
...
...
Taman Sakura menjadi sasaran mereka. Taman yang terletak di Cianjur jawa barat ini menjadi salah satu destinasi yang menarik bagi warga negara Indonesia. Lantaran pohon dengan bunga berwarna pink yang identik dengan negara terbit ini bermekaran sekitar dua kali setahun di Indonesia.
Mengingat ini bulan mei, apakah bunga sakura itu mekar dibulan ini? Entahlah, Arkan dan Risa tak mencari informasi sampai ke sana.
"Terima kasih Pak," ujar Arkan sesudah membayar untuk pembelian 4 tiket.
Kebun Raya itu menyajikan beberapa tanaman populer, selain pohon sakura, kebun itu juga dipenuhi objek yang tak kalah menarik. Terdapat; pohon-pohon raksasa berusia tua, beberapa tanaman langka, taman mancur, dan rumah kaca.
"Gimana kalau kita ke padang rumput dulu?" usul Risa.
"Enggak, kita langsung lihat pohon sakura aja." Kali ini Senja berpendapat.
"Loh, gak bisa dong Kak. Gak kejutan kalau gitu."
"Tapi, kan Kakak gak sabar mau lihat pohon sakura," rengek Senja.
Langit tak bisa berbuat apa-apa selain memutar bola matanya. Mengapa wanita-wanita ini menjungkar balikkan pemikirannya? Kadang mereka menarik, kadang pula menyebalkan. Bukankah mereka hanya tinggal menyusuri jalan, toh nanti pun mereka akan melihat objek yang mereka inginkan.
"Rumah kaca," cetus Langit dan Arkan.
"... G-gimana?" Arkan meneruskan kalimatnya yang terpotong.
Senja dan Risa melongo, kemudian saling tatap. "Ide bagus!" tutur keduanya kompak, kemudian disusul tawa merdu.
Mereka pun sepakat untuk melihat-lihat rumah kaca tersebut. Arkan merangkul Senja? Oh kiri dan kanan terlihat pemandangan yang indah, namun mengapa pemandangan dihadapannya ini sangat memuakkan?
Risa yang sedari tadi melihat-lihat sekitar itu kaget ketika sesuatu menyela jari-jarinya. Ia tersipu ketika Langit mengikat jemarinya dengan jemari miliknya.
Sampailah mereka di rumah kaca, kebun raya. Sedikit minimalis bentukan rumah tersebut. Seperti namanya rumah kaca, maka rumah tersebut di dominasi oleh benda mudah pecah.
"Kak Senja ayo dong foto disini!" seru Risa.
Ya, karena kameranya sudah kembali, maka Senja dengan bebas memotret objek yang menarik mata dan hati. "Oke!"
"Risa kamu di tengah, Kak Arkan dan Langit disebelahnya," ujar Senja mengatur posisi ketiga orang terdekatnya itu.
Cekrek.
"Oke bagus, sekali lagi. Satu ... dua ... tiga!" Cekrek.
"Langit lo bisa senyum, kan?" tanya Senja sedikit berintonasi tinggi.
__ADS_1
Bukannya mengikuti arahan Senja, ia malah menghampiri gadis itu dan menyambar kamera yang dipegangnya. "Loh ..."
"Sana!" titah Langit.
"Risa, sini!" teriak Langit. Risa pun berlari ke arah Langit dan berdiri di sampingnya.
Senja tersenyum malu ketika Langit menujukkan jari-jarinya dengan susunan angka satu sampai tiga. Arkan mendekatkan diri kepada Senja. Sungguh pasangan yang serasi.
Cekrek.
"M-mau gantian?" tanya Senja sedikit gugup.
Risa dan Langit saling bertanya melalui tatapan. Jujur pertanyaan Kakaknya itu membuat hati Risa dipenuhi bunga sakura yang bermekaran. Langit kasihan melihat Risa yang selalu tersenyum terpaksa, maka dari itu ia mengiyakan pertanyaan Senja.
Langit tersenyum kali ini? Apa mungkin itu gegara foto yang awal tadi terdapat Arkan?
Mereka tak lupa untuk mengambil foto bersama, dengan menggunakan kamera ponsel, akhirnya mereka ber wefie ria. Cekrek.
"Kemana lagi nih?" tanya Arkan.
"Kak, ayolah padang rumput dulu!" ajak Risa.
Risa tahu pasti padang itu hanyalah terdapat rumput-rumput hijau. Namun itu tujuannya, karena hanya terdapat rumput, maka itu objek yang harus di dahulukan. Bukankah mengurutan selalu dari yang terendah sampai yang tertinggi?
"Hm, yaudah ayo!" pasrah Arkan.
"Kak fotoin aku di sini!" pinta Risa kepada Senja.
"Hm, iya iya!"
Sementara gadis-gadis itu asyik berfoto. Langit dan Arkan sibuk memandang. "Risa perempuan yang manis." Kalimat itu bukan berasal dari Langit, melainkan dari Arkan.
Langit melirik ke arah Arkan. Matanya menyipit karena sinar mentari yang hendak terik. "Dan Senja perempuan yang unik." Kali ini Langit memuji Senja.
Tanpa mereka sadari, mereka tengah memuji silang. Seharusnya secara logika, Arkan memuji Senja dan Langit memuji Risa. Jika secara perasaan, mungkin Langit menang, karena ia benar.
"Lo sama Risa ada tanggal khusus?"
"Gue sama dia gak pacaran!" pungkas Langit.
Arkan hanya ber oh ria. Lalu ia ingat sesuatu, Mamanya punya permintaan yang harus dikabulkan.
"Lang, Mama minta kita foto berdua." Arkan memohon untuk mewakili permintaan Mamanya.
Langit mengangguk pelan. "Oke ini untuk Mama."
__ADS_1
Cekrek.
Meskipun mereka foto dalam jarak yang kurang dekat. Namun tetap saja mereka berdua menawan. Arkan tersenyum keren, sedangkan Langit hanya melengkungkan sedikit bibirnya.
"Cie ... ada yang habis foto nih!" goda Risa.
Arkan hanya menggaruk tengkuknya, dan Langit membuang muka sembari malu-malu.
"Eh, kalian udah foto-foto disini?" tanya Arkan mengalihkan dunia Senja dan Risa dari adegan tadi.
"Udahlah. Ini kita lagi merhatiin yang habis foto." Lagi-lagi Risa menggoda keduanya.
Arkan terkekeh, tak berhasil upayanya itu. "Udah puas di sini, kan? Mau kemana lagi?" tanya Arkan.
Loh? Kenapa Senja tak bertanya seperti Risa? Senja terlalu syok dengan pemandangan indah tadi. Seorang Arkan dan Langit mengambil foto bersama? Katakan ini mimpi. Rasanya Senja ingin menampar pipinya sendiri.
"Lihat tanaman langka dulu yuk, Kak?" Senja malah melayangkan tanya untuk perjalanan mereka selanjutnya.
Senja ingin melihat tanaman langka yang ada, sebab ia adalah siswi jurusan IPA, begitupun kekasihnya. Tentu saja mereka tertarik dengan objek yang satu ini.
Dalam perjalanan rupanya Arkan tengah sibuk membalas pesan dari mamanya. Ia tak henti-hentinya tersenyum membaca pesan yang dikirim mama tirinya itu. Ia sangat ingin menunjukkan ruang chatnya itu kepada Langit.
Namun ini bukanlah saat yang tepat. Ia maupun Langit takut jikalau Senja dan Risa curiga. Mengapa Arkan dan Langit begitu akrab, dalam tanda kutip akrab bukan seperti kakak dan adik kelas.
Mereka pun memasuki ruangan transparan itu. Ruangan itu dipenuhi tanaman berduri, mengapa banyak sekali kaktus?
"Kok banyak banget kaktus, ya, Kak?" tanya Senja.
"Ya, karena kaktus kan tanaman langka," tutur Arkan.
Senja mengangguk-angguk paham. Ia membaca keterangan yang tertera di masing-masing tanaman. Terdapat bentuk yang sedikit menarik perhatian Senja. "Kaktus yang ini bentuknya hati," ujarnya.
Dan benar kaktus itu berbentuk hati.
"Bagus, ya?" tanya Arkan.
"Iya Kak."
"Yaudah foto dong!" seru Arkan.
Senja pun mengarahkan kameranya ke arah kaktus berbentuk hati. Cukup aneh memang. Mengapa kaktus itu berbentuk seperti itu? Lebih anehnya lagi, kemana perginya kedua anak berwajah datar dan imut?
Risa bahkan tak tertarik sedikitpun untuk melihat-lihat tanaman langka itu. Sedang Langit sama sekali tak peduli, meskipun itu suatu pengetahuan, namun tetap saja itu bukanlah fashionnya. Anak IPS hanya tahu soal ekonomi, geografi dan pengetahuan tentang sosial.
...****...
__ADS_1
...🔱...