
...Teriak saja! Suaramu tetap tak akan bisa mengubah takdir....
...🔱...
Senja tak mengerti lagi pada dirinya sendiri. Apa sebenarnya raganya terbelah? Setengah untuk Arkan dan sebelahnya lagi untuk Langit? Ketika mentari terbit, Arkan yang datang dan saat mentari terbenam, Langit yang ada di sebelahnya.
Pagi ini dirinya dan Arkan hendak berangkat ke kampus. Ya, mereka satu kampus. Ini hari terakhir Senja menjalani masa OSPEK. Senja menggunakan kemeja polos berwarna putih dan rok diatas lutut berwarna hitam. Gadis itu selalu diantar Arkan menggunakan motor ninjanya. Tujuan mereka adalah Universitas Pegasus. Itu akan menjadi tempat bernaungnya mereka untuk beberapa tahun ke depan.
Senja merasakan desiran angin menerpa wajahnya. Masih dengan perasaan yang sama seperti dulu, Senja menikmati hari-harinya dengan Arkan meski sekarang ada Langit yang sikapnya sudah semakin membaik.
Mereka sampai di kampus itu.
"Makasih Kak," ucap Senja selalu setiap Arkan mengantarnya.
"Iya sayang. Oiya, kamu langsung ke ruangan aja. Kakak mau ke ruang BEM dulu."
Senja mengangguk cepat, Arkan sepertinya benar-benar diburu waktu. Senja pun merasa tak enak jika di antar Arkan terus menerus. Arkan mencapai pucuk rambut Senja. "Kakak duluan."
"Iya," ucap Senja. Arkan pun berlalu dengan lambaian tangan.
Senja berjalan sendirian ke ruangan. Ia berjalan cukup santai sembari celingukan melihat sekitar, sangat beruntung seorang gadis seperti Senja bisa masuk kampus itu. Kampus yang isinya adalah orang kaya semua. Senja lebih minder lagi ketika melihat kakak tingkatnya cantik-cantik, berbeda dengannya yang sangat sederhana.
Telinganya merasakan ujung jari seseorang. Senja langsung menoleh ke sumbernya.
"Hai Senja."
"Lang, ngagetin aja." Kemudian terkekeh.
Cowok itu adalah Langit. Ada yang rindu?
Ya, Langit menjadi mahasiswa baru juga di kampus Senja dan Arkan. Malah Senja dan Langit rencananya akan memilih fakultas yang sama.
"Dianter Arkan kesini?" tanya Langit.
"Iya, Lang. Baru aja sampai."
Langit mengangguk paham. "Tunggu deh," kata Senja, lalu keduanya berhenti berjalan.
Ternyata Langit (pura-pura) lupa menautkan satu kancing kemeja putihnya. Refleks tangan Senja membenarkan kesalahan kecil Langit itu. Jika sampai dibiarkan, Langit pasti mendapat masalah karena kurang peka terhadap sikap kedislipinan.
"Tanda pengenalnya mana?" tanya Senja.
"Ini." Langit memberikan tanda pengenalnya, kemudian Senja mengalungkannya di leher Langit.
"Jangan sampai lupa sama itu." Senja berbisik. "Nanti kak Yumi marah, lagi."
"Iya," ucap Langit sembari tersenyum.
Mereka pun melanjutkan perjalanannya. Langit sudah memprediksi itu, setidaknya Senja masih peduli akan Langit. Walaupun sekarang hatinya untuk orang lain. Langit hanya berharap Seseynya itu tetap bersamanya.
****
__ADS_1
Ruang auditorium. Ruang seluas itu akhirnya dipakai untuk melaksanakan hari terakhir OSPEK. Kalian tahu Yumi Vanessa? Dia adalah queen di kampus itu. Bahkan jabatannya sebagai ketua BEM semakin membuktikan bahwa Yumi memanglah ratu. Seorang most wonted seperti Arkan saja kalah hanya karena sentilannya. Makanya kekasih dari Senja itu jatuh sebagai anggota BEM saja kali ini.
Yumi nampak berbicara dengan luwesnya, bahkan microfon saja takjub sepertinya.
"Saya minta kalian buat puisi untuk mereka yang ada di depan ini, termasuk saya. Dan jangan lupa sertakan nama orang yang kalian maksud," ucap Yumi membuat semuanya memutar bola mata malas, menghela nafas dalam-dalam dan meneguk salivanya takut. "Kalian punya waktu 5 menit!" Ah, sial! Kenapa nenek sihir itu semakin menjadi-jadi. Andai saja Arkan yang menjadi ketua, pasti tugasnya tak terlalu berat dan semua mahasiswa tenang.
Mereka semua yang berada di depan termasuk Arkan hanya menggeleng-gelengkan kepala. Apa yang sedang direncanakan gadis itu? Mengapa tugas-tugas yang diberikannya melenceng? Bahkan Arkan tak ada kuasa untuk menahan segala kekeliruan yang ada.
Senja tak mengerti apa-apa. Ia hanya menatap pelik teman-teman yang ada di sekitarnya. Mengapa mereka semua begitu santai? Kemudian Senja beralih kepada Langit yang ada di barisan para laki-laki. Langit juga! Dia begitu hening dan tenang.
Langit merasa ada yang memperhatikan, ia pun menoleh dan mendapati Senja sedang menatapnya sendu. Senja takut? Lalu Langit menunjuk-nunjuk arloji yang dipakainya.Tidak ada waktu lagi! Kerjakan saja. Namun Senja tak mengerti.
Arkan melihat interaksi itu. Kenapa gadisnya tak meminta bantuan pada Arkan saja?
Yumi bertepuk tangan, kemudian berjalan maju dan menerobos jalan setapak yang memisahkan mahasiswa laki-laki dan perempuan yang duduk di bawah. Mahasiswa baru itu sudah tahu modus sang queen of campus tersebut, dia pasti akan menunjuk salah satu atau bahkan lebih dari mereka, lalu menyuruhnya membaca keras-keras puisinya di hadapan orang yang dituju.
Gadis itu mulai mendekat ke arah Senja, membuat jantungnya di penuhi dram. Langit dan Arkan juga ikut berdebar-debar. Jangan Senja lagi!
Yumi berhenti di hadapan Senja, "Gue mau lo baca puisi lo itu ke depan!"
Benar saja, Senja sudah sering mendapatkan tantangan dari Yumi. Untung saja ini hari terakhir, jadi semua ini akan berujung. Senja yang pemalu itu tak sama sekali menolak, tapi kertasnya saja masih kosong tanpa coretan. Bahkan Senja pernah bilang jika imajinasinya sudah berkarat.
"Kak maaf, tapi aku belum selesai." Senja memohon.
Yumi terkekeh, "Saya tanya kalian, kalian udah?" tanyanya pada semua mahasiswa baru dan bodohnya mereka mengatakan sudah.
"See, mereka udah!" Membuat Senja tertunduk lesu dan malu.
Padahal tujuh puluh persen belum, sisanya baru beberapa bait. Pasti.
Yumi berdecak, "IMPROV! Maju ke depan sekarang!" hardik Yumi sembari berjalan ke depan.
Senja melihat Arkan. Bantu Kak! Namun Arkan hanya menunduk tak bisa membantu gadisnya. Langit juga hanya diam melihat Senja yang hampir menangis. Kenapa Yumi hanya melakukan ini pada Senja? Dan sekarang apa yang harus Senja lakukan dengan tangan kosongnya itu?
Yumi tersenyum penuh arti, "Lo tunjuk siapa orang itu!" perintahnya.
Senja sudah mengira ini. Senja melihat Arkan sekilas, lalu melihat Langit yang sudah tidak nyaman. Langit tahu siapa yang akan dipilih Senja, orang itu pasti adalah kekasih Senja sendiri.
"Langit!" tunjuk Senja kepada Langit. Semuanya terkejut dan spontan memandang Langit.
Senja beralih kepada Arkan lagi, Arkan terlihat sedikit marah. Senja segera mengangguk untuk menenangkan Arkan. Jangan cemburu.
"Eh, gue maunya kating, bukan maba!" Yumi menegaskan.
Langit langsung bangkit dan maju ke depan. Gadis itu sepertinya sedang membutuhkan dirinya. Batin Langit sudah mengumpat tak jelas tentang Arkan. Oh, tidak. Lalu apa maksudnya ini? Langit menghentikan langkahnya, karena Arkan tiba-tiba menarik Senja dan menyembunyikan gadisnya itu di belakang punggungnya. Sepertinya Arkan sudah mulai berani memarahi Yumi, setelah dua hari berturut-turut ia diam melihat Senjanya di bentak.
"Cukup, Yum. Gue udah capek lihat lo nyiksa Senja, pacar gue!" terang Arkan.
Para mahasiswa baru itu ingin pingsan rasanya. Kak Arkan kejam! Padahal mereka datang ke kampus dengan euphoria dan kini semuanya seakan sia-sia. Gadis Senja itu kenapa bisa jadi kekasih Arkan?
"Wah, kapan mereka jadian?"
__ADS_1
"Siapa sih dia? Cantik enggak!" Ngaca dulu mending.
"Itu Kak Arkan baru nembak atau memang udah jadian?"
Seketika semua maba maupun anggota BEM langsung mengeluarkan desas-desus ketika Yumi tengah tercengang hebat. Yumi langsung menghentikan para mahasiswa yang tengah merumpi itu. "STOP! Gue gak minta kalian ngomong!" murka Yumi.
"Dan lo Arkan, siapa suruh lo nembak cewek ini disini?" tanya Yumi.
"Dia bener-bener pacar gue, kita udah bersama selama 3 tahun," jelas Arkan membuat Yumi semakin marah.
"Ck, gue gak peduli itu. Gue minta lo minggir dan biarin dia selesaiin urusannya sama gue!"
Arkan terkekeh meremehkan, "Urusan lo sama Senja apa? Senja bahkan gak salah apa-apa, terus apa yang buat lo gak suka sama Senja, hah?"
Arkan sudah cukup terpukul karena tidak memenangkan gelar "Ketua BEM" karena Yumi. Sebenarnya Yumi yang menyabotase semua perolehan suara, tapi teman baru Arkan tak cukup memiliki bukti nyata dan hanya melihat kecurangan Yumi lewat mata telanjangnya.
Yumi menampilkan wajah malasnya, "Apapun yang buat mata gue sakit, ya gue gak suka," ucapnya.
"Jangan terlalu percaya diri, dia bahkan bisa jauh lebih cantik daripada lo!" Arkan pun menarik pergelangan tangan Senja dan membawanya keluar ruangan itu.
Tak lupa, ia menabrak bahu gadis lampir itu, membuatnya menghentakkan kakinya kesal.
****
Senja diam, begitu juga Arkan. Apa yang harus Senja lakukan? Sebenarnya Senja ingin berterima kasih kepada Arkan karena sudah menyelamatkan dirinya dari Yumi.
"Kak?"
Arkan berdeham, ia terlihat frustrasi.
"Maafin aku."
Arkan mengangguk lemah.
"Kakak masih marah?" tanya Senja.
"Enggak."
"Terus kenapa diem aja?"
"Tadi.. Karena di sana ada Langit... kamu jadi gak butuh kakak lagi iya, kan?" tanya Arkan membuat Senja membulatkan matanya, ternyata Arkan ingin meributkan hal itu.
"Kak, jangan salah paham. Aku tadi manggil Langit karena memang aku gak mau semua orang tahu dulu soal hubungan kita."
"Oh, jadi kamu malu punya pacar kayak Kakak?"
Bukan, bukan begitu. Bagaimana bisa Senja malu memiliki Arkan yang hampir mendekati kata sempurna?
"Aku sama sekali gak pernah kepikiran sampai sana. Justru aku merasa Kakak yang bakalan malu karena punya pacar kayak aku. Kak Yumi aja bilang, bahwa mata dia sakit gara-gara lihat aku, kan?" tanya Senja polos.
Tak akan ada pendapat gila seperti itu. Arkan saja melihat Senja hampir setiap hari. Namun matanya tidak buta dan masih baik-baik saja. Karena melihat Senja saja sudah membuat semuanya terasa sangat lepas dan tenang.
__ADS_1
Arkan meraih tangan Senja dan tersenyum, "Itu karena Yumi iri sama kamu yang lebih cantik dari dia."
...~🔱~...