MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 16


__ADS_3

...


...


Suara riuh merdu dari burung menghias pagi Senja yang sejuk. Ia sengaja membawa sepeda kesayangannya ke sekolah untuk menghemat pengeluaran. Meskipun itu akan menjadi bahan ejekan teman-teman di sekolahnya.


"Cuma murid kelas bawah yang naik sepeda ke sekolah ini."


"Haha dia gak malu apa bawa sepeda?"


"Disini kan cuma ada tempat parkir mobil dan motor aja. Parkir sepeda dimana ya? Haha."


Namun baginya, itu sudah biasa. Ia bahkan tak menginginkan sekolah di tempat mahal itu, hanya saja bundanya yang menginginkan Senja untuk bersekolah disana. Alasannya, karena sekolah itu adalah Sekolah Menengah Atas terdekat.


Senja menghela nafas jengah, kemudian seseorang datang merangkul bahu Senja. "DOR!" Lia mengangetkan.


"Ih Lia, lo ngagetin tau gak?!" Senja dengan oktaf yang rendah.


"Hm, iya maaf deh, maaf. Kenapa sih? Masih pagi udah ditekuk aja tuh muka," kata Lia yang melihat Senja sangat malu.


"Li? Apa salah ya bawa sepeda ke sekolah?"


Lia terkekeh, "Ya enggak lah. Malah itu bagus, sepeda kan kendaraan bebas polusi."


Oh ini yang Senja suka dari gadis itu. Ia hanya butuh teman seperti Lia. Meski ia tahu, levelnya dengan Lia sangat berbeda, namun Lia tak pernah memilih-milih dalam berteman. "Eum.. makasih Lia. Lo emang temen paling the best," puji Senja sembari merangkul Lia.


"The best kan? Bukan the beast?"


Senja tertawa. "Ya kalau lo mau, kenapa enggak?" tanya Senja yang langsung dapat tatapan sinis dari Lia.


"Ya masa sahabatku yang manis ini the beast?" sambil mencubit pipi Lia gemas.


Lia meringis. "Ih lo ya? Kenapa sih suka banget cubit-cubit gue?" kesal Lia sambil memegang kedua pipinya.


"Abisnya lo itu..." kalimat Senja terpotong karena datang seseorang yang tiba tiba ingin bertanya.


"Ehem."


"Eh iya, ada apa?" Senja merespon pertanyaan lelaki itu, sepertinya dia anak baru.


"Kantor?" tanya orang itu singkat, padat dan jelas.


"Spj banget sih," batin Senja dan Lia.


"Dari sini lo lurus udah itu belok kanan, kantor adanya disebelah kanan," kata Senja mengarahkan.

__ADS_1


Lelaki itu mengangguk mengerti atas ucapan Senja, tanpa berucap terima kasih. Ia pun meninggalkan Senja dan Lia.


"Apa? Udah gitu doang? Gak makasih atau ngasih uang dulu gitu?" dumel Lia.


Senja menggelengkan kepala. Ia juga sedikit kecewa kepada lelaki itu. "Udahlah. Yuk ke kelas?" Lalu menarik lengan Lia dan menggandengnya sampai membawa kekesalannya ke kelas. "Udah lah Li, ngapain sih dipikirin!" kata Senja sembari memainkan ponselnya.


"Ya abisnya, tuh cowok udah nanya spj, gak makasih pula. Kenapa sih cowok-cowok di sini ganteng tapi gak punya etika!" emosinya masih mendidih.


"Lah? Berarti Arif juga dong?" tanya Senja yang menyekak Lia.


Lia menyengir. "Ya tapi.. Arif itu beda."


Senja lagi lagi menggelengkan kepala. Ia memaklumi sahabatnya yang dalam mode kasmaran. "Ya ya ya, terserah lo."


"Eh iya, hari ini kan kita ada eskul." Lia mengingatkan.


"Hm, emang ada. Basket, kan?" tanya Senja.


Lia mengangguk mengiyakan. Ini hari pertama mereka mengikuti ekstrakuliler basket, maka dari itu Lia begitu antusias ketika mengingatkan Senja bahwa hari ini ada eskul. Ketika sedang membicarakan tentang eskul, tak lama guru datang untuk memulai pelajaran pertama.


****


Keadaan janggal justru di rasakan oleh ketiga teman Langit. Mereka merasa ada yang kurang sebab Langit tak bersama mereka saat ini. Karena lelaki itu dirawat di rumah sakit.


"Sepi ya gak ada Langit?" tanya Falah kepada Arif dan Eri.


Mereka dalam satu meja, tapi terasa sepi. Terdapat kejanggalan diantara mereka. Falah dan Arif saling tatap, mereka seakan berbagi rasa bingung karena Eri diam saja semenjak jam pertama sampai waktu istirahat.


"Eh Ri. Kok lo diem aja?" tanya Falah.


Namun Eri masih bungkam. "Udah Ri. Kita berdoa aja buat Langit," ucap Arif sambil memegang pundak Eri.


"Berdoa buat Langit?" tanya seseorang yang tak sengaja mendengar perkataan Arif.


"Eh.. i.. iyaa. Kita berdoa buat Langit," ujar Arif salah tingkah.


"Emang dia kenapa?" tanya Senja yang duduk disebelah Falah dan Lia duduk disebelah Arif.


Kali ini Eri berbicara, "Langit kece.. mph.. mph.." Arif membekap mulut Eri.


Anak itu, giliran tak di haruskan bicara, ia malah bersuara. Hampir saja keceplosan untung Arif dengan sigap membekap mulut Eri yang bicaranya selalu tidak menyambung.


Arif menyegir ke arah Senja. "Maksud dia.. Langit kece, iya kece." Kemudian melepas bekapannya.


Sebenarnya Arif sudah gatal ingin memberitahu gadis itu, tapi Arkan melarang ketiganya untuk tidak memberitahu keadaan Langit yang sebenarnya kepada siapapun.

__ADS_1


Senja menyerngit. "Kalian kenapa sih? Terus berdoa itu maksudnya apa?"


"Iya, emang Langit kenapa sih?" tanya Lia yang membuat Arif dan Falah frustasi, sedangkan Eri kembali dalam mode diam saat sedang sedih.


Falah menatap Arif, membiarkan Arif yang menjelaskan "Langit.. dia.. " Seseorang datang menyapa Senja.


"Hai Senja?" sapa orang itu membuat Arif dan Falah lega, lalu membuang muka.


"Eh, hai kak," balasnya.


"Makan bareng mau?" tanya Arkan.


Senja menoleh kepada teman-temannya. "Li, lo sama Arif aja ya? Gue.."


"Hm, iya santai aja. Udah sana!" Arif yang menjawab.


Mereka tak menyukai kedatangan Arkan, karena bisa-bisanya ia mengajak Senja makan, sedangkan Langit terbaring di rumah sakit sendirian.


Setelah mengantar Lia ke kelas, Arif, Falah dan Eri berencana untuk bolos sekolah dan menemui Langit.


Mereka pun membolos lewat belakang sekolah. Menaiki tembok yang sedikit tinggi, Arif menghentikan taxi yang kebetulan lewat dan bergegas menemui Langit dirumah sakit.


Sesampainya di kamar yang menjadi kamar rawat Langit mereka bertiga malah kebingungan, sebab temannya tidak ada di sana.


"Loh? Langit mana?" tanya Arif kepada kasur rumah sakit.


Falah mengecek toilet. Namun Langit masih tidak ada. Eri semakin frustasi, ia sangat khawatir kepada Langit. "Ri? Kok lo diem aja sih? Bantu cari napa!" tanya Falah.


"A... apa Langit ada di kamar jenazah?" Pendapat Eri ngawur, namun berhasil membuat Arif dan Falah cemas.


"Ri, jadi lo diem karena mikirin itu?" omel Arif.


Falah menghentikan perdebatan. "Ck, udah Rif! Mending kita cari keluar!"


Mereka pun pergi keluar untuk mencari Langit. Namun nampaknya lelaki itu benar-benar tidak ada di lingkungan rumah sakit lagi. Arif pun menghubungi Langit.


"Gue coba telpon," ujar Arif, ia pun langsung menempelkan ponselnya di telinga.


"Gimana?"


"Nomornya gak aktif."


Itu semakin membuat mereka frustasi, pasalnya Langit semalam belum sadar dari pingsannya. Bisa dikatakan ia mengalami cedera serius, maka dari itu, ketiganya khawatir bukan main ketika menjumpai kasur tempat berbaringnya Langit kosong.


...****...

__ADS_1


...🔱...


__ADS_2