
...Selamanya aku akan percaya pada orang yang kusayang daripada orang yang kupercaya....
...🔱...
Seperti yang Sara bilang, mereka ada briefing satu angkatan. Yang itu artinya, Arkan, Sara dan Yumi akan berada di satu kelas yang sama. Ya, gadis yang menganggu Senja itu tepat satu angkatan dan fakultas dengan Arkan. Itu membuat Arkan risih memandangnya. Ia bahkan tak menyadari hal itu, bahwa selama ini Yumi selalu berada di sekitarnya.
Meski begitu, tapi Sara berada di sampingnya dan membuat suasana sedikit lebih tenang.
Sara berada di sebelahnya, tapi entah kenapa di pikirannya selalu ada Senja. Gadis yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Kekasihnya yang sedang mengalami musibah sebab orang tersayangnya sakit.
Yumi terlihat tersenyum sinis ke arah Arkan dan Sara melihat itu. Gadis yang sekarang berada di samping Arkan rupanya tahu persilihan antara Arkan dan Yumi. Yumi kan pernah menjadi lawan Arkan ketika menjadi ketua BEM.
"Arkan sama Sara? Mereka kenapa dekat banget?" batin Yumi.
Sara melihat wajah Arkan yang sepertinya sedang gelisah. "Arkan?"
Arkan tersentak. "Eh, i-iya ... kenapa Sar?" tanya Arkan.
"Lo lagi gak ada masalah, kan?"
Arkan terkekeh kecil. "Nggak, kok. Ini gue lagi dengar Dokter kasih kesimpulan."
Sara manggut-manggut. "Oh, eum ... gue pikir lo masih ada masalah sama Yumi. Dari tadi dia lihatin lo terus soalnya."
Mereka sedang mendengarkan kesimpulan yang diberikan Dokter dan sebentar lagi pulang. Arkan juga melihat ke arah Yumi yang ternyata tengah memantaunya. Arkan menghela nafas panjang karena takut Yumi berpikiran yang aneh-aneh dan gadis itu pun memberitahu semuanya pada Senja.
"Baik, sampai sini dulu, terima kasih atas perhatiannya." Dokter itupun merapikan kertas-kertasnya ke meja dan pergi berlalu.
Semua mahasiswa yang ada di sana lantas mengangkat semua tas mereka, ada juga yang merapikan buku-buku mereka dulu dan lalu pulang. Mereka pulang sekitar pukul lima petang, tapi mereka masih harus memikirkan tugas kuliah yang tadi diberikan.
Arkan dan Sara satu kelompok bersama dengan Ghea serta Gilang dan beberapa orang lainnya. "Sar ... seperti biasa bisa, kan?" saran Arkan. "Nanti gue kirim semua materinya."
Sara mengangguk lemah. Itu sedikit pusing dan pasti membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
"Gilang sama Ghea, kalian makalah."
"Dan yang lainnya, kalian bisa pulang dan siapin diri buat presentasi. Gue juga bakal kirim ke kalian, besok kita bahas tugasnya lagi. Pokoknya jangan lupa buka grup," jelas Arkan. "Maaf banget karena hari ini gue gak bisa, tapi biar gue yang handle kalau kalian ada problem."
"Okelah, makasih nih Ar, gue pulang ya?" pamit temannya sembari menepuk bahu Arkan.
"Yoi, gue juga duluan, ya?" Arkan mengangguk. Semua temannya pun berlalu dan meninggalkan mereka.
Karena seperti biasa, Arkan memang selalu bisa diandalkan.
"Lo yakin bisa sendirian?" tanya Sara.
"Iya, gue bisa kerjain malam kok."
Sara hanya manggut-manggut menanggapi itu, Arkan sepertinya ada urusan yang harus ditangani. Ghea dan Gilang pun pamit untuk mengerjakan tugas mereka secepatnya, karena itu lebih baik, pikir Ghea.
"Kalau gitu gue sama Gilang duluan, ya?" pamit Ghea kepada Arkan dan Sara. "Iya, gue juga duluan, ya? Mau date sama Ghea," tambah Gilang.
__ADS_1
"Ck, lo apa-apaan sih! Orang kita mau ngerjain tugas, dimana kesan datingnya?!" bentak Ghea.
"Ya, kan berdua sama lo aja udah gue anggap dating, Ghe."
Ghea menghela nafas. Arkan memang laki-laki yang baik, makanya ia memberikan Ghea untuk Gilang. "Ya udah, kita cabut duluan. Bye Sara!" sapa Ghea, kemudian pergi. "Gue juga duluan, makasih ya Ar! Lo emang teman terbaik," pamit Gilang sembari menyusul Gheanya.
"Ya udah Sar, lo mau balik juga?" tanya Arkan.
Sara ingin Arkan paham, tapi sepertinya ia sedang tidak mengerti. "Hm."
"Naik apa?"
"Gue ... naik taxi."
"Ya udah kalau gitu, gue antar sampai depan."
Sara mengangguk, kemudian mereka berdua keluar dari kelas itu. Arkan langsung tertuju pada Yumi yang masih berkeliaran di sekitaran kelas bersama dengan temannya.
Yumi melayangkan tatapan tajam ke arah Arkan dan Sara. Takut Yumi berbicara yang tidak-tidak, akhirnya Arkan memegang tangan Sara.
Sara tertegun. "Loh, kenapa Ar?"
"Eh, ng, nggak. Gue antar lo pulang sampai rumah, ya?"
"Kok, tib..."
Arkan pun membawa Sara yang kebingungan itu sampai ke parkiran dan hendak mengantarnya pulang.
****
Nampak seorang gadis murung sedang memandangi ponselnya. Sudah hampir petang, senja pun hendak menghilang dari sisi bumi. Namun sepertinya itu tak menggentarkan niat gadis itu untuk masuk ke dalam atau beranjak dari sana.
Tak sadar bahwa Langit pun sudah sekian lama duduk di kursi taman itu.
"Lang!" bisik Luna sangat pelan. "Gue bisa lumutan tahu duduk di sini."
Langit hanya menoleh sedikit, kemudian melihat ke arah Senja lagi. "Sebentar lagi."
"Lo pengecut banget, sih! Itu Senja di sana, ayo kita samperin!" ucap Luna.
Langit diam.
"Ck, lo lama! Biar gue yang kesana!" Kemudian Luna beranjak, tapi buru-buru ditahan oleh Langit.
"Kenapa lagi, sih?" tanya Luna kesal.
"Tunggu sampai Senja pergi."
Luna hanya memutar bola matanya malas, untuk apa juga ia menuruti perkataan Langit. Dia kan bisa beranjak dari sana dan menikmati hari-harinya yang menyuramkan.
"Lo buang-buang waktu gue, Lang!" Luna bangkit dan melepas topi hitamnya, karena ia juga pakai.
__ADS_1
Langit terkejut, kemudian melihat ke arah Senja lagi. Untung saja gadis itu masih sibuk dengan ponselnya. Sementara Langit mengomel, Senja masih menunggu seseorang datang atau membalas pesan yang dikirimnya.
"Kak Arkan kenapa gak kesini, ya? Padahal dia udah bilang mau kesini lagi tadi," lirihnya. Senja tak tahu lagi, bukan tanpa alasan, ia membutuhkan Arkan kali ini.
Sudah menelpon, tapi Senja tak mendapatkan jawaban sama sekali. Aneh, giliran orang yang mengirim pesan ke Arkan tadi pagi langsung dibalas dan membuatnya berseri-seri. Namun kenapa jika Senja yang melakukan itu, Arkan malah tidak membalas?
Akhirnya ia menyerah dan memilih masuk lagi untuk melihat keadaan Bundanya yang semakin drop.
"Tuh kan! Senja jadi masuk lagi!" Luna kesal. "Udah ah, gue mau pulang!"
"Ya udah sana!"
Luna menganga tak percaya. Ia kemudian melempar topinya Langit. "Tuh, dasar pengecut lo, Lang!"
Luna pergi begitu saja meninggalkan Langit. Langit jadi berpikir, "Apa benar gue ini pengecut?" batin Langit. Entah.
****
"Ar, makasih banyak ya lo udah mau antar gue." Sara terlihat malu-malu. "Sampai rumah lagi."
"Eum ... lo mau mampir dulu atau mau langsung pulang?" tanya Sara.
"Kayaknya gue mau langsung pulang, deh Sar. Soalnya kan ada tugas. Lagian lo juga harus istirahat," tolak Arkan.
"Iya juga, sih. Kalau gitu lo hati-hati di jalan," kata Sara.
"Iya."
Sara ingat sesuatu. "Eh, tunggu Ar!" Arkan tersentak. "Kenapa Sar?" tanyanya.
"Eh gini, g-gue mau omongin soal makan malam sama nyokap lo. Itu mau kapan?" tanyanya hati-hati.
Arkan terkekeh kecil. "Gue sama Mama terserah lo. Pokoknya kapanpun lo bisa, kita tentuin tempatnya."
Sara menggigit bibir bawahnya. "Kalau gue mau besok, apa bisa?"
"Apa yang nggak buat lo, Sar?" ujar Arkan. Sara tersenyum bahagia. "Bisa, kok. Nanti saling kabar-kabaran di chat aja."
Sara mengangguk sembari tersenyum lebar. "Iya."
"Oke, kalau gitu gue pamit dulu," kata Arkan menyalakan mesin motornya. "Salam buat orang rumah."
"Iya, makasih banyak ya Ar?"
"Iya, sama-sama."
Arkan berlalu dengan suara klakson. Sedangkan Sara melambaikan tangan ke Arkan. Untuk kemudian berteriak dan bersorak kegirangan. Gadis itu tak menyangka jika hari ini ia diantar oleh pujaannya, dan besok jualah hari paling berharga datang.
Sempurna dan lengkap sudah.
...🔱...
__ADS_1