MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 18


__ADS_3

...


...


Setelah beberapa jam menenangkan diri ditaman. Ia bangkit dari duduknya dan berbalik badan, mendapati gadis berkepang satu tengah menghampiri sepedanya.


Senja hampir menaiki sepedanya. Namun tatapannya beralih pada seorang yang memperhatikannya dari bangku taman.


"Langit?" Senja mengurungkan niatnya untuk pulang dan memilih menghampiri Langit.


Senja mengusap pipinya, ia takut Langit melihat sisa-sisa bulir bening yang tertinggal di pipinya.


Kini Senja tengah berdiri tepat dihadapan Langit. "Lo ngapain di sini?"


"Duduk," Jawabnya, bukan menyuruh Senja duduk. Namun menjawab pertanyaan Senja.


Senja mengangguk paham. Kemudian membalikkan posisi tasnya ke depan, lalu mengambil sesuatu dari tasnya. "Makasih," ujar Senja sembari memberikan jaket jeans milik Langit.


Langit melirik sekilas ke arah jaketnya lalu menatap Senja. "Tenang, udah gue cuci dan ini wangi kok."


"Buat lo!" ucap Langit, membuat Senja sedikit membelalakan matanya tak percaya.


"Ta-tapi.."


"Jangan tolak!" titah Langit dengan wajah datar.


Senja menunduk lalu mengucapkan terima kasih. Ia bahkan lupa untuk menanyakan Langit yang tidak pergi ke sekolah hari ini. Karena Langit tak ingin Senja bertanya-tanya soal ia yang menggunakan pakaian rumah sakit. Langit pun bergegas pergi meninggalkan Senja.


"Tunggu!" Senja menghentikan langkah Langit.


Langit menoleh. "Jangan pergi!" ungkap Senja membuat Langit tertegun.


"Gue mau lo tenangin gue dulu disini," pintanya.


Langit menghembuskan nafasnya, ia menghampiri gadis itu lagi dan duduk kembali. Itu berhasil membuat Senja berbinar. Senyum gadis itu mengembang, lalu ia pun duduk disamping Langit. "Lo kenapa gak ke sekolah?"


"Dan.. kenapa lo pake baju pasien?" Lanjutnya.


"Bawel," ledek Langit.


"Ih orang gue nanya!" kata Senja sembari mengerucutkan bibirnya kesal.


"Kalau lo pinter, lo bakal tau jawabannya."


Langit tak pergi ke sekolah dan ia memakai pakaian rumah sakit. Itu berarti ia tak pergi ke sekolah karena sakit.


Senja mengerti sekarang. "Sakit apa?"


Langit menoleh. "Bukan urusan lo!"


Senja merasa posisinya salah telah menyuruh lelaki itu menemaninya saat ini. "Emang salah nanya gitu.." dumelnya dalam hati.


Mereka diam beberapa saat, sampai seorang anak kecil lewat dihadapan mereka, ia tersandung dan terjatuh bersama es krim yang dipegangnya.


Anak itu menangis dan merintih kesakitan. Senja menolong, sedangkan Langit berdiri karena kaget anak laki-laki itu jatuh. "Udah, udah. Diem ya Dek? Cep-cep," Senja yang kemudian membawa anak kecil itu duduk ke bangku.

__ADS_1


Langit kemudian pergi entah kemana. Senja yang melihat Langit pergi itupun sedih lalu kembali menatap anak kecil itu. "Sakit ya Dek?" tanyanya setelah melihat luka dilutut anak itu.


Senja meniup-niup luka anak itu dan membuat tangisnya surut. Kemudian Langit kembali untuk memberikan sebuah plester dan alkohol guna meredakan lukanya.


Senja tersenyum. "Gue lupa, dia terlalu peka," batinnya.


Senja dengan telaten mengobati luka anak kecil itu. Lalu mengajaknya bercerita. Langit lagi-lagi menghilang entah kemana.


"Kak? Kakak ganteng kemana lagi?"


Senja terkekeh. "Kakak gak tau. Kamu juga ganteng. Nama kamu siapa?"


"Radit." Itu membuat Senja tersenyum. Kemudian Langit kembali dengan membawa tiga es krim yang sama persis seperti yang anak kecil itu bawa.


Langit memberi satu es krim itu kepada Radit. Kemudian memberikannya kepada Senja. Namun seperti biasa, Senja hanya menatap es krim itu.


"Gue gak lupa," kata Langit.


"Ya terus?" tanya Senja heran. Lelaki itu tahu, namun masih saja menawarkan es krim.


"Oh, lo gak mau?" tanya Langit mengklaim gadis itu sudah benar-benar menolak pemberiannya.


"Ya iyalah," jawab Senja.


"Kak? Ini enak kok," ungkap Radit.


Langit dan Radit kemudian memakan es krim itu dan memamerkan betapa enaknya es krim itu.


"Es pisang ini enak Kak," ujar Radit, sukses membuat Senja menelan salivanya dan mengigit bawah bibirnya.


Es krim itu terbuat dari pisang yang di dinginkan di frezee dan dibaluri coklat cair dengan minyak. Biasanya terdapat pisang, melon dan buah-buahan lainnya. Disebut es kul-kul.


Senja menyambar es itu dari Langit lalu menyantapnya. "Ini enak."


Langit dan Radit tertawa melihat tingkah Senja yang seperti anak kecil dengan coklat yang berantakan di sekeliling bibir mungilnya.


Langit tersenyum, ia lagi-lagi berhasil membuat Senja tidak murung lagi.


****


"Loh Rif! Kita mau kemana?" tanya Lia kepada Arif.


"Kita makan dulu sebelum pulang," jawabnya sembari memutar kemudi.


Lia hanya mengangguk paham. Sesampainya di caffe, mereka duduk berhadapan. Lalu Arif memanggil salah satu pelayan dan memesan makanan serta minuman.


"Aku minum aja Rif, Mbak aku pesen hot vanilla latte," ujar Lia.


"Loh? Kamu gak mau makan?"


Lia menggelengkan kepala. "Kamu aja. Aku masih kenyang."


Arif hanya ber "oh" ria. Kemudian pelayan itu pergi. Arif memegang tangan Lia lembut, ia ingin menenangkan gadisnya itu. Senja adalah sahabat Lia yang paling baik dan sekarang gadis itu marah kepada kekasihnya itu. Lia terus melamun memikirkan masalahnya bersama Senja.


"Kalau kamu merasa bersalah, kamu telpon dan minta maaf ke dia."

__ADS_1


"Harus sekarang ya Rif?"


"Bebas mau kapan pun. Aku cuma mau kamu lepas dari beban itu."


Lia mengerti, Arif khawatir karena sedari tadi gadisnya hanya diam melamun. Lia mendengarkan dan kemudian menelpon sahabatnya itu.


"Halo?"


"Ha.. halo Li."


"Senja? Lo marah ya sama gue?" tanyanya menerka-nerka.


"Eng, enggak. Kata siapa?"


"Hm kata gue, ya abisnya lo gak mau ketemu gue tadi."


"Eum, malah gue pikir lo yang marah sama gue?"


"Ya enggaklah. Gue tau lo terpukul tadi."


Lia menatap pelayan yang datang menyerahkan pesanan mereka tadi. Arif mengangguk dan tersenyum kepada pelayan itu. "Makasih Mbak," ucap Lia dan Arif berbarengan.


"Hahaha." Suara tawa seorang laki-laki muncul dari ponsel Lia.


"Senja? Lo lagi sama cowok?" tanya Lia kebingungan.


"Eum.. i.. iya, ini gue lagi sama Langit. Sama Radit juga di taman."


"Langit?" Lia kaget. Arif menatap Lia yang mengucap nama teman yang sedari tadi dicarinya.


"Eum, udah dulu ya Sen? Ini gue lagi sama Arif, bye!" Lia langsung mematikan teleponnya sepihak.


"Langit lagi sama Senja?"


"Iya Rif."


"Yaudah, kalau gitu kamu minum dulu! Setelah itu pulang," kata Arif ini dibalas anggukan oleh Lia.


****


"Dah." Senja sembari melambaikan tangan kepada Radit yang dijemput ibundanya.


Tatapannya beralih pada lelaki yang duduk disampingnya. Mereka kembali dalam mode canggung. "Lo gak mau pulang?"


Langit berdiri, lalu berjalan meninggalkan Senja. Senja terpaku melihat kepergian Langit. Ia menunduk dan sedikit sakit karena pertanyaannya tak mendapat jawaban.


"Senja?!" teriak Langit yang berdiri di samping sepeda Senja.


Senja menegakan kepalanya. Terukir senyum diwajahnya, ia pun berlari menjumpai Langit yang ternyata hendak mengantarnya pulang.


"Lo unik," batin Senja sembari duduk di boncengan.


...****...


...🔱...

__ADS_1


__ADS_2