MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 32


__ADS_3

...


...


Langit menoleh ke arah Senja sekilas, gadis itu masih terpejam merasakan desiran angin.


Langit memiliki ide untuk membuat gadis itu menjadi lebih baik lagi. "Hm, Oke," batinnya.


Ia pun pergi untuk mengambil sesuatu dil antai bawah. Setelah mendapat apa yang ia pikirkan, akhirnya ia kembali untuk menemui "Senja!" teriaknya lalu melempar suatu benda yang diambilnya tadi.


Senja terkejut dan refleks menangkap sebuah alat untuk mengukir mural. "Ck, Langit! Bisa kan lo gak usah ngagetin gue?"


"Sorry," responnya singkat.


Senja mengamati benda itu. "Masih ada tempat kosong," ujar Langit.


"Kosong? mana? Semua tembok udah penuh Langit!" kesalnya.


"Lihat ke bawah!"


Senja menurut, ia melihat ke bawah. "Hm, jadi ini boleh gue coret?" tanyanya.


"Bukan coret, gambar!"


"Eh, i.. iya gambar maksudnya."


"Lo bebas gambar apapun atau bahkan lo boleh ukir nama orang yang lo sayang," ucapnya lalu menunduk.


Mata Senja berbinar menatap Langit yang berbicara seperti itu. Senja mengangguk. "Oke gue buat nama orang yang gue sayang boleh, ya?"


Langit meneguk, lalu salah tingkah membalas pertanyaan Senja. "Iya. Boleh-boleh."


Senja tersenyum. Ia pun memakai masker untuk melindungi pernapasannya, begitu pun Langit. "Oke, Ayo mulai!"


Senja memulai dengan huruf 'A'. Bahu Langit merosok, seketika hatinya seperti tertusuk benda tajam di dunia. Rasanya ia ingin menangis, tapi dibantahnya. Senja boleh melakukan apapun! Senja boleh mencintai siapapun! Asalkan dia bahagia.


Meski gadis ini baru menggunakan seni ini pertama kali, namun ia sudah lihai mengukir. Dilanjutkannya huruf 'R', tak salah lagi. Arkan.


Langit semakin jatuh. "Lo jangan cemburu, Lo gak boleh iri!" batinnya mengingatkan.


Selanjutnya Senja mengukir huruf 'K'.


Langit pun membantu Senja. Bukan untuk nama "Arkan" melainkan nama "Senja".


"Wih, bagus-bagus. Makasih ya?" Mata Senja menyipit. ia sepertinya tengah tersenyum. Langit bisa melihat itu.


Tanpa Senja sadari bahwa Langit sedang membuat ukiran nama orang yang ia sayangi, Senja. "Huft..- Yey Selesai!" pekik Senja.


Senja membuka maskernya, lalu memiringkan kepala. "Langit, bagus banget! Lo keren." Sembari mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Hm."


Senja meraih ujung rooftop dan duduk disana. Langit menghampiri Senja yang kembali murung, sepertinya ia ingat kekasihnya lagi.


Langit melihat objek yang paling menarik dibawah. Ia pun ingat ada satu janji yang belum ia tepati. "Lo tunggu di sini!" Langit beranjak.


"Eh Langit! mau kemana?"

__ADS_1


"Sebentar," teriak Langit.


"Kebiasaan!"


Tak lama, Langit terlihat dari atas sini. Senja terkekeh, sangat menakjubkan sikap kepekaan Langit itu. Ia mengagumi Langit sebab Langit merupakan lelaki yang perhatian, peka, baik dan hangat sebenarnya.


"Nih," ucap Langit seraya duduk kembali dengan Senja.


Langit menyodorkan buah yang selalu menjadi kegemaran Senja. "Kok cuma satu?" tanyanya.


"Mau apa enggak?"


"Eh, Iya mau!" Pisang itu pun disambar Senja sampai habis.


"Makasih Lang!" ucap Senja sembari menatap Langit penuh Arti. "Hm, sama-sama."


Mereka pun kembali menikmati angin yang menerpa. Senja dan Langit dengan nama Arkan dibelakang. Patah hati yang menyenangkan, mungkin itu yang sedang Langit rasakan.


****


Malamnya Irfan dan Rizky mengunjungi Arkan yang sedang sakit. Mereka juga hendak mengabari soal pengumuman lomba yang diadakan tadi siang.


"Gimana bro? Baikan?" tanya Irfan seraya mengajak bersalaman.


"Hm, baik."


"Eh iya, kita menang dance kali ini," ujar Rizky.


"Emang kita kan selalu menang, gimana sih!" timpal Irfan.


"Jadi, kita juara 1?" tanya Arkan semringah.


"Iya, piala kemenangannya udah diserahin ke sekolah."


"Akhirnya..," Arkan semakin berbinar.


"Kayanya sih berkat Adek lo nih Kan, ya gak?" ujar Rizky menyela perkataan Arkan.


Arkan meneguk, rasanya ia ingin menelan Rizky sekarang juga. Bagaimana bisa Risky mengatakan itu di depan Arkan, sekalipun itu kenyataan. "Ky.." lirih Irfan memperingati sahabatnya itu.


"Ups!"


"Ar? Rencana liburan mau kemana nih?" Rizky mengalihkan percakapan menegangkan tadi.


"Gak kemana-mana. Paling main sama Senja."


"Gak ada rencana keluar kota gitu? Atau gak keluar negeri?" bujuk Irfan.


"Ar? Ayolah! Jogja gimana? Atau gak pantai? Banyak cewek-cewek bule berjemur, kan enak, cuci mata kita." Kali ini Rizky dengan pikiran agak kotornya.


Arkan terlihat berpikir. Asik memang jika mengajak Senja ke Jogja atau pantai. Tapi bagaimana jika Langit dan teman-temannya berinisiatif berlibur di tempat yang sama? Itu akan merusak suasana. "ENGGAK!" teriak Arkan.


Irfan dan Rizky yang sedari tadi bermain suit Jepang itu pun terperanjat kaget. "Allahuakbar!" Lucunya ekspresi Irfan mengucap Takbir haha.


"Eh buset! Gak ada angin, gak ada hujan, main enggak-enggak aja!"


"Enggak, gue gak mau liburan ke sana."

__ADS_1


"Yaudah, gue sama Irfan aja kalau gitu," usul Rizky.


"Eh niat kesini kan.. mau minta dibayarin Arkan ke Jogja, gimana sih lu!" bisik Irfan kepada Rizky.


"Eh iya juga ya!"


Arkan hanya menggelengkan kepala dan menatap keduanya sinis, teman lucknut memang! Pada akhirnya Arkan akan mengadakan liburan bersama dengan kekasih pertamanya, sekaligus liburan pertama bersama gadis yang ia cintai.


****


Seperti biasanya, mereka berempat pergi ke lapangan basket di dekat rumah Langit. Langit dan Arif satu tim, sedangkan Falah dan Eri. Kini bola berada di tangan Falah, lelaki itu sangat jago memainkan bola basket, bertolak belakang dengan Arif.


"Ri!" Bola itu melambung ria ke arah Eri.


Hap!


Perawakan jangkungnya menutupi tubuh mungil milik Eri. Ah sial! Arif merebut bola itu dan berlaga seperti atlet bola basket. Tengah asik mendribble, akhirnya ia lengah hanya dengan satu nama.


"Rif! Ada Lia!" teriak Eri.


Arif menoleh. "Mana?" tanyanya sembari celingukan mencari Lia.


Falah dan Eri tertawa keras, "Ditipu mau aja haha." Kemudian keduanya bertos ria.


"Jurang lu pada!" Arif menepi dari lapangan.


"CURANG woy!" Keduanya meralat ucapan Arif Dewanta itu.


"Ah iya terserahlah! Gue udahan ah. Giliran gue pegang bola kalian malah curang!" Arif membuang muka tak ingin melihat kedua temannya itu.


"Yaudah iya, maafin kita dah," ucap Eri mencoba mencairkan suasana.


"Gimana kalau kita ngomongin liburan? Mau pada kemana liburan kali ini?" sambung Falah.


"Pantai! Pantai!" Layaknya anak TK, Arif dan Eri dengan semangatnya mengatakan pantai.


"Gue setuju!" ujar Falah mengedipkan mata dan membentuk jari-jarinya seperti pistol.


"Gue mau ajak Lia ah!" usul Arif.


"Gue ajak siapa?" Eri dengan segala kepolosannya. "Nenek lo!" Jawaban itu terdengar diujarkan oleh kedua makhluk lainnya.


Eri mencebikkan bibirnya, lalu matanya mengarahkan Arif dan Falah untuk menatap si dingin itu. Apa yang ada dibenaknya? Kenapa ia diam saja, seperti ada yang tengah dipikirkan!


Seasik itu kah isi kepalanya? Sampai ia senyum-senyum sendiri?


"Kesambet nih anak!" -Eri Arwana


"Iya gue tau dia jomblo, tapi jangan sampai gila juga." -Arif Dewanta


"Adegan pantai part 7 nih kayanya, berjemur!" -Falah Herlangga


...Telepati ketiganya....


...****...


...🔱...

__ADS_1


__ADS_2