MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Part 3 : Orang Tengah


__ADS_3

...Aku cemburu....


...🔱...


"Aku sama kamu aja, gimana?" tanya Senja membuat Langit sedikit berdesir malu.


Namun Langit ingin terlihat tenang, "Kamu punya Arkan. Ada baiknya.. kalau kamu tanya dia dulu."


"Iya, sih," ucap Senja seraya manggut-manggut. "Ya udah, nanti aku tanya Kak Arkan dulu."


Langit tersenyum seraya mengangguk pelan. Desiran itu hanya bisa dirasakan sebentar saja. Sebenarnya Langit sangat ingin menemani Senja dan menjadi partnernya, tapi ia ingat Kakak tirinya, bahwa ada yang lebih pantas mendampingi Senja, yaitu kekasihnya sendiri. Apalah daya Langit yang hanya sebatas sahabat dan calon adik ipar. Sesakit itu menjadi Langit. Meskipun bisa dikatakan 95% dekat dengan Senja, tapi tetap saja sisanya adalah kemustahilan untuk mendapatkan gadis itu kepelukannya.


Namun melihat Senja sedekat ini, duduk berdampingan dan bisa memandangi gerak-geriknya, itu sudah lebih dari cukup. Tidak bisa memiliki bukan berarti tidak bisa menjaga, bukan?


"Lang, kok aku deg-degan, ya? Ini hari pertama kita masuk kelas. Aku jadi gugup," ucap Senja. "Kamu deg-degan juga gak?"


Tangan Langit meraih jari-jari Senja, cowok itu ingin Senja dapat jawabannya langsung. Jadi ia menaruh jemari Senja tepat di dada kirinya yang benar-benar berdegub kencang.


Sudahlah, jantung Senja berhenti berdetak. Pipi meronanya bertambah merah, ia juga jadi terpaku karena tingkah Langit itu. Sungguh keterlaluan!


"Gimana? Deg-degan gak?" tanya Langit karena Senja masih diam. "Sey?"


Senja terbangun dari harapan indahnya. "Eh, i-iya kenceng banget malah."


"Kamu tau kenapa?"


Senja hanya menggeleng pelan.


"Karena.." Langit melihat ke depan kelas.


"Karena apa..?"


"Selamat pagi semuanya!"


Ah, sial! Langit tak sempat memberitahu Senja. Namun akhirnya Langit bersyukur karena itu tak sempat terjawab. Ternyata seorang dosen datang untuk mengisi kelas Senja dan Langit. Mereka pun berakhir fokus memperhatikan materi yang diberikan.


****


Arkan ternyata sudah berbohong, padahal ia ada kelas hari ini. Arkan tengah diam memandangi buku tentang kedokteran. Namun kelihatannya cowok itu sedang menunggu jam masuk atau mungkin menunggu seseorang. Dari raut wajahnya ia sedikit gelisah, gugup dan berkeringat dingin. Sembari terus menunduk, Arkan membaca buku itu hanya untuk mengalihkan pandangan.


Seperti dugaan Senja dan Langit, Arkan memang sudah berbeda. Dia lebih diam dan sedikit aneh. Entah apa yang sedang memenuhi pikirannya, tapi Arkan kelihatan harus lebih tenang ketika sedang menghadapi ini.


Arkan duduk diantara mahasiswa yang sedang fokus membaca buku. Di perpustakaan itu hanya ada suara angin dan mahasiswa di sana terdengar hanya berbisik.


Terlihat sepatu putih mendekati meja Arkan. Kaki jenjang itu perlahan berjalan menuju laki-laki tampan itu. Dan itu semakin membuat Arkan tak mampu mengendalikan detak jantungnya yang kencang. Tiba-tiba Arkan semakin gugup menyadari kedatangan seseorang itu.


Partikel parfum yang dibawa orang itu terhirup oleh Arkan. Sungguh khas dan berbeda dari yang lain. Dan dari perbedaan itulah Arkan tegang bukan main.


"Ar?" sapa seorang gadis bersuara lembut. Berperawakan tinggi, berkulit putih dengan surai panjang terurai. Ia juga memakai jaket jeans dan berpenampilan sederhana.


Arkan segera mengalihkan pandangannya dan membuang nafas. Kini jantungnya berpacu cepat. Jadi, benar dia sedang menunggu seseorang?

__ADS_1


"Sara.."


Gadis bernama Sara itu kemudian duduk di samping Arkan seraya tersenyum. "Maaf ya lo jadi nunggu lama."


"Nggak kok."


"Ada apa? Lo mau ngomongin tugas, ya?"


"Eum.. bukan!"


Sara menautkan alisnya heran, "Terus? Lo mau ngomongin apa?"


Arkan terdiam, perpustakaan ternyata bukan tempat yang tepat. Sara Adriana, nama itu diberikan kepada gadis cantik yang tengah bersama Arkan. Mereka berdua adalah teman satu jurusan. Bukan dari anggota penting di kampus, Sara benar-benar hanya teman sekelas Arkan.


"Ar? Kok lo diam aja? Ada masalah? Lo sakit lagi, ya?" tanya Sara.


"Nggak kok. Gue baik-baik aja," balas Arkan cepat. "Gue cuma mau ngajak lo makan siang. Lo mau?"


"Oh, jadi lo cuma mau ngomong itu. Kenapa gak di chat aja?"


"Maaf.. gue jadi buat lo repot, ya?" tanya Arkan sembari tersenyum canggung.


"Nggak kok. Lagian kelas sebentar lagi dimulai. Gak apa-apa juga," kata Sara kemudian tersenyum.


Arkan membalas senyum itu. "Oh oke. Eum, jadi.. lo gak keberatan kan kalau gue ajak makan siang?"


"Ya, enggaklah. Gue malah seneng bisa makan siang sama lo nanti."


Sepanjang Sara di sampingnya, aroma khasnya bisa mengubah suasana menjadi lebih dingin. Dan Arkan ingin menemukan aroma itu selalu.


****


Senja dan Langit sudah mengikuti kelas pertama mereka. Seperti yang dikatakan keduanya, ini sedikit membuat mereka deg-degan. Namun dibalik itu, ternyata hukum tidak terlalu buruk. Semua yang menyangkut hukum cukup menarik. Meskipun Senja tahu, akan ada banyak pasal yang harus ditampung di benaknya.


Senja melihat Langit yang malah tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia malah tenang dan fokus pada materi tadi. Senja sungguh salut pada cowok dingin di sampingnya itu, meski tidak sepintar Arkan, tapi Langit juga termasuk cowok yang jika belajar, maka ia akan menegakkan kepalanya dan menikmati kalimat penting yang harus didengar.


"Ternyata hukum gak terlalu buruk, ya? Aku pikir itu bakalan buat aku pusing," ucap Senja.


Langit terkekeh gemas. "Ini baru permulaan, Sey. belum apa-apa."


Senja melihat ke lantai. "Iya juga sih. Hm, Sebenarnya aku gak tahu kenapa aku milih fakultas hukum."


"Mungkin karena aku.."


Senja memukul lengan Langit sebagai candaan. "Nggak gitu, Lang! Aku cuma ikut kata hati aku aja. Aku kayak lebih yakin buat jadi pengacara dibanding dokter."


Langit menghela nafas sejenak. "Berarti itu baik."


"Baik?"


"Ikut kata hati itu ikhlas, Sey."

__ADS_1


"Iya, sih. Artinya aku yakin banget kalau itu jalan terbaik?"


Langit mengangguk. "Hm, pasti."


Mereka berdua berjalan menyusuri koridor, tapi saat di tengah perjalanan Langit berjalan sendirian. Menyadari hal itu, Langit celingukan mencari Senja. Kemudian ia menoleh ke belakang dan mendapati Senja yang sedang berjongkok. Lantas Langit langsung berlari untuk menemui Senja.


"Sey, kenapa?" tanya Langit panik bukan kepalang.


"Gak apa-apa, kok. Cuma sedikit sakit aja," balas Senja seraya meringis dan memegangi kepalanya yang sakit.


Langit merasa cemas sekarang, "Sedikit kalau sering, itu udah gak wajar, Sey."


"Lebih baik kita ke dokter aja sekarang!" ajak Langit hendak memapah Senja.


"Nggak, Lang! Kita ke kantin aja beli minum," pinta Senja.


"Kamu yakin?"


"Iya."


Langit sangat khawatir, tapi ia juga tak bisa memaksakan Senja. Benar apa kata Langit, walau sedikit kalau sering itu tidak baik juga. Memang rasa pusing yang menyerang Senja itu selalu datang dan pergi. Namun rasa pusing itu seakan tahu diri, ia selalu datang ketika Senja sedang bersama Langit.


Mengingat kejadian saat Senja kecelakaan, mungkin itu dampak dari kejadian hari itu. Jika satu kali lagi pusing itu menyerang Senja, Langit akan berjanji membawa Senja ke rumah sakit.


Langit memandangi Senja yang wajahnya pucat pasi. Gadis itu hanya memesan air mineral, tapi keadaannya seperti orang yang mabuk.


"Lang? Aku mau tiduran dulu sebentar sebelum kita pulang," ucap Senja.


"Hm."


Senja pun menidurkan diri di meja. Langit memegang dahi Senja, suhu tubuhnya memang sedikit panas. Cowok itu sangat khawatir dan langsung menghubungi Kakak tirinya.


Arkan


^^^Senja sakit. Lo dimana?^^^


Namun Arkan tak kunjung menjawab pesan dari Langit. Sudah diterima, tapi tak kunjung menjadi biru. Apa yang sebenarnya dilakukan Arkan? Bukannya dia hanya diam di rumah?


Tak lama ponselnya kedapatan notifikasi, sontak Langit langsung membuka pesan itu.


Gue lagi diluar, lo bisa kan antar Senja pulang?


Bisa-bisanya! Bukankah Arkan pernah bilang kalau Senja dan Mamanya adalah orang yang harus didahulukan dan dijaga? Tumben sekali Arkan bersikap acuh seperti ini. Biasanya ia langsung menelpon dan berbicara dengan Senja.


^^^Bisa.^^^


Makasih, Lang.


Langit kembali berpikir, berarti bukan hanya perasaan Senja, tapi Arkan memang berubah!


Cowok itu lantas mencoba membangunkan Senja dan mengajaknya pulang. Gadis itupun mengangguk dan mau.

__ADS_1


...****...


__ADS_2