MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Part 17 : Putus?


__ADS_3

...Katakan saja padaku jika kau ingin putus, katakan saja padaku bahwa yang lalu bukanlah cinta. Aku tak memiliki nyali untuk mengucapkannya. Beri aku hadiah terakhirku. Sehingga aku tidak akan bisa lagi kembali padamu....


...~BTS...


...🔱...


"Jadi lo tolak Arkan cuma buat makan malam bareng gue?" tanya Ghea. "Lo bodoh banget sih Sar, Arkan udah ngajakin lo makan malam juga. Kenapa lo tolak?"


"Padahal gue tadi udah ngorbanin diri gue dan deket-deket sama Gilang supaya lo sama Arkan bisa bersatu lagi," sambung Ghea.


Namun tetap saja, Sara berbinar malam ini. "Eum.. maaf ya Ghe? Gue janji bakal traktir lo kok malam ini."


"Lagian lo berdua aneh, jalan cuma sebatas makan malam doang. Lakuin apa kek, kayak misalnya holiday bareng atau gimana kek gitu. Kan masih banyak hal yang bisa dilakuin."


Sara melengkungkan bibirnya ke bawah. "Gak apa-apa dong, biar beda dari yang lain. Kan jarang-jarang tuh ada cerita yang judulnya Dinner story."


"Ya kali cerita lo mau tentang dinner terus, ngaco," ejek Ghea.


"Ya mau gimana, ya? Gue sama dia emang bisanya cuma makan malam. Lo tahu kan sibuknya kita kayak apa? Boro-boro holiday."


"Ya, tapi sekarang itu lagi sedikit lega," ucap Ghea.


Sara memakan sesuatu dari piringnya. "Udah deh, mending sekarang makan dulu. Gue gak mau mikir yang jauh-jauh, mending gue pikirin gimana caranya tampil spesial di depan Mamanya Arkan nanti."


"Lo harus bantuin gue, Ghe. Temenin gue ke butik pokoknya!" pinta Sara.


"Baju lo kan tiga lemari, buat apa sih ke butik-butik?"


"Anter gue ke salon aja kalau gitu."


"Ck sama aja, Saraaa."


Sara tersenyum malu menanggapi ucapan Ghea. Ia sangat antusias, jadi ia harus tampil sempurna di depan Mamanya Arkan nanti.


****


Eri berjalan tergesa-gesa dan hendak menghampiri motornya setelah Risa memintanya untuk menjemput. Ia sudah beralibi untuk keluar sebentar pada Arif dan Falah. Sedangkan Langit, cowok itu belum datang ke markasnya.


Ketika Eri sedang sibuk menyalakan mesin motornya, kebetulan Langit datang. Sehingga Eri terpaksa menghentikan kegiatannya dulu dan menunggu Langit.


Langit memarkirkan motornya di samping motor Eri. "Ri? Lo mau kemana?" tanya Langit.


"Kebetulan lo datang, gue mau jemput Risa, Lang. Bunda sakit katanya."


Langit kaget, tapi dengan segera ia bersikap biasa lagi.


"Oh."


Eri terkejut, kenapa respon Langit hanya itu?


"Gue tahu lo dingin, tapi gak biasanya soal Senja lo respon biasa aja. Bunda sakit lho, Lang. Lo gak khawatir?"


"Pasti, gue khawatir Ri. Tapi lo duluan jenguk."


Ini aneh. "Biasanya cepet tanggap, tapi sekarang kenapa lo cuek?"


"Senja pasti udah kabarin Arkan."


"Tumben, biasanya lo gak peduli soal itu. Mau ada Arkan atau nggak, lo pasti ada buat Senja juga."


Eri, anak itu sudah jauh lebih baik.


"Jangan buat Risa nunggu," ucap Langit seraya menepuk bahu Eri.


"Lo yakin nih gak mau lihat Senja?"

__ADS_1


Langit mengangguk lemah.


"Ya udah kalau gitu, gue berangkat. Maaf, gue harus nemenin Risa sekarang."


"Santai aja."


Eri pun meninggalkan Langit dan markasnya. Sedangkan Langit sangat ingin di posisi Eri, pergi dengan santai dan menenangkan Senja. Namun sekarang ia harus bersikap biasa saja. Arkan pasti sudah tahu soal ini.


"Senja.. maaf."


****


Pagi-pagi Arkan sudah dengan tasnya, kemudian ia mengambil jaket yang menggantung di kursi, dirinya baru saja menikmati sarapan bersama keluarga kecilnya termasuk Langit.


Arkan terlihat buru-buru karena akan menjemput pacarnya, Senja Aprillia Farnanda di rumahnya. Langit seakan tahu jika Arkan mulai sigap terhadap Senja. Mama dan Papanya yang masih sarapan jadi bingung apa yang sebenarnya membuat putra sulungnya itu terburu-buru begitu?


"Sayang, gak dihabisin dulu sarapannya?" tanya Mamanya ketika Arkan sibuk memakai jaket.


Arkan menggeleng. "Arkan lagi buru-buru, Ma. Mau jemput Senja," katanya sembari memakai tasnya.


Langit bingung, jadi Arkan tak tahu soal Senja dan Bundanya?


"Lo gak akan temuin Senja di rumahnya," balas Langit. Arkan langsung tertegun.


"Maksud lo?"


Langit menatap Arkan dengan tatapan tajam. "Senja lagi di rumah sakit sekarang."


Arkan mendelik sempurna. "Rumah sakit? Senja sakit?"


Langit menggeleng. "Bukan Senja, tapi Bunda."


"Bunda? Kok Senja gak kabarin gue, ya?"


Arkan saja tidak dikabari, Langit juga. Cowok itu jadi takut kalau Senja benar-benar tak membutuhkan dirinya lagi dan juga Arkan. Kenapa ini begitu rumit? Padahal Langit juga sangat ingin peduli pada Senja lagi.


"Lang juga gak tahu, Ma."


"Lo juga gak tahu, Lang?" tanya Arkan. "Terus lo tahu dari siapa?"


"Eri."


"Aneh, kenapa Senja gak kabarin kita?" tanya Arkan. Harusnya dia interopeksi diri setelah tak pernah membalas pesan dari Senja.


"Ya udah, mending kalian tanya sama Risa," saran Mamanya.


"Iya, tanya kebenarannya dan di rumah sakit mana Bundanya dirawat," pinta Papanya.


"Iya, Pa." Arkan langsung menelpon Risa, beruntungnya tak lama Risa menjawab telponnya. Arkan lantas menanyakan keberadaan Senja dan Bundanya tersebut.


"Halo Kak."


"Halo Ris, katanya Bunda dirawat. Dirawat dimana?" tanya Arkan.


"Loh, Kakak tahu darimana?"


Arkan merasakan ada kejanggalan dari pertanyaan Risa. Seperti Arkan tidak dibolehkan tahu. "Dari Langit."


"Oh, jadi Kak Langit udah tahu. Iya Kak, Bunda dirawat di rumah sakit, tapi Kak Senja bilang Kakak gak boleh tahu soal ini. Memangnya Kakak punya masalah apa sih sama Kak Senja?"


"Eum.. Risa, itu bisa dibahas nanti. Kakak harus ketemu Senja sekarang. Bisa kamu kirim alamat sama ruangannya?"


"Hm, bisa Kak."


"Oke makasih, Risa. Kamu berangkat sama siapa ke sekolah?"

__ADS_1


"Aku sama Kak Eri, Kak."


"Ya udah, hati-hati."


Arkan menutup telponnya dan kemudian membuka pesan dari Risa. Untung saja secepat itu Risa mengirim alamatnya. Sehingga Arkan bisa langsung ke lokasi.


"Gimana?" tanya Mamanya.


"Arkan udah tahu, Ma. Kalau gitu Arkan berangkat dulu." Arkan hanya mencium kening Mamanya saja lalu berlalu.


Tiba-tiba Langit bangkit. "Ma, Pa, Lang udah selesai. Langit ke kamar dulu." Cowok itupun pergi dengan tatapan dingin. Ia tahu kalau Arkan sengaja berlagak buru-buru agar Langit tak tahu alamat rumah sakitnya. Namun Langit tidak bodoh, ia punya Eri.


****


Senja merasakan bahunya dipegang oleh orang lain, ia yang tadinya lemas dan duduk tertidur di samping kasur Bundanya yang tengah terlelap. Mata Senja cukup sembab dan lemah, dengan mata itu pula ia menangkap Arkan yang kemudian berjongkok di hadapan Senja.


"Kak Arkan?" lirih Senja.


"Hm."


Arkan pun membawa Senja ke kantin yang ada di rumah sakit. Karena Senja menggeleng ketika ditanya sudah sarapan apa belum. Arkan duduk di samping Senja yang masih menatap makanannya dan hanya diam. Dengan segera ia merebut piring itu dan hendak menyuapi Senja.


Namun Senja menghentikan tangan Arkan. "Gak usah, Kak. Lebih baik sekarang Kakak ke kampus dan kuliah."


"Iya kuliah, terus ninggalin kamu sendirian dalam keadaan kayak gini?" tanya Arkan tegas.


"Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik aja, kok," ucap Senja sembari menatap Arkan dengan tatapan sendu.


"Mata kamu.. mata kamu gak bisa bohong. Kakak mohon Senja, kamu punya Kakak. Kapanpun kamu butuh, Kakak pasti ada."


Senja memicing. "Ada? Terus kenapa setiap aku minta Kakak selalu menghindar? Kak, aku bahkan terus kirim Kakak pesan, aku juga telpon Kakak, tapi apa? Seakan-akan Kakak gak pernah anggap aku ada."


Hati Arkan perih seketika. Ia memang tidak pernah membalas pesan Senja, tapi ada alasan untuk itu. Kadang sibuk, kadang juga tidak sempat membuka ponsel lama-lama. Atau bahkan.. tidak enak ketika melihat kontak Senja berada di bawah kontak Sara.


"Kakak rasa kamu yang gak pernah anggap Kakak ada." Arkan menghela nafas dan menunduk. "Karena memang Langit kan yang selalu ada?"


Senja meluruhkan air matanya.


Arkan menatap Senja lagi. "Senja... Kakak itu cemburu, tapi kamu gak pernah tahu, kan?"


"Jadi itu alasan Kakak?" tanya Senja.


Arkan hanya diam.


"Kak, aku sama sekali gak tahu soal itu. Kenapa Kakak gak pernah bilang?" tanya Senja.


Arkan terkekeh kecil. "Seharusnya kalau kamu ada perasaan sama Kakak, tanpa Kakak kasih tahu pun kamu ngerti."


Senja tak mengerti apa yang Arkan katakan. Apa mungkin Arkan tengah mempertanyakan perasaan Senja terhadapnya? Senja hanya diam mencoba memahami.


"Dan.. kalau memang kamu gak punya perasaan sama Kakak. Kakak bisa mundur, kok."


Senja melebarkan matanya. Kak Arkan..


...~🔱~...


...Wah, gimana kalau Senja dan Arkan benar-benar putus? Apa ini kesempatan buat Langit?...


...tunggu aja ya hehe😂...


...Aku up dua part, karena aku aku gak up kemarin entah karena aku gak bisa up besok. Jadi aku minta maaf aja dulu, yaa🤗...


...Oh iya, kasih satu kata untuk Senja, Langit, Arkan, Sara dan Luna di komentar yaa....


...Jangan lupa juga Follow akunku dan dukung terus cerita ini. Share juga ke teman kalian kalau kalian suka sama cerita ini😘...

__ADS_1


...Terima Kasih🤗...


__ADS_2