
...Untuk apa mengatakan sakit, sementara semesta saja tak ingin mendengar....
...🔱...
"RISA!" pekik Senja kemudian berlari untuk memeluk adik angkatnya yang dibawa oleh Eri.
Ternyata mereka berada di taman yang sama. Hanya saja mereka tak menyadari hal itu dan malah menikmati waktu berduaan. Terlebih lagi ada yang baru saja mencuri second kiss milik Senja. Itu adalah waktu yang ingin terulang lagi, pikir Langit. Senja tak menunjukkan wajah kesal atau kecewa sama sekali, malah ia semakin nyaman dengan Langit dan malah melupakan Arkan, pacarnya sendiri.
Risa yang diam di tempat itu langsung membalas pelukan hangat yang diberikan Senja. Senja langsung memegangi kedua pipi Risa dan mengecek sekujur tubuh gadis itu sebab takut ada luka yang hinggap. Namun sepertinya dia baik-baik saja.
Langit semakin kagum pada sahabat kecilnya itu. Terlihat dari cara Senja mengkhawatirkan Risa, padahal ia baru saja mengalami nasib yang buruk.
"Gak ada yang luka, kan?" tanya Senja. Risa menggeleng. "Aku gak apa-apa kok, Kak. Walaupun hati aku masih sedikit sakit kalau ingat ternyata aku bukan adik kandung Kakak."
Senja mengelus pipi Risa. "Dek, hal itu gak pernah penting buat dibahas. Meskipun kamu bukan dari rahim Bunda, tapi Kakak akan terus anggap kamu sebagai adik kandung."
Kali ini Risa yang memeluk Senja. "Makasih, Kak. Makasih banyak karena Bunda sama Kakak udah kasih aku kehidupan yang layak."
"Bahkan Bunda dan Kakak akan lakuin apapun untuk kamu, Ris. Karena kita ini keluarga."
Risa mengangguk senang.
"Mau ikutan peluk!" Eri merentangkan tangannya dan mendekat ke arah Risa. Namun Langit segera mencegahnya. "Ri, jangan ganggu mereka."
"Aelah sebentar aja, Lang!" Eri tetap kekeh ingin memeluk Risanya.
"Eh! Kak Eri jangan!" cegah Risa. "Nanti aja kalau udah gak ada Kak Senja sama Kak Langit." Risa menyengir.
Itu membuat Senja memukul lengan Risa. "Masih kecil, jangan main peluk-pelukan!"
"Eum.. kalau gitu gimana kalau main cium-ciuman kayak Kakak. Boleh, kan?" tanya Risa seperti tahu adegan Senja dan Langit tadi.
Senja dan Langit kaget bukan main. "Jadi kamu lihat t-tadi Kakak sama Langit.."
"Bukan cuma aku, tapi Kak Eri juga." Risa menyengir malu. "Iya kalian mesra banget. Jadi iri!" tambah Eri.
Senja maupun Langit saling tatap karena malu. Ternyata adegan tak terlupakan itu ditonton oleh pasangan dibawah umur seperti Risa dan Eri. Meskipun umur mereka sudah dewasa, tapi untuk umur mental sepertinya masih dangkal.
****
"Makasih makan malamnya, Tante." Sara tersenyum manis.
"Sama-sama, cantik. Nanti kapan-kapan main ke rumah, ya. Terus cobain kue Bunda."
__ADS_1
Arkan tersentak, sudah tak beres jika membicarakan soal itu. Nanti bisa-bisa Mamanya itu akan membawa-bawa nama Senja dan posisi gadis itu bagi Arkan.
"Kue Bunda?" tanya Sara.
"Iya, kue-kuenya enak, lho. Kamu harus coba pokoknya.."
"Ma! Eum ... Sara harus pulang sekarang. Mobil taxinya sebentar lagi mau datang," cegah Arkan.
"Hm, ini udah lima menit lagi sampai mobilnya," timpal Sara sembari melihat ponselnya.
Arkan tidak ada cara lagi untuk membuat Mamanya berhenti bertanya pada Sara. Mau bagaimana lagi, tunggu mobil yang dipesan Sara saja kalau begitu. Ya, Sara memesan taxi online karena sulit mendapatkan taxi ketika itu.
Tak lama akhirnya mobil itu datang dan hendak membawa Sara pulang. "Maaf ya Sar, gue gak bisa antar lo pulang." Sara memaklumi itu. Lagipula Arkan pasti memilih Mamanya daripada siapapun.
Sara mengangguk. "Gak apa-apa, lo bayarin ongkos ini aja gue udah senang kok."
Arkan mengangguk. "Ya udah jalan, Pak. Hati-hati di jalan."
"Baik, Mas."
"Makasih banyak, ya Ar!" Arkan tersenyum. Sara beralih ke Mamanya Arkan. "Dah Tante!" Dan kemudian melambaikan tangan.
Arkan dan Mamanya juga melambaikan tangan ke Sara. Sampai akhirnya gadis itu benar-benar pergi dari pandangan keduanya. Arkan lega sekarang, tapi sedari tadi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Mungkin ini gara-gara terus memikirkan Senja dan kehadiran Langit yang mengusik makan malamnya.
"Arkan? Ayo kita pulang!" ajak Mamanya.
Mamanya mengangguk. Meski usia Arkan sudah memasuki kepala dua, tapi Mamanya masih terlihat sangat muda dan cantik. Mereka bahkan pantas dianggap sebagai pasangan karena Mama Langit itu sangat awet muda. Ah, lupakan.
Sepanjang malam ini, Arkan terus mengingat kesalahannya pada Senja. Maafin, Kakak Senja, batinnya.
****
"LUNA!" teriak Ayahnya. Luna sudah tertidur pulas malam itu. Ia sampai terbangun lagi karena teriakan Ayahnya yang keras itu. "LUNA!"
Luna berdecak dan bangun dari tidurnya, lalu membuka pintu. "Ada apa, sih Yah?" tanya Luna.
Ayahnya itu langsung menarik tangan Luna yang masih memakai gaun abu-abu yang dibelikan Langit. "Ayo ikut Ayah!"
"Mau kemana, Yah?! Luna capek baru pulang!" tolaknya.
"Udah ikut aja!" Luna tetap dipaksa keluar rumah. Ibunya yang baru sampai itu langsung mencegah suaminya yang akan membawa anak gadisnya tersebut.
"Mau dibawa kemana Luna?" tanya Ibunya. Sedangkan Luna sangat takut terhadap tindakan Ayahnya itu.
__ADS_1
"Saya mau dia main di kelab! Lumayan uangnya!" Tangan Luna ditarik lagi oleh Ayahnya tersebut.
"Nggak! Bu, Luna gak mau!" Luna meminta agar Ibunya bisa menghentikan tindakan brutal yang dilakukan Ayahnya.
Kemudian Ibunya memukuli tangan suaminya itu. "Jangan pernah sentuh Luna!" Ibunya langsung menarik Luna yang sedang menangis itu kepelukannya. "Dia anak gadis saya satu-satunya. Kamu gak bisa lakuin itu!"
"Kenapa memangnya? Saya juga Ayahnya! Saya berhak atas dia!" ucap Ayahnya. "Ayo Luna!"
"Bu, Luna gak mau!" Gadis itu menangis semakin kencang karena Ayahnya berhasil membawa dirinya.
"Bu!"
****
Arkan membuka pintu kamarnya yang gelap, ia kemudian menyalakan lampu kamarnya karena harus membersihkan diri sebelum tidur dan istirahat. Lampu menyala dan mata Arkan langsung disuguhi sosok adik tirinya. "Puas makan malam sama cewek lain?" tanya Langit membuat Arkan mengernyit.
"Bukannya lo juga makan malam sama cewek lain?" tanya Arkan.
Langit terkekeh. "Luna mungkin cewek lain, tapi statusnya bukan selingkuhan."
"Sara juga bukan!" sangkal Arkan.
"Terus apa? Orang ketiga?"
Arkan hendak melayangkan tinjuan ke wajah Langit, tapi tangan Langit lebih sigap daripada apapun. Ia langsung mencegah tangan Arkan dan menghempaskannya. "Lo pengecut, Ar! Kalau lo sayang sama Senja, lo harusnya ajak dia makan malam dan kenalin cewek itu ke dia."
Arkan menggeleng. "Gue gak akan lakuin itu! Lo harusnya ngerti posisi gue, Lang. Sara punya perasaan sama gue, jadi gue gak akan biarin dia sakit hati."
"Lo gak akan biarin dia sakit hati? Lo pikir Senja gak sakit hati lo giniin?!" tanya Langit terang-terangan.
Arkan terdiam. "Lo lebih mentingin orang lain daripada Senja, pacar lo sendiri?!" tanya Langit dengan amarah yang naik satu tingkat.
"Sara bukan orang lain! Dia itu pahlawan buat gue!"
"Pahlawan? Terus apa kabar sama Senja yang bertahan sama lo selama tiga tahun?" tanya Langit.
"Dia bertahan karena dia cinta sama gue, Lang." Arkan menatap dalam Langit. "Lo harus terima itu!"
Langit menggeleng. "Gue gak akan pernah terima. Malah gue mau nyuruh lo buat lepasin Senja, gue mau milikin dia sepenuhnya."
"... Karena gue udah ambil first kissnya dia," sambung Langit.
Arkan terlihat sangat marah dengan mata yang mendelik sempurna serta tangan yang mengepal kuat. Brengsek.
__ADS_1
...~🔱~...
...Happy 100k Readers dan 80 part yeay🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉...