
Dibawah 16 tahun, jangan baca ini yaaa🙃🙈
*****
“Seorang pengacara ditemukan tewas diduga korban pembunuhan oleh orang tidak dikenal.”
Rintik hujan yang deras mengerubungi kota Jakarta sekarang ini. Berita duka tersebut disiarkan di TV swasta. Tentu bahasan dari berita tersebut menjadi sarapan seorang istri pengacara yang cukup terkenal seJakarta. Semua orang berduka mendengar penuturan tersebut. Pengacara yang dibunuh itu cukup dikenal di kalangan para penegak hukum.
Seorang pria dewasa yang kini memiliki kewajiban sebagai seorang suami baru saja selesai membersihkan diri. Ia sedang sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk. Pria berumur dua puluh limaan tersebut tersenyum bangga kala melihat sebuah kopi pagi tersaji di meja nakas. Namun setelahnya ia memiringkan kepalanya dan menautkan alisnya bingung sebab ada sebuah kotak indah serta rapi di samping kopi panasnya berdiri.
Ia lantas mengambil kotak itu dan membukanya perlahan. Matanya membulat sempurna. Senyumnya perlahan mengembang. Pria itu tidak percaya akan anugerah yang dia terima sekarang. Benda yang tadi dibungkus rapi itu nyatanya memberi kesan bahagia bagi pasangan muda tersebut.
Langit langsung berlari menuju dapur setelah mendapat hadiah dari istri tercinta. Terlihat Senja tengah merapikan meja makan untuk sarapan. Perempuan tersebut sibuk mengolesi roti dengan selai coklat. Namun, kegiatannya harus tertunda kala tangan seseorang menjamah pinggangnya. Tangan itu juga yang kini melingkar di pinggang Senja.
Langit menopangkan dagu di pundak Senja dengan manja. “Kamu gak bercanda, kan?” tanya Langit.
Senja menggeleng lalu mengarahkan irisnya ke retina Langit. “Aku serius. Sebentar lagi kamu jadi Ayah, Lang.”
Tanpa basa basi lagi, Langit langsung mendaratkan bibirnya di bibir Senja dengan seluruh cintanya. Menciumnya dalam hingga mengikis habis jarak yang ada. Tangan Langit yang satunya sibuk memegangi kepala belakang Senja dan yang satunya mencengkram menekan pinggang Senja.
“Makasih banyak sayang,” ucap Langit dengan senyum penuh.
Senja membalas dengan anggukan dan senyum simpul.
Langit beranjak memegangi perut Senja. “Kamu baik-baik sama Mama ya sayang?”
Senja tertawa geli. “Iya, Papa.”
Dan kini Langit beranjak memeluk Senjanya erat. Seolah berita ini sudah membuat dunia lebih berwarna daripada sebelumnya. Langit tidak menyangka Tuhan sebaik ini pada dirinya. Memberikan istri yang berhati baik, penyayang dan sempurna.
Lucu ya. Awalnya Langit mengira Senja akan menjadi iparnya, tapi ini kenyataan yang sebenarnya. Senja merupakan takdirnya. Langit bahkan diizinkan Tuhan untuk memiliki Senja sepenuhnya. Keduanya memiliki rasa cinta yang sama dan rasa sayang itu sudah tumbuh tinggi tak terhingga. Langit dan Senja menjadi sangat bahagia ketika rasa cinta itu menghasilkan benih yang akan menjadi buah manis dari pernikahan mereka.
Senja terus mual setelahnya. Ia lantas memegangi perutnya dan mulutnya karena saking mualnya. Tanpa basa basi lagi, ia pun pergi ke kamar mandi untuk mengatasi rasa mualnya dan memuntahkan segalanya ke dalam kloset.
Langit yang panik langsung memijat leher Senja agar istrinya itu merasa baikan. Senja menyeringai karena perutnya itu sangat tidak enak dan kepalanya sedikit pusing. “Kita ke rumah sakit aja apa gimana?” tanya Langit.
Senja menggeleng. “Gak perlu. Aku baik-baik aja, kok. Kamu sarapan gih, nanti telat ke kantor.”
Langit membantu Senja berdiri. Namun, setelahnya Senja kembali mual. Dengan segera dirinya memuntahkan kembali rasa mualnya ke kloset. Senja sungguh tidak tahan menanggapi ini, tetapi ini memang wajar, kan bagi wanita yang tengah hamil? Atau istilah ini disebut juga morning sickness. Senja sedang mengalami hal itu sekarang.
“Aku gak akan berangkat kalau kamu terus-terusan mual kayak gitu,” bantah Langit yang tidak ingin berangkat kerja setelah melihat Senja seperti itu.
Langit membenarkan rambut Senja yang menghalangi wajah ayunya. Senja yang kini menjadi sangat dewasa setelah menjadi istri. Pakaiannya mirip dengan Mamanya Langit. Selalu memakai dress sederhana sepanjang lutut dan anak rambut panjangnya selalu ditautkan memberikan kesan cantik meski sederhana.
Senja meluruhkan semua beban di bahu Langit. “Lang, ini wajar, kok. Namanya juga Ibu hamil. Awal-awal kehamilan memang begini.”
Langit menghela nafas. Bahkan tengah sakit pun, istrinya itu tidak ingin menyusahkan Langit. “Aku bisa ambil cuti. Kita ke rumah sakit aja sekarang.”
“Aku gak mau, Lang. Kamu harus kerja. Aku gak apa-apa kok ditinggal sendirian. Istirahat yang cukup juga pulih nanti.”
Langit meraih kedua tangan Senja. “Aku juga gak mau egois. Kamu selalu rawat aku waktu aku sakit dan sekarang giliran aku untuk rawat kamu.”
Senja tidak mau memaksa lagi. Ia memang membutuhkan Langit untuk menemaninya di masa-masa begini. Apalagi di rumah besar itu Senja selalu sendirian kalau Langit sedang bekerja. Lagipula mau bagaimana lagi? Toh, Langit suaminya dan memaksa.
*****
__ADS_1
“Senja!” Yang dipanggil langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata itu adalah Sara bersama dengan Arkan. Keduanya datang atas perintah Langit. Kebetulan Arkan dan Sara baru saja mendapatkan gelar dokter. Langit berpikir daripada memanggil Dokter lain, ia lebih baik mendatangkan Arkan maupun Sara untuk memeriksa Senja.
Sara langsung memeluk Senja yang tengah duduk di kasurnya. “Mbak Sara sama Kak Arkan kok ke sini?” tanya Senja kebingungan.
“Umm.. siapa lagi kalau bukan Langit yang panggil kita?” Sara menunjuk Langit yang sudah berdiri di samping Arkan. “Katanya Ada yang baru periksa dan hasilnya positif.”
Senja terkekeh disusul tawa Sara sebab bahagia ternyata adik iparnya tersebut dikabarkan hamil. “Iya, Kak. Aku telat dua minggu dan setelah periksa pakai testpack, ternyata hasilnya positif.”
“Mana coba gue mau lihat,” pinta Sara.
Senja pun mengambil testpack yang tadi ia pakai. Setelah diteliti oleh Sara, ternyata benar Senja hamil anak pertamanya Langit. Sara senang menanggapi itu. “Wah, ternyata benar lo hamil, Sen.”
Sara memeluk Senja erat. “Selamat, ya. Habis ini lo jangan lakuin hal-hal berat. Oke?”
Senja mengangguk mantap. Sedangkan di sisi lain, Ada yang cemburu karena sampai sekarang dirinya belum juga dikaruniai anak. Arkan, dia juga ingin merasakan posisi Langit. Dia iri ketika Senja dengan Langit sangat cepat diberikan momongan. Meskipun begitu, yang penting Sara bahagia dengan dirinya.
Arkan mendaratkan tangannya di bahu Langit. “Selamat ya. Jaga istri lo baik-baik.”
Langit mengangguk. Lalu mereka melihat ke arah Senja dan Sara yang tengah tertawa bahagia tersebut. “Lo mual terus? Banyakin minum air putih dan istirahat aja.”
Senja berdeham. Ia merasakan kembali mual yang luar biasa. Seolah isi perutnya diputar-putar dan menyebabkan ia mual. Senja kembali menyeringai. Dirinya lantas menutup rapat-rapat mulutnya.
“Duh, mual banget, ya Sen?” tanya Sara yang ikut-ikutan menyeringai karena merasakan mual juga.
Senja mengangguk sembari memasang wajah tidak suka. “Gak tau kenapa aku mual setelah lihat..” Senja menunjuk ke arah suaminya dan Kakak iparnya.
Sara menautkan alisnya. “Langit?”
Senja menggeleng. Sara kembali bertanya. “Mas Arkan?”
Lagi-lagi Senja menggeleng.
“Bukan, Mbak. Aku mual lihat mereka berdua.”
Sara tercengang dan langsung tertawa keras. “Kalian dengar, kan? Senja mual lihat kalian. Jadi, bisa keluar sebentar?”
“Tapi gue suaminya, Mbak.”
“Itu permintaan anak lo, Lang. Nurut aja sana!” perintah Sara menyuruh Langit untuk hengkang.
“Tapi Senja.. Kakak kan ganteng. Emangnya gak mau punya anak yang ganteng mirip Kakak?” tanya Arkan membuat Senja kembali mual.
Langit menatap Arkan dingin dan kesal. “Yang dikandung Senja itu anak gue, jadi harus mirip sama gue!”
“Tapi anak lo mirip gue gak apa-apalah.”
Langit dan Arkan malah semakin ribut. Wah, Langit bahkan jadi sangat sensitif ketika Senja hamil. Senja kembali mual, Sara tidak habis pikir dengan apa yang sedang suaminya dan adik iparnya lakukan.
“Kalian berdua keluar cepetan! Gak kasihan sama Senja?” tanya Sara.
Langit dan Arkan pun menyerah dan memilih keluar dari kamar meninggalkan Senja dan Sara berdua.
*****
“Makasih, Mbak. Aku udah merasa baikan sekarang.” Senja berterima kasih pada Sara yang telah menemaninya di saat ia terserang morning sickness.
__ADS_1
“Hm, lo harus ingat apa kata-kata gue tadi. Boleh lakuin apapun yang lo suka, asalkan gak berat.”
Senja tersenyum sembari mengangguk.
“Oke, kalau gitu gue berangkat dulu. Mas Arkan juga ada jadwal bedah jadi kita gak bisa lama-lama di sini. Padahal gue masih mau ngobrol-ngobrol dan kasih saran sama lo, bumil.” Sara merengut membuat sesiapapun gemas dibuatnya.
Senja memaklumi itu. “Aku ngerti kok, Mbak. Lagipula kita masih punya banyak waktu.”
“Iya, next time gue ke sini lagi deh. Lo juga harus sering-sering datang ke rumah Mama. Bumil jangan sendirian di rumah,” kata Sara.
“Iya, Mbak.” Senja tersenyum manis.
“Ya udah gue balik dulu.” Sara berpelukan dengan Senja. Padahal dirinya masih kangen pada adik iparnya tersebut.
*****
Senja melirik ke arah Langit yang tengah cemberut tidak ingin melihat Senja. Dengan rasa kasih sayangnya, Senja lantas memeluk Langit erat. “Kenapa? Ada apa?”
Langit menjawab. “Tadi.. kenapa kamu mual lihat aku?”
Senja mengedikkan bahunya seraya menurunkan senyumnya tidak tahu. “Itu bawaan bayinya. Kalau kamu gak nurut, anak kita bisa ileran. Kamu mau memangnya?”
“Gitu, ya?” tanya Langit polos.
“Hm jadi sabar aja, ya?” tanya Senja.
Langit membasahi bibir bawahnya dan mengangguk paham.
Tiba-tiba Senja kembali berkeinginan. “Lang, kok aku tiba-tiba mau sate kelinci, ya?”
Langit menautkan alisnya. “Sate kelinci? I-ini masih pagi, Sey. Susah nyari sate.”
Senja merengut manja. “Padahal ini keinginan anak kamu, lho. Cariin, ya?”
Langit kembali mengeluh. “Nanti malam aja, ya?”
“Gak bisa. Aku maunya sekarang!” tuntut Senja.
“Ya udah, aku cariin. Ini demi anak aku.”
Senja tersenyum bahagia. “Makasih, sayang.”
Langit beranjak dari ranjang tidurnya dan hendak meninggalkan Senja. Namun Senja tiba-tiba mencekal tangan Langit. “Lang, tunggu!”
“Kenapa?”
“Umm.. kamu nyarinya pakai motor dan kacamata hitam, ya?” pinta Senja.
“Sey, nyari pakai mata telanjang aja susah, apalagi kalau pakai kacamata!” Langit sedikit tidak terima pada permintaan Senja tersebut.
Senja mengelus-ngelus perutnya dan mengajak bicara perutnya. “Yah, Papa gak mau cariin sate buat kamu. Jangan marah sama Papa, ya?”
Langit mencium singkat pucuk kepala Senja. “Aku gak mau anak kita marah, jadi aku akan cari satenya sampai dapat!”
“Hm makasih, Papa.”
__ADS_1
Senja dan Langit lantas tertawa bahagia. Demi anaknya tercinta. Langit rela menerima permintaan Senja dengan ikhlas. Toh, melakukan itu semua untuk anak, tidak akan rugi, kan?
👑