
...Aku tahu caranya mundur....
...🔱...
Senja dan Langit berlarian di rumah sakit. Keduanya langsung bergegas setelah tahu Arkan masuk rumah sakit. Langit memimpin, sedangkan Senja berlari di belakangnya. Entah kenapa, Langit langsung khawatir setelah tahu Kakak tirinya itu dilarikan ke rumah sakit. Meskipun ada sedikit rasa benci, tapi di hati Langit ada rasa sayang yang terpendam. Walau bagaimana pun Arkan kecil juga pernah baik dan selalu membujuknya untuk bermain.
Ya, ia ingat bagaimana cara Arkan membujuknya waktu pertama kali Arkan menjadi saudara tirinya. Setelah itu juga Langit mendapatkan satu teman yang tidak pernah dianggap. Makanya Arkan berbalik malas kepada Langit dan hingga kini mereka tidak pernah akur.
Langit mencari keberadaan Mamanya. Sampai akhirnya mereka bertemu dan Langit langsung memeluk Mama kandungnya itu erat. Benar saja, wanita itu tak berhenti menangis.
"Lang!" Mamanya menangis sesegukan dipelukan Langit. Sedangkan Senja sangat ingin tahu keadaan Arkan.
"Mama tenang, ya?" kata Langit.
Senja sibuk mengelus-elus punggung Mamanya Langit agar tenang. Sampai akhirnya mereka duduk menunggu Arkan yang sedang ditangani Dokter. Mama dan Papanya sudah mulai tenang semenjak kehadiran Senja dan Langit.
"Tiba-tiba Arkan gak sadarkan diri di kamar, tapi beruntungnya Mama sama Papa tepat waktu bawa Arkan ke rumah sakit," kata Mamanya bercerita kepada Senja.
Senja paham. "Sekarang Mama tenang, ya? Berdoa sama Allah semoga Kak Arkan baik-baik aja dan bisa kumpul sama kita lagi."
Mamanya langsung memeluk putri satu-satunya itu. Karena Senja merupakan pacar Arkan dan keluarga itu tidak memiliki anak perempuan, maka Senja sudah dianggap menjadi putri di keluarga itu. Senja tahu itu berlebihan, tapi semoga saja suatu saat nanti Senja benar-benar menjadi bagian dari keluarga itu melalui pintu yang menyenangkan. Misalnya menjadi istri Arkan.
"Makasih sayang. Makasih, karena kamu mau bertahan sama Arkan." Mamanya takut Senja tidak akan menyukai Arkan setelah tahu sikap Arkan yang ngeyel.
Senja mengangguk. "Sama-sama, Ma. Kak Arkan itu adalah orang yang istimewa buat Senja. Sama seperti sayang Mama ke Kak Arkan, Senja juga begitu."
Mamanya tersenyum dan melihat ke arah anak laki-lakinya yang ternyata tengah memperhatikan Senja. Sebenarnya Mamanya tahu jika Langit menyukai Senja, tapi sekarang sudah ada Luna. Semoga saja gadis itu bisa membuat Langit melupakan Senja, pikir Mamanya.
"Ternyata sebesar itu sayang Senja ke Arkan?" batin Langit.
****
"Duh! SARA! SARA!" teriak Ghea.
Sara tentu risih akan teriakan Ghea yang begitu melengking ke telinganya. Kenapa gadis itu harus berteriak ketika berada di keramaian? Ghea sampai di hadapan Sara dan membuat suasana semakin panas.
"Ada apa, sih teriak-teriak? Gue kayak maling tahu gak diteriakin gitu?" tanya Sara.
"Ada berita penting buat lo!"
"Ya udah apa?!"
"Arkan, Sar! Arkan masuk rumah sakit tadi!"
Sara panik. "Kata siapa?"
"Kata si kunyuk Gilang!"
"Lo gak bohong, kan?"
__ADS_1
"Ish, tanya aja sama Gilang sana!"
Sara mengangguk dan kemudian mencari keberadaan Gilang bersama dengan Ghea. Gadis itu sampai tidak tenang setelah tahu Arkan masuk rumah sakit. Dia sangat takut jika Arkan kelelahan setelah makan malam kemarin.
"Itu Gilang, Sar!" Sara langsung menoleh ke sisi yang lain, dan benar ia menemukan Gilang tengah bersama dengan seorang Dosen.
"Aduh, kenapa dia lagi sama Dosen, sih?" tanya Sara semakin panik. Kalau datang dan tiba-tiba mengganggu kan tidak lucu.
"Baik, terima kasih Gilang. Kamu tolong sampaikan itu kepada orang tua Arkan," ujar Dosen itu.
Gilang mengangguk. "Iya, Pak. Sama-sama." Dosen itupun pergi meninggalkan Gilang.
Setelah melihat Dosen itu pergi, Sara serta Ghea langsung menghampiri Gilang.
"Gil! Itu apa?" tanya Ghea.
"Gue juga gak tahu, Ghe. Tapi katanya gue suruh kasih ini ke orang tuanya Arkan."
"Kok gue gak dapat, ya?" tanya Ghea kebingungan.
"Duh, kok kalian malah sibuk sendiri, sih! Jadi ini gimana? Arkan kenapa?" Sara bertanya kepada keduanya dan ingin menemui jawaban atas segala pertanyaannya.
"Oh, iya! I-itu Sar, Arkan masuk rumah sakit, katanya asmanya kambuh. Gue juga baru tahu setelah Mamanya Arkan telpon dan suruh gue buat sampaiin kabarnya Arkan ke Dosen," jawab Gilang panjang kali lebar.
"Oh, terus gimana sekarang? Arkan dirawat dimana?"
"Rumah Sakit Harapan."
Kemudian ia berbalik dan berlari meninggalkan Ghea dan Gilang.
"Eh Sara Wijayanto! Lo gak masuk kelas dulu gitu? Kita ada persentasi woy!" teriak Gilang.
"Ck, gue lupa ngasih surat ini," lirih Gilang.
"Persentasi? Emang hari ini, ya?" tanya Ghea. "Iya, hari ini Ghea sayangku."
"Apa?! Terus gimana dong? Master di kelompok kita dua-duanya gak ada." Ya, Arkan dan Sara merupakan inti di kelompok itu, tapi sekarang mereka tidak ada.
"Bisa dapat D kita," tambah Ghea.
"Kan ada gue, Ghe."
"Ck, bisa-bisa dapat G kita."
****
Luna tidak terlihat bersemangat kali ini. Ia bahkan terlihat sangat lesu karena tindakan Ayahnya semalam. Luna memang berhasil dibawa oleh Ayahnya, tapi diperjalanan, ia berhasil kabur dan terbebas dari jeratan.
Belum lagi ia tak melihat Langit di sana. Senja juga sudah beberapa hari ini tidak masuk kuliah dan absen. Apa yang sebenarnya terjadi pada teman barunya itu? Ah, untuk apa dipikirkan. Masalah hidupnya saja sudah tidak terkendali.
__ADS_1
Luna menatap jam yang masih sangat lama untuk menjemputnya pulang. Mengapa sangat lama sekali Dosen datang?
"Heh Fika! Dosen gak datang, ya! Kok lama banget sih datangnya!" gerutunya pada Fika. Namun Luna sama sekali tidak dianggap ada.
Fika dan teman-temannya itu tengah sibuk merumpikan hal yang tidak penting. Luna mendengar ada nama Arkan dan Sara di percakapan mereka. Sang most wanted selain Yumi.
Merasa sakit hati akan sikap gadis-gadis yang tidak peduli itu, akhirnya Luna bangkit dan menendang meja mereka. Membuat semuanya kaget dan ketakutan. "Lo semua dengar gue gak, sih?! Gue nanya itu buat dijawab!" Luna memarahi semua gadis yang merumpi itu. "Budeg lo semua," sambungnya geram.
Luna akhirnya meninggalkan kelas dan berharap menemukan ketenangan diluar.
****
Setelah beberapa jam ditangani Dokter, akhirnya Arkan bisa dijenguk oleh pihak keluarga. Dokter bilang Arkan hanya telat menggunakan inhealernya. Namun tetap saja, itu pasti berakibat fatal jika tidak cepat-cepat ditangani oleh Dokter.
Arkan terbaring dan belum sadarkan diri. Tak lupa, ia juga menggunakan selang oksigen untuk membantunya bernafas dengan baik. Langit berdiri di samping ranjang Arkan dan Senja duduk di sampingnya.
Sedangkan Mamanya sedang mengantar Papanya ke depan karena harus lanjut bekerja di kantor. Langit melihat tatapan Senja yang begitu sendu. Gadis itu mengkhawatirkan Arkan, Langit jadi merasa bersalah karena hendak melepaskan ikatan diantara keduanya.
"Sey, aku keluar dulu." Langit berpamitan dengan Senja. Agar ia leluasa berbicara dengan Arkan.
Senja mengangguk. "Iya, Lang."
Ada perasaan berat meninggalkan Senja berduaan dengan Arkan, tapi mau bagaimana lagi, Arkan dan Senja itu masih ada hubungan. Jadi mau tidak mau, ia harus mengalah dulu.
Senja meraih tangan Arkan. "Kak? Aku gak tega lihat Kakak kayak gini. Jangan pernah sakit lagi." Senja mencium tangan Arkan.
Arkan perlahan membuka matanya dan melihat sosok kekasihnya. Senja berbinar, tapi Arkan masih memasang wajah yang sama, datar. "Kak Arkan..."
Namun Arkan melepaskan tangannya dari genggaman Senja. Membuat Senja menurunkan senyumnya dan merasa bingung. Arkan menatap ke arah pintu.
Ternyata ada seorang gadis yang masuk tanpa permisi, gadis itu juga terkejut ketika tahu ada Senja di sana. Apa itu Sara? Ya, gadis itu adalah Sara Andriana. Ia berhasil mendapatkan informasi mengenai Arkan dari pihak administrasi. Tapi Sara tidak mengetahui jika di sana ada Senja.
Tentu Sara tersentak melihat Senja berada di kamar VVIP yang sedang Arkan tempati.
"Sara?" lirih Arkan parau.
"Hai, Ar..."
Senja bingung akan interaksi itu. "Kak Sara?" batinnya. Senja semakin tidak enak karena gadis itu pernah ditemuinya di kampus dan memakai anting yang sama. Ini sudah tidak beres.
"Hai..." Gadis itu tak lupa menyapa Senja dengan perasaan bingung juga.
Arkan kemudian mengenalkan Sara kepada Senja. Kebetulan.
"Senja... kenalin, dia Sara.." ucap Arkan.
"Pacar baru Kakak," sambung Arkan membuat hati Senja perih.
Sara terperangah dan bahagia bukan main. Sedangkan mata Senja berkaca-kaca mendengar itu. Pacar?
__ADS_1
...~🔱~...