MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Part 31 : Tamat


__ADS_3

..."Langit bisa tanpa Senja, tapi Senja tak bisa tanpa Langit."...


...~Senja Aprillia Farnanda...


...🔱...


"Bagi satu gelas lagi!" pinta Senja kepada cowok itu. Ya, Senja rupanya telah meminum banyak sekali alkohol sampai akhirnya mabuk seperti sekarang.


Cowok itupun memberikan Senja satu gelas lagi. Ternyata Yumi yang telah membawa Senja ke tempat itu. Dia telah mendapatkan uang dari menyerahkan Senja bermain-main dengan pengunjung laki-laki dan perempuan itu. Senja terlihat nakal dengan gaya urak-urakannya itu.


Senja meminum lagi alkohol yang diberikan cowok tadi. Jika sampai Langit tahu, mungkin cowok itu sudah mati di tangan Langit. Bodohnya Senja terlalu polos dengan terus mengikuti apa kata Yumi.


Senja baru pertama kali meminum minuman keras. Jadi dia akan mabuk meski minum sedikit.


"Lang... kamu harus coba!" Senja memegangi kepalanya yang sangat sakit.


Walaupun terhuyung, tapi Senja tetap meneruskan keseruan itu dan menari mengikuti alunan musik yang keras.


****


Langit, Arif, Eri dan Falah tengah sibuk memainkan ponsel mereka. Karena ini sudah larut malam, akhirnya Arif dan Eri memilih untuk bermain game di ponsel mereka. Eri sedari tadi menggerutu, sedangkan Arif sama sekali tidak merasa kesulitan dengan heronya tersebut.


"Ck, lo gimana sih Rif? Orang gue minta tolong malah kabur-kaburan mulu," ucap Eri kesal karena heronya mati di tangan musuh.


Falah yang memandangi ponselnya itu langsung menatap sinis Eri. "Lagian main sama dia, noob lah!"


"Ini tuh salahnya Arif, kenapa dia gak nolongin gue?" tanya Eri.


"Buat apa gue nolongin lo? Mending musnahin minions." Arif menolak membela Eri dan malah memojokkan Eri.


"Udahan ah! Sial lo Rif, jahat banget sama gue!" Eri ngambek.


Langit masih memandangi ponselnya dan melihat-lihat fotonya bersama Senja di kampus. Gadis itu memang berbeda, selalu bisa membuat segalanya tenang.


Ya, mereka malah sibuk bermain ponsel dibanding mengobrol. "Chat gak dibalas itu nyesek, ya? Gue jadi merasa gak penting di mata dia," kata Falah karena seseorang tidak membalas pesannya.


"Emang ada yang mau chattan sama lo?" tanya Eri.


"Ya ada lah! Cantik lagi, lebih cantik dari Risa. Dia juga kelihatan strong dan beda dari cewek lain," jawab Falah.


Tiba-tiba ponsel Langit berdering. Ia menyangka jika itu adalah Senja, tapi ternyata bukan. Itu adiknya, Risa.


"Halo, Kak!"


"Halo, Ris."


Eri mengernyit. Ris... Ris siapa?


"Kakak lagi sama Kak Senja, kan?" tanya Risa.


"Nggak. Bukannya Senja di rumah?"


"Aku pikir Kak Senja jalan sama Kak Langit. Soalnya dari sore Kak Senja pergi."


Langit langsung berdiri dan mengejutkan teman-temannya yang gabut itu.


"Ris, kamu jangan bercanda. Ini udah hampir jam 12 dan Kakak lagi gak sama Senja!" ucap Langit semakin cemas.


Ketiganya hanya memandang Langit dengan tatapan bingung, Senja kenapa?


"Aku serius, aku pikir Kak Senja lagi sama Kakak. Makanya aku sama Bunda tenang-tenang aja. Tapi ternyata Kak Senja sampai jam segini belum pulang-pulang juga. Terus gimana dong, Kak?"


"Bilang sama Bunda, jangan khawatir. Kakak pasti bawa pulang Senja."


"Iya, Kak."


Langit menutup telponnya lalu menatap teman-temannya. "Rif, bantu gue cari Senja."


"Apa Senja ada sama Lia?" tanya Falah.


Arif menggeleng. "Lia bilang dia mau tidur dan dia gak ada ngomong lagi sama Senja."


Teman Senja hanyalah Lia dan.. Luna. Apa mungkin Senja sedang bersama Luna sekarang? Apalagi kejadian kemarin membuat gadis bernama Luna itu tidak terlihat di kampus lagi.


Kemudian ponsel Falah berbunyi dan menampilkan nama Luna di sana. Kenapa kebetulan begini?


"LUNA!" Langit langsung menoleh cepat ke Falah.


"Luna?" beo Langit.

__ADS_1


Falah mengangguk dan langsung mengangkat telpon dari Luna tersebut. "Halo Lun..."


"Tolongin gue!" Luna berbicara sangat pelan.


Ya, semenjak kejadian di hari itu, Falah dan Luna menjadi teman dekat. Meskipun hanya sebatas teman, tapi Falah sudah bahagia.


"Tolongin? Emang lo lagi dimana?" tanya Falah.


Langit dan yang lain mendelik dan semakin cemas.


"Gue lagi di kelab malam dekat kampus Pegasus."


Luna langsung menutup ponselnya kala tak sengaja menekan nomor Falah. Karena memang kontak anak itu yang paling atas tertara di ponsel Luna.


"Abis nelpon siapa lo?" tanya pria itu. Ternyata dia menyadari bahwa Luna tengah menelpon seseorang.


Luna menggeleng, perlahan pria itu mendekat dan terus mendekat. Tanpa ampun lagi, akhirnya Luna berhasil menendang pria itu sampai ia itu tersungkur ke lantai. "Bukan urusan lo!" kata Luna.


Luna pun berlari dan keluar dari kamar terkutuk itu.


Sebelum ia lepas dari sana, ia ingat seorang gadis yang tadi dilihatnya. "Oiya! Senja!"


Kemudian ia mencari keberadaan Senja yang ternyata tengah bermain-main dengan laki-laki. "Senja jangan!" tegur Luna karena Senja hampir membuka sweaternya.


****


Arkan masuk ke dalam kelab malam, bau alkohol itu membuat hidungnya tidak enak. Tapi Arkan mencoba menerobos masuk ke dalamnya dan mencoba menyelamatkan pacarnya.


"Arkan!" panggil Irfan, dia bersama Rizky ke tempat itu.


"Fan, dimana Sara?!" tanya Arkan.


Suara dari musik itu membuat Arkan harus berteriak.


"Sara?" ulang Irfan. "Sara siapa, sih? Orang pacar lo Senja! Baru datang ke sini, udah ngelantur."


"Tau lo," timpal Rizky.


"Senja?" tanya Arkan kebingungan. Oh, iya, teman-temannya ini kan tidak tahu siapa pacar Arkan yang sekarang.


"Iyalah, emang lo udah ganti pacar lagi?" tanya Irfan.


Irfan menunjuk kerumunan yang tengah ramai itu. "Itu! Di sana!"


Meskipun sebatas mantan, tapi ia akan terus ingat saat-saat bersama dengan Senja. Bayangkan saja, sudah hampir empat tahun pacaran dan musnah begitu saja.


Benar apa yang dikatakan Irfan, Arkan mendelik ketika melihat Senja dengan semua orang-orang itu. Rasanya aneh ketika melihat Senja mabuk-mabukan seperti itu.


"Lepasin! Senja!" Luna memberontak karena kembali ditahan oleh teman-teman Yumi itu.


Senja terus memegangi kepalanya yang sakit, sampai akhirnya ia tidak sadarkan diri dan jatuh ke pelukan Arkan. Untung saja Arkan terlampau cepat menghampiri mantan kekasihnya, Senja.


"Kalian apain Senja, hah?" tanya Arkan pada pengunjung.


"Eh, lo siapa main rebut mainan kita, hah?" tanya cowok itu ngotot.


"Dia pacar gue," jawab Arkan. "Jadi jangan ada yang berani sentuh dia!"


Luna terbelalak, jadi Langit bukan pacar Senja?


Arkan kemudian menggendong Senja ala bridal style dan membawanya keluar. Sedangkan Luna yang tengah dipegangi oleh dua wanita itu akhirnya bisa melepaskan diri dan ikut bersama Arkan membawa Senja pergi.


****


Langit yang membawa motor ninja itu lantas menghentikan laju motornya ketika melihat seorang laki-laki tengah menggendong kekasihnya. Itu Senja, kan?


Tanpa basa-basi lagi, Langit langsung turun dari motornya dan menghampiri Kakak tirinya itu. "Ar! Lo tega lakuin ini sama Senja!" pekiknya.


"Nggak, lo salah paham!" Arkan mencoba meluruskan.


"Terus ini apa?" tanya Langit sembari melihat keadaan Senja yang berada di tangan Arkan.


"Langit tunggu dulu! Lo jangan marah sama Kakak lo. Justru karena dia, gue sama Senja selamat dan keluar dari sana," jelas Luna.


"Lun.. lo kan yang bawa Senja ke tempat ini?" tanya Langit. Cowok itu berpikir begitu karena kemarin, ia ingat Kakak dari Luna yang telah kurang hajar kepada Senja. Langit semakin frustrasi.


Luna menggeleng. "Justru gue minta tolong sama Falah tadi! Karena gue ketakutan.."


"Lang, udahlah! Lo jangan marah-marah dulu. Kasihan Senja," ucap Arkan.

__ADS_1


"Lang..." Senja memanggil Langit dalam gurauannya. Itu membuat hati Langit terenyuh sekaligus sakit.


"Sey?" Langit ingin mengambil alih Senja dari Kakak tirinya itu. "Biar gue aja," kata Langit.


"Makasih Ar, makasih udah nolong Sesey." Langit tak lupa berterima kasih kepada Arkan.


Kemudian Langit membawa Senja ke mobil Arif dan membiarkan gadis itu tidur di perjalanan menuju rumah sakit. Ya, Langit memilih membawa Senja ke rumah sakit untuk mengecek keadaan gadis itu.


****


Dua hari kemudian..


Selama di rumah sakit, Senja selalu ditemani Langit. Gadis itu semakin kagum pada kekasihnya. Langit bahkan tidak merasa jijik ketika Senja terus muntah. Ia juga ada ketika Senja sedang diserang pusing yang berkepanjangan.


"Sey, cepat sembuh, ya?" tanya Langit. "Biar aku bisa lamar kamu secepatnya."


Senja terkekeh mendengar itu. "Kamu ngomong apa sih, Lang?"


"Aku serius. Aku mau langsung izin sama Bunda untuk milikin kamu selamanya."


Senja tertegun dan matanya berkaca-kaca. Melihat mata Langit yang sendu, sepertinya tidak ada kebohongan di sana. Langit terlihat serius.


Senja meraih rambut Langit dan memainkannya. "Apa kamu gak mau pikirin dulu baik-baik? Rumah tangga itu gak mudah lho, Lang."


"Aku cuma tinggal mikirin gimana caranya supaya kamu bahagia, kan?"


Senja tersenyum lalu menggeleng. "Bukan cuma itu, tapi kamu juga harus siap segalanya. Dan aku gak mau kamu gegabah."


"Tapi aku udah siap. Sey.. kalau aku gegabah, aku gak akan omongin ini sama kamu sekarang."


Senja berkaca-kaca. "Ya udah kalau gitu, kenapa gak sekarang aja kita nikah?"


"Ayo!" Langit berseru dan malah semakin bergairah.


"Eh! Jangan dulu ngomongin nikah!" Langit dan Senja menoleh ke belakang dan menemui teman-temannya. Yang menegur itu adalah Arkan.


Sudah ada Arkan, Sara, Arif, Lia, Eri dan Risa. Dimana Falah? Mereka datang untuk menjenguk Senja. Kebetulan bertemu di depan rumah sakit tadi. Lia dan Risa menghampiri Senja, sedangkan Sara terus berdiri di samping Arkan.


"Tahu lo, Lang. Jangan langkahin Abang lo!" tegur Arif membuat semuanya tertawa.


Tak pernah menyangka, ternyata mantan pacar harus berakhir sebagai Kakak ipar. Arkan bersama Sara dan Langit bersama Senja. Mereka bahagia dan tidak masalah.


"Iya, gue yang capek jagain jodoh lo, Lang!" timpal Arkan membuat semua tertawa.


Kemudian Senja melihat ke arah Arkan yang tengah memandangi Sara. Cowok itu tertawa bahagia dan lepas ketika bersama dengan Sara. Tak terasa, mau seberapa lama berpacaran pun, tetap saja takdir yang akan menjawab. Dan Senja selalu yakin jika takdirnya adalah Langit Prasetya.


Falah tiba-tiba muncul ketika semua orang bersama pacar mereka. "Lang, kata bokap gue pelakunya udah ke tangkap. Dan sekarang dia lagi ada di kantor polisi."


"Kak Yumi?" tanya Senja.


Langit mengangguk.


Senja menggeleng. "Jangan, Lang. Aku gak mau Kak Yumi dipenjara, dia itu Kakak aku."


"Kakak kamu? Kalau memang dia Kakak kamu, dia gak akan buat kamu kayak gini."


"Ya udah, Lah. Masukin aja dia ke penjara. Karena udah seenaknya buat mantan pacar gue sakit," ucap Arkan menenangkan atmosfer tegang yang ada di sana.


"Mantan pacar, ya, hm?" tanya Sara. Kenapa Arkan terus menyebut Senja begitu? Padahal lupakan saja!


"Ya, maksudnya Senja itu calon adik ipar kamu," kata Arkan.


Sara mencubit pinggang Arkan dan mereka semua tertawa. Akhirnya hubungan Langit dan Arkan pun membaik seiring berjalannya waktu. Mereka berdua sudah bisa menerima kenyataan. Dan beruntungnya adalah Arkan bisa mendapatkan pengganti Senja yang tak kalah baik dan cantik.


...~🔱~...


...Teruntuk Masa Laluku, Kak Arkan.....


...Terima kasih atas segalanya. Terima kasih pernah memberikan kebahagiaan dan menjaga setiap langkahku. Aku juga bahagia pernah menjadi pembasuh lelahmu. Terima kasih telah menjadikan aku orang yang terlihat diantara gelap. Karena kamu memanglah cahaya yang paling terang, untukku....


..."Setidaknya diantara kita terselip kata pernah." ~Senja....


...🔱...


...Teruntuk Takdirku, Langit Prasetya....


...Tiada kata yang bisa aku rangkai untuk menciptakan kata terima kasih itu. Karena kamu sudah banyak berkorban, meniti dengan lukamu sendiri dan berani maju melawan takdir sampai akhirnya kamu sendiri yang mampu menempati tempat di sisiku....


..."Aku hanya ingin bilang, kita punya jalan yang harus dilalui setelah ini. Maka berjalanlah bersamaku hingga akhir." ~Senja....

__ADS_1


__ADS_2