
...Aku bahkan tak bisa pergi kemanapun. Sedangkan kamu selalu menjauh, meski dengan wajah yang masih menatapku....
...🔱...
Langit menunggu seseorang keluar dari tempat persembunyiannya. Hatinya terasa gugup dan sangat penasaran, seperti apa wujud gadis cantik yang tadi baru saja masuk ke dalam kamar untuk memakai gaun. Ia terus menatap jam yang berdetak itu, bukan hanya penasaran dan deg-degan, tapi di hatinya juga terdapat rasa takut dan cemas.
Pokoknya perasaannya kali ini sungguh campur aduk. Penasaran, cemas, takut, deg-degan, gugup dan tidak enak selalu menghantuinya. Langit merasa ia sudah beranjak menjadi pria yang jahat dan egois. Ia sampai melanggar prinsipnya untuk menjaga seseorang yang ia sayangi.
Kenapa lama sekali, pikirnya.
Sebuah sepatu dengan hak yang tidak terlalu tinggi muncul dan membuat pandangan Langit naik perlahan. Ia tersihir dengan pesona yang dibuat oleh gadis yang membuatnya kagum. Gaun berwarna abu itu menghiasi tubuhnya, pernak-pernik terpasang di sana, serta riasan sederhana meliputi wajah anggunnya.
Langit suka surai panjang yang tergerai indah itu. Biasanya itu hanya diikat asal yang penting tidak membuatnya risih.
Gadis itu dibantu pegawai butik untuk berjalan mendekati Langit. Dengan perlahan ia berjalan ke arah Langit, cowok itu sampai bangkit karena saking terperangahnya.
"Gue gak suka sama baju ini!" tolak Luna. "Ini terlalu terbuka, gue gak nyaman."
Langit meraih jemari tangan Luna dan mengambil alih untuk membantunya berjalan. "Maaf atas ketidaknyaman itu, tapi lo cantik, kok."
Luna tertegun, baru kali ada yang mengatakan itu berulang kali. Ini membuatnya menunduk dan tidak enak. Harusnya yang ada di posisi ini adalah Senja.
"Dan itu ngebuat mata siapapun nyaman," sambung Langit.
"Seharusnya yang ada di sini bukan gue, tapi Senja, kan?" tanya Luna.
Langit menggeleng. "Dia di posisi lo, dengan laki-laki yang beda."
Gadis itu menautkan alisnya. "Maksud lo ... Senja juga makan malam sama kita?" tanyanya terkejut.
"Iya, karena pacar Senja adalah Kakak gue."
Kali ini Luna membulatkan matanya sempurna. "Kenapa lo gak bilang? Kalau tahu gini gue mending nolak jadi partner lo, gue gak enak lah sama Senja. Kita ini kan baru kenal, masa iya.."
"Senja pasti seneng lihat lo, lo temannya."
"Iya teman, tapi ngerebut sahabat baiknya. Gue gak mau jadi teman yang jahat, Lang."
"Gue cuma sahabatnya, bukan pacarnya."
"Lo kenapa gak ngertiin posisi gue, sih? Gue itu orang baru buat kalian, gue gak mau disebut sebagai perusak hubungan ataupun orang baru yang seenaknya! Pokoknya gue mau balik, gue gak betah kayak gini." Luna memberontak hendak melepaskan sepatu hak tingginya.
Langit malah memegang pinggang Luna lalu menggendongnya ala bridal style ke mobil. "Eh, Langit! Turunin gue! Gue malu!"
"LANGIT!" teriaknya, hingga semua orang yang ada di sekitaran sana menatap mereka pelik.
Namun Langit masih diam meskipun Luna memberontak dan memukuli dadanya. Ia hanya fokus membawa Luna sampai ke depan mobil.
Langit melepaskan Luna, lalu membukakan pintu mobil itu. "Masuk!"
"Lo gila, ya! Ini tempat umum, kenapa lo lakuin itu?" bentaknya.
"Biar lo nurut!"
__ADS_1
"Ya tapi jangan pakai cara itu, mau taruh dimana muka gue, hah?!"
"Masuk, Lun!"
"Gila ya nih cowok, pemaksaan banget, sih!" Luna pun pasrah dan masuk ke dalam mobil yang sudah ada supirnya itu. "Iya gue masuk! Tapi kalau acara makan malam ini hancur, jangan salahin gue!"
"Kita cuma makan malam, bukan malam pertamaan!"
Langit, tahu darimana kamu kata-kata itu?
Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam mobil dan duduk berdua di kursi belakang. Akhirnya kemeja biru dongker yang hampir membawanya menjadi partner Senja dipakai untuk makan malam dengan Luna yang memakai gaun abu tersebut.
****
Senja baru saja menyuapi Bundanya makan, ia sebenarnya sangat lelah melakukan semua ini. Namun demi kesehatan Bundanya, apapun akan ia lakukan. Meski sakit kepala Senja juga selalu menyerang, tapi itu tidak menyurutkannya untuk menjaga Bundanya.
Walaupun ada Risa, tapi Senja tidak ingin mengganggu istirahat adik satu-satunya itu. Biarkan Risa belajar dengan baik sebab ia sudah harus fokus untuk menghadapi ujian-ujian nanti.
Senja keluar dari ruangan dengan memegangi tengkuknya yang pegal, petang itu Senja harus pulang sendirian dan beristirahat di rumah. Ketika mencapai koridor rumah sakit yang sepi, ia harus terhenti karena dipanggil seorang gadis.
"Senja!"
Senja menengok ke belakang kala seseorang memanggilnya. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati gadis yang sering mengganggunya. Kenapa dia tahu tentang ini?
"Kak Yumi?" Ya, gadis itu yang datang. "Kak Yumi kok tahu kalau a-aku di sini?"
Ia menghembuskan nafas karena malas. "Ya gue tau, lah. Apa sih tentang lo yang gak penting buat gue?"
Senja merasa takut sekarang. Meskipun di rumah sakit itu masih terdapat orang-orang, tapi tetap saja ia harus menghadapi rasa takut kepada gadis ambius itu sendirian.
"Mulai berani, ya lo?" Yumi mendekat ke arah Senja yang menatap tajam. "Oke, gue mau ngancurin hidup lo. Apa belum jelas?"
Mata Senja berkaca-kaca, kemudian ia mendorong Yumi. Meskipun gadis dingin dan licik itu tidak terjatuh dan hanya terdorong ke belakang. "Iya! Semuanya kurang jelas! Gue bahkan gak tahu apa alasan lo lakuin itu!"
Yumi mendengus kesal, lalu mendekati wajah Senja untuk membuat Senja paham. "Alasan gue? Lo mau tahu? Sebab keluarga lo, terutama anak pungut itu gue jadi gini! Bahkan bukan cuma gue, keluarga gue juga!" teriaknya.
Senja membulatkan matanya, lalu meneteskan air matanya. "Anak itu udah ngerusak kebahagiaan Papa. Bahkan bukan cuma itu, Senja! Papa gue juga adalah Ayah lo!"
Senja semakin menangis ketika mendengar itu, ia sampai menutup mulutnya karena saking terkejutnya.
"A-Ayah ... Papa Kak Yumi? Apa maksudnya?" tanya Senja mulai menjadi diri sendiri lagi.
"Kita ini saudara tiri, lo adik tiri gue!" jelas Yumi. "Bunda lo yang udah ambil kebahagiaan Mama, sampai akhirnya Mama gue hidup di tahanan sebagai orang yang akalnya gak bersih lagi!" Yumi menatap Senja dengan tatapan menangis dan wajah yang memerah.
Yumi hanya tinggal bersama Kakaknya sekarang ini. Gadis yang seumur dengan Arkan itu memang sangat dekat dengan Papanya. Makanya ia tak bisa melupakan kejadian yang menimpa Papanya itu. Yumi selalu mendapat asupan cerita masa lalu itu dari Kakaknya. Makanya ia tahu semuanya dengan jelas.
Senja mencoba mengingat kejadian silam. Ketika terakhir kali Ayahnya pergi.
Flashback On
"Anak siapa ini?" tanya Ayahnya, ketika Bunda Gina pulang ke rumah membawa anak berusia empat tahunan.
"Dia sendirian di jalanan, makanya aku bawa dia ke rumah. Dia terus manggil Mamanya. Aku gak tega, Mas." Bunda dari Senja itu kemudian menyembunyikan Risa di belakangnya, sebab kelihatannya anak itu ketakutan melihat pria yang menjadi Ayah Senja itu.
__ADS_1
"Gina kamu ini sudah gila atau bagaimana, sih?!" tanya Ayahnya. "Perusahaan sedang dalam masalah dan kamu bawa anak ini untuk diurus? Kita gak akan mampu, Gina!"
Teriakan Ayahnya itu sampai ke telinga anak berusia lima tahun yang diberi nama Senja. Gadis kecil itu mengintip kegiatan Bunda dan Ayahnya dari pintu utama.
"Tapi aku pasti cari pekerjaan untuk membantu kamu, Mas dan juga menghidupi anak ini."
Ayah dari Senja yang kala itu tambah berantakan karena terlalu pusing menangani masalah yang tidak ada habis-habisnya. Belum soal istri pertamanya, kantor, hutang yang menumpuk dan sekarang istri keduanya membawa beban baru.
"Kamu tahu? Anakku juga sakit! Dia kritis dan perlu banyak biaya!" bentaknya lagi. Senja semakin takut. "Aku udah gak kuat, lebih baik sekarang kamu urus anak itu dan kita pisah!"
Senja dan Bundanya terkejut. Ayahnya itu lantas membereskan bawaannya. "Mas, jangan bicara begitu! Aku yakin kita bisa lewati ini. Kamu jangan egois, kamu juga punya Senja! Dia anak kamu juga, Mas."
Senja menghampiri Ayahnya ketika melihat Bundanya menangis. Tangan mungilnya meraih lengan Ayahnya dan Bundanya memegangi kaki suaminya itu, sedangkan gadis kecil bernama Risa itu hanya menangis.
"Ayah? Ayah mau kemana?" tanya Senja.
"Minggir! Ayah gak mau lihat kalian lagi!" bentaknya kemudian pergi dari rumah itu dan naik ke dalam mobilnya.
Senja mengejar Ayahnya. "AYAH! AYAH JANGAN PERGI, HIKS. SENJA MASIH MAU PUNYA AYAH!" ucapnya menangis. Sedangkan Bundanya hanya bisa terduduk lesu dan menangis melihat suaminya pergi.
"AYAH!"
Flashback Off
"Dan lo pasti belum tahu kan kemana Papa pergi?" tanya Yumi. "Dia kecelakaan tepat setelah dia pulang dari rumah istri keduanya! Itu rumah lo, Senja!" teriaknya sembari menangis.
Yumi memukuli tembok dan Senja hanya menangis karena baru tahu jika Ayahnya sudah tiada. Awalnya ia benci karena perlakuan Ayahnya itu, sampai tidak peduli terhadap kabarnya.
"Papa meninggal dengan cara mengenaskan!" ucapnya. "Dan apa? Dari pihak lo sama sekali gak ada yang peduli soal ini. Gue juga gak lihat terakhir kali Papa dikebumikan, karena gue kritis waktu itu!"
Yumi mulai tenang. "Setelah gue sadar, keadaan rumah semakin hancur. Mama sampai menjual rumahnya, semua hartanya habis untuk nebus hutang Papa."
"Tapi Bunda lo itu gak punya hati. Dia malah pergi ninggalin semua masalah Papa dan nyerahin semua beban ke Mama gue! Sampai akhirnya, dia hampir nyerah sama hidupnya sendiri."
Senja tak menyangka jika keluarganya sejahat itu terhadap keluarga Yumi. "Kak ... aku gak tahu apapun, aku bahkan baru tahu kalau Ayah udah gak ada."
"Aku minta maaf atas perlakuan keluarga aku ke keluarga Kakak."
"Minta maaf? Itu gak akan cukup, Senja. Lo pikir maaf lo itu bisa ngembaliin semuanya? Nggak!" seru Yumi.
"Gue gak suka lihat Bunda lo dan anak pungut itu." Yumi menatap kosong ke depan. "Gue mau kalian nebus semuanya."
Sebenarnya Senja tahu Risa bukanlah adik kandungnya. Namun dari mana Yumi tahu soal Risa?
"Gue kasih lo pilihan. Lo ... atau Risa si anak pungut itu yang harus nebus derita keluarga gue?!" tanya Yumi.
"A-anak pungut?" lirihnya, membuat Senja dan Yumi menoleh berbarengan. Ternyata Risa mendengar percakapan terakhir antara keduanya.
Risa berlari sembari menangis dengan dada yang sesak. Sedangkan Senja tak menghiraukan ucapan Yumi dan malah mengejar adik angkatnya itu.
"Risa!"
...~🔱~...
__ADS_1
...Maaf Up nya lamaaaaa😭...
...inshaaAllah aku up lagi nanti. tunggu yaa😘...