!" ujar Falah.


Arif khawatir, "Ini sih jatohin reputasi gue."


Langit membacanya "Senja Aprillia Farnanda." Hanya membaca siapa pengarangnya!


Jadi ini alasan gadis itu selalu menghampirinya?


Langsung saja ia menyambar dan meremas kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah!


"Eh Lang!" Panggil teman-temannya, karena Langit pergi begitu saja setelah membuang kertas itu.


Sesampainya di tempat parkiran, Langit terpaku. Seseorang berdiri disamping motor ninja hitam miliknya. Orang itu tersenyum licik kepada Langit dan teman-temannya yang baru saja datang.


Mengapa lelaki itu memakai baju seragam sekolah ini?


Ia bertepuk tangan dan menghampiri Langit. "Ini dia.. murid teladan SMA Tirta Bangsa!"


"Kunyuk! Lo ngapai--" ucap Arif yang hendak menghampiri orang tersebut, namun berhasil dihentikan oleh Langit.

__ADS_1


"Apa mau lo?" Kali ini Langit berpikir dingin. Ini sekolah. Mereka bahkan belum sempat melayangkan tinjuan satu sama lain, namun layaknya semut yang menemukan gula. Sebagian murid mengeremuni mereka.


Ia tertawa licik. "Langit, Langit, kita bahkan belum kenalan."


"Arlan!" ucapnya sembari menaruh tangannya diudara.


Apa sebenarnya yang ingin dilakukan anak ini?


Ia hanya menatap tangan itu. Sangat konyol. Bukankah barusan ia memanggil namanya?


"Gak ada tumpangan!" Yang dimaksud Langit adalah ia tak ingin memberikan ruang untuk Arlan mendunia di sekolah tersebut.


Langit meninggalkan Arlan setelah mengatakan itu. Namun Arlan menarik pergelangan tangan Langit dan meninjunya tepat diwajah. Tak mau kalah, Langit pun membalas tinjuan Arlan.


Terjadilah keributan.


Terdapat banyak luka lebam di wajah Arlan. Sedangkan Langit sudut bibirnya sobek dan mengeluarkan darah.


Langit dilawan. Begitulah kalimat yang keluar dari mereka yang menonton.


Pak Surya berhasil menghentikan perkelahian sengit tersebut dan segera membawa keduanya menghadap kepadanya dilapangan.


Langit melirik ke arah lain, sedangkan Arlan tengah sibuk menekan-nekan lukanya yang mengeluarkan darah. Langit disuruh membersihkan lapangan luas itu dari daun-daun kering. Sebuah hukuman atas kesalahan? Hanya ada dua kemungkinan. Kemungkinan itu adalah kamu menyelam di air keruh atau mungkin kamu mengotori air bening!


Arlan merupakan anak baru disekolah tersebut. Dan luka di wajahnya cukup parah, maka dari itu ia hanya mendapatkan alkohol dan perawatan dari petugas PMR.


Senja dan Arkan berjalan berdampingan, mereka hendak pergi ke toko kue ibunda Gina. Karena itu memang rutinitas Senja. Mereka merasa bahagia satu sama lain, meskipun mata-mata pengintai dan suara-suara mengerikan terdengar samar-samar.


"Bunda buat kue spesial buat Kakak. Karena a-aku bilang Kakak mau dateng."


Karena perubahan status, Senja sedikit canggung menggunakan kata Aku-kamu. Namun ia harus bisa membiasakan hal itu.


Arkan tersenyum "Iya. Hm. Kue buatan Bunda pasti enak."


Bunda? Apa Senja tak salah dengar? Yang jelas, jantungnya seolah-olah berhenti sejenak dan malah berdetum lebih kencang. Sungguh ini membahagiakan!


Bugh


Suara benda dilempar! Sapu lidi itu terbaring setelah dilempar seseorang. Sepasang kekasih itu kaget dan menatap lekat-lekat kepergian pelaku pelemparan sapu tersebut. Kenapa dia?


"Lang! Aelah. Tiba-tiba pergi, tiba-tiba ngagetin. Aneh lu." Suara Arif terdengar tinggi dan melemah karena berlari menjauhi lapangan.


Panas!


Satu kata untuk Langit. Lapangan yang panas juga hatinya yang terbakar.


...****...

__ADS_1


...🔱...


__ADS_2