MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Part 21 : Bagaimana dengan Senja?


__ADS_3

...Aku suka merah, tapi putih juga indah....


...🔱...


"Luna, kamu cantik banget. Kalau anggun begini kan jadi lebih indah. Perempuan itu harus lembut, sayang." Mama dari Langit itu memuji penampilan Luna yang memang sudah persis seperti putri yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya selama ini.


Luna tersenyum canggung dengan kedua lesung pipinya yang dalam. "M-makasih Tante, Luna senang dengarnya."


Ya, Luna senang mendengar Mama dari Langit itu memanggilnya sayang. Entah apa, tapi ada kepuasan tersendiri di hatinya yang kini berbunga-bunga. Luna sampai tersenyum malu menanggapi ucapan Mama Langit tersebut. Sedangkan Langit hanya celingukan melihat ke seantero restoran yang terdapat orang-orang dengan cara makan yang rapi. Restoran itu sangat mewah dan berkelas makanya Luna sampai menenguk ludahnya hanya karena terkesima.


Perasaan Langit kala ini sangatlah kacau. Ia takut bertemu dengan Senja yang akan datang dengan Arkan nanti. Ya, Mama dari Langit tersebut sengaja mengajak Langit untuk makan malam bersama dengan Arkan. Bukan hanya itu, tapi beliau meminta agar Luna diundang juga.


"Tenang, Langit," batinnya.


Luna yang tengah mengobrol dengan Mamanya tersebut sampai menoleh ke arah Langit yang berkeringat deras, padahal di sana kan terdapat pendingin ruangan yang cukup dingin menusuk.


"Lang, lo kenapa?" tanya Luna. Mamanya juga melihat ke arah anak kandungnya itu.


"Gue izin ke toilet bentar."


Luna mengerti, mungkin Langit sedang menahan rasa cemburunya yang mendalam. Terlihat dari caranya menghela dan menghembuskan nafas. "Hm, boleh."


Langit menatap Mamanya. "Ma, Langit ke toilet dulu bentar."


"Iya, sayang."


Tanpa basa-basi lagi, cowok itupun menghampiri toilet untuk menetralkan rasa gugup dan takutnya. Baginya ini adalah sebuah kebohongan terbesar. Langit masih menyukai Senja, tapi ia harus berjalan dengan Luna yang notabenenya adalah orang baru yang tiba-tiba diaggap begitu saja.


"Langit anaknya memang begitu, dia agak pemalu dan sedikit dingin." Mamanya membuka percakapan lagi ketika Luna melihat ke arah Langit yang pergi.


"Iya Tante. Luna juga tahu, kok. Langit dingin sedingin es," ucap Luna.


"Tapi semenjak kenal Senja, sikapnya sedikit mencair. Dan semoga setelah kenal kamu, dia bisa berubah sedikit demi sedikit." Itu pinta bukan, sih?


"I-iya Tante."


"Langit begitu karena faktor masa lalu, padahal waktu sebelum ditinggal Papanya Langit adalah anak yang ceria dan banyak ngomong," jelas Mamanya sambil tersenyum getir. "Semoga kamu bisa memaklumi sikap anak Tante, ya Luna?"

__ADS_1


"Kalau kita udah sayang sama orang, seburuk apapun sikap orang itu kita bakal terima, kok Tante. Tapi Langit sama sekali gak buruk, malah dia baik sama Luna." Iya bukan, sih?


Mamanya itu mencapai jemari Luna yang mengepal di meja. Lalu ia tersenyum manis. "Itu karena kamu adalah orang pilihan Langit." Luna tertegun. Itu artinya ia adalah orang terpilih? Ah, Luna jadi terbawa dalam suasana keluarga ini.


Tetap saja, mau menjadi orang terpilih pun, dirinya masih harus tahu diri dan posisinya di sana. Hanya orang baru dan tidak tahu menahu soal rencana Langit. Luna punya satu hal yang perlu kalian ketahui.


Dia nyaman bersama dengan Langit.


****


"RISA!" teriak Senja di pekarangan rumah sakit. Ia tengah mencari adiknya yang tadi tak sengaja mendengar percakapan panas antara dirinya dan Yumi.


Senja sampai kelelahan dan kepalanya bertambah pusing karena menangis tadi. Kemana perginya Risa?


Senja kembali menangis lagi, ia tak segan-segan menangis dihadapan orang yang berlalu lalang. Mau berpura-pura sekuat apapun, ia tetaplah gadis kecil yang tidak bisa terpaksa dewasa ketika menghadapi masalah yang lebih besar dari pikirannya sendiri.


Senja terus celingukan mencari adik angkatnya itu. "Risa, kamu dimana?" lirihnya.


Sementara itu gadis yang dicari Senja sedang berlari menjauh dari rumah sakit. Perlahan kakinya lemas karena tidak bisa menahan rasa sesak di hatinya. Ada sesuatu yang terus bersarang di pikirannya, ada tanya yang harus dijawab secepatnya. Apa maksudnya anak pungut itu?


Risa terdiam di bawah lampu jalanan yang sepi dan terjatuh dengan tumpuan dua lututnya. Lalu menangis lagi dan lagi. "Jadi aku ini cuma anak pungut? Kenapa aku gak pernah tahu soal ini, hiks. Kenapa Bunda gak pernah bilang sama aku kalau aku ini bukan anaknya? Hiks."


Risa menyurutkan air matanya dan tiba-tiba Eri muncul di pikirannya. Karena hanya Eri yang bisa diandalkan, pikirnya.


Senja terus mencari dengan menyusuri jalan pulang. Ia sampai tak ingat pada siapapun, selain Risa. Namun ada satu nama yang selalu terlintas jikalau nama Risa disebut.


"Eri!" Ia begitu antusias ketika ingat siapa orang itu. Kemudian ia mengambil ponselnya, lalu mencoba menghubungi Eri.


Tak tahu mengapa, tapi Eri lebih ringan untuk dimintai tolong daripada meminta kepada Arkan maupun Langit. Senja menempelkan ponselnya ke telinga, tapi yang menjawab telponnya adalah suara operator perempuan yang lembut.


"Maaf, nomor yang anda hubungi sedang sibuk. Silahkan coba beberapa saat lagi."


Senja menjauhkan ponselnya dari telinganya secara kasar. Suara operator itu kenapa menyebalkan sekali?


Ia berdecak. "Kenapa sibuk? Gue harus gimana sekarang?"


Gimana gak sibuk, orang Eri lagi telponan sama Risa.

__ADS_1


****


Tangannya tak henti-hentinya memegang jari cantik dari seorang gadis. Sebuah sepatu berhak tinggi, jas berwarna hitam, anting berbentuk bunga, sepatu kulit yang menawan serta parfum yang segar terhirup oleh setiap pengunjung yang dilewatinya.


Sementara itu gadis yang memakai anting bentuk bunga hanya menunduk malu karena perlakuan cowok yang sedang memegang jari-jarinya. Namun setelahnya cowok itu tersentak setelah melihat satu meja yang berpenghuni dua wanita.


"Mama sama siapa?" batinnya.


"Arkan ... yang mana meja Mama lo?" tanya Sara. Ternyata Arkan menjemput Sara dulu setelah mengantar Mamanya tadi.


"Di sana, dekat jendela." Arkan menunjuk suatu meja yang posisinya memang menghadap jendela yang pemandangannya adalah lampu-lampu kota.


Sara melihat kemana mata Arkan tertuju. Sama halnya dengan Arkan, Sara bertanya siapa yang tengah bersama dengan Mamanya itu?


"Tapi semoga aja itu bukan Senja," batin Arkan sekali lagi.


"Ar, itu Tante sama siapa?" tanya Sara. "Lo undang orang lain selain gue?"


Arkan menggeleng cepat. "M-mungkin itu teman Mama yang gak sengaja ketemu."


Sara mengangguk, ada perasaan lega ketika mendengar penuturan Arkan. Karena dari cara berpakaiannya gadis itu sama anggunnya seperti dirinya. Takut kesaingan mungkin.


"Oh, gitu. Ya udah ayo kita ke sana!" Sara menarik Arkan yang masih terikat dengan tangannya.


Arkan memegangi Sara bukan karena perasaanya, tapi karena hak dari sepatu Sara lumayan tinggi. Jadi ia tak ingin terjadi sesuatu terhadap gadis itu.


Arkan hanya berdeham. Kemudian Sara dan Arkan menghampiri wanita paruh baya yang tengah bersama seorang gadis. Ada perasaan takut yang meliputi Arkan serta Sara. Semoga saja makan malam ini berlangsung baik-baik saja dan tiada hal yang merusak.


Saat berada beberapa meter lagi untuk sampai, mata Arkan menangkap sosok laki-laki yang tengah menatapnya dengan tatapan pelik.


"Langit?" gumam Arkan sembari berhenti berjalan.


Langit yang baru kembali dari toilet itu juga langsung menghentikan langkahnya sebab terkejut. Apalagi ketika pandangannya beralih pada tautan tangan yang dibuat Arkan dan Sara, itu semakin membuat Langit tidak nyaman.


Masih saling berpapasan dan bertatapan. Langit dengan tatapan tajam, sedangkan Arkan dengan tatapan takut.


Bagaimana dengan Senja?

__ADS_1


...~🔱~...


...Yuk komen lagi yuk😢😭...


__ADS_2