
...
...
Senja dan Langit menjalani hari-hari yang berbeda. Mereka kembali bersemi setelah hari mereka hampir gugur kemarin. Hari ini pun adalah hari dimana mereka memulai sebagai Sesey dan Elang lagi.
Meski begitu, Sesey hanya akan kembali pada kekasihnya. Langit, lelaki itu hanya akan menjaga Senja sebagai Sesey. Apabila seseorang mengganggu Seseynya, ia akan bertindak, sekalipun orang itu adalah Arkan.
Arkan belum mengetahui masa lalu antara Senja dan Langit. Ia hanya tahu, jika adiknya itu menyerah atas Senja.
Olahraga kali ini bertema bola besar, yaitu voli. Terlihat Langit menyemangati Senja dengan isyarat. Sesekali ia menyelipkan senyum untuk Seseynya. Baginya Senja untuk Arkan dan Sesey untuk Langit.
"Lia semangat!" teriak Arif.
"Rif? Apa gue juga harus teriak kaya gitu buat semangatin Sesey?" tanya Langit.
Itu sukses membuat Arif tertawa. Sungguh amatiran sekali lelaki disampingnya itu. Arif merangkul Langit. "Iya lah Bro, biar Sesey lo semangat," kata Arif.
Sesungguhnya rif, idemu salah. Senja disekolah itu kan sedang menjadi Senja. Si amatiran itu sangat polos, dia pasti berteriak untuk Senja. Masalah besar jika semua tahu.
"Semangaaat!"
Huah, memang tak ada nama Senja atau Sesey dibelakangnya. Tapi itu membuat seantero lapangan bingung dan menatap aneh Langit. Lelaki dengan julukan dingin itu berteriak? Sekalinya Langit mengeluarkan suara, ia berteriak. Daebak!
Itu membuat yang lain bertepuk tangan untuk mengapresiasi pertama kalinya Langit bersuara didepan banyak orang.
Senja tersenyum ke arah Langit yang tengah malu-malu.
"Asik, Langit semangatin siapa nih?" tanya Lailla teman sekelasnya.
"Semangatin kelas kita pasti, ya?" Entah siapa, yang jelas itu suara perempuan yang sekelas dengannya lagi.
"Atau lo lagi semangatin Tiara, ya?" Kali ini entah siapa, yang jelas itu pasti teman Tiara.
"Heh, kalian salah semua!" Eri yang membalas semua pertanyaan cewek-cewek itu.
"Langit itu lagi semangatin... "
Eh Eri! Langit, Arif dan Falah menghentikan Eri. Bisa parah keadaan kalau Eri menyebutkan Senja. Lekas saja mereka membawa Eri menjauh dari hadapan cewek-cewek itu. "Semangatin gue nan.. mph, mph," kata Sembari dibekap, Eri berbicara begitu.
Mereka semua beristirahat setelah sejam lebih di lapangan. Ada yang beristirahat di kantin, kelas, toilet dan ruang loker. Langit, Arif, Falah dan Eri menghampiri meja yang dihuni oleh Senja dan Lia.
"Hai Liaaa," sapa Arif.
Arif, si amatiran itu mendengar lagi. Apa ia akan menirukan cara Arif memperlakukan perempuan?
"H-hai Sesey."
Oh benar saja. Tapi tidak apa, awal yang bagus.
Senja terkekeh kecil. "Hai, Elang."
__ADS_1
Kemudian Langit memberikan minum untuk Seseynya. Kedua jomblo itu terlihat menyedihkan. "Beda ya yang udah comeback," kata Falah seraya memeluk Eri yang berada di sampingnya.
Eri refleks melepas pelukan yang dilakukan Falah. "Eh, jijik gue lah!" Falah juga spontan kaget karena tak sadar tadi.
"Woalah, heh emang lo doang yang jijik, gue juga!"
"Ya ngapain pake peluk-peluk!"
Semua yang berada di meja itu menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa puas. Arkan, lelaki itu kalau tahu, pasti marah. Tapi tidak apa-apa, Senja mau lelaki itu memaklumi dan membebaskan dirinya untuk berteman dengan siapapun.
Kali ini Langit hanya perlu sadar diri bahwa Senja adalah milik Arkan.
****
Senja dan Risa tak diantar oleh Arkan lagi. Karena Arkan sangat sibuk dengan kegiatannya di sekolah, bimbel, belum lagi ada penambahan jam pelajaran dan les untuk masuk perguruan tinggi.
Senja dan Risa pulang ke toko ibundanya, mereka hendak membantunya.
"Halo Bun," sapa keduanya.
"Hm, yaudah kalian istirahat dulu aja."
"Hm."
Senja dan Risa istirahat di dekat ibundanya. Beberapa anak sekolah datang untuk membeli sesuatu. Seragam sekolah mereka sama seperti Senja dan Risa. Mereka tak asing, sangat tidak asing dimata Senja.
"Senja?" sapa Oppi.
"K-kak Oppi?" balasnya canggung.
"I... iya Kak, ini toko Bundaku." Senja sangat hati-hati menanggapi Oppi.
Oppi mengangguk, ia pun mulai memesan makanan. Bundanya ternyata sedang mengantar pesanan ke meja pelanggan.
"Oke, kalau gitu gue pesen.. Jus strawberry, kue muffin dan menu terbaik disini. Untuk tiga porsi." Nada bicaranya tak mengusik, tapi apakah ada niatan terselubung?
"I.. iya Kak. Kakak silakan duduk."
Oppi pun memiringkan kepalanya sekitar beberapa derajat untuk menyuruh kedua temannya untuk duduk di meja yang sudah disediakan.
Tak lama Senja datang untuk memberikan pesanan Oppi. Senja menundukkan kepalanya. "Silakan Kak."
"Hm."
Senja hendak kembali ke meja kasir, tapi ditahan Oppi. "Senjaaa?" panggil Oppi, Senja memejamkan mata lalu berbalik badan.
Ia meneguk. "I.. iya Kak ada apa?"
"Tempat lo gak higinies, kita gak jadi makan disini!" ucapnya yang langsung menjatuhkan tissue dan menginjak tissue itu dengan sisa-sisa kotoran lumpur yang menempel disepatunya.
Oppi pun menabrakan bahunya dengan bahu milik Senja. "Jangan harap gue mau damai sama lo!"
__ADS_1
Senja menghela nafas dan matanya berkaca-kaca sekarang. Oppi, baru saja Senja bahagia, haruskah ia menerima penekanan dari Oppi lagi? Sudah cukup.
Kak Arkan?
****
Malam itu sekitar pukul 02.00 pagi. Sekitar tiga orang sudah siap untuk menghancurkan hidup seseorang dengan kayu yang dipegang oleh masing-masing dari mereka.
Mereka hendak menyerang.. ah gelap! Eh tunggu, itu kan toko kuenya bunda Gina? Mengapa mereka ingin menghancurkan toko dari bunda Senja itu?
Jendela itu berhasil dipecahnya.
Prank!
Oke, satu orang mengintrupsikan agar mereka semua masuk dan menghancurkan semua isinya. Rusak saja semua benda yang ada disana!
"Rusak saja semuanya!"
"Jangan sisakan satu barang pun!"
"OKE!"
Mereka pun merusak mixer, blender, coffe maker, dan bangku-bangku. Bukan hanya bangku, mereka juga merusak karya yang diukir Senja di tembok. Mereka menggambarkan sejumlah gambar tak lazim, seperti tengkorak dan darah-darahnya.
Siapa sebenarnya mereka? Mengapa begitu tega memutus mata pencaharian satu-satunya keluar Senja.
Prank!
Semua piring dan gelas dilemparnya. Tak adakah satu makhluk yang berniat menghentikan mereka? Satpam mana?
Orang itu terkekeh jahat. "Bagus, yo cabut!"
Mereka pun keluar dari toko yang hancur seperti kapal pecah itu.
****
Senja, Risa dan bundanya pagi-pagi mendapat panggilan untuk segera bertemu dengan toko mereka. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati ladang rezeki mereka hancur lebur. Pencuri itu bahkan tak menyisakan satu barang pun.
Bunda dari Senja dan Risa itu pun menangis sesegukan. Senja bingung ingin melakukan apa, sedangkan Risa hanya mampu menenangkan Ibundanya.
"Bun, udah Bun.."
"Tapi, tokonya.." Bunda Gina dengan tangisnya.
Ramai orang membuat Senja semakin kalut dan Risa malu. Senja pun menekan nama seseorang dan langsung menelponnya.
"Hallo Kak?" Suara Senja bergetar.
"Kak..?" Orang itu kebingungan, Senja melihat layar ponselnya.
Oh tidak, salah sambung!
__ADS_1
...****...
...🔱...