MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 51


__ADS_3

...


...


Senja dan Lia menunggu di rooftop sekolah, mereka menunggu Arif dan teman-temannya datang. Terlebih lagi, Arif bilang bahwa hari ini adalah ulang tahun lelaki itu. Mereka ingin merencanakan sesuatu untuk Langit.


Senja memang berniat untuk melupakan Langit, namun disinilah waktu yang tepat untuk mengucap maaf dan terima kasih.


Senja dan Lia celingukan melihat ke bawah rooftop. Mobil lelaki dari Lia itu belum juga terlihat. Kemana sih?


"Coba lo telpon, Li!"


"Lo lupa? Arif kan yang bawa mobilnya. Nanti kalau cowok gue kecelakaan gimana?"


Betul juga. Ya sudah tunggu saja. Eh itu seperti mobil Arif, akhirnya dia datang juga.


"Itu mobil Arif!" Lia semringah ketika melihat mobil Arif berada dipekarangan sekolah.


Senja dan yang lainnya sengaja membolos di tanggal 30 Agustus biarkan ini menjadi moment paling menyenangkan untuk Langit. Cowok dingin itu pasti bahagia jika diberi hadiah berupa Senja. Mungkin Langit sekarang tengah bertanya-tanya kemana perginya teman-temannya?


"Ya?" panggil Arif.


"Rif, kok lama sih?"


"Macet, sayang."


Senja tak masalah. Namun untuk dua kunyuk lainnya itu adalah sebuah godaan berat. Lia tersenyum malu, Falah dan Eri dalam keadaan memprihatikan.


"Jangan mesra-mesraan depan jomblo!" tegas Falah.


"Iya, lo kan udah janji sama kita." Kali ini Eri membela jiwa kejombloannya.


"Oke, sorry deh."


Senja dan Lia langsung bergegas menjelaskan apa yang akan dikehendaki. Mereka akan menggunakan rooftop yang sudah dilukis nama Arkan dan Senja. Ya, tempat bermainnya Langit dan teman-temannya, juga tempat Langit mengasingkan diri.


Senja sudah meminta izin kekasihnya bahwa sepulang sekolah dirinya dan temannya akan melakukan kerja kelompok. Padahal kenyataannya ia akan membuat kejutan untuk Langit.


Ini yang disuka teman-teman Langit. Mereka ingin Langit dihargai dan sedikit diperhatikan.


"Oke, ayo kita mulai!"


Senja, Lia dan ketiga teman Langit itu pun bergegas membeli sesuatu untuk keperluan mengejutkan Langit. Mereka sudah diberi izin untuk keluar dari sekolah, alibinya adalah menjenguk teman yang baru saja kecelakaan, dan itu berhasil mendapat izin dari sekolah.


Arif dan yang lainnya nampak memilih-milih barang untuk dijadikan hadiah ulang tahun. Namun tidak dengan Senja, ia sudah membungkus khusus hadiah untuk Langit. Ia sudah memilihkan hadiah yang dibelinya belasan tahun lalu, yang tak sempat tersampaikan pada calon pemiliknya.


****


Persiapan sudah matang, sampai sore mereka menyiapkan semuanya. Memang hanya sebuah balon, kue, satu hadiah dari Arif dan teman-temannya dan sebuah alat untuk mengukir mural.

__ADS_1


"Langit dari tadi nelponin gue mulu nih," ujar Falah.


"Iya ke gue juga." Eri juga diteror oleh Langit.


Bagaimana tidak, Langit adalah seorang yang perhatian, jika salah satu apalagi ini semua temannya tak muncul satupun di kelas ia pasti akan mempertanyakan keberadaan mereka.


Jujur, jujur Senja cemburu pada mereka yang mendapatkan telepon dari Langit.


"Yaudah Rif, cepet suruh Langit kesini!" titah Senja.


Arif paham dan mematuhi perintah Senja. Seketika bangunan tua itu hening karena semua orang yang tadi berada di rooftop itu bersembunyi di tempat yang aman. Langit datang setelah Arif mengirimi pesan. Dengan wajah celingukan, ia mencari ke segala sudut dari rooftop itu. Tidak ada siapapun. Seketika ia duduk menunggu diujung rooftop itu.


(Bangunan itu persis seperti di MV BTS Butterfly)


Langit merasa hampa dan kosong. Ini hari ulang tahunnya, tapi kenapa semua orang malah pergi? Bahkan Mamanya tak menelpon atau sekedar mengiriminya pesan.


"Selamat ulang tahun, Langit," kata Senja yang mengejutkan Langit dari belakang.


Hanya Senja, sedangkan yang lainnya menunggu giliran. Langit langsung menoleh dan hendak meninggalkan Senja.


"Tunggu, Langit!" Senja menghentikan langkah Langit.


"Apa lagi? Bukannya lo mau gue lupain lo?" kata Langit dengan wajah datar dan dingin.


"Iya, lo boleh lakuin itu. Tapi gue pengen buat hari penting lo ini jadi sesuatu yang gak bakal lo lupain."


"Gue minta maaf sama lo, gue tahu gue salah. Gue salah dengan bilang kalau gue gak butuh lo, padahal semuanya berbanding terbalik sama apa yang gue bilang waktu itu. Sejujurnya gue butuh lo banget Langit. Gue bahkan merasa hari gue berbeda setelah lo menjauh."


"Meski lo dingin, tapi bagi gue lo menghangatkan." Senja meraih kedua tangan Langit.


Jika Arkan tahu, mungkin terjadi perang kedua bagi hubungan mereka.


"Lo cuek, tapi sebenarnya lo manis dan perhatian."


Langit tersentuh dan mulai menunjukkan ekspresi yang sedikit berbeda, yaitu berdesir malu. Benarkah seorang Langit sebaik itu?


"Dan karena lo.. gue bisa semangat lagi, masalah gue selalu hilang dengan sendirinya. Dan itu karena lo, lo udah baik sama gue, Lang. Makasih banyak untuk semuanya. Setelah ini, kalau pun lo mau lupain gue, gue bisa ngerti."


Kali ini Senja yang menjauh dari Langit dan memilih untuk melihat hijaunya dedaunan. Langit masih diam mematung. Kala itu seperti biasanya, senja hadir diantara birunya langit. Itu sangat bisa membawa mereka lebih menikmati hari.


"Gue cuma mau tahu satu hal. Apa yang bisa buat lo suka sama gue? Dan bersedia ada untuk gue setiap saat?" tanya Senja membalikan badannya ke belakang.


Langit menghampiri Senja dan berdiri di samping gadis itu. "Seperti yang pernah gue bilang, setiap kali gue lihat lo, gue ingat dia," kata Langit menghampiri Senja.


Gadis itu memandangi Langit. Siapa dia? Kata Lia, Senjalah yang menjadi cinta pertamanya. Benih dandelion masih berterbangan ke segala arah. Senja berinisiatif untuk membuat Langit melepas bebannya.


Senja mengambil sebuah dandelion dan memberikan beberapa untuk Langit. "Nih," kata Senja seraya memberikan bunga dandelion.


Langit hanya memandang dengan kebingungan. Untuk apa?

__ADS_1


"Kata Bunda, kalau rindu sama seseorang kita bisa tiup dandelion ini. Awalnya gue gak percaya saat bunda bilang berharaplah benih ini hinggap dan terbang dihadapan orang yang kita rindui. Tapi setelah gue coba, ini ampuh, ya walaupun gue gak tahu benih ini sampai ke mereka atau enggak," kata Senja. "Lo bisa coba!"


Langit mengangguk. Sungguh tidak masuk akal. Namun ia percaya jika dandelion itu bisa membuat seseorang merasa lebih baik. Ia berharap benih-benih itu terbang kepada orang yang Langit rindui. Senja melakukan hal yang sama, ia ikut menerbangkan dandelion itu di kala angin berhembus.


"1.. 2.. 3.."


Hufttt


Benih-benih itu berterbangan terbawa angin, Langit untuk Sesey dan Senja untuk Elang. Mereka rindu sosok-sosok itu.


Senja dan Langit tersenyum. Tak lama benih-benih itu berterbangan menerpa wajah dari Senja dan Langit. Kenapa mereka malah berkerubung di sini?


Kalian pasti tahu alasannya.


Senja dan Langit tertawa bahagia. Senja ingin tahu siapa yang sedang Langit rindui. Ia pun bertanya tanpa rasa takut cemburu.


"Langit?" panggil Senja. "Boleh gue tahu siapa dia yang lo maksud? Kenapa setiap kali lo lihat gue, lo selalu ingat dia?" tanya Senja.


Langit mengangguk. "Dia.. dia adalah anak yang selalu nangis, sering ketakutan dan dia selalu manggil gue dengan sebutan Elang," kata Langit dengan senyum kecutnya.


"Elang?" ulang Senja sembari berkaca-kaca. "Dia yang lo maksud itu.. apa nama dia Sesey?" tanya Senja sembari mengamati Langit dalam-dalam.


Langit terkejut ketika Senja mengatakan nama itu di hadapan Langit. Kenapa gadis ini tahu?


Langit mengangguk.


Setelah ini Senja memeluk Langit erat, tangisnya tak terbendung.


Jadi selama ini mereka bertatap muka setiap hari? Orang yang mereka cari ternyata berdiri di hadapan mereka? Oh, sungguh Tuhan merencanakannya dengan sangat indah.


Langit membalas pelukan Senja. Gadis itu masih menangis tersedu-sedu. "Sesey?" panggil Langit.


Senja pun melepas pelukannya dan menatap Langit tak percaya. Ia menangis bahagia kali ini. Langit mengusap air mata Senja. "Elang, Sesey minta maaf, hiks."


"Sesey minta maaf." Senja dengan tangisnya.


Kali ini Langit yang menarik Senja ke dalam pelukannya. Mereka berpikir untuk menjadi sahabat selamanya.


Masih dalam pelukan Langit, Senja memberi isyarat kepada teman-temannya yang ada di bawah dengan tepukan.


Seketika balon berterbangan dari bawah.


"Selamat ulang tahun, Elang," ucap Senja sembari tersenyum bahagia.


"SELAMAT ULANG TAHUN LANGIT!!!" teriak Lia, Arif, Falah dan Eri. "Yeaaay!" Mereka tertawa bahagia.


Senja, Langit, Lia dan ketiga teman lainnya menikmati hari ulang tahun Langit. Senja mengukir nama Langit diatas ukiran nama Senja. Mereka sangat bahagia sore itu, terlebih lagi wajah Eri dihias krim sekali lagi.


Dan untuk Langit, ia mendapat sebuah mainan untuk anak laki-laki dari Senja, itu robot atau semacamnya. Meski begitu, asalkan itu dari sahabat kecil yang baru saja bertemu besar dengannya. Senja berinisiatif memberikan hadiah itu untuk Langit karena Senja menganggap itu adalah benda berarti untuknya.

__ADS_1


...****...


...🔱...


__ADS_2