MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Part 8 : Orang Baru


__ADS_3

...Sekejap aku mengerjap, secepat itu kamu pergi....


...~QB903...


...πŸ”±...


Senja terus memikirkan apa kesalahan yang telah dibuat oleh keluarganya kepada keluarga Yumi dulu. Gadis itu sangat takut jika Yumi benar-benar menyakiti Bunda dan adiknya. Hidup Senja sudah cukup menderita sejauh ini, kenapa masalah baru datang lagi?


Gadis yang tengah merenung itu tak habis pikir mengapa Yumi masih ingat kejadian itu, sementara Senja sudah lupa. Senja ingin sekali bertanya pada Bundanya, tapi ia urungkan sebab lebih baik semua penderitaan ditanggung olehnya nanti.


Senja frustasi sekarang ini, belum lagi ia memikirkan Arkan yang telah berubah. Semuanya masih nampak sama, tapi ketika melihat celah-celah, Arkan sepertinya bukanlah kekasih yang Senja kenal. Mungkin Arkan sudah mulai memikirkan semuanya dengan serius.


Gadis itu ketakutan, ia takut kehilangan Arkan. Ah, kenapa ujung-ujungnya teringat Arkan?!


Senja pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Arkan.


Kak Arkan


[Memanggil]


Tak lama suara perempuan dengan nada lembut menyapa telinga Senja.


[Maaf, nomor yang anda tuju sedang sibuk. Silahkan coba beberapa saat lagi]


Senja pun mematikan ponselnya. Hari ini Arkan bahkan tak membalas pesannya. Setelah kejadian di kampus tadi, Senja tak melihat Arkan lagi. Gadis itu bahkan diantar pulang oleh Langit.


Jantung Senja berdegub kencang, mungkinkah Arkan sedang berteleponan dengan perempuan?


"Kak Arkan kenapa, ya?" tanya Senja. "Akhir-akhir ini pesan aku juga gak dibalas."


Senja menghembuskan nafas kasar dan sekarang whatsapp dari laki-laki itu aktif. Senja sedang menunggu Arkan mengetik lalu membalas, tapi jangankan begitu, warna biru saja tak terlihat dicentangnya.


Di ruang chatnya Senja menuliskan pesan ajakan untuk Arkan. Karena minggu nanti, Senja hendak menghadiri acara ulang tahun Lia. "Apa aku telepon lagi?" tanya Senja.


Senja pun menelepon Arkan lagi. Namun apa yang terjadi? Arkan mematikan data ponselnya!


"Kok gak aktif lagi?! Kak Arkan kenapa, sih?!" gerutunya.


Senja merasakan denyut menyakitkan di dada sebelah kiri. Karena pesan yang tak terbalaskan itu mengundang perih.


****


"Pokoknya gue mau ajak Risa buat jadi partner gue nanti," ucap Falah.


"Gak bisa gitu, Lah. Risa itu..." Eri langsung diam ketika hampir saja keceplosan.


"Risa itu... apa?" tanya Falah heran.


Eri lupa, di sini kan ia sedang berpura-pura memperebutkan Risa. Eri bersikap seolah-olah belum menang dari Falah. Sebenarnya Langit kasihan dengan hubungan Risa dan Eri, tapi mau bagaimana lagi? Falah juga adalah sahabatnya.


"Eum.. gini, Lah. Gimana kalau kita tanding. Biar Risa yang pilih diantara kita."


Langit tersenyum tipis. Ya pasti Eri lah yang menang.


"Oh, lo mau coba lawan gue? Ayo aja! Siap-siap nangis di pojokan karena Risa bakal milih gue," ucap Falah sombong.


"Yakin? Lo nembak aja ditolak!" sindir Eri.

__ADS_1


Falah membuka matanya lebar-lebar. "Kok lo tahu gue nembak Risa?!"


Eri kelabakan, keceplosan kan! "Eum.. g-gue kan selalu bajak hp lo, jadi gue tahulah!"


Falah menjitak kepala Eri. "Bisa-bisanya ya lo bajak hp orang!"


"Ya, maaf. Gue 'kan kepo," alibi Eri. Padahal ia tahu dari Risa langsung.


Langit menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan dari sahabat-sahabatnya itu. Falah dan Eri sedang ribut soal perempuan, sedangkan Arif sedang aman damai berteleponan dengan Lia. Dan Langit, ia malah sedang sibuk memikirkan Senja.


Langit sangat ingin tahu apa maksud Yumi, mengapa gadis itu selalu mengusik Seseynya?


Sesey


[Memanggil]


Betapa menyenangkannya ditelepon oleh orang yang sedang dipikirkan. Langit langsung semringah ketika posisi nyamuknya berakhir. Ya, Langit tak ingin ditelepon siapapun selain Seseynya. Jadi, apa itu artinya Langit sedang menjaga perasaannya?


Langit pun mengangkat telepon dari Senja itu.


[Halo, Lang]


Tunggu-tunggu, kenapa suara Senja seperti sedang menangis?


"Kamu nangis?!" tanya Langit.


[Hiks.. aku butuh kamu, Lang]


Senja tak ada pilihan lain. Lia sedang sibuk, Arkan juga. Jadi ia memilih Langit untuk mendengarkan keluhannya. Senja ingin curhat kepada cowok itu.


"Kamu dimana?"


"Ya udah aku ke sana, kamu jangan lupa pakai jaket."


Namun Senja keburu mematikan teleponnya. Dengan segera Langit menarik jaket yang akan menutupi kaus putih yang dipakai di tubuhnya. Seperti biasanya, Langit pasti tak berpamitan kepada sahabat-sahabatnya dan langsung pergi.


"Jangan Lah! Hp gue kebanyakan sakit hatinya!" Eri memberontak sebab ponselnya akan diintip Falah.


"Sini gue lihat!" Falah tetap memaksa.


Arif menyadari sahabatnya itu pergi. "Woy Lang! Lo mau kemana?!"


Kedua kunyuk itupun baru tersadar jika Langit pergi. Falah menghentikan kegiatan memaksanya dan memilih bergabung dengan Arif. "Langit mau kemana tuh?"


Arif mengedikkan bahunya. "Kita pulang aja!"


Falah dan Eri pun mengangguk dan mereka semua pulang.


****


Langit melajukan motornya dengan kecepatan diatas normal. Ia tak ingin membuat Senja menunggu, makanya cowok itu sedikit ngebut. Langit tahu jika Senja meminta seperti itu, itu artinya ia tidak sedang baik-baik saja dan ingin berbagi masalahnya dengan Langit.


Lantas kemana Arkan?


Jujur saja, pertanyaan semacam itu selalu terlintas di pikiran Langit.


Matanya menyipit kala melihat seorang gadis yang tengah berjalan gontai sembari merokok. Gadis itu sungguh tak asing di mata Langit. Lantas Langit pun menghentikan laju motornya di samping gadis itu.

__ADS_1


Gadis itu hanya mengamati Langit dan motornya. Kenapa dia berhenti tepat di sampingnya?


Langit membuka helmnya. "Lo Langit, kan?" tanya Luna.


"Buang!"


Luna terkekeh kecil, ia bahkan baru berbicara dengan Langit tadi siang dan sekarang cowok itu berani menyuruh?


"Lo lebih baik pulang ke rumah pacar lo, terus perhatiin dia. Bukannya peduliin gue dan sok baik," ucap Luna.


Langit lantas meraih batang rokok itu dan membuangnya. "Eh! Lo ngapain?! Itu rokok terakhir gue!" bentaknya. "Kenapa dibuang?! Apa masalahnya sih!"


"Serius yang terakhir?" tanya Langit. Luna mengangguk.


Langit mengacak rambut Luna. "Bagus."


Luna memberontak karena rambutnya diacak-acak oleh Langit. "Heh! Lo mau modus kan sama gue?! Lo gak takut apa cewek lo marah! Udah punya yang cantik, masih aja kurang! Dasar cowok!"


Langit mendekat ke wajah Luna. "Dia bukan pacar gue," jawabnya.


Luna melebarkan matanya dan meneguk salivanya gugup karena wajah Langit dengannya hanya terpaut beberapa senti.


****


Senja menunggu di taman yang biasa dikunjunginya dengan Langit. Gadis itu menunggu di kursi favoritnya, kursi yang juga disukai oleh Langit Prasetya. Senja menggosok-gosokkan telapaknya, lalu meniupnya agar dinginnya malam tak terlalu mengusik tubuhnya.


Senja melihat sekitaran taman, masih ada orang yang berlalu lalang. Taman itu memang tak terlalu sepi. Senja berharap Langit segera datang dan membantu meringankan permasalahannya.


Kakinya sibuk menggosok-gosokkan bumi. Kalau saja jarak langit dekat, mungkin yang Senja ganggu adalah langit itu. Ah, ia terlalu bosan menunggu Langit yang tak kunjung datang. Senja celingukan kembali, "Lang mana, sih?" tanyanya dengan bibir menggigil.


Suara motor besar terdengar jelas di telinga Senja. Sepertinya itu Langit. Senja melihat itu memang Langit... dan seorang perempuan. Siapa dia?


Langit dan perempuan itu berjalan ke arah Senja. "Luna?" sapa Senja.


"Hai, Senja."


"Hai."


"Gak apa-apa kan kalau aku bawa Luna ke sini?" tanya Langit.


Senja menunduk sejenak. Ia ingin menceritakan seluruh masalahnya, tapi tidak di depan Luna. Kenapa Langit malah membawa gadis tomboi itu ke sini?


Senja menarik nafas. "Hm, boleh. Harusnya yang aku tanya itu Luna. Apa dia gak keberatan sama kita di sini?"


"G-gue gak pernah keberatan kok. Lagian gini Sen, jadi tadi itu gue tiba-tiba dibawa Langit ke sini. Gue tadinya gak mau, tapi Langit maksa," terang Luna.


Senja sedikit keberatan, tapi mau bagaimana lagi, Langit memang baik kepada semua orang.


"Eum.. gini aja deh, gue pergi aja, ya?" tanya Luna karena Senja diam saja.


Senja menahan lengan Luna, "Jangan, lo udah dibawa Langit ke sini. Otomatis, lo juga penting buat dia."


Langit menautkan alisnya, apa maksud Senja?


...~πŸ”±~...


...Maaf ya, aku selalu up lama dan wordnya gak banyak. Maksud aku tuh, biar dikit-dikit aja. Supaya kalian paham juga sama masalah dari cerita iniπŸ™...

__ADS_1


...Tapi semoga aja semua masalahnya masuk akal yaa....


...❀...


__ADS_2