MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 9


__ADS_3

...


...


"Arlan?" batin Langit, karena lagi-lagi Arlan yang menantangnya.


Flashback ON


"Langit? Kamu mau gak?"


Langit hanya menggelengkan kepalanya. Perempuan itupun mengerucutkan bibirnya kesal karena tawarannya ditolak.


"Ayolah Lang, mau ya? Ini enak kok." ucap perempuan itu sembari bersiap menyuapi Langit sepotong bakso.


"Gak," singkat Langit datar sambil sibuk memainkan benda persegi panjang.


"Langit! Kamu bisa gak sih sedikit pengertian ke aku?" pekiknya sambil bangkit dan menyambar ponsel Langit.


"Keysa!" bentak Langit seraya menggeprakan meja.


Perempuan yang dipanggil Keysa itupun mulai berkaca-kaca, lalu mendengus, ia benar-benar kesal kepada Langit yang membentaknya tadi. "Bisa kan gak usah kasar sama pacar sendiri?!" Kemudian ia melempar ponsel Langit ke lantai.


Langit yang melihat ponselnya hancur itupun langsung menatap tajam ke arah Keysa. "Maaf key, kita lebih baik putus." Kemudian Langit meninggalkan Keysa begitu saja.


Flashback OFF


Arlan hanya terpaku beberapa langkah dari Langit. Ia kemudian memberitahu alasan mengapa dirinya meneror Langit.


"Keysa adalah adik gue, dan lo udah buat dia frustasi sekarang!" gertak Arlan maju satu langkah.


Ternyata Arlan adalah kakak kandung dari Keysa, mantan kekasih Langit. Sungguh Langit tak mengetahui hal itu, ia hanya tau jika Keysa sangat menyukai dirinya dan dengan terpaksa Langit mau menerima Keysa sebagai kekasihnya.


Lalu Langit ingat saat bagaimana Arlan memperlakukan sahabat kecilnya dulu. Langit ingat jika Arlan sering sekali mengganggu sahabat kecilnya itu sampai menangis.


"Bukannya lo juga pernah buat Sesey nangis?" ucapan Langit ini mengimpaskan semuanya.


Arlan terkekeh jahat. "Jadi karena cewek cupu itu lo sakitin ade gue?"


Semua yang ada di sana terdiam dan hanya mendengarkan, mereka tak tahu apa yang sedang Langit dan Arlan bahas. Tapi nampaknya Langit terlihat kesal ketika si pembuat onar itu menyebut kata cupu.


"Jangan pernah panggil Sesey cupu!" ujar Langit sembari melangkah satu langkah.


"Dia memang cupu! Pastinya ade gue jauh lebih baik dari cewek cengeng itu," kata Arlan sembari menaikan satu sudut bibirnya.


"Sialan!" Langit mengumpat, lalu melayangkan tinjuan ke wajah Arlan.


"******!" Kali ini Langit yang terkena baku hantam.

__ADS_1


"Keluar!" teriak Arlan.


Kata 'keluar' itu menghasilkan beberapa orang dari SMA Jakarta keluar dari tempat persembunyiannya dan itu membuat kelompok Langit terkepung. Karena pelajaran sedang berlangsung, sehingga dengan leluasa mereka berperang.


"Anj-."


****


Di kelas, Senja dan Lia tengah memikirkan keadaan Langit dan Arif. Sebab dari pihak sekolah masih hening soal tawuran itu. Tidak ada desas-desus tentang tawuran itu lagi. Bahkan guru BP sedang mengajar di kelas Senja.


"Permisi pak." Tiba-tiba datang Arkan yang hendak membawa pak Surya.


"Ada apa Arkan?" Pak Surya menghampiri Arkan, kemudian mereka berbincang-bincang di teras kelas.


"...."


Pertemuan Pak Surya dan Arkan semakin membuat jantung Senja dan Lia berdegub semakin kencang. Mereka sangat ingin tahu apa yang tengah dibicarakan oleh guru dan ketua OSIS itu. Mereka berdua yakin jika yang sedang Arkan dan pak Surya bicarakan adalah tentang tawuran.


"Duh, kenapa sih kak Arkan lo itu gak ngomong depan kita aja?" desus Lia kesal.


"Lia, lo bisa tenang gak? Dari tadi kaki lo geter."


Saat sedang seperti ini Senja malah membahas soal kaki Lia. "Ih kok lo malah bahas kaki gue?"


"Turunin dulu kaki lo!"


"Karena Bapak ada urusan, kalian di pulangkan lebih awal kerjakan tugas dari Bapak, besok dikumpulkan."


"Loh Pak? Emangnya ada apa?" tanya Senja penasaran.


Sedang cemas begini, yang membalas bukan Pak Surya melainkan Tiara si pentolan kelas tersebut.


"Heh, udahlah gak usah banyak tanya!" seru Tiara.


Senja berdecak dan menatap sinis ke arah Tiara, sungguh menyebalkan gadis itu. Dari awal Senja bertemu dengan Tiara, Senja tak menyukai gadis itu, sebab baginya senyum ramah kepada teman baru itu wajib. Namun Tiara tak pernah membalas senyuman yang diberikan Senja. Mungkin Tiara iri karena Senja lebih cantik dari dirinya.


"Senja? Mending sekarang kita cari kak Arkan," ucap Lia memberi solusi.


"Kak Arkan?" Senja mengernyitkan dahinya heran.


"I.. iya, kan lo juga pasti khawatir sama Langit?"


"Khawatir sama Langit, kok nyari kak Arkan?"


"Udah deh, jangan pura-pura gak ngerti," ujar Lia seraya menarik pergelangan tangan Senja.


"Li, gue belum beres ini." Sambil membereskan buku-bukunya ke dalam tas.

__ADS_1


"Yuk!"


Senja dan Lia pun menghampiri kelas Arkan, yaitu kelas 12 IPA 2. Namun nampaknya lelaki tampan itu tak ada di sana.


Sudah mendongak dan celingukan malu karena terdapat kakak kelasnya yang melihat. "Duh Senja. Kak Arkan kok gak ada ya?" tanya Lia.


"Masa?" Kini gantian Senja yang mendongak.


"Iya liat aja tuh, gak ada 'kan?"


Benar, Arkan tak ada dikelas. Senja dan Lia tengah menghembuskan nafas kasar dan saat hendak meninggalkan teras kelas Arkan, tiba tiba datang orang yang mereka cari.


"Kalian ngapain di sini?" tanya Arkan.


"Lah, ini yang kita cari!" Lia semringah khawatir ketika melihat Arkan. Rasanya ingin tahu, tapi tak ingin dengar apapun yang bisa menegangkan urat-uratnya.


"Nyari gue?" tanya Arkan menunjuk dirinya sendiri.


"Eh iya Kak, ini gue sama Lia mau tanya soal tadi, kakak ngapain sama pak Surya?" tanya Senja membuat Arkan bingung.


"Pak Surya, dia ada panggilan ke sekolah SMA negeri Jakarta.."


Senja dan Lia serius mendengarkan tutur kata Arkan.


Arkan melanjutkan kalimatnya. "... Langit dan teman-temannya buat keributan di sana."


Itu semakin membuat mereka khawatir. Senja dan Lia terpaku ketika Arkan menyelipkan 'keributan' di kalimatnya. Arkan ternyata belum selesai menjelaskan soal keadaan para pelaku tawuran itu.


"Ada sebagian dari mereka yang terluka, tapi kalian tenang aja, guru-guru sedang menangani masalah ini."


Bahu Senja dan Lia merosok, mereka tak habis pikir, Arkan harusnya berhenti bicara. Tadi 'keributan' dan sekarang 'terluka'. Batin Senja dan Lia meronta ingin pertanyaannya dijawab dengan realita.


****


Sudah ada para guru yang sebagian kecil dari sekolah SMA Tirta bangsa dan sebagian besar dari sekolah SMA negeri Jakarta. Tawuran yang terjadi cukup menguras tenaga guru-guru SMA negeri Jakarta, pasalnya sampai 1 jam lebih tawuran itu baru bisa dibubarkan.


"Kalian adalah penerus bangsa ini! Apa gunanya tawuran kalau pada akhirnya kalian sendiri yang merasakan sakit!" kepala sekolah SMA negeri Jakarta berujar kesal dan kecewa.


Kemudian kepala sekolah itu menatap Arlan tajam. Anak itu selalu mengikuti tawuran dan sudah lebih dari empat kasus tawuran yang terjadi karena Arlan memprovokasi teman-temannya.


"Dan kamu Arlan, kamu sudah sering membuat onar dan kali ini tidak ada toleransi lagi, kamu kami Drop Out dari sekolah ini!" Tanpa pertimbangan apapun kepala sekolah itu mengeluarkan Arlan.


Semua yang mendengar itu sangat kaget. Bagaimana tidak? Arlan di drop out di hadapan para murid bahkan guru dari sekolah lain. Arlan tak peduli dengan apa yang diucapkan kepala sekolah tersebut, ia bahkan tak menunjukkan rasa sedih ataupun kecewa.


Arlan malah menatap Langit dengan mengangkat satu sudut bibirnya. "Ini kesempatan untuk menghancurkan Lo, Langit," batin Arlan.


...****...

__ADS_1


...🔱...


__ADS_2