MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 20


__ADS_3

...


...


Senja memberanikan diri untuk menemui orang tersebut. Sudah sepuluh menit lamanya ia menunggu, namun orang itu tak kunjung datang. Ia duduk bersila menghadap timur menikmati terpaan angin dan musik yang terdengar melalui earphone yang bertengger indah di kedua telinganya. Membuatnya terpejam sesaat.


Lagu merdu itu terhenti, membuat mata Senja terbuka. Terdapat nafas lain di sisinya. Senja kaget, ia langsung melepas kedua earphonenya


"Maaf lo nunggu lama, ya?" tanya seseorang dengan senyumnya.


Senja menggeleng pelan, ia terlalu kagum dengan orang yang berada disampingnya itu. "Eng, enggak kok," jawab Senja gugup.


Senja tak tahu apa tujuan Arkan memintanya bertemu dengan cara begini. Biasanya jika memang Arkan butuh, maka ia akan menghubungi Senja atau menghampiri Senja di kelasnya. Tapi hari ini ia memilih cara berbeda untuk bertemu. Ada apa?


"Gue minta maaf soal almet lo. Maaf gue gak kembaliin langsung."


"Gak apa-apa. Hm, tapi kok bisa ada di lo sih kak?" Ya, lelaki yang di samping Senja saat ini adalah Arkan.


Arkan pun menceritakan bagaimana jas sekolah Senja bisa ada ditangannya.


Flashback ON


Keesokan harinya, setelah kejadian itu. Karena Arkan adalah ketua OSIS, ia diharuskan datang sepagi mungkin untuk memantau tugas anggota OSIS yang lain. Ia melihat mang Asep (penjaga sekolah) yang tengah membawa almamater milik murid yang ia temukan.


"Loh Mang, itu almet siapa?" tanya Arkan.


"Gak tau ini den. Ini ada di tempat sampah toilet."


"Boleh saya lihat?" Mang Asep pun memberikan almamater tersebut. Arkan menautkan alisnya setelah melihat name tag di almamater tersebut "Senja?" batin Arkan.


"Mang, saya tahu siapa yang punya almet ini. Makasih Mang," ucap Arkan seraya menepuk bahu mang Asep sekilas, lalu bergegas menyimpan almet itu ke dalam lokernya untuk kemudian di kirim ke loundry dan di cuci.


Flashback OFF


"Pantes aja gue gak nemu." Senja terkekeh pelan.


"Kenapa almet lo bisa di sana?"


Pertanyaan itu membuat Senja bingung, jawaban apa yang harus ia sampaikan kepada Arkan. Tak mungkin ia mengatakan itu adalah ulah Oppi. "Eum.. itu... anu kak.. ketinggalan, iya ketinggalan," kata Senja berbohong.


Arkan terkekeh pelan. Lucu dan menggemaskan tingkah laku gadis itu saat berbohong. Arkan tahu, itu bukan pernyataan yang benar.

__ADS_1


"Senja?"


Senja menoleh ke sebelah kanan. "Iya Kak?"


"Gue suka lo." Kalimat singkat itu membuat mata Senja terbelalak tak percaya.


"Maksud lo Kak?" Ia ingin memastikan ucapan Arkan adalah kesalahan.


"Gue mau lo jadi cewek gue."


Senja tertegun. Baru kali ini ia ditembak seorang lelaki tampan, most wanted pula, yang katanya ia berasal dari keluarga mentereng, yang pasti levelnya berbeda dengan Senja. Dan yang anehnya kenapa lelaki itu begitu buru-buru menyatakan perasaannya? Padahal kan mereka baru mengenal beberapa minggu yang lalu.


"Lo becanda 'kan Kak?"


Arkan menggeleng cepat. "Gue gak becanda, ini kali pertama gue nembak cewek.."


"Dan kali ini gue mohon sama lo, jangan pernah berpikir kita beda. Jangan melihat dari kelebihan, karena gue pun punya kekurangan."


Senja membulatkan matanya tak percaya, Arkan benar-benar meluluhkan hati Senja dalam waktu sekejap. Senja masih membeku, sampai akhirnya Arkan membuka kepangan Senja, membiarkan rambut panjang sepinggangnya itu tergerai.


"Lo cantik, lo unik.. gue suka sama lo." Sembari menyelipkan anak rambut Senja ke telinganya lalu menatap lekat mata hazel Senja.


Akhirnya sore itu menjadi sore paling bahagia untuk Arkan. Pasalnya ia menembak gadis yang disukainya sejak beberapa minggu lalu. Gadis itu memang sedikit ragu dan tak percaya apa yang dikatakan Arkan, namun akhirnya ia menerima Arkan.


Arkan memarkirkan motor ninja kesayangannya di bagasi, lalu menghempaskan kunci motornya ke udara dan menangkapnya lagi. Senyumnya tak henti-hentinya mengembang.


"Ehem.. ehem.." Seseorang berdeham bermaksud menyapa.


Arkan menoleh. Ia menggaruk tengkuknya dan sedikit menunduk, lalu menghampiri seseorang itu. "Eh Mama. Udah pulang Mah?" tanya Arkan.


Nyonya Arlita tersenyum. "Iya, tapi Papa kamu balik ke kantor lagi, masih ada kerjaan katanya."


Arkan mengangguk mengerti. "Kamu keliatan bahagia banget, ada apa? Cerita sama Mama dong."


Arkan menghela nafas, ia malu untuk menceritakan hal tersebut pada mamanya. "Eum.. Aku gak bisa cerita sekarang Mah. Tapi kapan-kapan aku akan bawa dia kesini."


"Dia? Dia siapa?"


Arkan tersenyum. "Nanti juga Mama tau, Arkan balik ke kamar dulu," ucapnya seraya mengecup pipi mama tirinya itu.


Nyonya Arlita tersenyum. Meskipun Arkan hanya anak tiri. Namun ia sangat menyayanginya, bahkan ia sudah menganggap Arkan seperti anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


Karena ia paham. Arkan memiliki nasib sama seperti anaknya, Langit. Arkan butuh seorang mama dan Langit butuh sosok Papa, meskipun Langit sampai saat ini belum bisa menerima Papa tirinya.


"Mama harap kamu bisa seperti Arkan yang menerima Mama, Lang," batinnya.


****


Langit dan teman-temannya sibuk memainkan ponsel mereka. Seperti biasa Arif dengan kedua kekasihnya, Falah dan Eri dengan game onlinenya. Sedangkan Langit, ia sibuk menggeser-geser menu. Terlalu gabut dia wkwk.


"VICTORY!" teriak Falah dan Eri.


Arif tak sengaja menjatuhkan ponselnya. "Gila lo berdua. Tau gue lagi ribut sama Oliv!" Sembari mengambil ponselnya lagi.


"Awas lo berdua kalau hp gue rusak! Gue sumpahin Defeat terus!" sambungnya.


Sementara teman-temannya ribut. Langit membuka status yang baru saja dikirim Risa, adiknya Senja. Terlihat foto selfie dua gadis cantik.


Senja dengan rambut yang tergerai? Ya, Langit tersenyum melihat itu. Nampak Risa merangkul kakaknya yang memegang setangkai bunga mawar. Namun senyumnya luntur ketika setelah membaca caption yang ditulis Risa.


Dia gak jomblo lagi😅


Apa maksudnya itu? Apa Senja baru saja jadian? Senja memiliki pacar? Seketika bahu Langit merosok, hatinya memanas, sesak dan perih. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Buat apa gue cemburu?" batinnya seraya menghela nafas kasar.


Langit bangkit. "Eh Lang, mau kemana?" tanya Arif.


"Pulang."


"Gue juga ah. Males kalau sama mereka. Ntar hp gue rusak lagi," kata Arif.


"Rusak? Emangnya kita ngapain?" tanya Falah.


Langit tak ingin mendengar pertengkaran mereka. Akhirnya ia duluan pulang ke rumahnya. Ia menatap malas mobil yang ada di sana, itu artinya Papa tirinya sudah kembali.


Langit menatap sendu kehangatan mereka dari kejauhan. Nampak Arkan duduk di tengah-tengah Mama dan Papa tirinya, mereka tertawa terbahak-bahak karena cerita mereka masing-masing.


Langit memilih untuk tidak masuk dan kembali ke rumah keduanya.


"Langit gak masalah selama Mama bahagia. Langit cuma takut Papa sedih di sana. Maafin Langit Mah," batin Langit lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


...****...


...🔱...

__ADS_1


__ADS_2