
..."Tak ada jawabannya" karena memang itu jawabannya....
...🔱...
Langit baru ingat kalau Bunda dari Senja tengah sakit, jadi mana mungkin Senja menyempatkan diri untuk makan malam ketika Bundanya tengah dirawat. Langit masih dengan tatapan elangnya, tangannya mengepal panas, ia sudah sedari tadi mengutuk Arkan dengan kata-kata. Bisa-bisanya cowok itu bermakan malam dengan wanita lain ketika Senja dalam kesulitan seperti ini. Apa itu artinya Senja sedang sendirian di rumah sakit?
Tangannya sudah mengepal sangat kuat. "Brengsek!" batin Langit.
Arkan langsung melepaskan tangannya dari Sara dengan cepat. Sedangkan Sara kebingungan atas perilaku Arkan yang tergesa-gesa itu. Cowok itupun segera menyuruh Sara untuk bertemu dengan Mamanya. Arkan tahu ada rasa benci yang tengah menyelimuti Langit kali ini, tapi ia berharap semoga Langit bisa dewasa dan tidak melakukan hal yang bisa merusak malam ini.
"Sar, ayo gue kenalin lo sama Mama," ucap Arkan tidak menghiraukan Langit.
Sara mengangguk. Kemudian keduanya menghampiri meja yang sudah dipesan Arkan itu. Luna tersentak ketika melihat Arkan bersama dengan wanita yang bukan Senja. Kakak Langit yang mana yang pacarnya Senja?
"Eh, ini yang namanya Sara? Cantiknya." Mamanya langsung memuji penampilan Sara. Gadis yang dipuji itu hanya bisa tersenyum sambil memberikan salam dan kecupan di masing-masing pipi Mama dari Arkan dan Langit tersebut.
"Makasih, Tante. Tante juga cantik."
Luna hanya iri melihat interaksi itu. Langit kenapa tidak bilang jika harus begitu ketika bertemu orang tuanya. Luna merasakan ada seseorang yang duduk di sampingnya dan itu Langit. Akhirnya Langit datang untuk menenangkan hatinya.
"Lang, lo lama banget, sih? Abis ngapain?" tanya Luna berbisik.
Langit masih menatap tajam ke arah Arkan yang sok manis itu. "Nggak."
"Dalam pilihan gue gak ada kata nggak," ucap Luna masih berbisik, tapi kali ini ia terlihat marah.
Sara dan Arkan pun duduk berdampingan. Disamping itu Arkan bersebrangan dengan Langit, sedangkan Sara dengan Luna. Meja bundar yang tidak terlalu luas itu akhirnya sudah berpenghuni lengkap. Langit masih terus mengutuk Arkan di dalam hatinya, seterusnya Langit akan berpikir jernih. Kali ini Arkan beruntung karena Langit tidak ingin membuat Mamanya kecewa. Lagipula ini tempat umum, mana mungkin Langit mengganggu dan merusak suasana makan malam orang-orang yang juga sedang menikmati hari penting mereka.
Hingga akhirnya hidangan mewah dan mahal berdatangan untuk mengisi meja bundar itu.
Mamanya berbinar dan bahagia. "Buat Sara dan Luna, Tante sangat-sangat berterima kasih karena kalian berdua sudah menyempatkan datang dan makan malam bersama Tante di sini." Sara dan Luna tersenyum manis menanggapi itu. "Tapi Tante juga minta maaf karena Papanya Arkan dan Langit gak bisa datang dan makan malam sama kita."
Luna diam, sedangkan Sara menjawab. "Gak apa-apa, kok Tante. Diundang makan malam sama Tante aja Sara udah seneng."
Apa Luna harus menjawab juga? Ah, Langit! Kenapa dia hanya diam?
"Terima kasih ya Sara? Kamu anak yang baik. Tante sangat-sangat bersyukur karena Arkan bisa bertemu orang sebaik kamu. Arkan udah cerita banyak soal kamu." Langit terus memasang wajah datarnya. "Makasih udah selamatin Arkan, Tante hutang budi sama kamu."
"Sama-sama Tante. Memang itu udah tugasnya Sara. Sara bercita-cita untuk nolong siapapun yang kesakitan."
Luna tidak paham jika harus masuk ke dalam percakapan kedua wanita yang anggun tersebut. Jika masuk, ia hanya akan merusak suasana.
Kemudian Mamanya beralih ke Luna. "Luna?" Gadis yang dipanggil tegak. "Iya Tante?"
__ADS_1
"Makan malam ini juga dikhususkan untuk kamu." Luna semakin terperangah. Apa maksudnya?
"Ini sebagai penyambutan untuk kamu, pacar barunya Langit dan juga ungkapan terima kasih untuk Sara. Karena kalian berdua adalah perempuan yang juga penting untuk anak-anak Tante." Oh, tidak. Apa Mamanya melupakan Senja?
Hati Luna berdebar. Pacar apanya? Ingin rasanya Luna menyudahi kesalahpahaman ini. Sedangkan Arkan tidak menyangka atas kenyataan yang baru diterimanya tadi. Jadi gadis bernama Luna ini juga bisa membuat Langit jatuh cinta selain Senja?
Bagus, lah.
****
Senja sudah berada di rumah sekarang ini. Tapi nampaknya Risa tidak ada di sana, ia semakin khawatir. Jam itu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Pukul sembilan saja sudah rentan bagi gadis seumur Risa diluar sendirian. Senja bingung ingin melakukan apa sekarang ini.
Akhirnya Senja memutuskan untuk mencari Risa lagi. Ia mengunci kembali pagar rumahnya dan beranjak mencari Risa seorang diri. Tanpa sadar, bahwa ponselnya terjatuh di lantai kamar Risa.
Ponselnya itu menunjukkan bahwa Eri tengah menelpon dirinya.
Senja keluar hanya dengan sepasang kaki, tidak berniat untuk naik kendaraan apapun. Perasaannya, tubuhnya, segala-galanya terasa sangat berat. Senja tidak mampu lagi sendirian. Ia membutuhkan Arkan dan Langitnya.
Senja berhenti di persimpangan. "Lang.. aku butuh kamu sekarang," ucapnya sembari meneteskan air mata dan melihat sekitar.
Senja menutup matanya dan menunduk lesu. Ia sudah tidak kuat dengan ini semua. Sampai akhirnya ia memilih mencari ponselnya, merogoh setiap saku di pakaiannya. Tapi apa? Bahkan ponselnya sendiri tak bisa diandalkan!
Ia menghembuskan nafasnya kasar. Jalanan ini sungguh sepi tak ada satupun kendaraan yang lewat hanya untuk menenangkan perasaannya. Senja pun mencari Risa lagi. Rela berjalan menyusuri jalanan menuju toko Bundanya.
"Lo masih ingat gue, kan?" tanyanya. Senja menggeleng karena tidak tahu siapa orang itu. "Masa iya lo gak kenal siapa gue?"
"Gue gak kenal sama lo! Lo siapa?" tanya Senja sedikit berteriak.
"Tapi gue kenal sama lo. Lo yang kerja di toko kue itu, kan? Yang cantik dan sendirian..." Laki-laki itu kemudian berdesah dan mendekat ke arah Senja, itu semakin membuat Senja takut bukan main.
"Gue gak ada urusan sama lo, permisi!" Senja memilih memutar balik karena takut kepada laki-laki itu.
Laki-laki itu kemudian mencekal tangan Senja. "Mau kemana?" tanyanya.
Kemudian ia menarik lengan Senja untuk ikut dengannya. "LEPASIN!" teriaknya. "TOLONG!"
Laki-laki itu akhirnya menampar Senja karena takut gadis itu mengundang orang-orang untuk datang.
"M-maaf itu pasti sakit, ya?" tanya laki-laki itu hendak memegang pipi Senja.
Tapi Senja yang tengah memegang pipinya itu malah menghempaskan tangan laki-laki itu agar menjauh darinya. Senja menangis semakin kencang.
"Eh, j-jangan nangis. G-gue obatin mau ya?"
__ADS_1
"Gak perlu!" Senja kemudian berbalik untuk menghindar, tapi ia keburu dicegat.
Laki-laki mengunci pergerakan Senja. Ia memegangi kedua lengan gadis itu. "DIAM GAK!" Intonasi tinggi itu membuat Senja tersentak karena takut atas bentakan.
Ia terus diam karena tatapan nafsu laki-laki itu.
Sampai akhirnya Senja berakhir dengan kecupan hangat di bibirnya. Cup.
Prank!
Langit tak sengaja menubruk gelas minum miliknya. Tentu Luna dan seantero restoran itu kaget karena suara pecahan gelas itu. Luna malah mengkhawatirkan gelas yang jatuh, itu kan mahal. Kenapa dipecahin?
Langit berdecak. Perasaannya sangat tidak enak. Langit hendak membereskan kekacauan yang ia buat.
"Eh, gak usah sayang!" Mamanya mencegah. "Biar pelayan aja yang beresin itu."
Langit pun menghela nafas berkali-kali serta membenarkan posisi duduknya yang tidak nyaman.
Langit berdiri dari tempat duduknya. "Ma, Langit izin pulang."
"Lho, kenapa?"
Arkan, Sara dan Luna mendongak untuk melihat Langit. "Langit ngerasa kurang sehat, Ma."
Cowok itu akhirnya pergi dengan jas yang di sangkutkan di sandaran kursi miliknya. Ia sampai lupa pada Luna. "Lho, Langit!" pekiknya.
"Eum ... Tante, Luna susul Langit dulu, ya? Makasih buat makan malamnya." Luna menunduk untuk memberikan salam dan meninggalkan meja itu tanpa basa-basi apapun lagi.
"Langit tunggu!" Luna mengejar Langit yang berjalan sangat cepat.
Sepatu hak tingginya itu sangat menyulitkan dirinya. Kenapa juga ia harus memakai benda sepanjang itu?! Dan benar, benda cantik itu membuat Luna jatuh diantara banyaknya orang. Ia merintih kesakitan karena mata kakinya sepertinya terkilir. Bukan hanya sakit, ia juga harus menahan malu karena sebagian orang menertawakan dirinya.
Ia jadi semakin sadar, jika tempat itu tidak pantas untuknya.
"Langit, gue kecewa sama lo."
...~🔱~...
...Jangan lupa spam komentar yaa😢...
...vote dan follow juga, supaya performanya naik....
...sekali lagi, terima kasih bagi yang masih bertahan dengan cerita gak jelas ini. Kalau suka, ayo share ke teman-teman kalian, supaya kalian gak kesal sendirian😂...
__ADS_1