
...
...
...Maaf telah membuatmu tersesat dalam labirin. Ketahuilah, labirin itu adalah aku, aku yang juga tersesat karena ulah sendiri....
...~Langit...
...****...
"SENJA!"
Seorang lelaki meneriakan kencang nama itu. Ia memarkirkan motor dan helmnya asal. Mobil yang telah membuat Senja berlumuran darah itu pun kabur kucar-kacir. Beberapa orang berseragam mencoba menghentikan mobil licik itu.
Ia berlari menghampiri Senja, lalu menaruh Senja dipelukannya. "Senja, bangun! Senja! Hiks." Seketika ia menangis dan dipenuhi rasa takut yang hebat.
Tangan dan jaket jeans hitam lelaki itu pun dipenuhi darah.
Tak lama datang ambulans untuk membawa gadis itu ke tempat yang seharusnya, rumah sakit. Ia ikut bersama gadis terpejam itu. Ia tak hentinya-hentinya memandangi Senja yang bermuluran darah.
Bagaimana tidak histeris, ia begitu jelas melihat detik-detik gadis itu jatuh dan menghantam aspal. Setibanya di rumah sakit, Senja langsung dilarikan ke ruang UGD. Ruang itu dibuka selebar-lebarnya.
"Maaf Dek, silakan tunggu."
"Tapi, sus ..."
Namun suster itu dengan segera menutup ruang UGD. Dengan tumpuan kaki yang lemas ia berjalan dan pasrah duduk dikursi yang sudah disediakan kemudian memandangi tangannya yang kala itu menempel jelas darah segar dari gadis malang itu.
Dengan air mata yang tak berhenti turun.
"Ini salah lo!"
"Gak seharusnya lo bilang itu ke Senja!"
"Lo bodoh! Bodoh!"
Lelaki itu sangat merasa bersalah. Ia merasa jika Senja kecelakaan karena ulahnya. Jika semuanya tak terjadi, mungkin bunga mawar putih itu masih berseri dan berada ditangan yang tepat.
****
Arkan sedang menikmati rasa sakitnya dengan mengurungkan diri di kamarnya. Ia juga merasa bersalah kepada gadisnya. Tak seharusnya ia membentak Senja dan bertindak sedikit kasar tadi.
Ia memandang foto Senja yang diambilnya saat berlibur ditaman sakura lalu. Senyumnya mengembang dan itu membuatnya indah. Namun tadi gadis manis itu menangis, membuatnya layu.
"Ar? Arkan?"
Bundanya memanggil Arkan dari luar kamar. Arkan benar-benar tidak ingin menjawab kali ini. Yang ingin ia lakukan hanyalah berpikir, siapa sebenarnya terdakwa atas kejadian tadi?
"Arkan? Ini ada Rizky sama Irfan, Nak."
"Iya, Ar. Kita dateng buat ngasih info penting."
__ADS_1
"Soal OSIS? Itu kan bisa dibahas besok!" teriak Arkan yang masih dengan posisinya.
Bukan hanya menjawab, Arkan juga malas bertanya sekarang ini. Ia hanya ingin hening, kamar yang sunyi dan pikiran yang rapi. Jangankan OSIS, gadisnya saja sudah tak cukup untuk mengisi otak Arkan sore ini.
"Bukan OSIS, kan. Gimana nih ky?"
"Ck, yaudah biar gue aja." Nampak Rizky yang sudah tak sabar untuk melihat reaksi Arkan.
"Ini bukan soal OSIS, tapi cewek lo!"
Nyonya Arlita hanya menatap keduanya penasaran. Saat mengucap kata "Cewek", Mama dari Langit itu semakin kebingungan. Setelahnya ia bertambah bingung, sebab Arkan tiba-tiba membuka pintu kamarnya dan menemui Rizky dan Irfan dengan tergesa-gesa.
"Allahu Akbar!" kejut keduanya.
"Kenapa sama Senja ky?" tanya Arkan tiba-tiba.
"Eum ... ikut kita Ar." Kemudian Rizky dan Irfan menyeret Arkan untuk ke masuk kembali ke kamarnya. "Permisi, tante," respon dari mama Langit itu hanya mengangguk penuh tanya.
Kini ketiganya sudah berada di dalam kamar Arkan. Rizky dan Irfan datang karena kesulitan untuk menghubungi sahabatnya itu. Rupanya Arkan mematikan ponselnya agar Senja tak dapat menghubunginya untuk saat ini. Dan benar saja, Arkan tak tahu menahu soal kecelakaan yang dialami Senja.
"Kenapa? Ada apa sama Senja?"
Arkan dikelilingi oleh Rizky dan Irfan. Ia menatap keduanya bingung, jadi siapa yang akan menjawab pertanyaan Arkan. "Lo aja Ky!"
Rizky menyerah dan begitu hati-hati ketika memberitahu Arkan. "Senja, dia ..." Arkan menatap serius kepada Rizky yang sedang berbicara.
"Dia kecelakaan di depan halte tadi sore, Kan."
Oh sudahlah. Jiwa Arkan semakin ambyar. Ia terus berdecak seraya mendengus kesal kepada dirinya.
"Rumah sakit 24 jam dekat sekolah."
Tanpa basa basi, ia langsung menyambar kunci motornya dan bergegas keluar rumah. Nyonya Arlita yang melihat itu langsung menyapa Arkan.
"Arkan?"
Namun Arkan tetap berjalan dan seakan tak mendengar mamanya memanggil. Rizky dan Irfan melewati Nyonya Arlita.
"Rizky? Irfan? Itu Arkan mau kemana? Kok buru-buru gitu?" tanyanya.
Irfan dan Rizky saling tatap. Masing-masing dari mereka berusaha menawar, siapa yang akan menjawab?
Akhirnya Rizky lagi-lagi menyerah. "Eum ... begini Tan, jadi Arkan punya pacar dan pacarnya itu kecelakaan."
Nyonya Arlita menutup mulutnya dengan satu tangan, kemudian meratapi nasib anak sulungnya itu. "Permisi Tan," ujar Rizky dan Irfan seraya berlalu meninggalkan Nyonya Arlita yang kaget.
Ia hanya takut jika anak sulung dan bungsunya bertengkar. Apalagi wajah Arkan begitu sulit ditebak tadi, ada perasaan sedih, takut dan marah sepertinya itu yang terlihat dari indra penglihatannya.
"Semoga saja dia gak apa-apa."
****
__ADS_1
Arkan begitu serius mengendarai motor kesayangannya. Tiba-tiba pikirannya melayang pada kejadian tadi siang, saat dimana ia mengacuhkan Senja dan memperilakukan gadisnya itu sedikit kasar.
Arkan tak habis pikir, mengapa ini semua terjadi? Ia ingat, bahwa tadi siang Arkan meninggalkan Senja dengan adik tirinya. Langit pasti tahu semuanya!
Bukan. Ini bukan hanya salah adik tirinya. Jika saja Arkan tak cemburu berlebihan dan marah, mungkin ini semua tak akan terjadi. Tak bisa dipungkiri, adanya rasa memang menyulitkan semua orang.
Harusnya ia mendengarkan penjelasan Senja tadi.
Argh! Sudahlah. Setelah ini Arkan hanya akan menyayangi gadisnya itu, ia berpikir bahwa egois akan menjadi prinsip pada hubungannya ke depan, jika Senja baik-baik saja.
"Kamu pasti kuat, kamu pasti baik-baik saja, sayang."
Arkan pun melajukan motornya dengan sangat cepat, melesat seakan-akan jalan raya itu adalah jalannya sendiri.
"Kak?" Gadis itu berlari menghampiri lelaki yang tengah termenung.
"Risa?"
Ia bangkit dan meraih lengan Risa untuk kemudian memeluknya erat. "Kak Langit?"
Ya, lelaki yang telah menolong Senja adalah Langit. Mengapa terus menerus lelaki itu yang selalu ada? Rupanya ia ragu tadi, sehingga logikanya kalah dengan rasa cinta yang ada dalam dirinya.
Langit begitu cemas ketika Lia berkata jika perasaannya tak enak sore itu, bukan hanya Lia, ternyata Langit pun merasakan hal yang sama. Sehingga ia melajukan motornya ke halte bus. Risa mengelus-ngelus punggung Langit. Langit menelpon Risa tadi. Namun ia memberitahu Risa agar tidak memberitahu Bundanya dulu.
"Kak udah, ya? Kakak tahu kan kalau Kak Senja itu kuat."
Langit melepaskan pelukannya dari Risa. Ia refleks merasa tak enak hati karena memeluk adik dari Senja itu. "Maaf!" Kemudian ia kembali duduk dengan wajahnya yang cemas.
Risa mengangguk dan duduk disebelah Langit. "Jadi Kakak sudah nyatain perasaan Kakak ke Kak Senja?" tanya Risa.
Langit mengangguk pelan. Risa menghela nafas dan tersenyum kecut. "Bagus, Kak." Lalu menepuk-nepuk pundak Langit.
"Itu salah, Risa."
"Enggak Kak, justru kak Senja memang harus tahu semuanya!"
"Tapi gara-gara itu Senja kecelakaan!"
"Kak cukup! Jangan pernah salahin diri Kakak! Lihat aku Kak!" Langit melirik ke arah Risa. "Kenapa aku gak nangis?"
" ... itu karena aku percaya, kalau semua ini adalah takdir."
Langit beruntung di sukai oleh gadis yang begitu baik dan tahu semua yang Langit butuhkan. Sudah disakiti, namun Risa tetap bisa menerima Langit. Bukan hanya itu, Risa bahkan tak pernah sedikit pun menuntut untuk di hargai.
Langit menghembuskan nafas kasar. "Dia kuat, kan?" tanya Langit.
Risa tersenyum perih. "Iya Kak, kita hanya perlu berdoa semoga Kak Senja baik-baik saja."
Langit mengangguk dan hatinya tenang sekarang.
"LANGIT!"
__ADS_1
...****...
...🔱...