
...Tidak masalah, semuanya akan membaik lagi seperti semula. Asal kamu menghilang dari pikiran dan hati ini....
...~QB903...
...🔱...
Lia meniup lilin ulang tahunnya dan membuat orang-orang yang ada di sana bersorak untuk bertambahnya umur Lia. Semua orang yang peduli sibuk menjunjung doa untuk hidup Lia ke depannya. Segala kebaikan disemogakan dan apa yang Lia inginkan mudah-mudahan tercapai.
Suasana di sana tak begitu baik bagi orang pemalu seperti Senja. Banyak sekali orang-orang yang datang untuk merayakan ulang tahun Lia.
Senja melihat orang tua Lia mencium anaknya yang sedang ulang tahun itu, kemudian Lia menyuapi potongan kue pertama untuk Ibunya, kemudian untuk Ayahnya. Setelahnya tentu Lia menyuapi Arif, sang tunangan. Semua orang tertawa geli melihat Lia menyuapi Arif, sungguh romantis.
"Huh, cie, cie. Nikah bulan depan aja woy!" teriak seseorang yang sepertinya teman dari Lia.
"Langsung nikah sekarang aja!"
Lia dan Arif hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka. Kemudian setelah acara tiup lilin dan potong kue, Lia sibuk bercanda dengan teman barunya. Senja bisa melihat betapa mereka akrab dan gaul. Lia bilang dia sama seperti Senja, tapi ternyata Lia masih bisa lebih baik.
"Nih buat lo! Selamat, ya? Wish dari gue semoga besok lo nikah sama Arif," ucap teman Lia sembari memberikan kado.
"Iya, doa gue juga semoga lo cepet nikah sama Arif terus langgeng deh sampai tua," timpal teman Lia yang satunya.
"Ah, lo berdua doanya yang bener aja dong. Nikah sih nanti aja belakangan, yang penting nikmatin dulu masa muda," ujar Lia sembari tertawa. Kemudian disusul tawa mereka.
Entahlah, padahal hanya teman, tapi kenapa rasanya cemburu bila melihat sahabat lebih dekat dengan temannya yang baru? Senja terus menunduk karena Lia tak menyapanya dan malah sibuk dengan tamunya yang lain. Senja melihat Arif, Eri dan Risa. Tapi ada yang aneh di penglihatannya, dimana Langit dan Falah?
"Kamu gak mau ketemu Lia dan ucapin selamat gitu?" tanya Arkan.
Senja tersentak dan langsung menoleh ke Arkan. "Eh, i-iya Kak, ayo!"
Arkan tersenyum kemudian memegangi tangan Senja. "Ayo Kakak temenin," ucapnya. Sepertinya Arkan tahu sesuatu yang dirasakan Senja, lagi.
Senja tersenyum. Tangan satunya memegang tangan Arkan dan tangan satunya lagi memegang kado berukuran kecil, yang sepertinya isinya hanyalah jepitan atau semacamnya. Senja berdebar hebat, Lia masih sibuk dengan tamunya yang lain. Dan mereka masih sibuk mengobrol.
"Lia?" panggil Senja. Lia menengok. "Eh, Senja? Kak Arkan?"
"Hm, selamat ulang tahun Lia. Ini buat lo!" ucap Senja sembari memberikan kado. "Semoga panjang umur, bahagia selalu, dan apapun yang lo inginkan tercapai. Terutama nikah sama Arif," tambah Senja.
"Eum.. makasih banyak Sen," ujarnya sembari menerima kado dari Senja itu dan kemudian memeluk Senja erat. "Lo sahabat terbaik gue."
"Selamat ulang tahun Lia," kata Arkan.
"Eh, iya Kak. Makasih," jawab Lia, sembari melepaskan pelukannya dari Senja. Ternyata Lia tak melupakannya seperti dugaan Senja.
"Kalian cuma berdua? Langit gak ikut?" tanya Lia.
Arkan sedikit risih, tapi Senja biasa saja. "Eum.. mungkin aja Lang masih di jalan, Li."
__ADS_1
Lia mengangguk paham. "Oh iya, kalian berdua makan ya? Jangan sampai nggak."
Baru saja Senja ingin menjawab, teman dari Lia keburu datang. "Woy! Lia!" pekiknya.
Lia menengok, lalu kemudian mereka sibuk berbincang-bincang. "Selamat ulang tahun lo..."
"Iya Sil, makasih ya?" Lia melupakan Senja dan Arkan.
Semasa SMA, Lia hanya merayakan ulang tahun berdua dengan Senja. Namun sekarang Lia sudah berbeda, ia sudah memiliki teman-teman baru yang lebih baik dari Senja. Senja menoleh ke arah Arkan yang menatap nyalang ke arah Lia dan teman-temannya.
"Kak? Mau makan atau..?"
"Kita pulang!"
Senja menautkan alisnya. "K-kok pulang? Gimana kalau kita makan aja dulu, biar aku ambilin."
"Kita makan diluar aja, berdua!" Arkan kemudian menarik Senja dari sana.
****
Satu kaleng soda di minumnya, ini bahkan sudah kaleng yang kesekian. Langit tak peduli pada reaksi lambungnya yang mungkin sudah meronta ingin menyudahi tindakan Langit tersebut. Meski hanya soda, tetapi bukankah tidak terlalu baik jika terlalu banyak meminumnya?
Langit sedang bersama Falah diluar, mereka baru saja pulang dari minimarket.
"Lang, udahan kali! Kalau mau, lo minum aja alkohol sana!" tegur Falah.
Falah mendelik, bagaimana bisa candaannya dihadiahi keseriusan?
"Wah, Lang, otak lo udah gak beres," ucap Falah. "Gua cuma bercanda kali, gak usah dianggap serius."
"Gua serius, Lah."
Falah menggeleng keras. "Nggak! Enak aja lo! Gak usah sampai frustrasi gitu, Lang. Cewek itu masih banyak, bukan cuma mereka."
Langit membuang kaleng sodanya sembarangan. Ini tak pernah dilakukan Langit, masih ingat tindakan Langit yang sederhana waktu SMA? Ia pernah memungut sampah milik Arif dan membuangnya ke tempat sampah, tapi sekarang itu tak berlaku lagi!
"Fix! Ini bukan lo, Lang!" tegur Falah. "Lang, udahlah! Lo gak usah sampai kayak gini. Lo belum pernah kan ngerasain gimana rasanya ditikung temen sendiri? Untung aja gue masih waras, Lang. Gue masih pilih Eri, gue masih pilih persahabatan daripada cinta!"
Langit menatap ke depan. "Lo cuma ditikung teman, bukan Kakak sendiri."
Falah mengacak rambutnya frustrasi. "Lo bener, lo sama Kak Arkan itu kan saudara. Gimana bisa gue samain kisah lo sama kisah gue?"
Langit berdeham, lalu mengambil sesuatu di saku celananya. Lagi-lagi itu membuat Falah menduga jika makhluk di sampingnya ini bukanlah sahabatnya!
"Sejak kapan lo ngerokok, Lang?" tanya Falah kaget.
Langit menyimpan rokok itu di mulutnya, lalu menyalakan pemantik api ke rokok tersebut. Setelahnya ia menghisap-hembuskan layaknya pemuda yang sudah terbiasa merokok.
__ADS_1
"Tadi."
"Lang berhenti jadi orang lain!" tegur Falah. "Jangan kayak gini woy!"
"Selama jadi diri sendiri gak baik, kenapa gak gue coba jadi orang lain?"
Falah menggeleng. "Lang, lo bahkan lebih baik daripada Kakak tiri lo itu! Jangan mudah berubah jadi orang lain, lo gak tahu betapa buruknya itu!"
Langit masih menikmati rokoknya. Tidak terlalu buruk, pantas saja Luna merokok. Oh jadi karena gadis itu?
"Tapi begini lebih baik."
****
Karena sudah hampir pukul sembilan malam dan sudah mulai terlihat sepi, akhirnya Bunda dari Senja dan Risa tersebut memilih menutup toko kuenya dan bersiap-siap untuk pulang.
Beliau sibuk mengelap meja-meja yang kotor.
"Tante!" teriak seorang gadis yang membuat Bunda Gina terpaku hebat.
Beliau menoleh ke belakang. "Kemana mereka, terutama anak pungut itu?"
"Berhenti Yumi! Kamu selalu aja sebut anak Tante begitu..."
"Kenapa emangnya? Bukannya bener ya dia itu anak pungut, anak yang Tante ambil dari tempat sampah dan buat Papa meninggal juga!" ujarnya.
Yumi, rupanya dia yang buat Bundanya selalu gelisah.
"Papa kamu meninggal itu karena takdir, bukan karena Risa! Jadi berhenti buat usik keluarga Tante!"
Yumi terkekeh. "Tapi aku suka ganggu Senja, dia itu paling menarik untuk aku sentuh."
Bundanya mendelik, jadi Senja sudah pernah diganggu oleh Yumi?
"Yumi... Tante mohon jangan ganggu Senja ataupun Risa."
"Kenapa emangnya? Aku udah nunggu ini dari lama Tante. Aku cari kalian kemana-mana dan sekarang aku udah nemuin kalian, jadi mana mungkin aku lepas!"
"Mereka itu adik tiri kamu Yumi, Tante mohon jangan ganggu mereka."
"Terus apa kabar sama Tante yang pernah ganggu keluarga aku?" tanya Yumi. "Hari ini aku juga mau lakuin apa yang pernah Tante lakuin, aku mau keluarga Tante juga hancur seperti keluarga aku!"
Bunda Gina menggeleng lemas dan matanya mulai berair. "Cuma mereka yang Tante punya. Mereka juga udah cukup menderita dulu. Tante mohon jangan buat mereka menderita lagi."
Yumi terkekeh. "Tetep aja, Tan, aku mau keadilan."
...~🔱~...
__ADS_1