MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 41


__ADS_3

...


...


Sepertinya dunia sedang berseri hari ini. Nampak mentari pagi menyinari seluruh bumi, embun sejuk menyapa, suara kicauan burung seakan menandakan bahwa kau boleh menikmati hari yang cerah ini, dan semoga saja ceria menyusul.


Lagipula permasalahan antara anak-anak muda ini sudah terselesaikan, mungkin. Sehingga jiwa euphoria mereka bangkit lebih nyaman dari sebelumnya. Semoga saja tak ada lagi yang harus menjadi persoalan rumit.


Hari ini adalah hari terakhir mereka melaksanakan MOS. Semua orang-orang di sekolah tersebut semakin semangat ketika tahu susunan acara tersebut akan diisi pertunjukkan dance. Seperti tahun sebelumnya, ketika itu Senja mendapat kesempatan untuk memberi setangkai bunga kepada Arkan, dan nyatanya itu yang membawa mereka sejauh ini.


"Lo bisa ambil satu lagi buat Arkan," kata Hana yang diberi tugas untuk memberi tujuh kuntum bunga per kelas.


" ... dan jangan lupa, buat gempar lapangan, ya?"


Senja tersenyum malu-malu. Hanya ia OSIS beruntung yang diberi kesempatan memberikan bunga. "Ini aku ambil, ya Kak? Makasih hehe."


"Iya, sama-sama."


Senja tersenyum manis ke arah Hana yang juga menggunakan jas sekolah. Senja begitu senang ketika boleh mengambil setangkai bunga mawar, bunga mawar putih yang cantik dan indah. Ia ingat hari pertama bertemu dengan Arkan.


Senyum manis itu menghias wajah Senja yang cantik, ia memiliki pipi merona yang akan menyapa Arkan, rambut tergerai dengan anak rambut yang ditautkan, menjadikan Senja sangat berbeda hari ini. Dan itu pasti akan membuat Arkan jatuh lebih dalam lagi ke pesona kekasihnya. OMG😂


Senja pun masuk ke dalam ruang kelas, lalu menaruh tujuh kuntum bunga itu di meja yang biasa digunakan guru. "Jadi, gimana cara pembagian bunganya?" tanya Aurel.


"Kita random aja, karena udah gak ada waktu," jawab Erik.


Akhirnya kelima anggota OSIS yang bertugas di gugus Butterfly itu membagikan bunga secara acak. Sungguh beruntung bagi mereka yang mendapatkannya!


Pukul 09.00


Risa masih kebingungan setelah menjadi salah satu pemenang game singkat itu. Sebagai hadiah, ia mendapatkan sekuntum bunga mawar yang katanya bebas ingin diberikan kepada member STB yang mana. Jujur saja, ia tak tahu apapun soal member STB itu, yang ia tahu hanyalah BTS.


"Ris, kamu beruntung banget."


"Beruntung?"


"Iya, kamu berkesempatan ngasih bunga itu ke member STB, dan kamu tahu gak? Kak Arkan itu salah satu member STB!" serunya.

__ADS_1


"Ya terus?"


"Ya, kalau aku dapet bunga kaya kamu, aku bakalan ngasih bunga itu buat kak Arkan." kata Lita yang kemudian berkhayal.


"Jangan ngarep!"


"Peluang kamu buat dapetin Kak Arkan itu cuma 10%, sisanya kamu boleh berkhayal, bebas kok," canda Risa.


"Ih Risa, kok kamu tega sih?"


Sebenarnya Risa sudah gatal ingin memberitahu kepada semuanya bahwa yang mereka kagumi adalah kekasih dari kakaknya, Senja.


"Eh iya Ris, kamu kan masih sakit," menyentuh dahi Risa. "Tuh kan, badan kamu masih panas, mending kamu istirahat di UKS. Biar bunganya aku yang kasih."


"Enggak, orang kata bunda demam aku udah turun."


" ... kamu kali yang sakit, sakit halu haha!"


Lita mencebikkan bibirnya, mengapa ia harus mengenal teman baru macam Risa. Imut-imut nakal. "Eh itu yang belakang? Kalian gak mau keluar?" tegur Agnes, salah satu OSIS yang membina gugus Bee.


"Eh iya Kak!"


****


Arif menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan absurd teman-temannya. Falah dan Eri dengan rambut mereka yang terang menyala, layaknya gula kapas yang diberi pewarna. Belum lagi, kini keduanya tengah asyik dengan sound sistem yang ada diruangan itu.


Dimainkannya lagu terkenal dari BTS ~ Boy With Luv. Terlihat Falah yang tak henti-hentinya berbicara soal bang Agus, sang idola yang ia kagumi. Eri nampak kebingungan menanggapi perkataan Falah.


"Eh Rif, lo harusnya kemaren ikut kita ke salon," ujar Falah.


"Iya Rif lihat kita, udah kece belum?" kini Eri, sang pemilik rambut golden brown.


Arif bergidik geli. "Terus lo berdua mau rambut gue warna merah, gitu?"


"Nah iya, kan bagus tuh. Tapi telat sekarang kita mau tampil."


"Eh Ri gak apa-apa, biar si playboy itu gak keluar aura," timpal Falah.

__ADS_1


Eri mengangguk ceria. "Eh tanpa di warna juga gue udah punya aura, secara gue kan worldwide handsome," kata Arif.


Tong sampah mana? Falah dan Eri sudah tidak kuat lagi setelah menelan kepercayaan diri yang tinggi.


"Enek gue Rif!" ujar Falah sembari menunjukkan ekspresi jijik.


"Eh Lah! Lo boleh enek. Tapi disini siapa yang punya cewek, lagian jomblo ngenes aja pake ngomong soal aura-aura, emang lo tahu artinya aura?"


"Gue tahu Rif, aura yang cantik itu 'kan?" oh sudah Rif, sepertinya Eri sudah melenceng dari perbatasan, eh pembahasan.


"Eh Ri, maksud lo gue cantik?!"


"Bukan, bukan gitu Rif. Maksud gue Aura Kasih, kan?"


Sudahlah, Eri benar-benar keluar landasan. Arif dan Falah memilih diam untuk menghentikan ocehan Eri yang keliru.


Langit datang lengkap dengan jaket jeans hitam dan memakai topi untuk menghindari kontak langsung dengan siswi-siswi baru itu. Ketika Langit sedang bersalaman dengan ketiga temannya, Arkan pun datang dengan kedua member yang lain.


"Lapangan udah rame, kalian udah siap 'kan?" tanya Arkan.


Mereka mengiyakan kata siap dari Arkan. Semoga saja latihan selama dua hari ini akan membuahkan hasil yang manis.


****


Ketujuhnya berdiri di tempat yang sepi. Meski begitu, tetap saja mereka mendapatkan mata cinta dari penggemarnya, Arkan dan yang lainnya akan tampil setelah demo ekstrakuliler yang dipimpin oleh Irfan.


Terlihat Senja dan ketujuh anggota wartawan mading yang tengah tampil. Senja dan ke empat lainnya memegang kamera polaroid, dengan sesekali mereka menyelipkan gerakan dance ringan. Dengan menggunakan almamater biru, Senja nampak sejuk dipandang.


Terdapat satu orang yang memegang papan mading, dan dua orang lagi mencatat informasi. Senja dan ke empatnya berlari ke segala penjuru untuk memotret asal objek apapun. Kebetulan Senja melihat Arkan yang sedang tersenyum ke arahnya, ia pun mengambil moment itu. Cekrek.


Ketika Senja tengah berjejer rapi di hadapan mading berjalan, ia pun menggerak-gerakan foto hasil jepretannya itu untuk melihat hasil akhirnya.


Begitu kagetnya ia ketika mendapati wajah Langit di fotonya. Bukankah ia memotret Arkan tadi? Kenapa Langit yang muncul? Senja menoleh ke arah Arkan lagi, memang lelaki dingin itu berdiri disamping Arkan. Mungkin karena Senja terburu-buru, ia jadi salah sasaran.


Namun Senja tersentuh melihat itu, menurutnya hasil jepretannya sangatlah bagus. "Manis." Sembari tersenyum ia mengatakan satu kata itu di dalam hati.


...****...

__ADS_1


...🔱...


__ADS_2