MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Part 15 : Senja hilang


__ADS_3

...Aku tahu, aku ini membosankan....


...🔱...


Sepanjang perjalanan, Senja memandangi jendela dan sesekali melirik ponselnya. Belum ada jawaban atau respon sama sekali dari Arkan. Sedang sibuk menggulir pesan-pesannya dengan Arkan, tiba-tiba centang dari Arkan berubah menjadi dua. Senja tegap dan berharap Arkan segera membalas pesannya.


1 menit.


2 menit.


3 menit.


Arkan memang tidak aktif, tapi itu membuat Senja semakin frustrasi. Mungkinkah ada perbuatan atau kata-kata yang membuat Arkan sakit hati? Langit juga, biasanya cowok itu tidak pernah marah sejauh ini.


Senja melihat semua orang membuat status di instagram termasuk Langit. Di dalam fotonya, Langit memotret lengan perempuan, itu sepertinya lengan Luna. Karena di sana tertuliskan keterangan emoji berbentuk bulan.


Walau hanya begitu, itu adalah postingan pertama seorang Langit. "Lang.. apa sefatal itu kesalahan yang aku buat sampai kamu marah kayak gini?" lirihnya, sembari memejamkan matanya yang sudah bertumpuk air mata.


****


"Huh! Seru banget!" seru Luna. "Langit! Lo gak mau turun?!" tanya Luna.


Langit tak tahu makhluk yang sedang bersamanya ini berasal dari mana, yang jelas bumi bukan tempat yang tepat untuk dia hidup. Mungkin dia berasal dari bulan.


"Gue gak gila!" pekik Langit.


Langit memaklumi gadis dari bulan itu, sepertinya dia memang baru pertama kali berenang di kolam renang. "Oh, jadi menurut lo gue gila gitu?!" balas Luna.


Langit hanya diam dan mengedikkan bahunya.


Tak puas dengan pertanyaannya. "Karena lo udah ngira gue gila, nih buat lo!" Akhirnya Luna menyipratkan air ke arah Langit. Tidak main-main, cipratannya cukup dahsyat. Langit yang hanya dilindungi oleh kedua tangannya sampai kewalahan.


"Eh, udah!" Langit sedikit terhibur, ia tak sama sekali marah dan malah senang. "Lun!"


Luna tertawa puas, sepertinya itu membuat sisi es dari Langit sedikit mencair. Bibir laki-laki itu terangkat untuk tersenyum bahkan tertawa. "Ck, gue jadi basah, kan?" geram Langit.


"Biarin!" Luna menjulurkan lidahnya tanda meledek.


"Bentar gue masuk dulu," ucap Langit, kemudian ia masuk dalam rumahnya.


"Eh, Langit! Mau kemana?" teriak Luna. "Bentar!"


Luna tahu ini adalah hal yang membuat dirinya sangat jahat terhadap teman barunya, yaitu Senja. Namun Luna punya alasan, ia akan membuat Langit dan Senja bersatu lagi. Karena langit tempat senja, dan juga bulan.


Benaknya sedikit error sepertinya jika sampai berpikiran begitu.


****


Arkan melihat Langit sedang mengambil minuman di lemari es, cowok itu curiga karena Langit sudah berada di rumah. Itu artinya... Senja juga?


"Lang!" panggil Arkan. Ia kemudian menghampiri Langit. "Lo pulang sama Senja, kan?"


Langit tersadar, kenapa Arkan menanyakan hal itu?


"Nggak."


Arkan menautkan alisnya. Kenapa Langit sesantai itu?

__ADS_1


"Kalau Senja gak pulang sama lo, terus sama siapa?" tanya Arkan.


"Lo pacarnya, lo yang harusnya tahu."


Langit meninggalkan Arkan dengan perasaan cemas juga, tapi ia tahan. Arkan langsung mengejar Langit. "Lang! Lo ada masalah sama Senja?" tanya Arkan.


Langit menggeleng dengan wajah datar dan dingin. "Gue gak mau ikut campur lagi, lo pacarnya, lo yang harusnya selalu ada buat dia."


Arkan mengernyitkan dahi. "Lang, gue tahu lo cemburu. Jujur gue juga begitu." Langit terkejut mendengar itu. "Tapi gue sadar, gue gak akan ngekang Senja hanya karena rasa cemburu. Yang penting selama dia sama lo, gue gak masalah. Karena itu juga yang ngebuat hati gue tenang."


"Tapi sekarang gue serahin Senja sepenuhnya sama lo, jaga dia baik-baik," ucap Langit, lalu ia meninggalkan Arkan untuk menemui Luna lagi.


Arkan menatap Langit bingung. Kenapa tiba-tiba anak itu menyerahkan Senja begitu saja? Apa mungkin Langit sudah melupakan seluruh perasaannya untuk Senja?


****


Senja menyebrang dan kemudian berjalan ke rumahnya. Gadis itu kini benar-benar murung dan tidak bersemangat. Rasanya sakit ketika dua orang yang Senja percaya tiba-tiba berubah dalam waktu singkat dan kembali ke semula dalam sekejap juga. Senja sampai berpikir jika ia sedang dipermainkan.


Senja melihat pintu rumahnya terbuka, biasanya pintu utama selalu tertutup rapat dan tidak pernah terbuka seperti ini. Ia langsung berlari dan berhenti di ambang pintu dengan tatapan bingung. Mungkin Bundanya dan Risa sedang berada di rumah.


"Bun!"


"Risa?"


Senja mencari ke sudut ruangan, tapi tidak ada sesiapun di sana. Seharusnya Risa sudah pulang sekolah dan berada di toko sekarang. Senja berpikiran positif, mungkin Bundanya tidak ada karena sedang berada di toko. Namun bagaimana dengan pintu yang terbuka itu?


"Dek?!" Senja pergi ke kamar Risa yang berada di atas. Karena ia pikir ini adalah ulah adiknya yang lupa menutup pintu. Namun ketika Senja membuka pintu kamar Risa, gadis itu juga tak terlihat. "Loh, Risa gak ada, Bunda juga pasti di toko, terus pintu rumah kenapa kebuka?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Akhirnya Senja kembali turun ke lantai bawah. Ia melihat kamar Bundanya yang terbuka luas. Dengan segera ia menghampiri kamar Bundanya tersebut.


Ketika diambang pintu, senyumnya luntur seketika. "BUNDA!" teriaknya.


"Hiks.. bangun, Bun!"


****


Langit hendak menyuruh Luna berhenti dan segera mengganti pakaiannya. Untung saja pakaian Mamanya tidak terlalu kuno, atau keibu-ibuan, jadi Langit pikir Luna bisa memakainya dan memilikinya nanti.


Langit menyimpan handuk yang akan dipakai Luna di bangku, kemudian ia berdiri di bibir kolam. "Lun! Udahan!" teriak Langit.


Luna yang sedang menikmati air dan cahaya matahari jadi terbangun. "Lagi asik, malah diganggu!" bentaknya.


"Lo bisa sakit! Cepet naik!"


Lagi-lagi Langit memberikan Luna perhatian bahkan lebih dari yang diberikan Ibu dan Ayahnya. "I-iya, gue naik," jawab Luna ketus.


Langit mengulurkan tangan untuk membantu Luna, itu kembali membuat gadis itu spesial sekarang. Di hatinya ada sesuatu yang mengganjal, mungkinkah perasaan? Luna langsung mengulum senyumnya dan mengulurkan tangannya.


"Gue gak mau udahan sebelum lo basah juga!" kata Luna kemudian menarik Langit agar tercebur ke kolam. "Lun, jangan!"


"Yey! Gue berhasil!" seru Luna. Kemudian mencipratkan air ke arah Langit lagi. "Nih rasain, nih!"


Langit pasrah dan mencebikkan bibirnya gemas-gemas kesal.


"Ayo dong balas gue!" kata Luna.


Langit terkekeh kecil. "Lo mau?"

__ADS_1


Luna menurunkan senyumnya dan menatap Langit nyalang. "M-mau apa?"


Langit menyipratkan air ke arah Luna. "Ih, Langit!"


Luna pun berenang untuk menjauhi Langit. Namun Langit masih menyipratkan air sambil terkekeh. Cowok itu tak berhenti dan membiarkan Luna semakin risih. "Langit udah!"


"Gak akan!" Cowok itu benar-benar tak berhenti dan malah tertawa keras.


Dari kebahagiaan yang dibuat oleh Langit dan Luna tersebut. Ada Arkan yang memandang pelik, jadi ini alasan Langit menyerah? Jadi Langit sudah mulai menyukai orang lain?


****


Arkan langsung menghampiri rumah Senja setelah gadis itu tidak membalas pesannya. Arkan juga berusaha menelpon, tapi masih tak ada jawaban. Arkan melihat rumah Senja dalam keadaan sepi.


"Senja!" panggilnya.


"Senja, ini Kakak!"


"Risa?!"


Namun sepertinya tak ada orang di dalam sana. Arkan bisa merasakan tidak ada tanda-tanda Senja atau yang lainnya. Lingkungan tempat tinggal Senja juga terlihat sepi, karena memang hanya ada beberapa rumah di sana.


"Ck, apa Senja masih di jalan?" tanyanya. Arkan mengingat sesuatu. "Toko Bunda.. iya, mungkin Senja ada di sana."


Arkan pun menghampiri motor ninjanya dan segera ke toko kue Bunda dari Senja tersebut. Cowok itu terlihat sangat cemas, perasaannya juga tidak enak. Apalagi semenjak Yumi mengancam dan mengatakan hal yang tidak-tidak kepadanya beberapa hari lalu. Mengingat itu semakin membuat Arkan khawatir.


Setelah sampai, ia langsung melajukan kakinya ke toko Bunda Gina. Terlihat tutup dan sepi. Ah, ini semakin menekan Arkan!


Arkan melihat sekitaran toko, benar-benar tutup. Ia frustrasi sekarang ini. "Ck, tokonya tutup, terus Bunda sama Risa kemana?" tanya Arkan. Karena bukan hanya Senja, tapi anggota keluarganya yang lain tidak ada. Arkan menatap sekitar dengan tatapan menyesal.


"Risa," celetuknya.


Kemudian ia meraih ponselnya dan menelepon Risa. Diangkat!


"Halo Ris, kamu lagi dimana?"


[Aku masih di sekolah, Kak. Kenapa?]


"Di sekolah? Kenapa belum pulang?"


[Aku ada eskul hari ini.]


"Hm, gini... kenapa toko Bunda tutup, Ris?"


[Tutup? Setahu aku tadi subuh Bunda sibuk nyiapin adonan kue.]


"Jadi kamu gak tahu soal ini?"


[Aku nggak tahu, Kak. Soalnya aku belum pulang.]


Benar juga. "Ya udah, kamu fokus aja. Biar Kakak yang cari tahu."


"...."


Arkan menutup telepon sepihak. Risa tidak tahu apapun soal ini, tapi tadi pagi-pagi semuanya tidak ada masalah. Arkan hanya takut jika gadisnya itu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Apa mungkin ini semua karena Langit?


Arkan menghela nafas, "Senja... kamu dimana?"

__ADS_1


...~🔱~...


__ADS_2