MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Part 10 : Langit dan Sara


__ADS_3

...Bagai pantulan bulan di danau, kita hanya tinggal menunggu seseorang melempar batu. Maka tidak akan ada kata kita diantara aku dan kamu lagi....


...🔱...


Hari ini adalah hari minggu, dimana Liani Viona Arnita merayakan hari ulang tahunnya. Lia hanya mengundang orang-orang yang menjadi teman dekatnya saja. Ia juga tak lupa untuk mengundang teman-teman Arif, karena memang Arif dan Lia sudah bertunangan dan tinggal menunggu mereka sarjana saja nanti.


Kue-kue sudah tersaji di meja, beberapa balon sudah berisikan udara dan pernak-pernik ulang tahun sudah terpasang semua di lokasi Lia memotong kue. Ini hanya acara kecil-kecilan, tapi Arif dan keluarga Lia sangat antusias merayakan ulang tahun Lia yang ke 19 tahun.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan acara dimulai sekitar satu jam lagi. Dimana keluarga Lia hanya tinggal menunggu semua tamu datang.


Senja masih sibuk dengan make up yang akan menghias wajahnya. Senja tak terlalu mengerti make up, tapi dia akan melakukan yang terbaik untuk terlihat lebih baik di hadapan teman-temannya dan para undangan Lia nanti.


Ia mengolesi wajah mulusnya dengan bedak. "Ketebalan gak, ya?" tanya Senja. "Lipstiknya.. apa bagus warna ini?"


"Kira-kira Lang suka, apa malah ilfil ya kalau gue gini?"


Senja menghembuskan nafas kasar. "Kalau aja ada Bunda, mungkin semuanya gampang."


Senja memakai maskara dan selesai sudah. "Eh, kayaknya ada yang kurang, tapi apa, ya?"


Gadis itu lantas mencari sesuatu yang kurang itu. Senja ingat! Anting pemberian Arkan! Ia pun mengambil kotak perhiasan yang isinya adalah anting. "Anting ini... identik banget sama Kak Arkan."


Ya, gimana gak identik? Dia yang ngasih.


Senja pun memakaikan telinganya anting yang pernah diberikan Arkan sebagai hadiah ulang tahunnya tahun kemarin. Senja tak memakainya setiap hari, ia hanya memakainya di lain kesempatan. Senja sedikit kesulitan ketika memakai anting itu, sampai akhirnya telinganya terluka karena benda runcing anting tersebut menggores kulitnya.


Ia meringis kesakitan. "Ck, berdarah, kan?" tanya Senja sembari melihat ke cermin.


Senja lantas membersihkan luka berdarah di telinganya dengan tisu atau semacamnya. Seketika perasaannya tidak enak mengenai Arkan. Senja langsung teringat Arkan yang tidak membalas pesan yang dikirimnya dari siang tadi. Langit bahkan bilang bahwa Arkan pergi keluar dari tadi pagi dan belum pulang sampai sekarang.


Gadis itupun meminta Langit untuk menjadi teman undangannya. Tentu Langit tak akan menolak kesempatan yang langka ini. Entah dikatakan beruntung atau tidak, ia hanya merasa ada yang tidak beres mengenai Kakak tirinya.


Senja berkaca di hadapan cermin. "Apa gue ada salah sama Kak Arkan? Kenapa dia berubah sekarang?"


Senja menutup wajahnya untuk menyadarkannya, ia menghela nafas untuk menetralkan perasaannya. "Senja.. fokus, jangan nangis, nanti make up lo luntur."


Senja pun mengambil anting itu dan mencoba memakainya lagi meski dengan sedikit rasa perih. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin, rasa minder itu menyerang lagi. Mungkinkah Arkan tergoda pada wanita yang lebih cantik darinya? Kampus itu bahkan menyediakan banyak wanita cantik. Ini hanya tergantung pada kesetiaan Arkan!


****


Arkan tengah berjalan-jalan dengan Sara. Dirinya cukup bahagia karena bisa berjalan di samping wanita yang pernah menyelamatkan hidupnya. Sara, gadis itu terus berseri karena tengah berjalan dengan Arkan di sampingnya. Entahlah, Sara tak mengerti lagi. Ia yang menyelamatkan Arkan, tapi hatinya yang tak tertolong. Bodohnya dia yang terbawa perasaan.


Arkan dan Sara hendak makan malam di sebuah restoran. Gadis itu sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, yaitu buku-buku tentang Fakultas Kedokteran. Buku itu bermanfaat, tapi kali ini bermanfaat karena membuat Arkan jalan bersamanya.

__ADS_1


"Ar, makasih ya udah temenin gue beli buku-buku ini?" ucap Sara membuka percakapan.


"Sama-sama, Sar."


"Semoga aja buku ini bermanfaat, ya?"


"Setiap buku itu memang bermanfaat, kan?" tanya Arkan agak gelisah.


Sara mengangguk sembari tersenyum canggung. Kemudian mereka mencari tempat yang cocok untuk duduk dan makan malam. "Gimana kalau di sana?" tanya Sara.


"Boleh," jawab Arkan.


Arkan dan Sara duduk berhadapan di tempat terbaik di restoran itu. Terlihat hiasan lampu-lampu berbentuk bulan yang membuat suasana di sana semakin indah.


Menu utama restoran di sana sudah menggoda Sara. Namun Arkan sama sekali tak merasa nyaman, ia malah terus memikirkan hal yang tidak ada di sana. Hatinya gelisah tak karuan, mengingat hari ini Senja juga harus keluar dan menjumpai acara Lia. Arkan juga sudah diberitahu bahwa acara Lia itu sekitar jam delapan. Dan ini hanya tinggal satu jam lagi.


Senja memberitahu Arkan karena itu sudah menjadi kewajibannya agar Arkan tahu apa yang sedang dilakukan kekasihnya itu. Namun Arkan tak melakukan hal yang sama dan malah melakukan hal bodoh ini.


"Ar.. kok lo malah diam aja, gak mau pesan?" tanya Sara.


"Eum.. i-iya mau kok," ucap Arkan. "Lo mau pesan apa?"


Sara tertawa. "Lo mau jadi pelayan?"


"Panggil pelayan dulu, baru lo bisa pesan," ucap Sara. "Ya udah, biar gue yang panggil pelayannya."


Sara hendak memanggil pelayan, ia sudah mengangkat satu tangannya.


"Sar!"


Gadis itu menoleh. "Eh, kenapa Ar?" tanya Sara.


"Eum.. g-gue ada urusan mendadak. Gue harus pulang sekarang," alibi Arkan.


Sara menautkan alisnya dan memasang wajah marahnya. "Urusan mendadak lagi?" tanyanya. "Kenapa gak bilang dari awal? Kenapa lo gak bilang aja kalau hari ini lo gak bisa jalan karena ada urusan mendadak?!"


"Sar, gue mohon maafin gue. Gue janji gak akan lakuin ini lagi sama lo, tapi gue buru-buru banget sekarang, gue harus pergi."


Sara tak pernah menduga hal semerugikan ini terjadi lagi. Semalam ia bahkan tak memikirkan tragedi urusan mendadak terjadi lagi. Sara menunduk dan sedikit kecewa, gadis itu diam karena Arkan benar-benar sudah mengecewakan dirinya.


"Sar...?" tanya Arkan. Arkan beralih melihat menit arlojinya yang baru saja bergerak karena menit berganti. "Sar, gue gak ada waktu lagi, gue harus pergi sekarang! Maaf..."


Arkan pun berlari dan menghampiri urusan mendadaknya itu. "Arkan!" teriak Sara, kemudian ia berdecak sebal.

__ADS_1


****


Langit sudah menghubungi Senja, dan katanya gadis itu hampir siap. Langit terlihat tampan dengan kemeja itu. Terlihat dari warnanya, sepertinya Senja dan Langit akan menjadi pasangan yang cukup serasi. Mereka bahkan tak pernah membicarakan soal warna baju yang akan dipakai.


Langit menyemprotkan parfum yang tidak pernah dipakainya. Ah, Langit bahkan baru pertama kali datang ke acara ulang tahun. Memakai pakaian yang rapi dan menyisir rambutnya hingga serapi itu. Kalian bisa bayangkan sendiri, rambut Langit begitu menawan serta parfum Langit yang aromanya sangat menyentuh hati.


"Apa ini cukup?" tanya Langit setelah memakai parfumnya. "Ah, apa tanya Mama?"


Langit hendak keluar dan menemui Mamanya. Namun diurungkan, karena ia malu. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lalu menyimpan parfum barunya itu di nakas. Setelahnya ia berkaca, dan memandangi dirinya yang berbeda dari sebelumnya. Yang sebelumnya selalu misterius dan gaul, tapi kali ini romantis dan menawan.


"Apa bagus kayak gini?" tanyanya. Namun dia tidak percaya diri, guys!


Ia membenarkan rambutnya lagi dan lagi dan membasahi bibirnya. "Kalau aja ada Arif."


Langit melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Itu artinya ia sudah harus siap-siap menjemput Seseynya. Ia berdecak sebal, kenapa harus serepot ini menjadi partner?


Ia pun menyambar kunci motornya dan hendak menjemput Senja.


Langit keluar untuk menemui motornya, tapi setelahnya ia terkejut karena di samping motornya terdapat motor yang serupa, tapi berwarna merah.


"Arkan?"


****


"Kak Senja! Aku duluan ya sama Kak Eri!" teriak Risa diambang pintu kamar Senja yang tertutup.


Senja mendengar itu, "Hm, hati-hati!" teriaknya.


"Iya!"


Aneh, ini sudah setengah delapan, tapi Bundanya belum juga pulang dan Langit belum terlihat batang hidungnya. Senja gelisah, ia di rumah itu sendirian. Sampai sekarang ia terus memikirkan Arkan yang tak pernah membalas pesannya. Kalau saja ia punya kesempatan untuk berbicara dengan laki-lakinya itu, mungkin saja Senja akan berbicara serius tentang hubungannya.


"Lang mana, sih? Kok belum datang juga?"


Senja nampak indah dengan menggunakan gaun berwarna biru dongker, rambut yang digerai dan sepatu berwarna putih yang anggun. Itu semakin membuat Senja cantik.


Gadis itu celingukan keluar jendela. Ini tak sesuai dengan prediksinya, padahal Senja berharap ada seorang pangeran yang menjemputnya dan mereka akan bahagia di acara pesta itu, pikirnya. Langit berarti?


Terdengar suara mesin mobil. "Itu Lang!" katanya, tapi ia bingung. "Lang, bawa mobil?"


Kemudian Senja menyambar tasnya dan berlari keluar untuk menemui Langit. Namun Betapa terkejutnya Senja ketika halaman rumahnya terdapat mobil yang tidak asing baginya.


Senja membelalakan matanya. "Apa maksudnya ini?" batinnya.

__ADS_1


...~🔱~...


__ADS_2