MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 49


__ADS_3

...


...


"Cuma Mamanya Arkan aja? Papanya?" Kali ini papanya Arkan yang bertanya.


Dibalik pintu ia mengintip sedikit ke arah kamar yang isinya berada mamanya, papa tirinya, Arkan dan gadis yang sedang ia lupakan. Tadi dijalan pulang, Langit melihat mobil yang sama persis dengan mobil papa tirinya itu. Tanpa basa-basi ia langsung mengikuti kemana ban itu berputar.


Dan benar saja itu adalah mobil dari papanya. Bukan tanpa alasan, ia mengikuti karena jalur mobil itu mengarah kepada rumah sakit yang didalam ribuan orang terdapat satu pasien spesial yang sedang dirawat di sana.


Setelah mengintip sebentar, ia mendapat informasi penting yang luar biasa. Tak seperti papa tiri yang selalu ia pikirkan, Papa Arkan itu sangatlah lucu. Pantas saja mamanya dan Arkan selalu dibuat tertawa olehnya.


Langit pun meninggalkan rumah sakit karena mereka hendak pulang. Langit bersyukur jika orang tuanya itu dapat menerima Senja dengan baik. Meski ia tahu restu terbuka lebar untuk kedua sejoli itu.


"Yaudah, Tante sama Om pulang dulu."


Senja pun menyalami keduanya. Saat ini ia sedang syok, sebab pernyataan mama tiri dari Arkan. Arkan mengantar orang tuanya keluar dari rumah sakit.


Senja masih dengan ekspresi yang sama saat Arkan kembali. "Kenapa Kakak gak pernah bilang kalau Kakak sama Langit itu saudara tiri?" Dengan wajah datar Senja menginterogasi Arkan dengan pertanyaan yang sulit untuk dijawab.


"Senja, maaf soal itu ..."


Arkan mencoba menjelaskan semuanya kepada Senja. Gadis itu pasti mengerti alasan dari Arkan. Jujur, tidak ada yang tahu kecuali Oppi, bahwa Langit dan Arkan adalah saudara tiri. Arkan bilang itu tidak penting untuk dibahas lagi.


****


Tak terasa, kecelakaan itu terjadi dua minggu yang lalu. Hari ini Senja mulai masuk sekolah lagi. Senja maupun Risa diantar oleh kekasih dari Senja menggunakan mobil. Sebenarnya Senja bisa menggunakan bus umum, namun tahu sendiri khawatirnya Arkan kepada Senja bagaimana.


Risa meninggalkan sepasang kekasih itu. Arkan mengantar Senja ke kelasnya, bahkan ia mengantar gadisnya sampai ke tempat duduknya. Arkan merawat Senja dengan sangat baik, sehingga Senja bisa menikmati hari-hari seperti biasanya. Meskipun dengan kepala yang sedikit sakit.


"Makasih Kak."


"Hm, kalau ada apa-apa." Arkan mengarahkan ibu jari dan kelingkingnya membentuk telepon.


Senja tersenyum dan menggangguk menanggapi itu. Sedangkan yang lain hanya menatapnya sinis, tak nyaman dan aneh. Ada apa selama sekolah? Mengapa mereka menatap Senja begitu?


"Kadang gue bingung sama cowok ganteng, kenapa ya mau sama cewek yang suka selingkuh?" ujar Tiara.


Senja menatap Tiara kebingungan. Selingkuh? Apa maksudnya?


"Gue gak ngerti apa yang lo omongin!" Senja berani menjawab Tiara sebab ia sudah membawa kata 'selingkuh'

__ADS_1


Teman-temannya mulai menghampiri meja Senja. "Langit! Lo sama dia pacaran dibelakang kak Arkan, kan?"


Senja bangkit sebab yang di bicarakan Tiara sama sekali omong kosong. "Itu gak bener!"


"Jangan bohong, kita semua disini tahu kok, kalau lo sama Langit itu selingkuh!"


"Karena bukan sekali ataupun dua kali lo kepergok berduaan sama Langit. Tapi banyak dari kita yang lihat lo keseringan jalan sama dia."


Senja mengakui itu. "Iya, gue sama Langit cuma temenan. Emang salah kalau gue jalan sama temen gue?"


"Temen? Kok cuma berduaan? Peluk-pelukan lagi." Ucapan Tiara itu sungguh menohok hatinya.


Senja menarik nafas dan terlihat kesal. Wajahnya memerah, seketika ia menangis dan pergi keluar kelas.


"Dasar cengeng haha." Tiara berhasil membuat Senja menangis.


"Mereka semua salah paham, hiks." Senja menangis sepanjang jalan. Ia menutup mulutnya karena tak ingin orang lain menilainya aneh.


Seorang tak sengaja terlihat dari penglihatannya. Lelaki itu hanya melihat ke arah Senja sekilas, lalu melewatinya begitu saja. Sudah lama sejak hari itu, bahkan lelaki yang lewat tadi tak menjenguknya saat dirumah sakit.


"Langit!" panggilnya. Namun ia hanya fokus untuk mencapai kelasnya.


Senja memegang kepalanya yang sakit. Gadis itu terjatuh setelah penglihatan gelap dan hitam. Ya, Senja pingsan sebab kesehatannya belum benar-benar vit.


****


Senja membuka matanya perlahan. Arkan sudah berada disampingnya. Jadi, Langit tak membantunya? Ada perasaan aneh jika Langit tak menolongnya. Ada sesuatu yang hilang dari hari-hari Senja. Ia merasa sangat kejam hari itu, sudah menyuruh Langit melupakannya dan mengatakan bahwa ia tak membutuhkan lelaki itu.


Arkan memberikan minum untuk Senja. "Kalau memang masih sakit, kenapa maksain untuk sekolah?" tanya Arkan.


"Aku gak apa-apa kok Kak. Cuma sedikit pusing."


"Yaudah, terus sekarang mau gimana? Pulang atau istirahat di sini?"


"Aku di sini aja kak."


Arkan meraih pucuk kepala Senja. "Kalau gitu Kakak temenin, ya?"


Senja menggeleng. "Gak usah Kak, lebih baik Kakak masuk kelas, pasti ada soal yang harus dibahas untuk ujian 'kan? Aku gak apa-apa di tinggal sendiri."


"Hm, bener?"

__ADS_1


"I.. iya, aku gak mau ngerepotin Kakak terus."


"Jangan pernah merasa begitu. Kamu salah satu prioritas Kakak."


Lelaki satu ini juga menyihir perasaannya dalam beberapa detik. "Makasih Kak."


"Hm, kalau gitu kamu istirahat. Nanti Kakak balik kesini lagi."


Senja mengangguk, Arkan tak akan dilepasnya, ia janji. Tapi bagaimana dengan Langit? Ia ada dipalung hatinya yang paling dalam. Ia ada dengan julukan 'pahlawan' untuk Senja.


Seketika ia ingat akan rumor yang beredar disekolah itu tentang dirinya dan kedua lelaki tampan itu. Bagaimana pun ia tak pernah selingkuh!


"Senjaaa?" panggil Liani.


"Lia?"


"Yaampun, lo tuh ya, kalau memang masih sakit diem aja dirumah kenapa sih?" Lia mengomeli Senja karena khawatir.


"Gue udah baikan. Tapi mungkin gue sedikit down."


"Down? Kenapa?"


Senja pun menceritakan semuanya kepada Lia. Dan benar saja, ia tersentuh dan kesal akan seseorang yang telah menyebarkan rumor tak benar itu tentang sahabatnya.


"Emang ya mulut si Tiara itu kaleng nyaring, gue yakin dia pasti nularin gosip itu ke semua temen dikelas. Apa perlu gue labrak si Tiara?"


"Lia, gak usah. Gue gak apa-apa, itu hak dan pendapat dia. Yang penting kan gue gak ngelakuin itu sama sekali. Lagian lo tahu kan gue sama Langit cuma temenan."


"Iyalah, gue tahu. Lo itu kan cuma suka sama Kak Arkan."


Senja tersenyum tak nyaman, sebenarnya ada rasa terjepit untuk Langit.


"Eh tapi kasian ya Langit, udah lo itu cinta pertamanya, di tolak mentah-mentah lagi."


"Cinta pertama?"


"Iya, gue denger dari Arif sih gitu. Lo itu cinta pertamanya Langit."


Lia jangan bilang mulut Tiara kaleng nyaring, kalau kamu pun begitu. Entah sengaja atau bagaimana tapi Lia tak merasa jika ia salah memberitahu Senja. Jadi, Senja adalah cinta pertama Langit? Lalu siapa cinta pertama Senja?


Senja, tolong pikirkan lagi!

__ADS_1


...****...


...🔱...


__ADS_2