
...
...
"Senja!!!"
Langit langsung berlari dan melepas jaket jeansnya, membiarkan gadis itu hangat. Senja menatap Langit sendu, membuat Langit semakin cemas melihat keadaan Senja.
Padahal Langit sudah memperingati Senja untuk tidak melawan gadis itu. Namun sepertinya Senja memang terlalu lemah untuk bisa keluar dari jeratan Oppi yang haus perhatian itu.
"Gue takut..." kata Senja kepada Langit.
Langit menarik Senja kedalam pelukannya, setidaknya itu yang bisa dia lakukan untuk menenangkan gadis itu. Senja merasa hangat dan tenang ketika Langit memeluknya. "Ada gue."
Senja meregangkan tubuhnya dari tubuh Langit. Lalu menatap mata hitam pekat milik Langit, terlihat keseriusan disana. Walau dingin, tapi ia bisa menenangkan.
"Gue akan anter lo pulang," ucapan Langit hanya dibalas anggukan oleh Senja.
Langit menelusupkan jarinya diantara jari Senja. Menggenggamnya erat, lalu membawanya lupa akan peristiwa tadi. Ternyata teman-temannya itu menunggu Langit, kini lelaki itu maupun Senja salah tingkah ketika ketiganya menggoda mereka.
"Bushet! Lang lo nemu cecan dimana?" tanya Eri.
"Ish, apaan sih loh!" Itu Senja. Ia kembali kepada mode cerewet. Hanya dengan sentuhan, maka Senja akan kembali membaik.
"Lo berdua jadian?" tanya Arif melihat jari Langit yang merekat dijari Senja.
Spontan keduanya melepaskan genggaman. Senja maupun Langit berdesir malu, terlihat Langit menggaruk tengkuknya dengan senyum tipis, sangat tipis dan itu membuat Senja sedikit terpesona.
Senja tersenyum. "Dia ganteng kalau senyum," batin Senja berbicara jujur.
"Eh iya, lo kenapa basah-basahan? Jangan-jangan..." Falah curiga karena Senja memang basah kuyup.
"Heh awas ya lo, jangan ngeres!" bentak Senja.
"Eh iya gue lupa, dia kan mak lampir, ups!" ucap Falah pelan, sangat pelan.
"Gue anter dia pulang, kalian duluan," kata Langit kepada ketiga temannya.
"Iya, gue juga gak mau jadi nyamuk kali ah." Jawaban Arif ini sangat benar.
Senja terlihat kesal, Langit hanya tersenyum melihat Senja. Benar-benar unik, saat gadis itu merasa tenang dia kembali menjadi gadis cerewet dan jutek.
Langit memasangkan jaket jeans miliknya dengan benar ditubuh Senja, membuat pipinya merah sekarang dan jantungnya berdegub kencang. Langit terkekeh kecil ketika melihat pipi Senja.
"Blushing."
"Ih apaan sih lo, orang enggak!" kata Senja salah tingkah.
"Awas baper, bahaya!" Ya seorang Langit bisa berbicara seperti itu.
__ADS_1
"Jangan geer, jadi anter gak nih?"
Langit mengangguk. Ia pun membawa Senja ke motor ninjanya, lalu menarik lengan gadis itu untuk dilingkarkan di pinggangnya.
"Pegangan."
Langit, lelaki itu sedang modus atau kenapa?
Senja hanya diam, ia bahkan tak ingin berbicara sekarang ini. Ia juga tak ada daya untuk melepas pelukannya dari Langit, karena jujur saja itu nyaman. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Sampai di dekat taman mereka berhenti, karena Senja melihat sesuatu yang menarik hatinya.
"Lang! Berenti! Berenti!" ucap Senja menepuk-nepuk punggung Langit.
"Ada apaan sih?" tanya Langit.
Senja turun di bantu Langit. Saat akan menyebrang, Langit pun membantu. Ia tak tahu apa yang akan dilakukan gadis itu. Senja terlihat memilih-milih buah. Lagi-lagi Langit yang membayarkan buah yang dibeli gadis itu.
"Terima kasih Pak," kata Langit. "Udah puas sekarang?"
Senja menyengir kuda. "Udah kok. Eum makasih buat semuanya."
Langit menghembuskan nafas dan tersenyum, gadis itu menggemaskan menurutnya.
"Eum, gue mau duduk di sana." Senja menunjuk bangku di taman, yang mengarah ke arah barat.
"Gak bisa. Lo harus pulang!"
"Sebentar aja please, ya ya?" Senja memasang wajah andalannya, berharap Langit mengizinkan.
"Sebentar," kata Langit datar.
"Yey ayok!" Senja memegang lengan lelaki itu.
"Eh sebentar, lo duluan!"
"Oh ya udah iya."
Langit berlari ke arah motornya, ia memarkirkan motornya di dekat tempat mereka duduk. Sebelum menemui Senja, ia membeli sesuatu yang anak kecil sukai.
Terlihat Senja yang sedang fokus memakan buah yang dibelinya, Langit menyodorkan es krim ke hadapan Senja, Senja hanya memandang es krim itu kemudian menatap Langit yang duduk disebelahnya.
Senja tertawa, membuat Langit bingung. "Gue gak suka es krim. Setiap kali badmood, ini nih gue makan pisang."
Langit tertawa, hanya Senja yang seperti ini, bukankah es krim atau coklat yang biasanya perempuan inginkan disaat badmood?
Senja memakan pisang, sedangkan Langit memakan es krim. Keduanya menikmati, apalagi sekarang senja baru saja muncul membuat keduanya terdiam menikmati teduhnya.
Saat Senja terpejam, Langit memandangnya. "CANTIK," batin Langit. Ya, jingga itu menghias wajah Senja yang manis.
Langit berniat untuk mengerjai Senja, ia pun melahap setengah pisang yang sedang Senja pegang. Dan benar saja, gadis itu kaget melihat pisangnya habis setengah.
__ADS_1
"Ih Langit, itukan pisang gue!" Sembari memukuli Langit pelan.
"Aduh, i.. iya. Nanti gue ganti!" kata Langit dengan tawanya.
"Kok lo bisa lucu gini sih? Padahal yang gue tau.. lo itu dingin dan cuek," ungkap Senja mencoba menanyakan perihal yang entah itu penting untuk Langit atau tidak.
Langit menghela nafas sejenak, kemudian menatap ke atas. Langit jingga itu menjadikannya lebih teduh. "Salah kalau gue lucu?" tanya Langit.
"Eng, enggak. Bukan gitu. Ya, biasanya kan cowok macam lo itu gak peduli soal perempuan."
Sangat salah jika Senja memiliki pendapat seperti itu.
"Lo salah."
Senja menunduk dan meminta maaf. Sepertinya lelaki itu tersinggung atas perkataan Senja tadi. Memang benar jika Langit tak menyukai perempuan dan tidak peduli pada mereka, mana mungkin Senja berada disampingnya saat ini.
Senja mencoba bertanya lagi. "Dan.. kenapa lo mau nolong cewek kaya gue?"
Langit menatap Senja lagi, kali ini lama. "Bukan cuma lo."
Senja menelan salivanya. Benar juga, Langit juga pernah menolong adiknya, Risa. Namun menurutnya, itu masih belum logis. Langit sudah keseringan menolong dirinya.
"Tapi, kan.."
"Apalagi?"
"Eum.. enggak."
Langit beranjak dan hendak mengantar Senja pulang. Namun dengan segera Senja menarik pergelangan tangan Langit.
"Jangan pulang dulu.."
"Justru gue disini, supaya seragam gue kering."
Langit menggeleng-gelangkan kepala. "Kering? Lo bisa sakit!" bentak Langit.
Senja tetap kekeh ingin duduk disana beberapa menit lagi. Karena seragamnya sebentar lagi kering. Ia ingin Langit tetap bersamanya dan menenangkannya. Rasanya nyaman ketika Langit berada didekatnya.
"Gue tau, tapi gue pengen di sini dulu sama lo."
Langit pun duduk dengan hati yang berat. Ia takut jika gadis disebelahnya itu sakit dan ialah yang akan disalahkan.
"Jangan sakit, tapi."
Senja terkekeh keras mendengar itu. Mana mungkin sakit bisa ditunda-tunda. Namun itu yang Senja suka dari Langit, ia sangat perhatian kepada perempuan.
"Iya, gue gak akan sakit. Janji." Senja menunjukkan kelingkingnya, lalu tersenyum manis.
...****...
__ADS_1
...🔱...